https://news.detik.com/kolom/d-4456012/nyepi-pemilu-dan-harmoni?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.23439482.1304475056.1551896861-650248694.1551896861
Rabu 06 Maret 2019, 13:30 WIB
Kolom
Nyepi, Pemilu, dan Harmoni
Dede Solehudin - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/deshols>
Dede Solehudin, SE <https://connect.detik.com/dashboard/public/deshols>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4456012/nyepi-pemilu-dan-harmoni?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.23439482.1304475056.1551896861-650248694.1551896861#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4456012/nyepi-pemilu-dan-harmoni?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.23439482.1304475056.1551896861-650248694.1551896861#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4456012/nyepi-pemilu-dan-harmoni?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.23439482.1304475056.1551896861-650248694.1551896861#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4456012/nyepi-pemilu-dan-harmoni?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.23439482.1304475056.1551896861-650248694.1551896861#>
Nyepi, Pemilu, dan Harmoni Ogog-ogoh untuk menyambut Hari Raya Nyepi
(Foto: Rifkianto Nugroho)
*Jakarta* -
Ada kondisi yang cenderung paradoks pada awal Maret ini, tepatnya pada 7
Maret besok. Secara spesifik ini merujuk masyarakat yang tinggal di
Bali. Kondisi paradoks tersebut adalah sebuah fakta kekinian yakni
pemilu yang cenderung bising berhadapan dengan Hari Raya Nyepi yang
dirayakan oleh saudara kita yang beragama Hindu.
Secara makna dan tradisi Nyepi kali ini tak beda dengan tahun
sebelumnya. Akan sunyi-senyap selama 24 jam. Menepikan urusan keduniaan
seperti bekerja, berpergian, atau bentuk lain yang sifatnya pengamalan
dari Catur Brata Penyepian. Diawali dengan berbagai upacara atau ritual
lainnya kemudian di tutup dengan pertunjukan karya seni berupa ogoh-ogoh
yang diarak menuju sebuah titik kumpul yang biasanya berupa alun-alun kota.
Ogoh ogoh adalah sebuah manifestasi dari tokoh jahat yang dinamakan Buta
Kala. Namun kini sepertinya ogoh-ogoh telah bergeser dari semula hanya
sebatas gambaran tokoh jahat menjadi sebuah hasil karya seni yang unik.
Tokoh jahat yang dibangun menjadi sebuah bentuk patung yang pada
prosesnya memerlukan imajinasi bentuk, rupa, dan makna. Dibuat oleh
tangan-tangan anak muda kreatif dengan mengandalkan ketelitian dan
kesabaran juga pengorbanan baik bersifat materi maupun waktu.
Ogoh-ogoh yang telah jadi tersebut kemudian pada satu hari menjelang
Nyepi diarak menjadi sebuah pertunjukan hasil seni. Disaksikan oleh
masyarakat baik pendatang sebagai wisatawan maupun masyarakat setempat.
Pelancong mancanegara banyak juga yang menyaksikan. Pertunjukan seni
cuma-cuma.
Akhirnya ogoh-ogoh yang merupakan simbol dari kejahatan kemudian
dibakar. Dengan dibakarnya ogoh-ogoh tersebut menandai musnahnya
berbagai unsur jahat dalam kehidupan. Sehingga siap untuk melakukan
ritual Nyepi.
*Nyepi dan Pemilu
*
Berkaitan dengan suhu politik yang semakin memanas yang ditandai dengan
pelbagai friksi dan polarisasi dukungan, Nyepi memungkinkan sekali
dijadikan momentum kontemplasi. Saat yang tepat untuk memeriksa kembali
apakah perdebatan pemilu ini sudah bermuara sekaligus berpijak pada
kepentingan negara dan bangsa atau hanya sekedar memenuhi syahwat berkuasa.
Pemilu adalah sebuah kontestasi dalam kebaikan, yaitu berlomba-lomba
untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara secara keseluruhan,
bukan mengabdi pada partai, golongan, atau kelompok kepentingan
tertentu. Proses perenungan ini bukan hanya oleh saudara yang beragama
Hindu, namun bagi semua elemen bangsa khususnya yang tinggal di Bali.
Seharian penuh kita tidak akan menyaksikan saling klaim, saling maki dan
saling sindir. Seharian penuh kita mengisolasi diri dari dunia luar.
Dipaksa untuk tidak /posting/ dan berkomentar di media sosial. Berhenti
untuk menebar kontroversi dan hoaks. Fokus pada perenungan dan
introspeksi individu. Seharian penuh pula kita terbebas dari runyam dan
berisiknya media sosial dengan segala /posting/-an dan sifatnya yang
viral. Akses internet untuk sementara dimatikan, begitu pun dengan
jaringan televisi. Sehingga bisa dengan nyaman saudara yang beragama
Hindu melakukan ritualnya.
