*Buat apa merepotkan diri dengan Pemilu, A atau B yang menang hasilnya
sama saja. Jadi kalau repot *
*dengan keberpihakan menambah beban buat diri sendiri. Bagi yang
menharapkan diberikan*
*ticket ke Taman Firdaus, patut dibilang bahwa ticket gratis sudah habis
karena tempat di sana itu*
*sudah tidak ada yang kosong. Demikian keterangan yang diberikan oleh
penjaga pintu gerbang. hehehe*

On Fri, Feb 15, 2019 at 6:26 AM [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
>
> *Jelang Pilpres 2019, Kelompok Islam Konservatif Telah Menang*
>
>
> Sumberwww.nytimes.com
> <https://www.nytimes.com/2019/02/14/opinion/indonesia-election-religion-islam-islamists.html>
> <[email protected]>
>
> Posted on February 15, 2019
>
>
>
>
> *Jelang Pilpres 2019
> <https://www.matamatapolitik.com/news-indonesia-hadapi-tantangan-siber-jelang-pilpres-2019/>
>  pada
> bulan April mendatang, agama masih mendominasi politik Indonesia, dan
> kelompok Islam konservatif telah menang. Kita tidak perlu menunggu hingga
> bulan April untuk mengetahui hasil nyata dari pertarungan ini. Tidak peduli
> siapa yang akhirnya menjadi presiden, kelompok Islam konservatif, yang
> didukung oleh kelompok radikal, akan memenangkan—atau sudah
> memenangkan—pemilu.*
>
> Baca juga: Pilpres 2019: Bersih dari Korupsi, Partai Golkar yang Baru
> Dukung Penuh Jokowi
> <https://www.matamatapolitik.com/news-bersih-dari-korupsi-partai-golkar-yang-baru-akan-dukung-penuh-jokowi/>
>
> Oleh: Eka Kurniawan (The New York Times)
>
> Ketika Joko Widodo, Presiden Indonesia petahana, tahun lalu memilih Ma’ruf
> Amin sebagai calon wakilnya untuk pemilihan umum bulan April ini, menjadi
> jelas bahwa politik Indonesia sekarang berada di situasi yang sulit. Ma’ruf
> adalah seorang ulama dan cendekiawan Islam, dan Jokowi mungkin berharap
> untuk meredam serangan dari kelompok-kelompok Islam radikal dan konservatif
> yang menyebutnya anti-Islam (meskipun ia sendiri seorang Muslim).
> Sebaliknya, ia telah membangun ‘kuda Troya’ untuk lawan-lawannya.
>
> Pilpres 2019
> <https://www.matamatapolitik.com/in-depth-jelang-pilpres-2019-perang-baru-telah-meletus-di-papua-barat/>—di
> mana Jokowi kembali menghadapi Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal
> angkatan darat dan mantan menantu diktator Soeharto—tampak seperti
> pengulangan dari kontes tahun 2014. Saat itu, Jokowi menang dengan selisih
> kecil, dengan janji strategi maritim besar untuk Indonesia dan untuk
> merevitalisasi perekonomian, sebagian melalui proyek-proyek infrastruktur
> besar. Tahun ini, tampaknya, masalah yang menentukan adalah komitmen para
> kandidat terhadap Islam.
>
> Jokowi dan Prabowo dijadwalkan bertemu untuk debat keduanya pada tanggal
> 17 Februari, dan agendanya akan fokus pada sumber daya alam, infrastruktur,
> dan lingkungan. Tapi sesaat lagi, masalah utama dalam pemilu kali
> ini—agama—akan muncul kembali ke permukaan.
>
> Dalam empat tahun terakhir, Jokowi hanya memberikan sedikit harapan kepada
> kelompok progresif dan pro-demokrasi. Dia bukan sosok yang ideal dan lamban
> dalam menangani isu-isu hak asasi manusia seperti kekerasan militer
> terhadap warga sipil. Tetapi tidak ada pilihan lain. Dengan partai-partai
> oposisi—Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional
> (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)—semakin didukung oleh kaum
> konservatif dan radikal (termasuk beberapa yang menginginkan kembalinya
> keluarga Soeharto ke tampuk kekuasaan), maka setiap harapan untuk
> masyarakat yang lebih demokratis disandarkan pada Jokowi.
>
> Polarisasi ini telah semakin dalam sejak Pemilihan Gubernur Jakarta dua
> tahun lalu. Jokowi mendukung petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melawan
> Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan keturunan Arab. Ahok—yang berasal
> dari keluarga China dan beragama Kristen—menjadi sasaran empuk kampanye
> berdasarkan perbedaan etnis dan agama.
>
> Ahok tidak hanya kalah dalam pemilu; Pendukung Anies juga berhasil
> mengirim Ahok ke penjara atas tuduhan penistaan ​​agama. (Dia baru
> dibebaskan bulan lalu.)
