Berita Internasional <https://www.matamatapolitik.com/>
*Prabowo vs Jokowi, Siapa yang Bakal Didukung Etnis Tionghoa?*
------------------------------------------------------------------------
Sumberwww.eurasiareview.com
<https://www.eurasiareview.com/13022019-which-presidential-candidate-will-chinese-indonesians-vote-for-in-2019-analysis/>
Posted onFebruary 15, 2019
Facebook <https://www.matamatapolitik.com/#facebook>Twitter
<https://www.matamatapolitik.com/#twitter>google_plus
<https://www.matamatapolitik.com/#google_plus>WhatsApp
<https://www.matamatapolitik.com/#whatsapp>Line
<https://www.matamatapolitik.com/#line>Telegram
<https://www.matamatapolitik.com/#telegram>Facebook Messenger
<https://www.matamatapolitik.com/#facebook_messenger>Email
<https://www.matamatapolitik.com/#email>
/Antara Prabowo dan Jokowi, siapa yang bakal didukung oleh
masyarakatetnis Tionghoa
<https://www.matamatapolitik.com/news-bersih-dari-korupsi-partai-golkar-yang-baru-akan-dukung-penuh-jokowi/>?
Meskipun jumlahnya kecil, namun suara orang Indonesia Tionghoa berharga.
Para pengusaha China yang kaya pada umumnya tidak akan secara terbuka
menyatakan dukungan mereka untuk Jokowi atau untuk Prabowo, karena takut
keputusan yang salah akan memengaruhi bisnis mereka di masa depan. Dan
tampaknya, komunitas Indonesia Tionghoa terpecah pada dukungan mereka
untuk kandidat Pilpres 2019./
Baca juga: Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi
Manfaatkan Kebencian pada Prabowo
<https://www.matamatapolitik.com/laga-pilpres-2019-prabowo-dekati-etnis-tionghoa-jokowi-manfaatkan-kebencian-pada-prabowo/>
Oleh: Leo Suryadinata (Eurasia Review/ISEAS – Yusof Ishak Institute)
Etnis keturunan Tionghoa membentuk kurang dari dua persen dari total
populasi Indonesia, tetapi kekuatan ekonomi mereka jauh lebih kuat
daripada yang ditunjukkan angka tersebut. Masyarakat keturunan Indonesia
Tionghoa yang kaya sering kali mendapat banyak perhatian oleh para calon
presiden, karena dapat memberikan dukungan keuangan kepada mereka.
Wargaetnis Tionghoa
<https://www.matamatapolitik.com/analisis-mengapa-swasembada-beras-sangat-penting-bagi-masyarakat-indonesia/>yang
kaya pada gilirannya juga sering tertarik untuk mendukung kandidat yang
menang, dengan harapan mendapatkan peluang dan manfaat ekonomi di masa
depan.
ADVERTISEMENT
Meskipun jumlahnya kecil, namun suara orang Indonesia Tionghoa berharga,
terutama jika persaingannya ketat dan suara etnis keturunan China
menjadi sangat penting.
Indonesia akan mengadakan pemilihan presiden pada 17 April 2019. Ada dua
pasangan calon: Joko Widodo-Ma’aruf Amin di satu sisi dan Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno di sisi lain. Pasangan mana yang akan dipilih
orang Indonesia Tionghoa—khususnya pengusaha China—untuk menjadi presiden?
Pada Pemilihan Presiden 2014, nama-nama pengusaha China yang memberikan
kontribusi keuangan kepada kandidat presiden tidak dipublikasikan.
Secara umum, pengusaha Indonesia Tionghoa berkontribusi pada kedua belah
pihak; mereka juga cenderung enggan untuk memihak secara terbuka, karena
takut keputusan yang salah akan mempengaruhi bisnis mereka di masa depan.
Meskipun demikian, ada beberapa yang preferensinya terkenal. Selama
Pemilu 2014, misalnya, pengusaha kaya Sofian Wanandi (Liem Bian Khoen)
secara terbuka mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bahkan,
merupakan rahasia umum bahwa ia dan kakak lelakinya Jusuf Wanandi (Liem
Bian Kie) dekat dengan Jusuf Kalla.
Yang secara terbuka mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa
sebagai presiden dan wakil presiden adalah Hary Tanoesoedibjo (Chen
Liming), seorang taipan media yang telah terkait erat dengan keluarga
Suharto.
Awalnya, Hary Tanoe berencana untuk bersaing dalam Pemilihan Presiden
2014 sebagai wakil dari pensiunan jenderal Wiranto, yang adalah ketua
Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Namun keduanya gagal mendapatkan
dukungan dari partai lain dan pencalonan mereka harus dibatalkan.
