https://tirto.id/soeharto-jenderal-bintang-lima-tapi-tak-pernah-menang-perang-divN
Jenderal Bintang Lima
Soeharto, Jenderal Bintang Lima tapi
Tak Pernah Menang Perang
Jenderal Besar daripada Soeharto. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/soeharto-jenderal-bintang-lima-tapi-tak-pernah-menang-perang-divN>
Jenderal Besar daripada Soeharto. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 12 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Soeharto dianugerahi jenderal besar bintang lima pada 1997. Menurut
Panglima ABRI ini terkait jasanya memimpin operasi militer./
tirto.id <https://tirto.id/> - Ada yang istimewa pada perayaan Hari
Ulang Tahun (HUT) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ke-52
pada 5 Oktober 1997. Soeharto tampil beda dari HUT ABRI yang
sudah-sudah. Dia masih inspektur upacara, namun di pundaknya tidak ada
lagi empat bintang. Hari itu dia menyandang lima bintang.
Beberapa hari sebelum upacara tersebut, Panglima ABRI Jenderal Feisal
Tanjung menyambangi rumah daripada Soeharto di Jalan Cendana untuk
menyerahkan tanda pangkat kehormatan itu.
Demi mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, apalagi membuat orang
berpikiran buruk tentang presiden daripada Republik Indonesia, Panglima
ABRI menegaskan di hadapan wartawan bahwa pemberian pangkat jenderal
besar bintang lima tidak terkait dengan posisi Soeharto sebagai Presiden
RI merangkap Panglima Tertinggi ABRI.
“Pangkat kehormatan kepada Presiden diberikan dengan pertimbangan
(Presiden Soeharto) berhasil memimpin tiga operasi militer yaitu
Serangan Umum 1 Maret (1949), Trikora dalam Perebutan Irian Barat (1962)
dan menumpas pemberontakan G30S/PKI (1965),” jelas Panglima ABRI seperti
dirilis /Media Indonesia/ (2/10/1997).
Ditegaskan pula pangkat bintang lima tersebut tidak terkait dengan
struktur organisasi ABRI. Sebab, kata Feisal Tanjung, “ABRI hanya
memiliki jenderal bintang empat.” Salah satunya Feisal Tanjung sendiri.
Jenderal bintang empat sudah dianggap cukup untuk memimpin ABRI.
Selain Soeharto, hari itu pangkat kehormatan jenderal besar bintang lima
juga diberikan kepada Jenderal Abdul Haris Nasution dan almarhum
Jenderal Sudirman. Keduanya dianggap berjasa bagi ABRI, bahkan kepada
bangsa dan negara Indonesia. Setelah menerima gelar kehormatan itu,
tentu saja Soeharto merasa bangga.
Dari SU 1 Maret hingga Pembersihan PKI
Soeharto kecil tampaknya tidak menyangka dirinya akan menjadi jenderal,
apalagi jenderal bintang lima. Zaman dia kecil jenderal betulan bukan
untuk orang pribumi desa sepertinya. Menjadi sersan dalam ketentaraan
Hindia Belanda (KNIL) saja Soeharto muda yang polos sudah senang dan
bangga. Dengan jadi sersan, paling tidak dia merasa terlepas dari
penderitaan di dalam keluarga yang kadang tidak adil padanya. Namun
karena revolusi kemerdekaan, di mana Soeharto terlibat, telah mengubah
tatanan, maka Soeharto pun akhirnya jadi jenderal pada awal 1960-an.
Soeharto tentu sudah membuktikan kesetiaannya kepada Republik Indonesia
yang sulit menang secara militer melawan Belanda. Seperti disebut Feisal
Tanjung, Soeharto adalah pemimpin operasi Serangan Umum 1 Maret 1949
atas kota Yogyakarta yang sebelumnya diduduki Belanda. Meski hanya enam
jam, pendudukan oleh pasukan yang dipimpin Soeharto itu sangat berarti
di mata kaum Republiken.
Dicatat dalam banyak buku sejarah Orde Baru, serangan yang dipimpin
Soeharto membuka mata dunia bahwa TNI dan RI masih ada. Terlepas dari
siapa otak dari serangan itu dan berapa mangkok soto babat yang dimakan
Soeharto di Kuncen.
Baca juga: Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949: Soeharto Jajan Soto Saat
Perang
<https://tirto.id/sejarah-serangan-umum-1-maret-1949-soeharto-jajan-soto-saat-perang-diaZ>
Terkait Operasi Mandala Trikora Pembebasan Irian Barat, Soeharto yang
baru saja jadi jenderal kala itu adalah orang yang menyusun pasukan
untuk melakukan serangan besar-besaran ke Irian Barat yang diduduki
Belanda. Beberapa pasukan, salah satunya pasukan Benny Moerdani,
diterjunkan terlebih dahulu sebelum serangan. Namun penyerbuan
besar-besaran seluruh pasukan di bawah komando Soeharto tidak pernah
terlaksana karena Indonesia keburu beruntung di jalur diplomasi yang
dicampuri Amerika Serikat.
