*JOKOWI MENANG ATAU KALAH SAMA SAJA, KARENA KEKUASAAN NEGARA DAN KEPENTINGANYA* *BERADA DALAM TANGAN ELIT KAUM NEO-MOJOPAHIT.*
On Sun, Feb 24, 2019 at 3:15 AM [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote: > > > > > [image: Etnis Tionghoa] > > > https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-jokowi-vs-prabowo-siapa-yang-bakal-didukung-warga-keturunan-china/ > > Prabowo vs Jokowi, Siapa yang Bakal Didukung Etnis Tionghoa? > > > Sumberwww.eurasiareview.com > <https://www.eurasiareview.com/13022019-which-presidential-candidate-will-chinese-indonesians-vote-for-in-2019-analysis/> > <[email protected]> > > Posted on February 15, 2019 > > > > *Antara Prabowo dan Jokowi, siapa yang bakal didukung oleh > masyarakat etnis Tionghoa > <https://www.matamatapolitik.com/news-bersih-dari-korupsi-partai-golkar-yang-baru-akan-dukung-penuh-jokowi/>? > Meskipun jumlahnya kecil, namun suara orang Indonesia Tionghoa berharga. > Para pengusaha China yang kaya pada umumnya tidak akan secara terbuka > menyatakan dukungan mereka untuk Jokowi atau untuk Prabowo, karena takut > keputusan yang salah akan memengaruhi bisnis mereka di masa depan. Dan > tampaknya, komunitas Indonesia Tionghoa terpecah pada dukungan mereka untuk > kandidat Pilpres 2019.* > > Baca juga: Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi > Manfaatkan Kebencian pada Prabowo > <https://www.matamatapolitik.com/laga-pilpres-2019-prabowo-dekati-etnis-tionghoa-jokowi-manfaatkan-kebencian-pada-prabowo/> > > Oleh: Leo Suryadinata (Eurasia Review/ISEAS – Yusof Ishak Institute) > > Etnis keturunan Tionghoa membentuk kurang dari dua persen dari total > populasi Indonesia, tetapi kekuatan ekonomi mereka jauh lebih kuat daripada > yang ditunjukkan angka tersebut. Masyarakat keturunan Indonesia Tionghoa > yang kaya sering kali mendapat banyak perhatian oleh para calon presiden, > karena dapat memberikan dukungan keuangan kepada mereka. > > Warga etnis Tionghoa > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-mengapa-swasembada-beras-sangat-penting-bagi-masyarakat-indonesia/> > yang > kaya pada gilirannya juga sering tertarik untuk mendukung kandidat yang > menang, dengan harapan mendapatkan peluang dan manfaat ekonomi di masa > depan. > > > Meskipun jumlahnya kecil, namun suara orang Indonesia Tionghoa berharga, > terutama jika persaingannya ketat dan suara etnis keturunan China menjadi > sangat penting. > > Indonesia akan mengadakan pemilihan presiden pada 17 April 2019. Ada dua > pasangan calon: Joko Widodo-Ma’aruf Amin di satu sisi dan Prabowo > Subianto-Sandiaga Uno di sisi lain. Pasangan mana yang akan dipilih orang > Indonesia Tionghoa—khususnya pengusaha China—untuk menjadi presiden? > > Pada Pemilihan Presiden 2014, nama-nama pengusaha China yang memberikan > kontribusi keuangan kepada kandidat presiden tidak dipublikasikan. Secara > umum, pengusaha Indonesia Tionghoa berkontribusi pada kedua belah pihak; > mereka juga cenderung enggan untuk memihak secara terbuka, karena takut > keputusan yang salah akan mempengaruhi bisnis mereka di masa depan. > > Meskipun demikian, ada beberapa yang preferensinya terkenal. Selama Pemilu > 2014, misalnya, pengusaha kaya Sofian Wanandi (Liem Bian Khoen) secara > terbuka mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bahkan, merupakan > rahasia umum bahwa ia dan kakak lelakinya Jusuf Wanandi (Liem Bian Kie) > dekat dengan Jusuf Kalla. > > Yang secara terbuka mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa > sebagai presiden dan wakil presiden adalah Hary Tanoesoedibjo (Chen > Liming), seorang taipan media yang telah terkait erat dengan keluarga > Suharto. > > Awalnya, Hary Tanoe berencana untuk bersaing dalam Pemilihan Presiden 2014 > sebagai wakil dari pensiunan jenderal Wiranto, yang adalah ketua Partai > Hati Nurani Rakyat (Hanura). Namun keduanya gagal mendapatkan dukungan dari > partai lain dan pencalonan mereka harus dibatalkan. > > Wiranto kemudian bergabung dengan kelompok Jokowi-Kalla sementara Hary > Tanoe mendukung