Wiranto kemudian bergabung dengan kelompok Jokowi-Kalla sementara Hary
Tanoe mendukung kubu saingannya. Hary Tanoe kemudian mendirikan Partai
Persatuan Indonesia (Perindo). Pendukung China Prabowo lainnya yang
terkenal adalah Edie Kusuma (Wu Ruizhang) yang mengelola perusahaan
konsultan dan yayasan pendidikan. Dia bergabung dengan Gerindra dan
mencalonkan diri untuk pemilu parlemen bersama Gerindra.
Jokowi bersama Prabowo di gelaran Asian Games. (Foto: Kemensetneg via
The New Mandala)
*WARGA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA, KELOMPOK YANG BERBEDA KEPENTINGAN*
Prabowo Subianto adalah lulusan Akademi Militer di Magelang. Pada tahun
1983 ia menikahi Titiek, putri kedua Presiden Suharto, tetapi selama
krisis tahun 1998, Prabowo menceraikannya.
Setelah invasi Indonesia ke Timor Timur pada tahun 1976, Prabowo
ditugaskan untuk menangkap Wakil Presiden Fretilin di Timor Timur, dan
menjelang akhir pemerintahan Suharto, ia adalah kepala Kopassus (Komando
Pasukan Khusus). Ia terlibat dalam penculikan dan penyiksaan terhadap
para aktivis dan mahasiswa, tetapi hanya mengakui menculik para aktivis
tetapi tidak melakukan pembunuhan.
Setelah jatuhnya Suharto, dewan militer meninjau kembali kasus tersebut
dan merekomendasikan agar Prabowo diberhentikan dari dinas karena
keterlibatannya. Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga melarang dia
memasuki AS karena melanggar hak asasi manusia.
Banyak ahli yang mencatat bahwa ia adalah orang yang juga merekayasa
kekerasan anti-China pada malam kejatuhan Suharto. Oleh karena itu,
keturunan Indonesia Tionghoa yang lebih tua pada umumnya menentangnya.
Meskipun dia telah menyangkal bahwa dia adalah pemimpin kekerasan
tersebut, namun dia tetap gagal mengubah kecurigaan ini tentang dirinya.
Pada saat yang sama, orang Indonesia Tionghoa yang lebih muda mungkin
tidak tahu tentang masa lalu Prabowo dan karenanya tidak memiliki
pandangan negatif tentang dirinya.
Prabowo dan para pendukungnya kemudian mendirikan partai Gerindra. Dalam
Pemilu Presiden 2009, ia membentuk kemitraan dengan Megawati
Sukarnoputri—Ketua PDIP—untuk menjadi wakilnya dalam pemilihan presiden,
tetapi pasangan itu kalah. Pada tahun 2014, ia mencoba lagi, kali ini
mengedepankan dirinya sebagai calon presiden melawan mantan Gubernur
Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Sekali lagi, dia dikalahkan.
Strategi Prabowo adalah berkolaborasi dengan kelompok-kelompok Muslim
yang disebut radikal dan partai-partai politik Islam, meskipun ia
sendiri dikenal sebagai pemimpin sekuler. Kubu Prabowo sering
menciptakan masalah rasial dan Islam untuk melemahkan lawan politiknya.
Awalnya ia mengalami kegagalan, tetapi dalam pemilihan kembali Gubernur
Jakarta 2016-2017, ia berhasil mengangkat kandidat Muslimnya untuk
bersaing dengan petahana Kristen keturunan China Basuki Tjahaja Purnama
alias Ahok; dan mereka menang. Prabowo terus menerapkan strategi yang
sama saat ini.
Orang Indonesia Tionghoa bukan kelompok yang homogen, dan memiliki latar
belakang budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda. Singkatnya,
kepentingan mereka beragam. Salah satu pengusaha China yang mendukung
Prabowo adalah Lieus Sungkharisma (Li Xuexiong), yang dulunya aktif
dalam gerakan muda Buddha Indonesia.
Setelah Suharto turun, ia dan beberapa pemuda Tionghoa membentuk Partai
Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), tetapi partai ini tidak dapat
berkembang dan gagal berpartisipasi dalam pemilihan parlemen nasional.
Dia kemudian membentuk kelompok yang disebut Komunitas Tionghoa
Anti-Korupsi dan menyerang Gubernur Ahok karena “kelakuan buruknya.”
Jusuf Hamka (A Bun)—seorang pengusaha China yang masuk Islam selama era
Soeharto—berkolaborasi dengan Lieus dalam kampanyenya melawan Ahok dan
Jokowi. Jusuf Hamka mendirikan organisasi Muslim Tionghoa Indonesia
sebagai basisnya.
