*https://www.hariansuara.com/news/internasional/14204/pameran-tentang-perjalanan-hadji-di-tropenmuseum---amsterda
<https://www.hariansuara.com/news/internasional/14204/pameran-tentang-perjalanan-hadji-di-tropenmuseum---amsterda>m*


*Pameran Tentang Perjalanan Hadji di Tropenmuseum - Amsterdam*

Internasional

16 Feb 2019

 *hariansuara.com <http://hariansuara.com>*, Jakarta - Tepat hari Jum’at 15
Februari 2019 Tropenmuseum Amsterdam membuka pameran menarik tentang
perjalanan Hadji ke Mekkah dengan judul ‘Verlangen naar Mekka’ atau
kerinduan untuk pergi ke Mekkah. Pameran menarik ini akan berlangsung
selama setahun penuh. Pameran dengan tema tentang Hadji ini menjadi pilihan
Tropenmuseum, mengingat ibadah Hadji merupakan salah satu pilar penting
dalam agama Islam.

Lebih dari itu jumlah pemeluk Islam di negeri Belanda semakin meningkat dan
agama Islam termasuk agama yang paling pesat perkembangannya baik di
Belanda secara khusus maupun di Eropa secara umum. Islam saat ini sudah
menjadi bagian dari masyarakat Belanda yang tidak bisa dianggap remeh. Hal
inilah yang menjadi perhatian banyak pihak, baik dari lembaga peneliti
maupun Pemerintah Belanda sendiri.

Walaupun pameran dibuka mulai hari Jum’at 15 Februari 2019 namun peresmian
pameran ini dilakukan sehari sebelumnya yaitu hari Kamis 14 Februari 2019.
Peresmian dilakukan oleh direktur Tropenmuseum Amsterdam, pak Stijn
Schoonderwoerd, sekitar pukul 18:30 dan acara ini dihadiri oleh sekitar 200
orang undangan khusus. Beberapa perwakalian dari beberapa negara sahabat
juga hadir pada peresmian ini diantaranya Duta Besar Marokko, perwakilan
dari kedutaan Saudi Arabia dan Jordania.

Sayang sekali bahwa perwakilan dari Kedutaan Republik Indonesia tidak
satupun yang datang memenuhi undangan pembukaan pameran ini, padahal
Indonesia memiliki kaitan sejarah yang sangat erat dengan penyelenggaraan
Hadji ini, mengingat negeri Belanda adalah negara Barat pertama yang
membuka kantor perwakilan di Jeddah pada tahun 1872 untuk mengurusi dan
mengawasi jemaah Hadji khususnya dari Indonesia. Pelopor dari pembukaan
kantor perwakilan Belanda ini adalah seorang tokoh yang sudah dikenal di
seantero Nusantara yaitu Snouck Hurgronje. Bukti sejarah ini dapat kita
lihat di pameran ini, Snouck Hurgronje juga tinggal berbulan-bulan di
Makkah untuk mengamati jemaah Hadji dan mempelajari Islam.

Di hadapan para hadirin pak Stijn Schoonderwoerd mengutarakan bahwa jumlah
pemeluk Islam di Belanda saat ini telah mencapai satu juta jiwa lebih dan
jumlahnya meningkat  setiap tahun, sementara penduduk Belanda hanya
berjumlah 16,8 juta jiwa. Sedangkan di Amsterdam sendiri jumlah penduduk
yang beragama islam mencapai 12% dari total penduduk. Karena jumlah pemeluk
Islam meningkat setiap tahun maka otomatis jumlah orang yang ingin pergi
Hadji juga semakin banyak. Uniknya menurut beliau makin banyak kaum muda
yang berminat untuk pergi Hadji…!

Selanjutnya beliau mengutarakan bahwa sekitar tiga  kilometer dari
Tropenmuseum terdapat Rijksmuseum (museum negara) yang juga membuka pameran
besar tentang pelukis Belanda yang terkenal, Rembrant van Rijn. Namun di
zaman sekarang ini tidak hanya Rembrant yang menjadi bagian dari Belanda
namun Hadji juga telah menjadi salah satu bagian dari kultur Belanda yang
tidak bisa diabaikan begitu saja. Setelah sambutan dari Direktur
Tropenmuseum acara dilanjutkan dengan menampilkan grup musik yang
mensenandungkan salawat kepada Rasulullah.

Sebelum acara peresmian dibuka pada pukul 15:30, panitia juga
menyelengarakan workshop tentang Hadji yang juga dihadiri oleh undangan
khusus. Workshop ini membahas diantaranya tentang penelitian terhadap
perjalanan Hadji yang dilakukan oleh Universitas Leiden, Amsterdam dan
Groningen. Ternyata penelitian tentang Hadji yang dipelopori oleh Snouck
Hurgronje ini masih tetap berlanjut, walau mungkin dengan niatan yang
berbeda.

Sesie workshop diawali oleh Dr. Abdessamad El Amraoui seorang peneliti
Universitas Leiden yang menyampaikan kajian sejarah Hadji. Dalam
penelitiannya diantaranya disampaikan keraguan apakah Snouck Hurgronje
benar-benar masuk Islam atau sekedar tipu-tipu. Sayangnya beliau tidak
menyampaikan bahwa niatan utama Snouck Hurgronje memeluk Islam dan
mempelajari Islam sampai ke Mekkah adalah untuk menumpas perlawanan rakyat
Aceh. Hal menarik lainnya yang beliau sampaikan diantaranya adalah fakta
bahwa pada tahun 1908 telah terhubung jalur KA antara Damascus hingga
Madinah.

