https://tirto.id/benarkah-80-pasar-tradisional-tak-layak-seperti-klaim-sandiaga-dhX3
Periksa Data
Benarkah 80% Pasar Tradisional Tak
Layak Seperti Klaim Sandiaga?
Header Periksa Data Menguji Klaim Sandiaga Soal Pasar Tradisional.
tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/benarkah-80-pasar-tradisional-tak-layak-seperti-klaim-sandiaga-dhX3>
Header Periksa Data Menguji Klaim Sandiaga Soal Pasar
Tradisional. tirto.id/Sabit
Oleh: Frendy Kurniawan - 28 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Pasar tradisional dekat dengan kehidupan masyarakat luas, persoalan ini
jadi bahan kampanye Cawapres No 2 Sandiaga Uno./
tirto.id <https://tirto.id/> - Pada 25 Februari 2019, calon wakil
presiden nomor urut 2 Sandiaga Uno, membuat tiga cuitan Twitter
<https://tirto.id/twitter.com/sandiuno/status/1100233950927044608>
mengenai pasar tradisional. Cuitannya tidak lain adalah laporan kegiatan
safari kampanye yang dirinya lakukan di Pasar Baru Wae, Batu Cermin,
Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Sandiaga mengatakan “sejumlah pedagang di pasar tersebut yang
menginginkan adanya perbaikan pasar yang menurut mereka sudah tidak
layak”. Ia juga bilang “70 persen ekonomi kita ada di pasar tradisional
seperti ini, namun 80 persen dari pada pasar tradisional kita masih
tidak layak”.
Klaim Sandiaga soal “70 persen ekonomi ada di pasar tradisional” dan
atau “80 persen pasar tradisional yang tidak layak” bukanlah kali
pertama. Ia telah 12 kali berucap soal itu. Ucapan-ucapan Sandiaga
melalui akun Twitter
<https://tirto.id/twitter.com/search?l=&q=70%25%20ekonomi%20from%3Asandiuno%20since%3A2014-01-01%20until%3A2019-02-27&src=typd&lang=en>
resmi (bercentang biru) @sandiuno dilakukan selama periode 28 September
2018-25 Februari 2019.
Pada cuitan-cuitannya, Sandiaga tidak menyebut keterangan apapun baik
penjelasan lebih jauh, ataupun sumber rujukan klaimnya.
Ihwal klaim Sandiaga “70 persen ekonomi ada di pasar tradisional”
datanya mirip yang pernah disampaikan oleh Wojciech Piotrowicz dan
Richard Cuthbertson (2015)
<https://books.google.co.id/books?id=kPFICAAAQBAJ&pg=PA151&dq=Data+Consult+2007&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiVy4PW993gAhXbiHAKHfwFAlQQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Data%20Consult%202007&f=false>,
dalam buku /Supply Chain Design and Management for Emerging Markets.
/Data itu bersumber dari “Data Consult 2007” (hlm 151). Namun, bila
ditelaah lagi, data soal perbandingan penguasaan pasar tradisional
dengan modern juga sudah adalah lawas.
Data sejenis juga pernah ada dalam laporan AC Nielsen (2009) dan
Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), Bank Mandiri (2012),
seperti ditulis Malobi Mukherjee dkk (2014)
<https://books.google.co.id/books?id=NJabBAAAQBAJ&pg=PA81&lpg=PA81&dq=Share+of+trade+(%25)+traditional+grocery+Retailing+in+Emerging+Markets:+A+policy+and+strategy+perspective&source=bl&ots=5-PJ9FJI71&sig=ACfU3U1ACQ93sVoH7dMZm9wUH4n0SPzkmg&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjBt8TQ-t3gAhWIRo8KHQe1AWAQ6AEwAXoECAkQAQ#v=onepage&q=Share%20of%20trade%20(%25)%20traditional%20grocery%20Retailing%20in%20Emerging%20Markets%3A%20A%20policy%20and%20strategy%20perspective&f=false>
dalam buku /Retailing in Emerging Markets: A Policy and Strategy
Perspective/ (2014:81). Data tersebut juga sudah lawas. Angka persentase
yang Sandiaga sebut merujuk pada 2004.