Ketika Prabowo mendukung Front Pembela Islam (FPI) saat melakukan
demonstrasi melawan Ahok pada tahun 2016, baik Lieus dan Jusuf Hamka
secara terbuka memihak FPI. Atas nama komunitas Indonesia Tionghoa,
mereka bersama-sama menominasikan pemimpin FPI, Habib Rezieq, sebagai
“Tokoh Tahun Ini untuk 2016.”
Mereka memuji Rizieq atas kepemimpinannya dalam demonstrasi damai yang
tidak mengarah pada konflik rasial dan agama.
Baca juga: Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim
<https://www.matamatapolitik.com/analisis-jokowi-tersandung-sandung-pikat-pemilih-muslim/>
Tampaknya, komunitas Tionghoa Indonesia terpecah pada dukungan mereka
untuk kandidat presiden, tetapi mereka yang secara terbuka mendukung
Prabowo tampaknya sedikit. Mereka yang tidak setuju dengan kelompok
pro-Prabowo bereaksi terhadap Lieus dan Jusuf Hamka, dan mengatakan
kepada mereka bahwa mereka tidak mewakili komunitas Tionghoa Indonesia.
Anton Medan (Tan Kok Liong), Ketua PITI—organisasi Muslim China terbesar
dengan sejarah panjang—berkomentar bahwa “hanya dua dari mereka (Lieus
dan Hamka) yang hadir pada kesempatan (menghormati Rizieq) dan mereka
tidak mewakili komunitas China kecuali diri mereka sendiri.”
Anton lebih lanjut berargumen bahwa Hamka juga tidak mewakili Muslim
Indonesia Tionghoa. Anton Medan adalah pendukung Ahok yang gigih.
Debat Bukan Faktor Penting dalam Pilgub dan Pilpres
Joko Widodo (kiri) berjabatan tangan dengan lawannya dalam pemilihan
presiden 2014, Prabowo Subianto. (Foto: Reuters)
*PERTUNJUKAN POLITIK PRABOWO*
Beberapa pengusaha Indonesia Tionghoa belum puas dengan Jokowi dan
mengeluh bahwa perjuangan Jokowi melawan korupsi dalam administrasi
pemerintahan tidak “kondusif” bagi lingkungan bisnis, karena para
birokrat cenderung bergerak sangat lambat dalam mengeluarkan izin ketika
tidak ada suap. Banyak pengusaha yang tidak senang dengan pajak tinggi
di masa Jokowi.
Lainnya yang tidak dapat menikmati manfaat di bawah pemerintahan Jokowi
berharap bahwa pemerintah yang berbeda akan membuat hidup lebih mudah
bagi mereka.
Pada 7 Desember 2018, sekelompok pengusaha China mengadakan/gala
dinner/di ruang serbaguna di Sun City Jakarta, yang terletak di kawasan
bisnis China. Mereka mengundang Prabowo sebagai Tamu Kehormatan dan
untuk memberikan ceramah tentang “China dan bisnis di mata Prabowo
Subianto.” Mereka juga berencana untuk meminta sumbangan untuk dana
kampanye Presiden Prabowo setelah jamuan makan malam.
Prabowo menyampaikan pidato 40 menit tanpa teks. Dia mengucapkan terima
kasih kepada penyelenggara, dan menyatakan bahwa orang Indonesia
keturunan Tionghoa memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang
Indonesia dari kelompok etnis lain.
“Jika saya terpilih sebagai Presiden dan menerima mandat rakyat,”
Prabowo menyatakan, “Saya akan mencoba terbaik untuk membela semua warga
negara, termasuk kelompok minoritas.”
“Jika ada kelompok etnis atau agama yang diperlakukan buruk dan tidak
menerima keadilan, itu adalah tanggung jawab pemimpin untuk membela
kelompok itu.”
Prabowo berbicara tentang hidupnya sebagai seorang prajurit dan
menyatakan bahwa ia bertemu “semua orang dengan latar belakang etnis dan
agama yang berbeda. Mereka semua adalah manusia dengan karakteristik
yang serupa: memiliki mimpi, hasrat, dan ketakutan.”
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa di setiap kelompok etnis ada
unsur-unsur buruk; ini sama saja kasusnya dengan orang Jawa dan juga
orang China. Namun dia menekankan bahwa kita tidak boleh menganggap
buruk seluruh kelompok etnis hanya karena ada beberapa elemen buruk
dalam kelompok itu.
Prabowo juga mencatat bahwa dia mengagumi China dan budayanya, dan
mengatakan bahwa hidupnya telah dipengaruhi oleh filsafat China.
Salah satu pribahasa China yang ia ingat adalah: “Seribu teman terlalu
sedikit dan satu musuh terlalu banyak.”
Di antara hadirin pada jamuan makan malam itu, terdapat mantan istrinya,
Titiek Suharto, dan anggota terkemuka partainya. Ada satu program yang
tidak terduga malam itu. Setelah memberikan pidatonya, Prabowo yang
masih di atas panggung tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin mengundang
Titiek Suharto untuk menyanyikan lagu di atas panggung.