Meski Operasi Trikora tidak sepenuhnya mengeluarkan kekuatan dan tidak
mengalahkan Belanda secara militer, bintang Soeharto kian bersinar. Di
masa ini pula Soeharto dianugerahi anak laki-laki bernama Hutomo Mandala
Putra.
Selain operasi di Irian Barat, Soeharto juga menjadi orang penting dalam
sejarah pembentukan Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
di awal 1960-an itu. Soeharto adalah panglima pertamanya.
Baca juga: Kostrad: Saksi Kecemerlangan Soeharto dan Redupnya Prabowo
<https://tirto.id/kostrad-saksi-kecemerlangan-soeharto-dan-redupnya-prabowo-cFzS>
Peran Soeharto yang paling sering disebut dan dikenang tentu saja
pemberantasan PKI antara 1965-1966. Soeharto, sebagai orang Indonesia
terkuat setelah 1 Oktober 1965, memakai kekuatannya untuk menyikat
pasukan penculik G30S dan setelah itu melakukan penahanan atas
orang-orang yang dianggap komunis. Di masa ini Republik banjir darah.
Setelah masa kelam itu berlalu, lahirlah apa yang disebut Orde Baru.
Soeharto kemudian menjadi orang nomor satu di periode ini, tentu saja
dengan dukungan ABRI. Di masa kekuasaannya musuh nomor satu daripada
rezim Soeharto adalah PKI. Bahkan hingga kini komunis masih dianggap
banyak orang sebagai bahaya laten. Perang melawan komunis inilah perang
terbesar yang dimenangkan Soeharto, bukan melawan tentara hebat dari
negara lain.
Infografik Jenderal Soeharto
Dwifungsi Diambil Lagi
Selama lebih dari dua dekade jadi presiden, Soeharto membuat posisi ABRI
semakin kuat. Jika di masa Presiden Sukarno ada tawaran amnesti bagi
para pemberontak, di zaman Soeharto sulit ada tawaran serupa bagi orang
yang dianggap pernah memberontak.
Pada zaman Orde Baru Soeharto lebih banyak lagi membawa tentara ke ranah
sipil. “Yang tidak dipunyai Jenderal Soeharto waktu itu adalah teori
atau doktrin yang membenarkan peran dominan tentara dalam politik,”
tulis Salim Said dalam /Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter
Soeharto /(2016: 253-255).
Kala itu Jenderal Soeharto butuh teori untuk melandasi peranan tentara
sebagai pengelola negara. Maka pemikiran Nasution pun dipakainya,
terutama tentang Dwifungsi ABRI. Inilah masa-masa kejayaan tentara “gaya
baru” setelah Revolusi 1945 berlalu dan tokoh-tokoh Angkatan 45 satu per
satu pergi.
Ide jenderal besar bintang lima, sepengakuan Salim Said (hlm. 252),
lahir dari pemikirannya ketika melihat Abdul Haris Nasution pada 1997
dalam sebuah acara. Menurut Salim Said, Nasution dengan segala pemikiran
dan kepemimpinannya di ABRI layak mendapatkan itu, meski Nasution bukan
tentara jago tempur. Di mata Salim Said, Nasution layak mendapat
penghargaan seperti Douglas MacArthur, Erwin Rommel, atau Vo Nguyen
Giap—yang dikenal jago tempur.
Setelah memikirkan banyak hal, agar terwujud ide ini, menurut Salim
Said, maka perlu memberikannya pula kepada Presiden Soeharto, dan
tentunya pada Jenderal Sudirman juga. Sebab, Nasution, yang tampaknya
sudah berpikir ala orang Jawa, risih jika dirinya mendapat sesuatu yang
lebih tinggi dari Soeharto.
Harian /Suara Pembaruan/ (20/10/1993), seperti dimuat dalam buku
/Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto Dalam Berita: 1993
/(2008: 646-647), merilis artikel berjudul "Bintang Lima Untuk Pak
Harto".//Artikel itu melaporkan pada 1993 Soeharto telah memberi
kenaikan pangkat pada purnawirawan seperti Soesilo Soedarman, T.B.
Simatupang, dan Azwar Anas.
Terkait jasa-jasa Soeharto dalam kesejahteraan rakyat, /Suara Pembaruan/
menyebut, ”sudah sewajarnya anugerah kenaikan pangkat menjadi jenderal
bintang lima untuk dilaksanakan, sebagai tanda terimakasih bangsa
Indonesia kepada pemimpin yang telah mengangkat nama baik bangsa dan
negara di dunia internasional."
Ide tersebut baru terlaksana pada 1997, pada HUT ABRI ke-52 itu.
Seri Jenderal Bintang Lima:
* Jenderal Besar A.H. Nasution, Sang Penjaga Otonomi Tentara
<https://tirto.id/jenderal-besar-ah-nasution-sang-penjaga-otonomi-tentara-divj>
* Sudirman, Panglima Besar TNI Pertama yang Gigih dan Teguh
<https://tirto.id/sudirman-panglima-besar-tni-pertama-yang-gigih-dan-teguh-diuY>
Baca juga artikel terkait ORDE BARU
<https://tirto.id/q/orde-baru-uS?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Sosial Budaya)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Perang melawan komunis adalah perang terbesar yang dimenangkan Soeharto,
bukan melawan tentara negara lain.