https://www.antaranews.com/berita/808718/mahyudin-indonesia-krisis-tokoh-yang-bisa-jadi-tuntunan
Mahyudin: Indonesia krisis tokoh
yang bisa jadi tuntunan
Selasa, 12 Maret 2019 16:24 WIB
Wakil Ketua MPR Mahyudin saat Sosialisasi Empat Pilar MPR di depan Forum
RT Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan Tanah Grogot, Kalimantan Timur,
Selasa (12/3/2019). (Humas MPR)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Mahyudin mengatakan saat ini
Indonesia mengalami krisis tokoh bangsa yang bisa jadi panutan dan
memberi tuntunan.
"Hari ini kita tidak lagi memiliki figur-figur yang bisa menjadi panutan
dan memberi tuntunan dalam berbangsa dan bernegara," kata Wakil Ketua
MPR Mahyudin dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahyudin saat menjadi narasumber pada
Sosialisasi Empat Pilar MPR di depan Forum RT Kelurahan Tanah Grogot
Kecamatan Tanah Grogot, Kalimantan Timur, Selasa.
Menurut Mahyudin, Bangsa Indonesia mempunyai banyak tokoh, tetapi tidak
bisa menjadi contoh atau teladan.
Padahal, kata Mahyudin, rakyat Indonesia membutuhkan tokoh panutan.
"Tokoh panutan itulah yang memberi tuntunan. Sedangkan tuntunan
diperoleh dari tontonan atau proses meniru," katanya.
Mahyudin menyebutkan Indonesia tidak punya lagi tokoh seperti Bung Karno
atau Bung Hatta dan para pendiri bangsa lainnya.
Bung Karno membakar nasionalisme rakyat. Banyak orang pada waktu itu
kagum dengan pidato-pidato Bung Karno.
"Kita tidak punya lagi tokoh seperti Bung Karno. Kita rindu pada figur
Bung Karno dan tokoh pendiri bangsa lainnya," kata Mahyudin.
Ketiadaan tokoh-tokoh seperti itu membuat bangsa ini mengalami krisis
tokoh bangsa yang menjadi panutan dan memberi tuntunan.
"Sekarang kita juga banyak tokoh, tapi tidak menjadi panutan dan memberi
tuntunan," kata Mahyudin.
Tokoh seperti pimpinan lembaga negara, kata Mahyudin, justru banyak yang
tersangkut kasus hukum (korupsi). Contohnya Ketua DPR, Ketua DPD dan
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) terjerat kasus korupsi. Belum lagi mantan
menteri, gubernur dan anggota legislatif ada yang terjerat kasus korupsi.
"Tokoh dan para pejabat kita banyak tersangkut kasus korupsi. Ini
masalah kita," katanya.
Mahyudin menambahkan krisis tokoh bangsa ini membuat masyarakat
kehilangan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh publik sekarang. Hal ini
bisa dilihat dari partisipasi politik dalam pilkada yang hanya berkisar
60 persen.
"Karena masyarakat tidak percaya. Jangan-jangan mereka beranggapan hanya
memilih calon koruptor saja," katanya.
Krisis ketiadaan tokoh bangsa ini masih ditambah dengan kemajuan
teknologi informasi. Mereka bisa mencaci maki tokoh berlindung di balik
teknologi informasi.
"Orang bisa memaki lewat twitter, instagram, facebook, whatsapp.
Individualistik makin kuat," katanya.
Mahyudin mengajak peserta sosialisasi untuk menjaga jati diri bangsa.
"Inilah pentingnya Sosialisasi Empat Pilar MPR. Empat Pilar adalah
pemersatu bangsa. Karena itu penting sekali penerapan Empat Pilar ini
untuk mempertahankan jati diri bangsa," katanya.
*Baca juga: Wakil Ketua MPR minta KPU rapikan DPT
<https://www.antaranews.com/berita/808624/wakil-ketua-mpr-minta-kpu-rapikan-dpt>
Baca juga: Mahyudin sampaikan lima alasan sosialisasi Empat Pilar
<https://www.antaranews.com/berita/808147/mahyudin-sampaikan-lima-alasan-sosialisasi-empat-pilar>
Baca juga: Mahyudin : Pemilu perwujudan kedaulatan di tangan rakyat
<https://www.antaranews.com/berita/806203/mahyudin-pemilu-perwujudan-kedaulatan-di-tangan-rakyat>*
Pewarta: Jaka Sugiyanta
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019