Selanjutnya presentasi penelitian tentang Hadji dilakukan oleh Prof. Dr.
Marjo Buitelaar, seorang Anthropolog Islam dari Fakultas Theology and
Religious Studies dari Universitas  Groningen. Penelitian ini dilakukan
berkerja sama dengan Dr. Richard van Leeuwen, dari Universitas Amsterdam.
Presentasi beliau berjudul “More Magical Than Disneyland – Modern
Articulation of Pilgrimage to Mecca”.

Dalam penelitiannya terungkap fakta bahwa jemaah Hadji di abad ini lebih
dari hanya sekedar perjalanan ibadah namun juga ada faktor liburan dan
entertainmentnya. Sebagai contoh banyak jemaah Hadji yang pulang membawa
aneka souvenier, selfi di tempat-tempat ibadah terkenal, serta kegiatan
lain yang tidak berhubungan dengan ibadah Hadji. Tuan rumah (Pemerintah
Saudi Arabia) juga menyediakan hotel-hotel berbintang yang nyaman dan
fasilitas lain layaknya liburan yang menyenangkan. Penulis menilai bahwa
studi yang dilakukan oleh Prof. Dr. Marjo Buitelaar ini bisa kita jadikan
bahan renungan kita bersama untuk memperbaiki niatan kita pergi Hadji, agar
ibadah kita benar-benar diterima oleh Allah SWT. Setelah presentasi oleh
Prof. Dr. Marjo Buitelaar, presentasi dilanjutkan dengan membahas aspek
kesehatan, aspek hukum dan tentang penyelenggaraan Hadji dari Belanda.


Pameran tentang Hadji yang diselenggarakan oleh Tropenmuseum ini
menghadirkan aneka koleksi tentang perjalanan Hadji itu sendiri dan
berbagai benda-benda koleksi museum maupun pinjaman dari pribadi yang
berhubungan dengan Hadji. Selain itu yang menarik pada pameran ini kita
bisa melihat dan merasakan perjalanan Hadji ini melalui sarana virtual
reality. Diantara yang menarik terdapat foto jemaah Hadji yang dibuat
sendiri oleh Snouck Hurgronje pada tahun 1884 dalam pengamatannya tentang
seluk beluk Hadji di Mekkah.

Pameran tentang Hadji ini sangat bermanfaat baik bagi Muslim maupun
non-Muslim untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bersangkutan tentang
agama Islam. Bagi warga Muslim terutama yang belum sempat menunaikan ibadah
Hadji, pameran ini akan memberikan gambaran yang jelas dan menarik tentang
perjalanan Hadji itu sendiri. Pameran tentang Hadji ini tergolong unik di
dunia, karena ilmuan Belanda adalah pelopor yang pertama di dunia dalam
mempelajari studi-studi Islam (orientalis).

Selain pemeran tentang Hadji kita masih bisa melihat pameran lain yang
diselenggarakan secara permanen di Tropenmuseum. Terutama bagi mereka yang
tertarik dengan sejarah Indonesia, Tropenmuseum memamerkan benda-benda
koleksi yang menarik untuk dilihat dan dicermati.  Sangat ‘recommended’
untuk mengunjungi Tropen museum bagi anda yang kebetulan sedang berlibur di
Amsterdam.

Lokasi Tropenmuseum sangat mudah dijangkau dan tidak jauh dari pusat kota,
alamat persisnya, Linnaeusstraat 2, 1092 CK Amsterdam. Sarana transportasi
umum baik Trem atau bus berada tidak jauh dari Tropenmuseum. Bagi orang
Indonesia melihat-lihat museum ini seperti kembali ke masa silam terutama
zaman kolonial.

Tropenmuseum adalah bagian dari Koninklijke Instituut voor de Tropen (KIT)
atau ‘Royal Tropical Institute’ adalah sebuah institusi yang didirikan
tahun 1864 untuk mempelajari tentang adat istiadat masyarakat negeri
colonial, terutama Indonesia. Gedung yang saat ini menjadi Tropenmuseum dan
kantor dari KIT dibangun tahun 1910 dengan dana dan inisiatif dari
perorangan serta perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia seperti
misalnya BPM ( Bataafse Petroleum Maatschappij), KPM (Koninklijke
Paketvaart-Maatschappij), Javasche Bank, Deli Maatschappij, dan masih
banyak lagi. Karena itu Indonesia mengambil tempat tersendiri dalam
Tropenmuseum.

Interior museum ini juga penuh dengan hiasan-hiasan khas Indonesia, bahkan
kalau kita perhatikan pilar-pilar museum juga dihiasi dengan relief sejarah
datangnya VOC di Nusantara. Bagi pencinta museum dan sejarah, setidaknya
Anda butuh dua hari untuk mengamati dan mencermati Tropenmuseum ini, karena
baru mengamati tiang-tiangnya saja Anda sudah terpesona. Mengunjungi
Tropenmuesum anda harus membeli tiket seharga €15,- bagi orang dewasa,
sedangkan anak-anak 4-18 tahun €8,-.(*)

Kirim email ke