Berbeda dengan kami yang muslim atau kawan-kawan kami yang bukan Hindu.
Momen Nyepi dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk beristirahat total.
Tanpa bising kendaraan, tanpa polusi suara, dan tanpa radiasi ponsel.
Terutama tanpa harus dipaksa mendengar riuhnya tim kampanye yang saling
tuduh dan saling memuji diri dan kelompoknya. Narsisme politik dan ego
kelompok.
Jika Nyepi ini betul-betul dijadikan sebagai sarana kontemplasi, maka
sejalan dengan pemusnahan unsur jahat yang dimanifestasikan dalam bentuk
patung ogoh-ogoh. Unsur keburukan dalam kehidupan baik berupa hoaks,
caci maki, fitnah, dan perkataan kotor selayaknya ditinggalkan. Karena
itu semua merupakan bentuk dari keburukan. Termasuk di dalamnya adalah
sikap intoleran dan penghalalan segala cara dalam mencapai tujuan.
Sehingga selepas Nyepi, akan tumbuh energi kebaikan dan berkurangnya
energi keburukan. Kampanye akan semakin bermartabat dan akhirnya proses
pemungutan suara akan dilakukan secara jujur. Jika itu dilakukan,
maka/outcome/ pemilu berupa anggota legislatif dan pasangan presiden pun
berkualitas. Atau minimal itu adalah manifestasi pilihan masyarakat yang
berpikir jernih dan waras.
*Tetap Menarik
*Dengan segala keunikan dan daya tariknya, Bali memberi ruang yang
begitu leluasa bagi kita untuk melakukan harmonisasi dengan alam dan
lingkungannya. Dalam suasana Hari Raya Nyepi, Pulau Dewata meskipun
seharian penuh istirahat tanpa denyut kehidupan masih saja menarik.
Jalanan diberi kesempatan untuk melepaskan beban kendaraan yang hilir
mudik. Pantai yang selalu jadi magnet utama Bali untuk sementara
terbebas dari manusia dan aktivitas lainnya. Pun demikian dengan
destinasi wisata lainnya seperti diberikan waktu untuk me-/recovery/ diri.
Pada hari itu, semua wisatawan menikmati sisi lain dari Bali, kesunyian
dan sepi juga gulita di malam hari. Alih-alih menjadi penghalang tujuan
wisata, di Hari Nyepi itu justru untuk beberapa turis asing atau
domestik menjadi daya tarik tersendiri. Mereka penasaran untuk
menyaksikan dan mengalami Nyepi di Bali.
Meskipun aktivitas hanya terbatas di hotel atau tempat penginapan,
wisatawan bisa menikmati sisi lain dari Bali. Menyaksikan sekaligus
merasakan ragam perilaku toleransi antarpemeluk agama yang berlainan.
Melihat betapa masyarakat Bali sangat patuh pada ajarannya. Serta,
banyak lagi keunikan juga kekhasan Bali di Hari Raya Nyepi yang tidak
ditemukan di daerah lain.
Inilah Bali dengan segala daya tariknya. Bukan hanya pantainya. Bukan
sebatas Kuta, tari Kecak, pura, dan /landmark/ lainnya. Tapi Bali yang
memiliki daya tarik di setiap sendinya. Bali yang memiliki denyut yang
selalu hidup meskipun dalam suasana Nyepi. Bali sebagai anugerah Tuhan
Yang Maha Kuasa untuk Indonesia tercinta.
*Keseimbangan*
Spirit Nyepi bagi saya secara pribadi adalah keseimbangan, harmoni
dengan alam, juga sebagai tanda koma. Berhenti sesaat dari aktivitas
keseharian baik di kantor maupun aktivitas sosial lainnya. Namun tentu
bagi sebagian kecil kelompok, Nyepi dengan segala pembatasan termasuk
pada akses internet merupakan sebuah kondisi kurang menyenangkan.
Kaum milenial yang cenderung lekat dengan dunia digital termasuk
teknologi /smartphone/ akan kurang nyaman. Seharian penuh tidak bisa
mengakses internet baik berupa media sosial maupun /game online/
sepertinya suatu kerugian dan cenderung membosankan.
Pun bagi kontestan dan tim kampanye sepertinya tak jauh berbeda. Mereka
tidak bisa menyebarkan informasi, propaganda, dan lain sebagainya kepada
masyarakat. Akses informasi/shutdown/ untuk sementara waktu. Namun,
dengan Nyepi kita bisa merenungi secara jernih dan bisa berpikir waras
dalam menentukan pilihan baik dalam pilpres maupun pileg. Semoga dengan
spirit Nyepi unsur keburukan dalam setiap individu bisa sirna seperti
sirnanya ogoh-ogoh yang telah dibakar.
*Dede Solehudin* /pemerhati sosial, tinggal di Bali/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*