http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1472-menjual-integritas
/*Menjual Integritas*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Senin, 18 Mar
2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1472-menjual-integritas>
<http://twitter.com/home/?status=Menjual Integritas
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1472-menjual-integritas
via @mediaindonesia>
Menjual Integritas
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/03/5923640854a5ddffd528e144461e1633.jpg>
/MI/
AKAR korupsi kiranya tertanam-dalam pada diri yang tidak mengenal kata
cukup dan patut menyangkut harta. Salah satu wujudnya ialah harta yang
diperoleh karena takhta.
Hubungan itu dapat dibalik, yang tertanam-dalam pada diri bukan harta,
melainkan takhta. Untuk mendapatkan dan mempertahankan takhta diperlukan
harta.
Bukan sembarang harta, bergerak atau tidak bergerak, tapi harta likuid.
Itu demi politik uang. Karena itu salah satu yang menarik perhatian
publik ketika orang tertangkap basah KPK ialah banyaknya uang yang ikut
tertangkap tangan. Ketika Ketua Umum PPP Romahurmuziy ditangkap KPK,
uang yang disita Rp156.758.000. Sopir yang membawa kami di Jawa Tengah
berkomentar, "Orang sekelas ketua partai uang segitu ditelateni."
Modus korupsi bukan makan uang yang berkaitan dengan anggaran proyek.
Namun, uang suap urusan seleksi jabatan di Kementerian Agama.
Uang memang keperluan duniawi. Uang tidak beragama. Sekalipun punya
negara, uang sesungguhnya tidak kenal nasionalisme, terlebih di saku
koruptor.
Realitas pahit ialah cash is king berlaku sangat deras dalam politik
Indonesia. Elite politik paham benar makna uang dalam pemilu. Makna cash
is king juga kian merasuk ke tingkat warga yang punya hak pilih sehingga
terciptalah hubungan uang yang sangat rasional dan realistik, yaitu cash
and carry, tanpa pelayanan purnajual.
Tanpa pelayanan purnajual dalam arti yang paling brutal. Setelah orang
terpiih, tidak ada ikatan selain ketemu kembali pada pemilu mendatang
dengan pola yang sama, cash is king, dan hubungan dengan konstituen
terulang cash and carry tanpa pelayanan purnajual.
Dalam hal uang kiranya perlu pengakuan yang jujur bahwa demokrasi kita
demokrasi jual beli. Habis perkara. Partai sebagai salah satu pilar
utama demokrasi ialah institusi kepublikan yang makan ongkos sangat
mahal bahkan sejak partai dilahirkan di era demokrasi ini. Terlebih
untuk membesarkannya melalui pemilu yang berwatak cash is king serta
cash and carry, tanpa pelayanan purna jual.
Apakah ada yang aneh dengan kenyataan sebanyak lima ketua umum partai
ditangkap KPK? Mereka ialah Romahurmuziy/PPP, Anas Urbaningrum/Partai
Demokrat, Luthfi Hassan Ishaaq/PKS, Suryadharma Ali/PPP, dan Setya
Novanto/Golkar.
Korupsi layak dicurigai enak. Kenapa? Ternyata banyak yang suka.
Pernyataan bahwa korupsi enak muncul di benak begitu saja ketika
mendengar berita Romahurmuziy ditangkap KPK. Bukankah sebelumnya telah
begitu banyak yang ditangkap KPK? Kok, tidak takut? Jawabnya mungkin
korupsi itu enak banget sehingga mengalahkan rasa takut ditangkap KPK.
Kasus itu semakin menunjukkan kecenderungan elite politik negeri ini
lebih memilih status daripada integritas. Lebih buruk lagi menjual
integritas demi status.
Seseorang sampai pada kedudukan ketua umum partai seyogianya bukan lagi
jenis pribadi pemburu status, apalagi pecinta uang dengan segala cara.
Dia pribadi yang integritasnya teruji dan mumpuni, contoh yang hidup di
ranah kepublikan.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1472-menjual-integritas>
<http://twitter.com/home/?status=Menjual Integritas
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1472-menjual-integritas
via @mediaindonesia>