https://tirto.id/tjipto-mangoenkoesoemo-manusia-buangan-amp-tak-merasakan-kemerdekaan-diF5
8 Maret 1943
Tjipto Mangoenkoesoemo: Manusia
Buangan & Tak Merasakan
Kemerdekaan
Ilustrasi Mozaik Tjipto Mangoenkoesoemo. tirto.id/Deadnauval
<https://tirto.id/tjipto-mangoenkoesoemo-manusia-buangan-amp-tak-merasakan-kemerdekaan-diF5>
Ilustrasi Mozaik Tjipto Mangoenkoesoemo. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Iswara N Raditya - 8 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Tjipto Mangoenkoesoemo adalah dokter, wartawan, sekaligus pejuang
pergerakan nasional yang berkali-kali merepotkan rezim kolonial tapi
tidak sempat menghirup udara kemerdekaan./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Tanggal 8 Maret pemerintah kolonial
menyerah. Tanggal itu juga, aku menyerahkan diri kepada yang Mahakuasa.”
Itulah yang kata-kata terakhir Tjipto Mangoenkoesoemo seperti dikutip
buku /Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Demokrat Sejati/karya M. Balfas
(1952:41). Tanggal 8 Maret 1942, Belanda takluk kepada Jepang, dan tepat
setahun berikutnya, hidup dan perjuangan Tjipto pungkas.
Sekitar jam 6 pagi 74 tahun silam, ia menghembuskan napas penghabisan di
Jakarta. Tjipto tak sempat merasakan buah perjuangan yang dilakoninya
selama puluhan tahun. Kemerdekaan Indonesia baru hadir dua warsa setelah
Tjipto meninggalkan dunia.
Tjipto adalah sang manusia buangan. Dari berbagai tanah pembuangan, ia
terus berjuang menentang kaum kolonial yang sudah berabad-abad
mengangkangi tanah airnya.
Pejuang Multitalenta
Di mana Tjipto Mangoenkoesoemo dilahirkan masih simpang-siur. Yang
jelas, ia berasal dari Jawa Tengah. Akira Nagazumi (1989) dalam
/Bangkitnya Nasionalisme Indonesia/hanya menyebut Tjipto lahir di desa
bernama Pecangakan.
Desa yang dimaksud menurut Achmad Baidowi & Dalimun Sentono (1979)
dalam buku berjudul /Tiga Serangkai/itu berada di dekat Ambarawa.
Sedangkan buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1977)
dengan tajuk /Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Pembela Rakyat, Perintis
Kemerdekaan, Pahlawan Nasional/menuliskan bahwa Pecangakan adalah nama
desa di Jepara. Namun, agaknya versi Ambarawa-lah yang benar, karena
Tjipto pun dikebumikan di sana.
Begitu pula dengan waktu kelahirannya. Ada referensi yang menyebut
Tjipto Mangoenkoesoemo lahir pada 1883, tapi ada pula yang meyakini
bahwa salah satu anggota Tiga Serangkai selain Douwes Dekker dan Ki
Hadjar Dewantara ini dilahirkan pada 1886.
Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan seorang pejuang pergerakan nasional
yang mampu mempermainkan hati pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia
kerap dipenjara dan diasingkan, tapi Belanda sering pula melunak agar
Tjipto lebih kompromis dan tidak terlalu banyak tingkah.
Baca juga:
* Sejarah Hidup Abdoel Moeis: Pengawal Sarekat Islam, Anti Komunis
<https://tirto.id/sejarah-hidup-abdoel-moeis-pengawal-sarekat-islam-anti-komunis-dbRk>
Tjipto adalah seorang dokter lulusan STOVIA, sekolah dokter Jawa di
Batavia
<https://tirto.id/akhir-riwayat-batavia-di-utara-jakarta-cj83>yang kini
menjelma menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tidak
mengherankan jika namanya diabadikan sebagai salah satu rumah sakit
terkemuka di Jakarta.
Saat menempuh studi di STOVIA itulah ia sempat turut dalam pembentukan
Boedi Oetomo (BO) pada 1908 yang kemudian didapuk sebagai organisasi
kebangsaan pertama di Indonesia, meskipun penetapan ini masih menjadi
perdebatan di kalangan sejarawan.