*Data BPS
*
Data terbaru soal yang sama adalah publikasi Badan Pusat Statistik (BPS)
yang berjudul /Profil Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko
Modern Tahun 2018/
<https://www.bps.go.id/publication.html?Publikasi%5BtahunJudul%5D=&Publikasi%5BkataKunci%5D=Pasar+Tradisional&yt0=Tampilkan>
semestinya harus menjadi acuan. Survei kepada 16.021 pusat perdagangan
di seluruh Indonesia, BPS menemukan, 88,52 persen dari jumlah itu adalah
pasar tradisional (14.182). Sementara sisanya, adalah toko modern
(7,06%) dan pusat perbelanjaan (4,42%).
Dari data BPS itu, menunjukkan ekonomi dari pasar tradisional memang
besar. Namun, membandingkan dengan klaim Sandiaga soal proporsi ekonomi
pasar tradisional, detail angka persentase berbeda. BPS membagi
klasifikasi ada tiga kategori, sementara itu klaim Sandiaga tidak ada
kategori.
Infografik Periksa Data Klaim Sandiaga Soal Pasar Tradisional
Ihwal klaim Sandiaga tentang “80% pasar tradisional yang tidak layak”
memang tak persis dari data-data yang ada. Data yang sama persis seperti
ucapan Sandiaga hanya dapat ditemukan dalam artikel Kontan, 16 Maret
2009
<https://nasional.kontan.co.id/news/80-pasar-tradisional-rusak-parah>
yang membahas soal “sekitar 80% dari 8.500 bangunan pasar tradisional
rusak parah” dan perlu dilakukan revitalisasi. Artikel tersebut juga
mengaitkan umur bangunan lebih dari 20 tahun dengan kebutuhan
revitalisasi. Konteksnya data tersebut juga sudah lawas.
Data yang pernah dirilis BPS (2018) tidak memiliki informasi yang secara
langsung dapat menunjukkan kategori pasar tradisional yang layak ataupun
tidak layak di Indonesia. Catatan BPS, jumlah pasar tradisional mencapai
14.182 di seluruh Indonesia.
Namun, dari data tersebut beberapa hal setidaknya dapat disarikan lebih
lanjut. /Pertama/, dari kategori umur operasi pasar tradisional,
mayoritas memang ≥ 25 tahun (8.053 atau 56,78 persen). Hanya ada 2.561
pasar tradisional, atau 18,06 persen yang umur operasi di bawah 10
tahun. Namun, tidak ada keterangan apakah umur operasi pasar tradisional
yang telah lama itu juga memperlihatkan kondisi pasar tradisional yang
tidak layak, seperti yang menjadi klaim Sandiaga.
infografik periksa data klaim sandiaga soal pasar tradisional
/Kedua/, beberapa kategori terkait dengan fasilitas di pasar
tradisional, masih dapat dieksplorasi. Sebut saja misalnya, “jenis
lantai terluas”, “fasilitas toilet/WC” dan “fasilitas drainase”
Pengandaiannya, beberapa kategori tersebut dapat menjadi gambaran umum
bagaimana kondisi pasar tradisional secara umum di Indonesia.
Untuk “jenis lantai terluas” misalnya, sebanyak 10.202 atau 51,97 persen
dari pasar tradisional di Indonesia sudah berlantai semen. Hanya ada
5.398 atau 21,60 persen yang tercatat masih berlantai tanah. Begitu
pula, sudah ada 9.369 atau 66,06 persen pasar tradisional yang memiliki
“fasilitas toilet/WC”. Serta, 7.492 atau 52,83 persen telah berstatus
memiliki “fasilitas drainase”.
Artinya, klaim bahwa ada “80% pasar tradisional yang tidak layak” tentu
masih membutuhkan penjelasan dan keterangan lebih detail dari Sandiaga.
Sebaiknya Sandiaga perlu lebih cermat bila menyampaikan sesuatu saat
masa kampanye, apalagi terkait dengan jualan kampanyenya.
Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA
<https://tirto.id/q/periksa-data-gqo?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
<https://tirto.id/author/frendykurniawan?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Ekonomi)
Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Suhendra
Klaim Sandiaga tentang “80% pasar tradisional yang tidak layak” memang
tak persis dari data-data yang ada.