namanya juga pangan, ya sudah dipangan---

ICW Temukan Indikasi Impor Pangan Tidak Wajar Rp20 Triliun




(ilustrasi) Sejumlah pekerja menurunkan beras impor asal Vietnam milik Perum 
Bulog di Pelabuhan Indah Kiat Merak, Cilegon, Banten, Kamis (5/4/2018). ANTARA 
FOTO/Asep Fathulrahman
Oleh: Andrian Pratama Taher - 15 Februari 2019Dibaca Normal 1 menitICW 
menemukan ketidakwajaran data impor 4 komoditas pangan pada periode 2005-2017. 
Volume impor versi BPS lebih sedikit dari data versi negara penjual atau 
eksportir.tirto.id - Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan indikasi 
ketidakwajaran impor empat komoditas pangan pada periode 2005-2017. Empat 
komoditas itu adalah beras, jagung, daging, dan kedelai.

Berdasar kajian ICW, terdapat perbedaan data volume impor 4 jenis bahan pangan 
tersebut versi Badan Pusat Statistik (BPS) dengan negara penjual atau 
eksportir. 

ICW mencatat BPS melansir data volume impor beras, jagung, daging dan kedelai 
periode 2005-2017 mecapai 56.593.711 ton. Sedangkan menurut data penjual, 
volumenya 59.337.007 ton. Terdapat selisih data volume impor sebanyak 2.743.296 
ton.

Peneliti ICW Firdaus Ilyas menjelaskan selisih itu menunjukkan indikasi 
terdapat impor pangan yang tidak tercatat atau “unreporting” dalam jumlah besar 
pada periode 2005-2017. ICW memperkirakan nilai volume impor “unreporting” 
berdasar harga rata-rata pada periode itu mencapai 1,451 miliar dolar AS atau 
setara Rp20,324 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS).

"Kami menemukan nilai yang dikorting atau disebut unreporting. Nanti 
teman-teman bisa katakan indikasi penyelundupan, indikasi tidak diawasi, 
indikasi tidak masuk dalam impor kepabeanan, ini kurang lebih 1,451 miliar 
dolar AS," kata Firdaus di Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Baca juga: Impor Jagung 30 Ribu Ton Bukti Pemerintah Tak Serius Urus Pangan
Untuk impor beras, ICW menemukan data “unreporting” sebesar 1.473.551 ton atau 
senilai 644,9 juta dolar AS. Angka itu didapat dari perbandingan volume impor 
beras periode 2005-2017 versi BPS yang sebesar 11.579.881 ton dan data negara 
penjual, yakni 13.053.432 ton.

Sedangkan untuk impor jagung periode 2005-2017, data “unreporting” ialah 
sebanyak 459.705 ton dan nilainya diperkirakan 114,5 juta dolar AS. Volume 
impor jagung selama 12 tahun itu menurut data BPS adalah 21.042.707 ton. 
Sedangan versi data negara penjual: 21.502.412 ton. 

Pada data impor daging, ICW mencatat volume versi BPS ialah 1.295.162 ton. 
Sedangkan data negara penjual mencatat volume sebesar 1.426.345 ton. Artinya, 
selama 2005-2017, angka impor daging yang terindikasi “unreporting” mencapai 
131.183 ton. Nilainya diperkirakan 390,5 juta dolar AS.

Baca juga: Efektifkah Atasi Kisruh Impor Beras dengan Sinkronkanisasi Data?
Demikian pula pada data impor kedelai. ICW menyimpulkan impor kedelai pada 
periode 2005-2017 yang terindikasi “unreporting” sebanyak 678.857 ton, dengan 
kisaran nilai 301,6 juta dolar AS. Angka itu didasarkan pada perbedaan data BPS 
yang mencatat volume impor kedelai 22.675.961 ton dengan catatan versi negara 
penjual, yakni 23.354.818 ton.

Firdaus menjelaskan data itu mengindikasikan petani dan peternak dalam negeri 
menghadapi banjir barang dari luar negeri yang memicu harga-harga komoditas 
pangan merosot. 

"Artinya apa? teman-teman petani yang harganya lebih kompetitif kemudian drop, 
harga turun dan mereka tidak mendapat apa-apa," kata Firdaus.

Data itu juga memunculkan indikasi negara rugi triliunan rupiah akibat jutaan 
ton pangan impor tidak tercatat. Sebab, negara kehilangan pemasukan bea masuk 
sebagian pangan impor. 

"Menurut kami dari total 1,451 miliar dolar AS atau kurang lebih 20,324 triliun 
[impor 4 bahan pangan yang unreporting], implikasinya sangat besar untuk pasar 
dan ketahanan pangan," kata Firdaus.

Baca juga: Bau Anyir Bisnis Impor Daging Sapi
Baca juga artikel terkait IMPOR PANGAN atau tulisan menarik lainnya Andrian 
Pratama Taher
(tirto.id - Ekonomi) 

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Addi M Idhom

Kirim email ke