>
> Prabowo dan pihak oposisi lainnya jelas belajar banyak dari kejatuhan
> Ahok. Pada tahun 2014, mereka menjalankan kampanye kuno berdasarkan
> kebangkitan komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan gagal. Pemilu
> Jakarta telah mengajarkan kepada mereka bahwa memanfaatkan nilai-nilai
> Muslim adalah cara yang efektif untuk menggalang dukungan rakyat.
>
> Aksi Alumni 212—salah satu gerakan di balik kampanye yang menempatkan Ahok
> dalam penjara—dan Front Pembela Islam (FPI)—sebuah kelompok penekan Islam
> yang terkadang bertindak sebagai semacam polisi moralitas Islam—mengadakan
> forum ulama Islam yang merekomendasikan Prabowo sebagai kandidat presiden..
>
> Tetapi kaum konservatif religius ini tidak terlalu peduli bahwa Prabowo
> sebenarnya tidak memiliki latar belakang Muslim yang kuat: “Kami sangat
> santai tentang agama,” katanya, merujuk pada keluarganya yang terdiri dari
> berbagai agama. Yang mereka pedulikan adalah bahwa Prabowo adalah
> satu-satunya lawan yang layak untuk Jokowi dan bahwa Prabowo menyambut
> dukungan mereka.
>
> Surat suara dicetak untuk pemilihan presiden Indonesia di sebuah pabrik di
> Jakarta. Petahana Joko Widodo, menghadapi keluhan dari kelompok-kelompok
> Islam konservatif dan radikal bahwa ia anti-Islam. (Foto: Reuters/Willy
> Kurniawan)
>
> Strategi menyerang Jokowi dengan memanipulasi sentimen keagamaan telah
> dimulai dengan sungguh-sungguh. Tidak seperti Ahok, Jokowi adalah seorang
> Muslim—tetapi itu bukan berarti agama tidak dapat digunakan untuk
> melawannya juga. Tuduhan paling keras yang dia hadapi sejauh ini adalah
> bahwa kebijakannya anti-Islam atau menentang ulama Muslim.
>
> Berikut adalah salah satu contohnya, seperti yang diduga banyak orang:
> Keputusan pemerintah Jokowi untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia
> (HTI), organisasi politik pan-Islamis yang mendukung penciptaan
> kekhalifahan di seluruh dunia. Tanda lain yang mendorong dugaan pemerintah
> anti-Islam adalah surat panggilan pengadilan yang dikeluarkan dua tahun
> lalu terhadap Rizieq Shihab, seorang pemimpin FPI, yang dicurigai polisi
> melakukan* chat* seks dan melanggar undang-undang anti-pornografi.
>
> Suara kelompok-kelompok Islam tampaknya menguat akhir-akhir ini, tetapi,
> jujur ​​saja, mereka telah terdengar sejak lama, baik dalam politik maupun
> di seluruh masyarakat. Gerakan Reformasi 1998—yang mengakhiri kediktatoran
> Soeharto selama 32 tahun dan membawa demokratisasi—tidak hanya memungkinkan
> liberalisasi politik; itu juga membuka ruang untuk ide-ide politik Islam.
>
> Partai Keadilan Sejahtera—sebelumnya dikenal sebagai Partai Keadilan—lahir
> dari kelompok spiritual di kampus, tetapi sekarang secara terbuka
> mempromosikan penerapan hukum Islam. PAN, yang pada awalnya adalah partai
> nasionalis inklusif, telah bergerak lebih dekat ke kelompok-kelompok Islam
> konservatif. Amien Rais, salah satu pendiri PAN, tidak ragu untuk
> menyebutnya “partai Allah”—dan menyebut Partai Demokrasi Indonesia
> Perjuangan (PDIP) sebagai “partai setan.”
>
> Pada akhir tahun 1990-an, ketika Anda pergi ke sekolah umum, Anda jarang
> menjumpai seorang siswa perempuan atau guru yang mengenakan jilbab; hari
> ini, justru sebaliknya. Sama untuk karyawan di kantor pemerintah. Tentu
> saja, ini bukan berarti bahwa para wanita ini tentu mendukung oposisi
> politik, dan tidak dapat diasumsikan bahwa mereka konservatif, apalagi
> radikal. Jilbab mungkin ekspresi sederhana kesalehan individu. Namun,
> trennya juga tidak dapat diabaikan.
>
> Baca juga: Pilpres 2019: Tak Untungkan Ekonomi, Kenapa Swasembada Beras
> Dijunjung Tinggi?
> <https://www.matamatapolitik.com/analisis-mengapa-swasembada-beras-sangat-penting-bagi-masyarakat-indonesia/>
>
> Peraturan daerah untuk mengakomodasi hukum Syariah telah berlipat ganda,
> sebagai hasil dari otonomi relatif beberapa daerah. Spesifikasinya beragam,
> mulai dari seruan bagi para pejabat kota untuk mengenakan pakaian Muslim
> hingga larangan penjualan, distribusi, dan konsumsi alkohol.
