http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1448-ongkos-kesombongan
/*Ongkos Kesombongan*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Senin, 18 Feb
2019, 05:10 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1448-ongkos-kesombongan>
<http://twitter.com/home/?status=Ongkos Kesombongan
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1448-ongkos-kesombongan
via @mediaindonesia>
Ongkos Kesombongan
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/02/1d27452302098ba3361b3c914cebb582.jpg>
SOMBONG itu menelan biaya. Semakin tinggi kesombongan kiranya semakin
mahal ongkosnya.
Pernyataan itu tentu bertentangan dengan pernyataan ‘biar miskin asal
sombong’. Dalam kemiskinan, apa yang tersisa yang dapat ditegakkan oleh
diri yang miskin? Jawabnya ialah harga diri yang tidak seorang pun dapat
membelinya.
Alkisah seorang ibu berusia 82 tahun meninggal dunia setelah lama
dirawat di rumah sakit. Anaknya yang paling kaya bilang. “Izinkan semua
biaya saya yang tanggung.” Anaknya yang paling miskin bilang, “Izinkan
kain kafan ibu saya yang tanggung.”
Mereka yang bersaudara semua terdiam. Kain kafan itu merontokkan batas
kaya dan miskin, menggugurkan kesombongan yang kaya ataupun yang miskin.
Yang kemudian terjadi ialah semua anak berbagi sesuai kemampuan
masing-masing.
‘Sesuai kemampuan masing-masing’ mengekspresikan rasa hormat terhadap
perbedaan kemampuan. Di situ hadir dignity and fairness. Di situ
dipraktikkan kearifan yang membuat orang mengambil keputusan
‘eudaimonia’, keputusan yang membahagiakan.
Pertanyaannya, apakah orang mesti menunggu kain kafan, baik dalam arti
nyata maupun simbolis untuk tidak sombong? Setiap orang akan mati dan
kiranya tidak ada kesombongan yang abadi setelah si sombong mati. Lagi
pula mana lebih berharga mengenang kesombongan orang (yang telah) mati
atau kerendahan hati orang (yang telah) mati?
Lebih baik meneladani yang masih hidup yang masih bertarung berhadapan
dengan kenyataan yang pahit maupun yang manis. Hanya yang masih hidup
yang punya ego. Bukankah kematian akhir pertandingan?
Tanpa berburuk sangka, kiranya Bukalapak, perusahaan e-commerce yang
tengah berjaya, bisa tewas dan ‘dikainkafankan’ gara-gara kesombongan
CEO-nya, Achmad Zacky. Beramai-ramai pendukung Jokowi menghukumnya
dengan cara mengajak netizen melakukan uninstall terhadap Bukalapak.
Pangkal persoalan ialah Achmad Zacky berkicau di Twitter (13/2) tentang
rendahnya anggaran R&D negara ini. Data sejumlah negara disajikan
didahului pendapatnya bahwa omong kosong Industri 4.0 kalau budget R&D
negara kita ‘kaya gini’, yaitu berada pada peringkat 43 dengan anggaran
US$2 miliar. Lalu ditutup komentar, ‘Mudah-mudahan presiden baru bisa
naikin’.
Frasa anggaran ‘kaya gini’, tahun anggaran 2016, jelas menyalahkan
Jokowi, presiden sekarang yang memimpin negara ini 2014-2019. Dibaca
dalam satu konteks komentar ‘Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin’,
jelas menunjukkan posisi politik Achmad Zacky dalam pilpres dengan cara
merendahkan presiden sekarang. Padahal anggaran negara produk bersama
pemerintah dan DPR dengan oposisi ada di dalamnya.
Kicauan itu mengundang kemarahan dan beramai-ramailah pendukung Jokowi
mengajak uninstall Bukalapak yang bisa bikin perusahaan e-commerce itu
mampus atau pingsan.
Achmad Zacky kemudian mendatangi Istana (16/2). Ia meminta maaf kepada
Jokowi yang disaksikan Pramono Anung dan Teten Masduki. Presiden Jokowi
memaafkannya. Bahkan ia mengajak warga untuk menghentikan uninstall
Bukalapak. Katanya, “Kita ini, kita semuanya ini harus mendorong
anak-anak muda yang memiliki inovasi, yang memiliki kreativitas. Kita
juga ingin mendorong UMKM kita dari offline supaya masuk ke market place
online system. Kita harus bijak dalam bersikap, matang dalam bersikap,
dalam setiap peristiwa apa pun. Oleh sebab itu, saya mengajak hari ini
untuk menghentikan, setop uninstalling Bukalapak.”
Kesombongan Achmad Zacky sesungguhnya telah terlihat ketika pada 14
Januari 2019, ia berkicau di Twitter, ‘I dont know why The Economist can
be so stupid’. Ia menilai The Economist bodoh karena mengira majalah itu
menulis Tokopedia dan Bukalapak sebagai startup yang berbasis di Singapura.
Achnad Zacky berkomentar, padahal ia salah baca atau malah sama sekali
tidak membaca artikel berjudul ‘Island Shopping’ yang dimuat di rubrik
‘Business’ itu (The Economist, 12-18 Januari 2018, halaman 53). Tulisan
itu justru dengan cerdasnya menunjukkan kehebatan perusahaan lokal
Indonesia bertempur melawan perusahaan yang didukung Tiongkok.
Perusahaan e-commerce kita punya pengetahuan lokal. Kecanggihan
Bukalapak bahkan disebut khusus punya 400 ribu ‘agen’ di seluruh negeri.
Presiden Jokowi menunjukkan sejatinya pemimpin bagi semua anak bangsa,
termasuk bagi anak bangsa yang dengan sombongnya mengejek negeri sendiri
yang anggaran R&D-nya ‘kaya gini’ dan berujar ‘mudah-mudahan presiden
baru bisa naikin’.
Saya sendiri ingin presiden baru itu ialah pribadi yang tidak sombong,
yaitu presiden sekarang yang mendapat mandat baru dari rakyat karena
terpilih kembali. Demi meningkatkan daya saing Indonesia dalam era
Industri 4.0, saya percaya di masa jabatan kedua Jokowi bersama DPR yang
baru akan menaikkan anggaran R&D yang sekarang dengan sombongnya dinilai
omong kosong oleh Achmad Zacky.