Bersama saudara kandungnya, Goenawan Mangoenkoesoemo, Tjipto adalah
aktivis angkatan pertama BO selain nama-nama populer lain macam Wahidin
Sudirohusodo, Radjiman Wedyodiningrat, Soetomo.
Namun, Tjipto tidak bertahan lama di Boedi Oetomo karena berselisih
paham dengan kubu Radjiman Wedyodiningrat. Tjipto ingin agar BO menjadi
organisasi terbuka dan lebih demokratis. Sedangkan Radjiman ngotot
mempertahankan BO sebagai gerakan murni priyayi Jawa.
Selepas dari BO, Tjipto lalu membuka praktek dokter di Solo. Ia juga
berandil besar dalam pemberantasan wabah pes di Malang pada 1911. Berkat
jasanya itulah, Dokter Tjipto mendapat bintang emas, penghargaan dari
pemerintah kolonial Hinda Belanda.
Tapi, Tjipto tidak sudi menerima anugerah dari penjajah. Dengan
menempelkan bintang emas itu di pantat sebagai bentuk penentangannya,
Tjipto pergi ke Batavia untuk mengembalikan penghargaan tersebut kepada
yang memberikannya (M. Balfas, 1952:49).
Pada 1912, ia kembali ke kancah pergerakan. Tjipto mendeklarasikan
Indische Partij (IP) di Bandung bersama dua sahabatnya, Ernest Douwes
Dekker dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). IP adalah
organisasi terbuka yang tanpa tedeng aling-aling menyerukan tujuan
kemerdekaan.
Tiga Serangkai itu juga menerbitkan /De Expres/sebagai media propaganda
IP. Nantinya, /De Expres/menjadi salah satu senjata utama Tjipto dan
kawan-kawan dalam melancarkan “perang” terhadap rezim kolonial Hindia
Belanda.
Baca juga:
* Sejarah Hidup H.O.S. Tjokroaminoto: Pemimpin Abadi Sarekat Islam
<https://tirto.id/sejarah-hidup-hos-tjokroaminoto-pemimpin-abadi-sarekat-islam-dcbE>
Infografik Mozaik Tjipto Mangoenkoesoemo
Akrab dengan Pengasingan
Berkali-kali Tjipto harus menjalani hidup sebagai orang buangan. Dalam
konteks perjuangan, ini adalah status yang membanggakan. Tanggal 8
Agustus 1913, pengadilan kolonial memutuskan bahwa Tiga Serangkai
bersalah dengan dakwaan “menentang pemerintahan yang sah.” Ketiganya
kemudian diasingkan ke Belanda.
Baru setahun menjalani pengasingan di negeri asal penjajah, Tjipto
dipulangkan terlebih dulu dengan alasan kesehatan (Parakitri
Simbolon,/Menjadi Indonesia,/2000: 277). Tiba di tanah air pada 22
Agustus 1914, ia langsung membangkitkan IP—yang sebelumnya telah
diberangus—dengan nama baru: Insulinde.
Untuk mendukung gerakan Insulinde, Tjipto menerbitkan dua media
sekaligus, yakni Panggoegah dan Indische Beweging. Tulisan-tulisan
Tjipto di dua surat kabar ini kerap membuat orang kolonial meradang.
November 1915, ia sempat diajukan ke pengadilan dengan tuduhan
pencemaran nama baik, namun bebas karena kurangnya bukti.
Aparat kolonial kini lebih berhati-hati dalam menghadapi Tjipto. Ia
dianggap sebagai pribumi yang paling berpengaruh selainH.O.S.
Tjokroaminoto dari Sarekat Islam (SI)
<https://tirto.id/taktik-tjokroaminoto-menggulingkan-petahana-cjiP>serta
orang-orang Boedi Oetomo.