>
> Yang lebih absurd—dan lebih menakutkan—adalah gerakan untuk pernikahan di
> bawah umur dan menentang vaksin. Keduanya cukup lantang, dan keduanya
> menggunakan penjelasan agama untuk membenarkan sikap mereka: Pernikahan
> dini mencegah perzinahan, kata ulama populer Ustadz Arifin Ilham, dan
> menurut satu fatwa, vaksin tidaklah halal.
>
> Istilah seperti “hijrah”—yang berarti meningkatkan kehidupan agama
> seseorang dengan mendekatkan diri dengan Islam—semakin sering didengar.
>
> Ratusan ribu Muslim Indonesia mendemo Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), atas
> tuduhan penistaan agama ​​di sebuah demonstrasi pada bulan Desember 2016.
> (Foto: Getty Images/Nurfoto/Donal Husni)
>
> Dengan Islamisasi masyarakat Indonesia yang sekarang jelas dimobilisasi
> untuk tujuan politik, Jokowi harus melanjutkan dengan hati-hati. Namun dia
> mungkin sudah kelewat batas.
>
> Untuk memberikan kesan yang baik kepada para pemilih Muslim, Jokowi telah
> menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang saleh dan rajin beribadah. Dia
> bahkan telah menjadi imam salat dan sering berkunjung ke pondok pesantren..
> Dia juga menutup mata dan telinganya pada kasus-kasus tertentu yang
> diajukan atas dasar agama, mengetahui bahwa pernyataan apa pun bisa
> mengobarkan semangat umat Muslim.
>
> Jokowi tidak membela Ahok ketika ia diadili dan kemudian dipenjara. Dia
> memilih untuk tetap diam ketika seorang wanita di Medan, di Sumatra utara,
> didakwa atas penistaan karena mengeluh tentang volume azan. Dia juga tidak
> berkomentar dalam kasus yang melibatkan pemindahan paksa batu nisan
> berbentuk salib dari kuburan di Yogyakarta.
>
> Baca juga: Pilpres 2019: Politik Identitas, Ujian bagi Demokrasi dan
> Pluralitas di Indonesia
> <https://www.matamatapolitik.com/opini-politik-identitas-ujian-bagi-demokrasi-dan-pluralitas-di-indonesia/>
>
> Bulan lalu, Jokowi bahkan mempertimbangkan untuk memberikan pembebasan
> awal dari penjara kepada ulama radikal Abu Bakar Baasyir, yang dihukum
> karena terorisme. (Baasyir pada akhirnya tidak dibebaskan karena ia menolak
> untuk bersumpah setia pada negara.)
>
> Jokowi harus menegakkan politik moderat dengan melawan oposisi,
> konservatif, dan radikal yang berupaya memanipulasi sentimen keagamaan;
> itulah yang para pendukungnya harapkan darinya. Namun justru, dia setuju
> untuk melangkah di jalan yang berbahaya yang dipegang oleh lawan-lawan
> politiknya. Puncaknya adalah ketika Jokowi memilih Ma’ruf sebagai calon
> wakil presidennya—yang dengan mudah bisa saja maju bersama oposisi.
>
> Ma’ruf mengetuai Majelis Ulama Indonesia (MUI)—badan ulama nasional yang
> mengeluarkan fatwa yang menyebut Ahok sebagai penista agama—dan ia
> memberikan kesaksian yang memberatkan terhadap Ahok di pengadilan.
>
> Ma’ruf bukan hanya konservatif; dia tidak toleran. Dia melarang
> mengucapkan Natal. Dia menolak Ahmadiyah, sebuah sekte Islam alternatif.
> Dia mengecam aktivitas LGBT. Dia ingin membatasi rumah ibadah untuk
> non-Muslim.
>
> Jokowi mungkin akan tetap berkuasa, tetapi kita tidak perlu menunggu
> hingga bulan April untuk mengetahui hasil nyata dari pertarungan ini. Tidak
> peduli siapa yang akhirnya menjadi presiden, kelompok Islam konservatif,
> yang didukung oleh kelompok radikal, akan memenangkan—atau sudah
> memenangkan—pemilu.
>
> *Eka Kurniawan adalah penulis *Vengeance Is Mine, All Other Pay Cash,
> Beauty is a Wound*, dan *Man Tiger.
>
> *Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri
> dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.*
>
> *Keterangan foto utama: Sebuah poster di Jakarta bulan lalu yang
> menunjukkan kandidat presiden Indonesia Joko Widodo (kiri), dan calon wakil
> presiden Ma’ruf Amin. (Foto: EPA/Bagus Indahono via Shutterstock)*
>
> 
>

Kirim email ke