/http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1640-jayapura-berduka
/
//
/*Jayapura Berduka*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Senin, 18 Mar 2019, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1640-jayapura-berduka>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1640-jayapura-berduka>
BENCANA alam setiap tahun menghantui Jayapura, Papua. Kali ini banjir
bandang dan tanah longsor akibat hujan deras, yang mengguyur wilayah itu
lebih dari delapan jam sejak Sabtu (16/3) sore, telah merenggut nyawa
lebih dari 60 orang. Jumlah korban meninggal bisa saja terus bertambah.
Duka Jayapura ialah duka seluruh anak negeri ini. Pemerintah daerah
setempat diharapkan segera mengevakuasi seluruh korban banjir dan
memberikan bantuan kepada ribuan orang yang mengungsi. Pemerintah yang
sigap dan bergerak cepat menolong warga yang tertimpa bencana
memperlihatkan negara hadir di tengah masyarakat.
Kita memberikan apresiasi kepada personal Badan Penanggulangan Bencana
Daerah, Polri, TNI, dan relawan yang bahu-membahu melakukan penanganan
darurat, evakuasi, mencarian, dan menyelamatan korban, serta membantu
para pengungsi. Masyarakat pun hendaknya membangun solidaritas sosial
untuk ikut meringankan penderitaan warga Jayapura.
Hujan deras menyebabkan longsor di Cagar Alam Siklop (Cycloop). Material
longsor itu lantas masuk ke sungai memicu banjir bandang menerjang
permukiman dan fasilitas umum di Sentani. Ketinggian banjir bandang
antara 0,6 meter dan 1,5 meter.
Kerusakan cagar alam Siklop telah lama diketahui sebagai penyebab
bencana alam di Jayapura. Kondisi daerah penyangga atau resapan cagar
alam pegunungan Siklop telah lama rusak akibat penebangan hutan. Di
beberapa wilayah telah berubah fungsi menjadi perkebunan warga setempat.
Fakta bahwa Jayapura rawan bencana sudah diketahui dari hasil penelitian
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
(B2P3KS) Kementerian Sosial Yogyakarta pada 2015.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi wilayah Kota Jayapura
sebagian besar terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang terjal
dan kawasan pantai yang berteluk-teluk. Ini sangat rawan terhadap
bencana alam yang berupa banjir dan tanah longsor.
Banjir yang terjadi di Kota Jayapura, menurut hasil penelitian itu,
terutama disebabkan oleh adanya alih fungsi hutan untuk kegiatan
pertanian dan permukiman, pendangkalan dasar sungai karena terjadinya
erosi disebabkan penggundulan hutan, penyempitan lebar sungai karena
dibangunnya permukiman penduduk dan bangunan tempat usaha di bantaran
sungai, serta pembuangan sampah yang dilakukan masyarakat tidak pada
tempatnya.
Kalau daerah datar seperti di Jawa, banjir yang ditakuti ialah apabila
ketinggian air semakin merangkak naik. Lain halnya yang terjadi di
Jayapura, ketakutan pada banjir karena kekuatan terjangannya. Menerjang
dari puncak bukit menuju dataran rendah sehingga kekuatan terjangannya
dahsyat. Kekuatan terjang banjir itulah yang kini merenggut banyak nyawa.
Harus ada kemauan yang kuat, sangat kuat, untuk mencegah banjir. Semua
pihak, mulai pemerintah daerah, masyarakat, kelompok, keluarga, hingga
perorangan, berkomitmen mencegah kerusakan hutan dan segera melakukan
reboisasi cagar alam Siklop. Jika tidak, bencana terus-menerus datang.
Tahun ini saja sudah lima kali terjadi banjir di Jayapura.
Negeri ini susungguhnya inflasi peraturan perundang-undangan terkait
konservasi. Ada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan, dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yang kurang ialah
konsistensi penegakan hukum dan menjaga lingkungan, termasuk menjaga dan
merawat pegunungan Siklop yang setiap tahun rusak sekitar 10 hektare.
Pegunungan Siklop itu ibarat mama yang memberi makan seluruh masyarakat
di Jayapura. Sudah terlalu lama Siklop dilukai dan disakiti, tidak
dirawat. Saatnya semua pihak peduli dan terlibat menjaga kelestarian
pegunungan Siklop agar ia tidak murka dan mengirim banjir dan material
longsor yang menyebabkan Jayapura berduka.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1640-jayapura-berduka>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1640-jayapura-berduka>