'Swasembada Pangan Kau Kejar, Banjir Impor Ku Dapat'
CNN Indonesia | Jumat, 15/02/2019 08:05 WIBBagikan :    Presiden Jokowi saat 
memantau pasokan beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika).Jakarta, CNN Indonesia -- 
Kedaulatan pangan menjadi satu dari sembilan program prioritas Pemerintahan 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tertuang dalam Nawacita. Pada awal 
kepemimpinannya, ia menargetkan kedaulatan pangan lewat swasembada bisa 
terlaksana dalam tiga tahun.

Jauh panggang dari api. Alih-alih swasembada pangan, komoditas pangan impor 
malah membanjiri Indonesia. Beras, misalnya. Berdasarkan data Badan Pusat 
Statistik (BPS), tahun 2014, impor beras tembus 844 ribu ton. Setahun setelah 
pemerintahan berjalan, impor beras naik tipis 861 ribu ton. 

Kemudian, pemerintah kembali mengimpor beras sebanyak 1,28 juta ton pada 2016, 
dan sempat turun menjadi hanya 305 ribu ton pada 2017. Tahun lalu, impor beras 
kembali meroket hampir mencapai tujuh kali lipat tahun sebelumnya menjadi 2,25 
juta ton. 

Namun, jangan pikir impor beras tersebut berjalan mulus. Kebijakan impor ini 
pun sempat menjadi polemik. Silang pendapat terjadi antar pembantu Jokowi.. 
Kementerian Pertanian, misalnya, kekeh dengan kondisi surplus beras sebanyak 
12,61 juta ton pada 2018. Meski, kenyataannya, harga beras terus menanjak, baik 
di tingkat grosir maupun eceran. 


| 
Lihat juga:
 Kutukan Raja Sawit di Era SBY hingga Jokowi |


Kondisi ini membuat Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang bertanggung jawab 
langsung atas stabilitas harga mulai gerah. Menteri Perdagangan Enggartiasto 
Lukita menilai perlu tambahan impor beras guna menstabilkan harga. Kisruh ini 
ikut menyeret Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau akrab disapa Buwas. 

Buwas yang baru menjabat sebagai Dirut Perum Bulog pada April 2018 tersebut 
bersikeras bahwa gudang Perum Bulog sudah dipenuhi oleh cadangan beras yang 
mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut belum termasuk beras impor yang masuk 
pada Oktober 2018 sebesar 400 ribu ton, sehingga total stok beras di gudang 
Bulog menjadi 2,8 juta ton. 

"Itu di gudang Menteri Perdagangan. Sudah komitmen kan, kantornya siap 
dijadikan gudang ya sudah," ucap Buwas pada Oktober lalu. 

Seteru itu mengharuskan Wakil Presiden Jusuf Kalla turun tangan. Pada Oktober 
2018, pemerintah akhirnya mengumumkan pemuktahiran data produksi beras nasional 
melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA) yang dikembangkan bersama Badan 
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT). 


| 
Lihat juga:
 Bos BI Sebut RI Ketergantungan Ekspor Komoditas Sejak 1970 |


Caranya, dengan pemindaian satelit dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa 
Nasional (LAPAN) untuk kemudian diolah Badan Informasi Geospasial (BIG). 

Hasilnya, terdapat perbedaan sangat kentara antara data BPS dengan Kementan.. 
Data BPS menyebut produksi beras nasional hingga akhir tahun lalu cuma 32,42 
juta ton, jauh dari prediksi Kementan yang sebanyak 46,5 juta ton. 

Selain perbedaan produksi, data konsumsi beras yang diungkap dua lembaga itu 
juga terpaut jauh. Data BPS melansir konsumsi beras mencapai 29,5 juta ton. 
Sedangkan, Kementan menyebut konsumsi beras sebanyak 33,89 juta ton. 

Walhasil, surplusnya pun berbeda. Versi BPS, surplus hanya 2,85 juta ton, 
sedangkan Kementan memproyeksi surplus mencapai 12,61 juta ton. 


| 
Lihat juga:
 Bulog 'Mimpi' Ekspor Beras saat Panen Raya Maret 2019 |


"Angka produksi beras sejak 1997 sampai dengan sekarang itu terjadi produksi 
yang bertambah terus. Padahal, lahan (tanam) sawah berkurang 1,5 persen per 
tahun dan penduduk bertambah," ujar Jusuf Kalla saat itu. 

Komoditas lain yang juga diimpor, yaitu gula. Impor gula dilakukan setiap 
tahun, diikuti dengan penambahan jumlah impor gula. Tahun 2014, impor gula 
tercatat 2,96 juta ton. Sementara, akhir tahun lalu, angkanya sudah mencapai 
5,02 juta ton. 

Impor gula ini pun tak terbebas dari kritik. Apalagi, Gula Kristal Rafinasi 
(GKR) bocor ke pasar, sehingga berakibat pada produksi petani yang tak terserap 
sempurna. 

