BAGUUUSLAH, ... akhirnya diskusi, perdebatan di GELORA45 bisa kembali
dilangsungkan dengan lebih nyaman dan sehat, tanpa saling
menggoblok-goblokan lawan diskusi! Terimakasih bung Nesare, ...!
Lanjutkan dengan utamakan adu argumentasi dan keluarkan data-data utk
menyanggah opini yang diajukan, menjadikan GELORA45 ajang pembelajaran
dan pencerahan yang sangat baik! Sekolah gratis, khususnya bagi saya
sendiri, ...
Masalah utang-piutang ini tentu baik dilanjutkan, bagaimana utang bisa
dikatakan sampai titik BAHAYA bagi satu negara? Benarkan sebagaimana
diberitakan Bloomberg hutang Indonesia sudah sangat resiko dengan rasio
51%???
Namun bagi saya sendiri tetap sangat ANEH melihat kenyataan didunia ini
sudah TIDAK ADA negara TANPA HUTANG! Dijaman kapitalisme yang kita lalui
ini, bahkan negara yg dikenal terkaya didunia ini, AS hutangnya juga
berlimpah! Tiongkok yg simpanan sampai Triliunan US$ dan kemana-mana
investasi modal dengan agresifnya itu juga banyak HUTANG! Lalu, apa
betul hutang-hutang yg dilakukan itu bisa produktif dan bisa UNTUNG
bukan sebaliknya BUNTUNG??? Kalau saja dengan hutang2 itu bisa untung,
bukankah dengan gunakan dana simpanan sendiri untung jadi lebih besar,
tanpa lagi harus bayar bunga-hutang pada negara lain??? Bagaimana
hitung2annya, ...
'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 12/3/2019 22:03 寫道:
Lah sekarang nanya ada enggak pejabat keuangan Indonesia yg
mengutarakan debt to service ratio dan debt to income? Tadinya bilang
pemerintah Indonesia ngibul, dengan kata lain pemerintah Indonesia
ngibul ke rakyat krn hanya ngasih tahu rakyatnya debt to GDP ratio.
Baguslah karena ane sentil, ente jadi mundur ya. Tapi lucunya sudah
mundur masih nanya hal2 yg mboten2.
Apa sih debt to income itu? Istilah baru lagi ya? Ane gak pernah tahu
ada istilah debt to income dalam ekonomi makro. BELUM PERNAH ADA? Ini
mah bikinan orang yg gak ngerti ilmu ekonomi saja pake’ bahasanya dewek!
Hutang Indonesia risky? Risky krn debt to service ratio nya tinggi?
Lalu ente kasih data 51% dari Bloomberg kan?! Hehehehehe minta ampun!
Ane gak mau lagi pake’ istilah GOBLOK lagi disini krn memandang wajah
bung Chan.
Ini data ane dari worldbank
http://data.isdb.org/pxfdrcg/world-bank-development-indicators-wdi-2017-idb-aggregates?tsId=1049490
Debt service ratio Indonesia gak pernah sampai 36% sejak 1990.
JELAS2 ENTE GAK NGERTI APA YG ENTE OMONGIN! DARI debt to service DAN
debt to income SAJA ORANG SUDAH TAHU ENTE GAK NGERTI EKONOMI!!!
Mendingan diam aja! Belajar dulu bentar apa artinya debt to service,
debt to GDP dan debt to income sebelum dipakai buat nyinyir Indonesia!
Nesare
*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Monday, March 11, 2019 3:00 PM
*To:* Yahoogroups <[email protected]>
*Subject:* RE: [GELORA45] Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh
untuk Indonesia Masih Sangat Jauh
Pejabat pemerintah berulang kali mengutarakan Debt to GDP Ratio tetapi
sangat jarang (atau tidak pernah?) mengutarakan Debt to Service Ratio
dan Debt to Income Ratio. Setiap kali pejabat keuangan selalu
mengutarakan hutang masih kecil dgn membandingkan Debt to GDP dan
dibandingkan dgn negara2 lain seperti Jepang dan US, tetapi sayangnya
Debt to Service dan Debt to Income tidak dibandingkan. Belum lagi
kenyataan Indonesia negara pengutang murni dengan sedikit piutang
(atau tidak ada?) sementara Jepang dan US selain utang juga banyak
piutang.
Bloomberg tahun lalu memberitakan hutang Indonesia sangat risky dengan
rasio 51%.
