Toleransi a la neo-Mojopahit rakyat dibodohkan dengan jampi-jampi satu
bangsa satu tanah tumpah darah, darah selalu mengalir

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170109141245-12-185019/kedekatan-tni-dan-fpi-persulit-penanganan-intoleransi
?


'Kedekatan' TNI dan FPI Persulit Penanganan Intoleransi

*Prima Gumilang & Raja Eben Lumbanrau*, CNN Indonesia | Senin, 09/01/2017
15:05 WIB

Bagikan :

[image: 'Kedekatan' TNI dan FPI Persulit Penanganan Intoleransi]Ilustrasi
kegiatan bela negara. (REUTERS/Darren Whiteside)


Jakarta, CNN Indonesia -- Kegiatan bela negara yang diadakan Komandan
Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak Letkol Czi Ubaidillah di Lebak, Banten,
dianggap sebagai bukti kedekatan TNI dengan kelompok intoleran. Latihan
yang melibatkan beberapa anggota Front Pembela Islam (FPI) itu
dikhawatirkan mengancam demokrasi.

"Langkah ini mempertegas dugaan 'kedekatan' TNI dengan kelompok Islam
radikal semacam FPI yang hanya akan mempersulit penegakan hukum atas
aksi-aksi intoleransi yang dilakukan kelompok ini," kata Ketua Setara
Institute Hendardi, Senin (9/1).

Aktivis HAM ini memandang TNI mengalami disorientasi serius dalam
menjalankan perannya sebagai aparat pertahanan negara. Seharusnya, kata
Hendardi, TNI menjadi elemen yang ikut berkontribusi menjaga kebinekaan.


PILIHAN REDAKSI

   - Rizieq Shihab Kembali Dipolisikan karena Ujaran Kebencian
   
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20161227193750-12-182473/rizieq-shihab-kembali-dipolisikan-karena-ujaran-kebencian/>
   - 'Hantu' Aksi Intoleran di Tahun Ayam Api
   
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170106084635-20-184477/hantu-aksi-intoleran-di-tahun-ayam-api/>
   - Dandim Lebak Dicopot Usai Latih FPI
   
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170109073819-12-184878/dandim-lebak-dicopot-usai-latih-fpi/>
   - Kodam Siliwangi: Dandim Lebak Lakukan Kesalahan Fatal
   
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170109112048-12-184948/kodam-siliwangi-dandim-lebak-lakukan-kesalahan-fatal/>

Berdasarkan aturan yang berlaku, tindakan TNI melatih FPI dalam kegiatan
bela negara bukan pelanggaran. Namun Hendardi menilai secara politik dan
etis, tindakan tersebut dapat memunculkan ketegangan dan kontroversi baru.

Dia menduga, Presiden Joko Widodo tidak mengetahui tindakan TNI, termasuk
agenda sesungguhnya di balik kedekatan militer dengan FPI. Hendardi
berpendapat, kolaborasi TNI dengan FPI menunjukkan pertemuan ideologi
militerisme dan Islamisme. Hal ini menurutnya memiliki daya destruktif yang
lebih serius pada iklim demokrasi.

"Sejak aksi 411 dan 212 saya termasuk yang mendesak agar Jokowi
mendisiplinkan TNI yang tampak memiliki kepribadian ganda dalam menghadapi
aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok intoleran," katanya.

Hendardi juga mengritik pelaksanaan program bela negara yang diinisiasi
oleh Kementerian Pertahanan. Pendidikan bela negara tanpa konsep dan
pendekatan yang jelas, menurutnya, hanya akan melahirkan milisi sipil yang
merasa "naik kelas" karena dekat dengan TNI.

"Bagaimana mungkin organisasi semacam FPI, yang antikemajemukan dan
memiliki daya rusak serius, menjadi partner kerja TNI dalam membela
negara," ucapnya.

Mantan Kabais Soleman Ponto saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan
pertengahan tahun lalu. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)

*Post-Power Syndrome*

Berbeda dengan Hendardi, Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS)
Soleman Ponto menilai TNI dan FPI tidak memiliki kedekatan formal. Hubungan
kedua lembaga itu, menurutnya, sama seperti hubungan TNI dengan ormas yang
lain.

Dia berpendapat, tentara aktif tidak akan berani berkolaborasi dengan FPI.
Pencopotan Letkol Czi Ubaidillah dari jabatan Komandan Distrik Militer
(Dandim) 0603 Lebak adalah bukti tidak adanya kedekatan di antara kedua
lembaga tersebut. Namun Soleman mengritik tindakan Dandim sebagai langkah
keliru.

"Tidak ada, militer tidak akan berani, buktinya begitu ketahuan (di Lebak)
saja langsung ganti karena sudah terkontrol apa yang boleh dan tidak," kata
Soleman.

Meski demikian, Soleman tidak menepis hubungan antara pensiunan tentara
atau purnawirawan TNI dengan kelompok seperti FPI. Bahkan menurutnya,
beberapa pensiunan tentara mulai kembali berpolitik.

"Saya kira tidak ada (kedekatan) itu kalau secara formal organisasi milter.
Militer aktif tidak ada. Tapi kalau sudah purnawirawan, lain cerita.
Beberapa purnawirawan tampil kembali, hanya ingin tampil beda, *post power
sindrome*," ucapnya.

Soleman mengatakan, kegiatan bela negara bukan untuk melatih masyarakat
menjadi militan. Dalam undang-undang, tambahnya, berkelahi atas nama negara
bukan termasuk upaya bela negara.

Kepala Dinas Penerangan Kodam III/Siliwangi Kolonel ARH M Desi Ariyanto
mengatakan, sanksi tegas yang dilakukan Pangdam III Siliwangi, Mayor
Jenderal TNI Muhammad Herindra, dengan mencopot Dandim Lebak karena murni
kesalahan prosedur. Dia membantah pencopotan jabatan tersebut karena
terkait latihan bela negara bersama anggota Front Pembela Islam (FPI).

"Bukan (soal FPI), karena dia tidak lapor terlebih dahulu, semuanya harus
lapor. Dia melanggar aturan atau SOP yang ada di tentara," kata Desi.
*(gil/rdk*

Kirim email ke