kubu saingannya. Hary Tanoe kemudian mendirikan Partai > Persatuan Indonesia (Perindo). Pendukung China Prabowo lainnya yang > terkenal adalah Edie Kusuma (Wu Ruizhang) yang mengelola perusahaan > konsultan dan yayasan pendidikan. Dia bergabung dengan Gerindra dan > mencalonkan diri untuk pemilu parlemen bersama Gerindra. > > Jokowi bersama Prabowo di gelaran Asian Games. (Foto: Kemensetneg via The > New Mandala) > *WARGA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA, KELOMPOK YANG BERBEDA KEPENTINGAN* > > Prabowo Subianto adalah lulusan Akademi Militer di Magelang. Pada tahun > 1983 ia menikahi Titiek, putri kedua Presiden Suharto, tetapi selama krisis > tahun 1998, Prabowo menceraikannya. > > Setelah invasi Indonesia ke Timor Timur pada tahun 1976, Prabowo > ditugaskan untuk menangkap Wakil Presiden Fretilin di Timor Timur, dan > menjelang akhir pemerintahan Suharto, ia adalah kepala Kopassus (Komando > Pasukan Khusus). Ia terlibat dalam penculikan dan penyiksaan terhadap para > aktivis dan mahasiswa, tetapi hanya mengakui menculik para aktivis tetapi > tidak melakukan pembunuhan. > > Setelah jatuhnya Suharto, dewan militer meninjau kembali kasus tersebut > dan merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan dari dinas karena > keterlibatannya. Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga melarang dia memasuki > AS karena melanggar hak asasi manusia. > > Banyak ahli yang mencatat bahwa ia adalah orang yang juga merekayasa > kekerasan anti-China pada malam kejatuhan Suharto. Oleh karena itu, > keturunan Indonesia Tionghoa yang lebih tua pada umumnya menentangnya. > Meskipun dia telah menyangkal bahwa dia adalah pemimpin kekerasan tersebut, > namun dia tetap gagal mengubah kecurigaan ini tentang dirinya. > > Pada saat yang sama, orang Indonesia Tionghoa yang lebih muda mungkin > tidak tahu tentang masa lalu Prabowo dan karenanya tidak memiliki pandangan > negatif tentang dirinya. > > Prabowo dan para pendukungnya kemudian mendirikan partai Gerindra. Dalam > Pemilu Presiden 2009, ia membentuk kemitraan dengan Megawati > Sukarnoputri—Ketua PDIP—untuk menjadi wakilnya dalam pemilihan presiden, > tetapi pasangan itu kalah. Pada tahun 2014, ia mencoba lagi, kali ini > mengedepankan dirinya sebagai calon presiden melawan mantan Gubernur > Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Sekali lagi, dia dikalahkan. > > Strategi Prabowo adalah berkolaborasi dengan kelompok-kelompok Muslim yang > disebut radikal dan partai-partai politik Islam, meskipun ia sendiri > dikenal sebagai pemimpin sekuler. Kubu Prabowo sering menciptakan masalah > rasial dan Islam untuk melemahkan lawan politiknya. > > Awalnya ia mengalami kegagalan, tetapi dalam pemilihan kembali Gubernur > Jakarta 2016-2017, ia berhasil mengangkat kandidat Muslimnya untuk bersaing > dengan petahana Kristen keturunan China Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok; > dan mereka menang. Prabowo terus menerapkan strategi yang sama saat ini. > > Orang Indonesia Tionghoa bukan kelompok yang homogen, dan memiliki latar > belakang budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda. Singkatnya, kepentingan > mereka beragam. Salah satu pengusaha China yang mendukung Prabowo adalah > Lieus Sungkharisma (Li Xuexiong), yang dulunya aktif dalam gerakan muda > Buddha Indonesia. > > Setelah Suharto turun, ia dan beberapa pemuda Tionghoa membentuk Partai > Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), tetapi partai ini tidak dapat > berkembang dan gagal berpartisipasi dalam pemilihan parlemen nasional. > > Dia kemudian membentuk kelompok yang disebut Komunitas Tionghoa > Anti-Korupsi dan menyerang Gubernur Ahok karena “kelakuan buruknya.” > > Jusuf Hamka (A Bun)—seorang pengusaha China yang masuk Islam selama era > Soeharto—berkolaborasi dengan Lieus dalam kampanyenya melawan Ahok dan > Jokowi. Jusuf Hamka mendirikan organisasi Muslim Tionghoa Indonesia sebagai > basisnya. > > Ketika Prabowo mendukung Front Pembela Islam (FPI) saat melakukan > demonstrasi