Moody’s Investors Service’s external vulnerability index -- *which is
the ratio of short-term debt, maturing long-term debt and non-resident
deposits over one year calculated as a proportion of reserves -- puts
Indonesia at 51 percent* and India at 74 percent.
India, Indonesia Are Among Asia's Most Debt-Risky Nations
<https://www.bloomberg.com/news/articles/2018-05-29/india-indonesia-are-among-asia-s-most-debt-risky-nations>
India, Indonesia Are Among Asia's Most Debt-Risky Nations
Karl Lester M Yap
It’s no surprise that India and Indonesia are among the worst-hit
Asian currencies this year when you look at th...
---In [email protected] <mailto:[email protected]>,
<nesare1@... <mailto:nesare1@...>> wrote :
Lah kan sudah ada data debt to GDP dan debt service ratio dan tersebar
dimana2.
Ayo ente analisa!
Mari kita lihat klaim ente bahwa RI ngibul rakyatnya!
Mari kita lihat gimana ente membahas debt to GDP vs debt service ratio
ini!
Atau ente hanya nyinyir saja!
Atau kabur pake’ meme lagi?!
Gimana ya pemerintah RI ngibulin rakyatnya itu?
Nesare
*From:*[email protected] <mailto:[email protected]>
<[email protected] <mailto:[email protected]>>
*Sent:* Monday, March 11, 2019 1:47 PM
*To:* Yahoogroups <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
*Subject:* RE: [GELORA45] Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh
untuk Indonesia Masih Sangat Jauh
Artinya sederhana, dengan hanya meng-koar2kan Debt to GDP tanpa
mengutarakan DSR pemerintah mengelabuhi rakyatnya sendiri seakan utang
tsb kecil dgn menyembunyikan betapa untuk bayar gelagepan sehingga
yang terjadi utang baru untuk bayar utang lama alias terjerat dalam
debt trap.
---In [email protected] <mailto:[email protected]>,
<nesare1@... <mailto:nesare1@...>> wrote :
Pemerintah suatu negara tidak berkewajiban menjawab pertanyaan2
seperti ini. Pemerintah suatu negara berkewajiban mengeluarkan data
yang relevan dalam penyelenggaraan negaranya.
Kalau ente mau tahu, cari datanya. Bukannya menyalahkan pemerintah RI
tidak memberikan jawabannya.
Orang2 yang belajar ekonomi dan disiplin ilmu yg terkait dgn data2
ekonomi, akan mencari data dan memberikan kesimpulan atas interpretasi
data yg tersedia dari pemerintah suatu negara.
Ente mentalnya minta2 saja!
Jelas sekali ente gak ngerti permintaan ente dan data yg sdh tersedia!
Data hutang dan data pajak serta data eksport pemerintah RI tersedia
dimana2 baik primer, sekunder sampai tersier. Tinggal dilihat lalu
disajikan dan diinterpretasikan.
MAMPU NDAK ENTE SETELAH ANE KASIH TAHU BEGINI?!!!!
Nesare
*From:*[email protected]
<mailto:[email protected]> <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
*Sent:* Monday, March 11, 2019 1:15 PM
*To:* Yahoogroups <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
*Subject:* [GELORA45] Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh untuk
Indonesia Masih Sangat Jauh
Pemerintah selalu beralasan masih aman melihat rasio utang terhadap
GDP, tetapi tidak pernah diutarakan cicilan+bunga dibanding pendapatan
pajak, tidak pernah diutarakan besarnya cicilan+bunga dibanding
pendapatan ekspor atau yang disebut debt service ratio. Melihat
tingginya tingkat bunga artinya cicilan + bunga (debt service) juga
tinggi.
---
Pemerintah menjelaskan, selain besaran jumlah utang dari China yang
masih sebesar Rp 22 triliun atau 0,50 persen, *rasio utang pemerintah
terhadap PDB per 2018 masih dalam batas aman atau kurang dari 30
persen*. Rasio utang Indonesia saat ini sebesar 29,78 persen, jauh di
bawah negara peer atau yang setara. Di mana, Mesir sebesar 101,2
persen, Mongolia 79,4 persen, Sri Lanka 77,6 persen, Pakistan 67,2 persen.
...
Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh untuk Indonesia Masih
Sangat Jauh
<https://www.merdeka.com/uang/kemenkeu-soal-chinese-money-trap-pengaruh-untuk-indonesia-masih-sangat-jauh.html>
Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh untuk Indonesia Masih
Sangat ...
Harwanto Bimo Pratomo
Disebutkan, China memberikan pinjaman ke beberapa negara untuk
mewujudkan New Silk Road yang semuanya akan terhu...
Senin, 11 Maret 2019 16:10Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
<https://www.merdeka.com/reporter/harwanto-bimo-pratomo/>
Kemenkeu Soal Chinese Money Trap: Pengaruh untuk Indonesia Masih
Sangat Jauh*Ilustrasi Chinese Money Trap. ©2016 Merdeka.com*
*Merdeka.com - *Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa Indonesia masih
aman dari pengaruh /Chinese Money Trap/
<https://www.merdeka.com/uang/utang-bumn-rp-5217-triliun-dinilai-masih-aman.html> yang
tengah ramai dibicarakan. Mengutip penjelasan *Facebook*
<http://www.merdeka.com/tag/f/facebook/> Nas Daily, /Chinese Money
Trap/ ialah skema China yang memberi pinjaman ke beberapa negara dalam
jumlah besar untuk pembangunan dengan maksud agar Negeri Panda dapat
menguasai aset tersebut jika penerima utang tidak mampu membayar.
Dikutip dari akun Facebook Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan
dan Risiko Kemenkeu, Senin (11/3), pemerintah memaparkan utang dari
China hanya sebesar Rp 22 triliun per akhir 2018.. Jumlah utang
tersebut setara dengan 0,50 persen jumlah total pinjaman pemerintah.
"Utang pemerintah yang berasal dari pinjaman saat ini sebesar 18,23
persen. Sementara, dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN), sebesar
81,77 persen," tulis mereka.
Pemberi pinjaman antara lain Bank Dunia, Asian Development Bank,
Jepang, Jerman, Prancis, dan China. Pinjaman pemerintah kepada China
menggunakan skema goverment to goverment (G to G) dan selalu
menerapkan prinsip kehati-hatian, terukur, dan transparan.
"Pinjaman pemerintah tidak jatuh tempo sekaligus, tetapi pembayarannya
dicicil selama periode tertentu sehingga tidak memberatkan keuangan.
Indonesia masih sangat jauh dari pengaruh skenario yang disebutkan
sebagai /Chinese Money Trap/," jelasnya.
*Mengapa Indonesia masih aman?*
Pemerintah menjelaskan, selain besaran jumlah utang dari China yang
masih sebesar Rp 22 triliun atau 0,50 persen, rasio utang pemerintah
terhadap PDB per 2018 masih dalam batas aman atau kurang dari 30
persen. Rasio utang Indonesia saat ini sebesar 29,78 persen, jauh di
bawah negara peer atau yang setara. Di mana, Mesir sebesar 101,2
persen, Mongolia 79,4 persen, Sri Lanka 77,6 persen, Pakistan 67,2 persen.
Sementara, rasio defisit pemerintah pada 2017, sebesar 2,5 persen atau
di bawah batas aman yang ditentukan 3 persen. Di mana, negara lain
yakni Mesir di 10,7 persen, Kenya 9,5 persen, Mongolia 6,2 persen,
Pakistan 5,8 persen, Sri Lanka 5,5 persen.
Kemenkeu meyakinkan pemerintah mampu untuk membayar utang karena telah
dianggarkan dalam APBN di setiap tahunnya. "Pengelolaan utang diatur
dalam UU APBN serta pengawasannya dilakukan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK)."
Selain itu, utang digunakan untuk membiayai proyek-proyek produktif
yang memberikan manfaat lebih besar dari biaya utangnya.. Menurut
McKinsey pada 2016, proyek infrastruktur memberikan return 20 persen,
sementara biaya utang pemerintah sekitar 8 persen.
Disebutkan, China memberikan pinjaman ke beberapa negara untuk
mewujudkan /New Silk Road/ yang semuanya akan terhubung dengan China.
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, juga telah memperingatkan
akan bahaya /Chinese Money Trap/
<https://www.merdeka.com/tag/utang/> ini. Mahathir, sejak kembali
menjabat, terus menyuarakan perjanjian ulang atau bahkan pembatalan
pada rencana kerjasama pembangunan infrastruktur oleh China yang
disebutnya tak adil.
*[bim]*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com