https://www.antaranews.com/berita/809690/djaduk-ferianto-tantang-mahasiswa-
isi-denpasar-lebih-berani-berkespresi-dalam-bermusik
Djaduk Ferianto Tantang
Mahasiswa ISI Denpasar Lebih
Berani Berkespresi dalam
Bermusik
Kamis, 14 Maret 2019 02:42 WIB
Djaduk Ferianto saat menjadi pemateri dalam Workshop Musik Hybrid di
Kampus ISI Denpasar. (Foto: ANTARA Bali/Ni Luh Rhisma)
Denpasar (ANTARA) - Aktor sekaligus maestro musik Djaduk Ferianto
menantang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk lebih
berani berekspresi dalam bermusik dan jangan takut dianggap merusak tradisi.
"Generasi milenial memang sedang menciptakan tradisi baru, tetapi
sumbernya dari yang lama, dalam konteksnya interpretasi baru. Itu sah
dan boleh, 'nggak ada larangan," kata Djaduk, saat menjadi pemateri
dalam Workshop Musik Hybrid, di Kampus ISI Denpasar, Rabu.
Yang terpenting menurut Djaduk, dalam berekspresi lewat musik agar tetap
cinta pada tradisi masing-masing. Hal ini sesuai dengan hakikat musik
hybrid yang mengandung "pencangkokan-pencangkokan" secara kebudayaan.
"Kesenian kita, apalagi ngomong Indonesia, Indonesia itu sangat hybrid.
Indonesia itu bukan orang Jawa saja, bukan orang Sumatera saja, bukan
orang Bali saja, tetapi semuanya memberikan percampuran, percampuran ini
yang menjadikan Indonesia. Dalam konteks musik hybrid sebenarnya ada
pencangkokan-pencangkokan secara kebudayaan," ujarnya pada acara yang
diselenggarakan oleh Prodi Musik ISI Denpasar itu pula.
Dalam musik tradisi Bali pun, lanjut Djaduk, sebenarnya sudah melakukan
model-model "hybrid" atau pencampuran contohnya perkembangan gamelan
gong gede, gong kebyar, semarandana, dan sebagainya.
"Jadi, bukan hal yang baru sebenarnya. Adik-adik mahasiswa jangan takut
kalau dianggap sedang merusak tradisi, tetap ada proses pertumbuhan atau
regenerasi karena anak-anak muda harus menciptakan tradisinya," ujarnya
lagi.
Djaduk sependapat musik yang lama tetap dipelajari, dipertahankan, dan
tetap terpelihara, namun yang baru tetap harus muncul.
"Ini karena rumusan dalam kebudayaan itu ada yang hilang dan ada yang
tumbuh. Tradisi jangan mandek dan harus terus berkembang. Intinya,
generasi milenial harus punya keberanian untuk mencoba keluar dari satu
pola yang sudah mainstream," kata pemusik kelahiran Yogyakarta itu pula.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga SSn
MHum mengatakan dengan kehadiran pemusik kenamaan Djaduk Ferianto ke
kampus setempat, diharapkan mahasiswa dapat menggali ilmu
sebanyak-banyaknya yang nantinya dapat bermanfaat dalam menggarap dan
memberdayakan kebudayaan yang dimiliki agar lebih maju.
Apalagi hal tersebut sejalan dengan visi ISI Denpasar untuk menjadi
pusat unggulan seni yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal.
"Terobosan secara akademis harus terus kita bangun, harus dimotivasi
agar produk dari karya cipta bisa menelurkan yang baru dan berbeda dari
karya sebelumnya," ujar Sudirga, didampingi Humas ISI Denpasar I Gede
Eko Jaya Utama SE MM.
Ketua Panitia Acara Workshop I Komang Darmayuda SSn MSi mengatakan
kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Musik ISI
Denpasar karena Komposisi Musik Hybrid juga merupakan salah satu mata
kuliah di kampus setempat.
Usai mengikuti workshop yang diselenggarakan selama dua hari, 13-14
Maret, para peserta akan mempertunjukkan karya mereka pada 15 Maret
mendatang.
Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019