Dia mengatakan kepada hadirin bahwa hobi Titiek adalah bernyanyi,
termasuk menyanyikan lagu-lagu Mandarin. Titiek yang mengenakan pakaian
tradisional Indonesia berjalan ke panggung dan menerima mikrofon dari MC.
Dia berjalan ke arah Prabowo, menatapnya dan mulai menyanyikan lagu
cinta Mandarin yang populer/Bulan Mewakili Hatiku/(月亮 代表 我 的 心).
Dia bisa menyanyikan seluruh lagu dalam bahasa Mandarin, dan Prabowo
tetap di atas panggung bersamanya, sepanjang lagu itu. Terdapat
desas-desus bahwa jika Prabowo menjadi Presiden, Titiek akan kembali
kepadanya.
Keluarga Suharto masih memiliki kekuatan ekonomi yang kuat; mereka
baru-baru ini mendirikan partai baru, Partai Berkarya, yang mendukung
Prabowo dalam pemilihan presiden.
Acara ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ada pengusaha Indonesia
Tionghoa yang mendukung Prabowo; pada saat yang sama, Prabowo juga
mengirim pesan kepada orang Indonesia Tionghoa bahwa dia bukan
anti-etnis Tionghoa dan bahwa dia dapat mengakomodasi budaya China.
Calon presiden Prabowo Subianto (tengah) pada tanggal 25 Juli 2014
Calon presiden Prabowo Subianto (tengah) pada tanggal 25 Juli 2014.
(Foto: AFP/Stringer)
Saat diwawancarai, ketua komite/gala dinner/Chandra Suwono, mengatakan
bahwa ia berharap Prabowo akan menjadi Presiden baru. Dia juga
menjelaskan bahwa sumbangan itu sukarela dan tidak semua peserta diminta
untuk menyumbang untuk dana kampanye Prabowo.
Tampaknya para pengusaha China yang menghadiri acara tersebut berasal
dari usaha kecil dan menengah (UKM), dan tidak ada yang berasal dari
kelompok taipan dalam daftar Forbes. Donasi dikumpulkan pada akhir
jamuan makan malam, dan daftar donor—total 15 orang—diterbitkan pada
hari berikutnya.
Ia berhasil mengumpulkan Rp435 juta, di mana 22 di antara donor terbesar
adalah orang bernama Kasidi alias Ahok, yang memiliki nama panggilan
yang sama dengan mantan Gubernur Jakarta. Orang ini menyumbangkan Rp250
juta. Jumlah uang yang dikumpulkan selama jamuan makan malam itu kecil,
tetapi itu menunjukkan bahwa Prabowo memang memiliki pendukung China.
Seperti disebutkan sebelumnya, taipan-taipan China yang kaya pada
umumnya tidak akan secara terbuka menyatakan dukungan mereka untuk
Jokowi atau untuk Prabowo, karena ini tidak akan menguntungkan mereka.
Tetapi pengusaha UKM China tidak memiliki ketakutan ini karena mereka
tidak terkenal dan karenanya tidak menanggung risiko besar.
Namun ada satu taipan Tionghoa kaya Indonesia yang secara terbuka
menyatakan dukungannya untuk Jokowi. Dia adalah Hary Tanoe, Ketua
Perindo. Saat Pemilihan Presiden 2014 dia mendukung Prabowo. Tidak jelas
apa yang menyebabkan perubahan pilihannya.
Dia menyatakan bahwa dia mendukung Jokowi kali ini karena Jokowi telah
melakukan pekerjaan dengan baik dalam pengembangan infrastruktur.
Baca juga: Jelang Debat Pilpres 2019 Kedua: Menilik Infrastruktrur di
Era Jokowi
<https://www.matamatapolitik.com/analisis-jelang-debat-pilpres-kedua-korupsi-dan-infrastruktur-di-indonesia/>
Media sosial mencatat bahwa Hary Tanoe telah berkonflik dengan Tutut
Suharto mengenai kasus televisi TPI. Selain itu, dia juga sedang
diselidiki atas kasus “intimidasi” terhadap seorang pejabat Mahkamah Agung.
Ini sekali lagi membuktikan kebenaran ungkapan yang terkenal: Dalam
politik tidak ada teman yang abadi atau musuh abadi tetapi kepentingan
pribadi yang abadi!
/Leo Suryadinata adalah peneliti tamu senior di ISEAS-Yusof Ishak
Institute./
/Keterangan foto utama: Calon Presiden Indonesia Prabowo Subianto
(tengah), menyambut para pendukungnya setelah pendaftaran resminya
sebagai kandidat. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)/
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com