melawan Ahok pada tahun 2016, baik Lieus dan Jusuf Hamka secara > terbuka memihak FPI. Atas nama komunitas Indonesia Tionghoa, mereka > bersama-sama menominasikan pemimpin FPI, Habib Rezieq, sebagai “Tokoh Tahun > Ini untuk 2016.” > > Mereka memuji Rizieq atas kepemimpinannya dalam demonstrasi damai yang > tidak mengarah pada konflik rasial dan agama. > > Baca juga: Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-jokowi-tersandung-sandung-pikat-pemilih-muslim/> > > Tampaknya, komunitas Tionghoa Indonesia terpecah pada dukungan mereka > untuk kandidat presiden, tetapi mereka yang secara terbuka mendukung > Prabowo tampaknya sedikit. Mereka yang tidak setuju dengan kelompok > pro-Prabowo bereaksi terhadap Lieus dan Jusuf Hamka, dan mengatakan kepada > mereka bahwa mereka tidak mewakili komunitas Tionghoa Indonesia. > > Anton Medan (Tan Kok Liong), Ketua PITI—organisasi Muslim China terbesar > dengan sejarah panjang—berkomentar bahwa “hanya dua dari mereka (Lieus dan > Hamka) yang hadir pada kesempatan (menghormati Rizieq) dan mereka tidak > mewakili komunitas China kecuali diri mereka sendiri.” > > Anton lebih lanjut berargumen bahwa Hamka juga tidak mewakili Muslim > Indonesia Tionghoa. Anton Medan adalah pendukung Ahok yang gigih. > [image: Debat Bukan Faktor Penting dalam Pilgub dan Pilpres] > > Joko Widodo (kiri) berjabatan tangan dengan lawannya dalam pemilihan > presiden 2014, Prabowo Subianto. (Foto: Reuters) > *PERTUNJUKAN POLITIK PRABOWO* > > Beberapa pengusaha Indonesia Tionghoa belum puas dengan Jokowi dan > mengeluh bahwa perjuangan Jokowi melawan korupsi dalam administrasi > pemerintahan tidak “kondusif” bagi lingkungan bisnis, karena para birokrat > cenderung bergerak sangat lambat dalam mengeluarkan izin ketika tidak ada > suap. Banyak pengusaha yang tidak senang dengan pajak tinggi di masa Jokowi. > > Lainnya yang tidak dapat menikmati manfaat di bawah pemerintahan Jokowi > berharap bahwa pemerintah yang berbeda akan membuat hidup lebih mudah bagi > mereka. > > Pada 7 Desember 2018, sekelompok pengusaha China mengadakan *gala dinner* di > ruang serbaguna di Sun City Jakarta, yang terletak di kawasan bisnis China. > Mereka mengundang Prabowo sebagai Tamu Kehormatan dan untuk memberikan > ceramah tentang “China dan bisnis di mata Prabowo Subianto.” Mereka juga > berencana untuk meminta sumbangan untuk dana kampanye Presiden Prabowo > setelah jamuan makan malam. > > Prabowo menyampaikan pidato 40 menit tanpa teks. Dia mengucapkan terima > kasih kepada penyelenggara, dan menyatakan bahwa orang Indonesia keturunan > Tionghoa memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang Indonesia dari > kelompok etnis lain. > > “Jika saya terpilih sebagai Presiden dan menerima mandat rakyat,” Prabowo > menyatakan, “Saya akan mencoba terbaik untuk membela semua warga negara, > termasuk kelompok minoritas.” > > “Jika ada kelompok etnis atau agama yang diperlakukan buruk dan tidak > menerima keadilan, itu adalah tanggung jawab pemimpin untuk membela > kelompok itu.” > > Prabowo berbicara tentang hidupnya sebagai seorang prajurit dan menyatakan > bahwa ia bertemu “semua orang dengan latar belakang etnis dan agama yang > berbeda. Mereka semua adalah manusia dengan karakteristik yang serupa: > memiliki mimpi, hasrat, dan ketakutan.” > > Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa di setiap kelompok etnis ada > unsur-unsur buruk; ini sama saja kasusnya dengan orang Jawa dan juga orang > China. Namun dia menekankan bahwa kita tidak boleh menganggap buruk seluruh > kelompok etnis hanya karena ada beberapa elemen buruk dalam kelompok itu. > > Prabowo juga mencatat bahwa dia mengagumi China dan budayanya, dan > mengatakan bahwa hidupnya telah dipengaruhi oleh filsafat China. > > Salah satu pribahasa China yang ia ingat adalah: “Seribu teman terlalu > sedikit dan satu musuh terlalu banyak.” > > Di antara hadirin pada jamuan makan malam itu, terdapat mantan istrinya, > Titiek Suharto, dan anggota terkemuka partainya. Ada satu program yang > tidak terduga malam itu. Setelah memberikan pidatonya, Prabowo yang masih > di atas panggung tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin mengundang Titiek > Suharto untuk menyanyikan lagu di atas panggung. > > Dia mengatakan kepada hadirin bahwa hobi Titiek adalah bernyanyi, termasuk > menyanyikan lagu-lagu Mandarin. Titiek yang mengenakan pakaian tradisional > Indonesia berjalan ke panggung dan menerima mikrofon dari MC. > > Dia berjalan ke arah Prabowo, menatapnya dan mulai menyanyikan lagu cinta > Mandarin yang populer *Bulan Mewakili Hatiku* (月亮 代表 我 的 心). > > Dia bisa menyanyikan seluruh lagu dalam bahasa Mandarin, dan Prabowo tetap > di atas panggung bersamanya, sepanjang lagu itu. Terdapat desas-desus bahwa > jika Prabowo menjadi Presiden, Titiek akan kembali kepadanya. > > Keluarga Suharto masih memiliki kekuatan ekonomi yang kuat; mereka > baru-baru ini mendirikan partai baru, Partai Berkarya, yang mendukung > Prabowo dalam pemilihan presiden. > > Acara ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ada pengusaha Indonesia > Tionghoa yang mendukung Prabowo; pada saat yang sama, Prabowo juga mengirim > pesan kepada orang Indonesia Tionghoa bahwa dia bukan anti-etnis Tionghoa > dan bahwa dia dapat mengakomodasi budaya China. > [image: Calon presiden Prabowo Subianto (tengah) pada tanggal 25 Juli 2014] > > Calon presiden Prabowo Subianto (tengah) pada tanggal 25 Juli 2014. (Foto: > AFP/Stringer) > > Saat diwawancarai, ketua komite *gala dinner* Chandra Suwono, mengatakan > bahwa ia berharap Prabowo akan menjadi Presiden baru. Dia juga menjelaskan > bahwa sumbangan itu sukarela dan tidak semua peserta diminta untuk > menyumbang untuk dana kampanye Prabowo. > > Tampaknya para pengusaha China yang menghadiri acara tersebut berasal dari > usaha kecil dan menengah (UKM), dan tidak ada yang berasal dari kelompok > taipan dalam daftar Forbes. Donasi dikumpulkan pada akhir jamuan makan > malam, dan daftar donor—total 15 orang—diterbitkan pada hari berikutnya. > > Ia berhasil mengumpulkan Rp435 juta, di mana 22 di antara donor terbesar > adalah orang bernama Kasidi alias Ahok, yang memiliki nama panggilan yang > sama dengan mantan Gubernur Jakarta. Orang ini menyumbangkan Rp250 juta. > Jumlah uang yang dikumpulkan selama jamuan makan malam itu kecil, tetapi > itu menunjukkan bahwa Prabowo memang memiliki pendukung China. > > Seperti disebutkan sebelumnya, taipan-taipan China yang kaya pada umumnya > tidak akan secara terbuka menyatakan dukungan mereka untuk Jokowi atau > untuk Prabowo, karena ini tidak akan menguntungkan mereka. Tetapi pengusaha > UKM China tidak memiliki ketakutan ini karena mereka tidak terkenal dan > karenanya tidak menanggung risiko besar. > > Namun ada satu taipan Tionghoa kaya Indonesia yang secara terbuka > menyatakan dukungannya untuk Jokowi. Dia adalah Hary Tanoe, Ketua Perindo.. > Saat Pemilihan Presiden 2014 dia mendukung Prabowo. Tidak jelas apa yang > menyebabkan perubahan pilihannya. > > Dia menyatakan bahwa dia mendukung Jokowi kali ini karena Jokowi telah > melakukan pekerjaan dengan baik dalam pengembangan infrastruktur. > > Baca juga: Jelang Debat Pilpres 2019 Kedua: Menilik Infrastruktrur di Era > Jokowi > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-jelang-debat-pilpres-kedua-korupsi-dan-infrastruktur-di-indonesia/> > > Media sosial mencatat bahwa Hary Tanoe telah berkonflik dengan Tutut > Suharto mengenai kasus televisi TPI. Selain itu, dia juga sedang diselidiki > atas kasus “intimidasi” terhadap seorang pejabat Mahkamah Agung. > > Ini sekali lagi membuktikan kebenaran ungkapan yang terkenal: Dalam > politik tidak ada teman yang abadi atau musuh abadi tetapi kepentingan > pribadi yang abadi! > > *Leo Suryadinata adalah peneliti tamu senior di ISEAS-Yusof Ishak > Institute.* > > *Keterangan foto utama: Calon Presiden Indonesia Prabowo Subianto > (tengah), menyambut para pendukungnya setelah pendaftaran resminya sebagai > kandidat. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)* > > >