Selain itu, komoditas garam industri juga diimpor setiap tahun. Tahun 2014 
impor garam terpantau sebesar 2,26 juta ton. Sempat ditekan pada 2015 menjadi 
1,86 juta ton. Namun, kembali melonjak pada 2016 menjadi 2,14 juta ton. Impor 
garam kembali bertambah menjadi 2,55 juta ton pada 2017 dan sebesar 2,83 juta 
ton pada 2018. 


| Data impor pangan. (CNN Indonesia/Timothy Loen). |


Kurang Koordinasi

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah 
menuturkan kurangnya koordinasi antara Kementerian dan Lembaga (K/L) adalah 
pangkal gagalnya swasembada pangan. Rendahnya koordinasi tersebut terlihat pada 
permasalahan impor beras. 

Said menilai jika antar K/L terkait memiliki integrasi kuat, maka ada peluang 
untuk memangkas impor komoditas pangan. 

"Sepertinya ego sektoral masih sangat kuat. Menurut saya, kalau kita punya 
cita-cita daulat pangan dan mengurangi impor, seharusnya menjadi satu langkah 
antar kementerian, sehingga tidak lagi saling menisbikan yang lain," katanya 
kepada CNNIndonesia.com. 

Minimnya koordinasi tersebut, lanjut Said, juga dipicu perbedaan data bahan 
pangan antar K/L. Dari data yang salah, lahirlah kebijakan tak tepat sasaran. 
Oleh karena itu, Said sangat mendukung langkah pemerintah untuk membenahi data 
pangan sekaligus menjadikannya satu pintu di BPS, layaknya data beras. 


| 
Lihat juga:
 Fakta Tudingan Prabowo soal Harga Kebutuhan Pokok Naik |


"Salah satu terobosan yang perlu kita pikirkan adalah sinkronisasi data oleh 
BPS. Sebab, menjadi aneh ketika ada klaim produksi naik, tetapi pada saat yang 
sama impor dilakukan," imbuh dia. 

Pengamat pertanian dan pangan yang juga anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan 
Khudori menuturkan kondisi geografis Indonesia, di mana daratannya sebagian 
besar hutan menjadi tantangan untuk mewujudkan swasembada pangan. 

Ia mengungkapkan hanya sekitar 23-24 juta hektare (ha) lahan yang bisa ditanami 
komoditas pangan. Oleh sebab itu, komoditas yang dipilih sebagai target 
swasembada pangan seharusnya dipilih secara prioritas. 

"Dengan kondisi seperti itu pemerintah harus pintar dan selektif betul mana 
yang jadi prioritas. Jadi, tidak seperti saat ini, pemerintah pusat tidak perlu 
menetapkan banyak prioritas nasional," paparnya. 

[Gambas:Video CNN]


Dengan keterbatasan lahan tersebut pemerintah hendaknya mengembangkan terobosan 
teknologi. Namun, Presiden Jokowi tidak banyak melakukan terobosan teknologi 
pertanian. 

Tidak kalah penting, kata Khudori, swasembada pangan hendaknya ditujukan untuk 
kesejahteraan petani. Sebab, petani adalah penggerak kedaulatan pangan. Ambil 
contoh, petani tebu yang merugi selama tiga tahun lantaran pemerintah tak juga 
mengevaluasi harga biaya pokok produksi (BPP) gula. 

Kepala negara baru menyatakan bakal mengevaluasi harga tersebut belum lama ini 
ketika bertemu langsung dengan petani tebu. Padahal, mereka sudah harus 
menanggung kerugian selama tiga tahun terakhir. 

"Kalau mereka terus rugi mereka akan beralih kepada tanaman lain. Kalau mereka 
mengganti tanaman yang diproduksi, maka terjadi penurunan pada salah satu 
komoditas pangan," terang dia. 


| 
Lihat juga:
 Jokowi Klaim Harga Beras Lebih Murah Rp50 per KG |


Ia juga menekankan agar pemerintah kembali menyusun tata kelola impor. 
Menurutnya, impor hendaknya didasarkan pada kebutuhan riil, terutama pada empat 
komoditas pangan strategis, yaitu gula, garam, beras, dan daging. 

Memang, saat ini keputusan impor telah melalui persetujuan rapat koordinasi 
untuk mengantongi persetujuan kementerian teknis. Namun, setelah izin impor 
dikantongi, sebaiknya masuknya barang impor juga tepat waktu. 

"Kecenderungan dalam empat tahun terakhir impor tidak terkendali malah 
cenderung obral impor. Jadi impor sepertinya semaunya, sehingga dampaknya 
keempat komoditas ini kan diusahakan petani domestik jadi yang terpukul adalah 
petani dalam negeri," tukas Khudori. (ulf/bir)

Kirim email ke