https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=
2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191
Kamis 07 Maret 2019, 12:05 WIB
Kolom
Nyepi 4.0
Ardiansyah Bagus Suryanto - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
Ardiansyah Bagus Suryanto
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4457325/nyepi-40?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.187937007.635110987.1551984191-1339578107.1551984191#>
Nyepi 4.0 Suasana Nyepi di Bali (Foto: Aditya Mardiastuti)
*Jakarta* - Landasan dari keterhubungan manusia adalah adanya harapan.
Harapan tersebut bergerak ke segala arah dan tak teratur. Maka agar
harapan tersebut tercapai dan tidak saling berseberangan, perlu
aturan-aturan yang mengatur jalannya harapan. Tidak jarang adanya
aturan-aturan tersebut membuat manusia menahan diri sejenak. Dalam
sejarah perkembangan manusia, banyak tertulis manusia-manusia yang
bersusah payah menahan diri dengan caranya masing-masing.
Sidharta Gautama menenangkan diri dengan /nyepi/ di bawah pohon Bodhi.
Maria mengasingkan diri /nyepi/ dari keramaian manusia ke Baitul Maqdis,
Nabi Muhammad SAW ber-/uzlah/, /nyepi/ di Goa Hira' dan Ibnu Hajar
al-Asqalani menahan diri dengan merenungkan tetesan air dalam kesepian.
Beruntung siapa saja yang meluangkan waktu untuk /nyepi/ seperti
orang-orang terdahulu. Mengasingkan diri melakukan Catur Brata
Penyepian: /amati geni, amati lelanguan, amati pakaryan, dan amati
lelungan/.
/Nyepi/ ibarat spasi di antara barisan kata dalam kalimat. /Nyepi/
adalah puasa, menahan diri sejenak untuk meraih kepuasan. /Nyepi/ adalah
jalan keluar untuk melangkah lebih jauh memaknai kehidupan. Bukan sebuah
kebetulan kata puasa berdekatan dengan kata puas, alam seakan memberikan
isyarat bahwa dengan puasalah kepuasan itu dapat dirasakan. Orang-orang
terdahulu berhasil memperoleh pencerahan setelah melakukan /nyepi/,
menaklukkan dua kekuatan besar yang menguasai manusia.
Dua kekuatan besar itu menurut Al-Ghazali disimbolkan dengan anjing dan
babi. Anjing sebagai simbol manusia yang gandrung akan kekuasaan,
pengaruh atau agresi, sedangkan babi sebagai simbol perut yang
seringkali rakus dan tak pernah puas dengan apa yang ada.
Dua kekuatan besar di era Revolusi Industri 4.0 ini menjelma menjadi
cebong dan kampret. Cebong sebagai simbol manusia yang memposisikan
pemilu sebagai upaya memperpanjang jalan tol, dan kampret sebagai simbol
manusia yang memposisikan pemilu sebagai Perang Badar. Mungkinkah untuk
tidak memilih golput tanpa menjadi cebong atau kampret? Realitanya,
ketika seseorang bercerita tentang pemandangan indah sepanjang tol akan
dianggap dalam barisan cebong, sedangkan ketika seseorang bercerita
tentang anggaran penelitian dan pengembangan yang sangat memprihatinkan
akan dianggap sebagai barisan kampret.
/*Amati Geni
*/
Mengendalikan api kebencian yang bisa membakar persatuan dan kesatuan.
Pemilu bukan tentang kalah atau menang, pemilu juga bukan siapa yang
terbaik atau siapa lebih baik dari siapa melainkan tentang musyawarah
mufakat. Digitalisasi teknologi bukan untuk siapa menyindir siapa,
melainkan fokus pada kelebihan diri dengan menyimpan kekurangan yang
lain. Jika tak bisa berkomentar dengan baik, maka lebih baik untuk
/nyepi/ dari keramaian informasi yang bertebaran di jagat dunia maya.
/*Amati Lelanguan
*/
Mengendalikan diri dari perdebatan yang berujung konfrontasi. /Nyep/i
dari lalu lintas penafsiran sepihak atau pen-/tasrif/-an tanpa pedoman.
Berusaha untuk tidak membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa
orang lain pembohong. Setiap manusia dalam proses pembelajaran yang
tidak ada habisnya. Kekafiran diri sendiri seringkali tidak terasa,
namun memaafkan orang lain dengan membiasakan diri bertutur dan senyum
teratur membuat hidup terasa lebih indah.
/*Amati Pakaryan
*/
Bersikap adil terhadap diri sendiri dan orang lain secara seimbang.
Membangun moderasi sejak dalam pikiran sebagai modal awal untuk tidak
berlebihan dalam mengumpat atau menyanjung, bekerja atau berlibur dan
mencari atau menjadi. Mencari sebagai upaya mengeksplorasi kemampuan dan
kemauan untuk berbuat yang terbaik, sementara menjadi sebagai upaya
untuk berpikir, merenungi, merencanakan dan menjadikan setiap apa yang
terjadi adalah yang terbaik. Sampai kapan manusia terus berlari untuk
mencari, sudah waktunya untuk menjadi dan setelah itu akan dicari.
/*Amati *//*Lelungan*/
Apa yang telah pergi tidak akan kembali. Pergi bukan sekadar perpindahan
tanpa arti, melainkan menyucikan hati menjadi berarti. Tidak semua yang
pergi ditandai dengan perpindahan yang berarti, maka berhenti untuk
memaknai arti kata suci lebih terpatri. Diam tanpa henti dalam suatu
detik yang terus berlari mengejar mentari esok hari.
Agama adalah jalan, bukan tujuan. Jalannya orang-orang yang telah
selesai dengan dirinya sendiri. Memperoleh pencerahan dari Sang Maha
Kuasa, sehingga menjadi manusia paripurna. Memberikan kabar gembira
kepada orang-orang yang taat dalam menjalankan /dharma/ dan senantiasa
mengingatkan jiwa-jiwa yang masih terpenjara dalam dunia. Tidak ada
jalan selain kemanusiaan, saling tolong-menolong dan menebarkan kasih
kepada sesama.
Setiap kehidupan pasti akan berakhir, tidak ada jalan lain selain kasih
Tuhan. Mengandalkan kemampuan diri tanpa berharap kepada Sang Maha Kuasa
adalah fondasi kesombongan. /Nyepi/ sebagai jalan untuk merawat
kemampuan diri dengan untaian mantra-mantra.
Selamat Hari Raya Nyepi!
*Ardiansyah Bagus Suryanto* /editor Journal of Islamic Education UIN
Sunan Ampel/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*