Tjipto diminta oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk masuk ke
jajaran Dewan Rakyat (Volksraad) yang dibentuk 18 Mei 1918. Kendati jadi
anggota dewan, Tjipto tetap vokal dan terus mengkritisi pemerintah,
termasuk Volksraad sendiri. Kasunanan Surakarta Hadiningrat juga sering
menjadi sasaran kecam Tjipto yang memang anti-feodalisme (Takashi
Shiraishi,/Zaman Bergerak,/1997:240).
Tjipto tetap konsisten dengan tujuan perjuangan yang dulu diusung IP dan
lantas dilanjutkan oleh Insulinde –yang kemudian berganti nama menjadi
Nationaal Indische Partai-Sarekat Hindia (NIP-SH)– yakni “pembentukan
suatu kebangsaan Indonesia dengan negara yang merdeka.”
Pergerakan Tjipto dan Insulinde tak pelak membuat pemerintah kolonial
kelabakan. Ia dan kawan-kawan,termasuk Mohammad Misbach sang haji merah
<https://tirto.id/mohammad-misbach-sang-haji-merah-chBV>yang kala itu
juga aktivis Insulinde, kerap melakukan propaganda kepada kaum tani di
desa-desa untuk mogok kerja. Tanggal 4 Januari 1921, Tjipto ditangkap
dan diseret ke pengadilan.
Baca juga:
* Rekso Roemekso, Ormas Keamanan Menjelma Sarekat Islam
<https://tirto.id/rekso-roemekso-ormas-keamanan-menjelma-sarekat-islam-chic>
Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) menyarankan kepada Gubernur
Jenderal agar Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke daerah yang
penduduknya tidak bisa berbahasa Jawa. Pasalnya, pesona Tjipto yang
paling membius adalah kemampuannya menggerakkan rakyat dengan bahasa Jawa.
Tjipto sempat rehat sejenak dari ranah pergerakan karena statusnya
sebagai orang buangan sangat dibatasi oleh aturan kolonial. Selama
beberapa tahun, ia menjalani profesinya sebagai dokter dan keluar-masuk
kampung untuk mengobati warga yang membutuhkan pertolongannya.
Namun, pecahnya perlawanan terhadap pemerintah kolonial yang dimotori
oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926, Tjipto ikut kena
getahnya. Ia dianggap membantu pergerakan kaum merah sehingga ditangkap
dan dipenjara. Tjipto sering dituduh sebagai komunis karena sifatnya
yang keras dan radikal itu (Soegeng Reksodihardjo, dkk.,/Dr. Cipto
Mangunkusumo,/1992:89).
Pada 19 Desember 1927, pemerintah memutuskan Tjipto dibuang ke
Banda,Kepulauan Maluku
<https://tirto.id/sultan-baabullah-sang-penakluk-ciJo>. Dari Banda, ia
dipindahkan ke Bali, kemudian ke Makassar, lalu diungsikan lagi ke
Sukabumi, Jawa Barat. Seringnya berpindah tempat selama belasan tahun
membuat penyakit asma yang sejak lama diderita Tjipto kian parah.
Tjipto pun dilarikan ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan yang lebih
baik. Namun, jiwanya tidak tertolong hingga akhirnya ia wafat pada 8
Maret 1943, tepat hari ini 76 tahun lalu. Meskipun berstatus sebagai
orang buangan, Tjipto justru sangat bersyukur, dan ia sudah mengatakan
itu jauh-jauh hari sebelumnya:
“Kalau nanti aku harus menanggung segala akibat dari kata-kata keras
yang kukeluarkan dari jiwa yang pedih, aku akan bersyukur kepada Allah
untuk keadilan-Nya yang memberikan kenikmatan padaku dalam hukuman:
kenikmatan bahwa aku dapat berbuat jasa bagi bangsaku. Tuntutlah aku,
siksalah aku, aku tiada gentar!”
============
/Catatan: Naskah ini pernah tayang pada 8 Maret 2017 di Tirto, pada
edisi Mozaik 8 Maret 2019, redaksi merilis ulang dengan minor penyuntingan./
Baca juga artikel terkait MOZAIK TIRTO
<https://tirto.id/q/mozaik-tirto-joj?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
<https://tirto.id/author/iswara?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani
Tjipto meninggal pada 8 Maret 1943 akibat penyakit asma yang parah