Sendiwara debat sangat tidak baik. On Tue, Mar 19, 2019 at 4:26 AM ChanCT [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote:
> > > Mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengaku kurang puas dengan > debat cawapres pada Minggu (17/3) lalu. > Jakarta (ANTARA) - Sejumlah pakar dan akademisi mengkritisi debat calon > wakil presiden (cawapres) yang kurang memuaskan karena banyak akar masalah > di bidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial budaya yang > belum terungkap dan debat terkesan normatif. > > Hal itu dikemukakan para pakar dalam diskusi seri Pemilu yang > diselenggarakan Centres for Strategic and International Studies (CSIS) di > Jakarta, Senin (18/3). > > Dalam rangkuman hasil diskusi yang diterima *Antara*, mantan Menteri > Perdagangan Mari Elka Pangestu mengaku kurang puas dengan debat cawapres > pada Minggu (17/3) lalu. Mari yang menjadi moderator dalam diskusi CSIS itu > mengatakan selain masalah waktu yang terbatas pada debat cawapres, bangsa > Indonesia juga bukan bangsa yang suka berdebat. > > Mantan Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif itu juga mengkritisi debat > soal pengembangan budaya. Menurut dia, tantangannya bukan sebatas bagaimana > ragam budaya yang ada bisa menjadi potensi pengembangan ekonomi rakyat, > tapi juga keragaman budaya harus dapat memperat dan meningkatkan > nilai-nilai sosial seperti toleransi dalam membangun masyarakat yang lebih > adil, sejahtera dan bahagia > > "Namun setidaknya terlihat berbagai tantangan yang akan bangsa kita hadapi > ke depan. Pendekatan yang lebih komprehensif di masa datang menjadi semakin > penting," ujar pengamat ekonomi itu. > > Sementara itu pengamat lainnya yang hadir pada diskusi CSIS itu seperti > pemerhati pendidikan Doni Koesoema A, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi UI Dr > Teguh Dartanto, Peneliti Senior CSIS Dr Haryo Aswicahyono, Pengamat Sosial > Budaya dan Vokasi Universitas Indonesia Dr Devie Rahmawati, mengungkapkan > hal yang sama bahwa debat belum mengungkap akar masalah dan solusi tentang > pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial budaya. > > Pengamat Pendidikan Doni Koesoema misalnya menilai debat soal riset masih > sebatas soal dana dan koordinasi. Padahal, kata dia, salah satu akar > masalah kurang berkembanganya riset di Indonesia terkait dengan kurikulum > dasar pendidikan yang tidak mendorong orang untuk menghargai kegiatan riset. > > "Harusnya, paslon berbicara bagaimana konteks evaluasi dan penilaian > secara menyeluruh, dari SD sampai perguruan tinggi. Baru cari solusi > terbaik yang utuh dan menyeluruh agar pengembangan minat dan bakat menjadi > jelas, tidak seperti yang berlangsung selama ini," kata Doni. > > Hal yang sama diungkapkan Teguh Dartanto. Ia menyayangkan pada debat soal > kesehatan hanya berkutat pada isu sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), > *stunting*, dan pentingnya upaya preventif dan promotif, namun tidak > kedua cawapres tidak menyebut isu imunisasi, pergeseran penyakit ke > penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung, dan perilaku berisiko > seperti merokok. > > Padahal, kata dia, jika isu imunisasi tidak diatasi, maka di masa yang > akan datang Indonesia tetap menghadapi penyakit menular. Bahkan kedua > cawapres tidak membahas peran pemerintah daerah dalam isu kesehatan, > kendati berdasarkan UU Kesehatan, pemda harus mengalokasikan 10 persen dana > APBD untuk program kesehatan, dan pemerintah pusat lima persen dari dana > APBN. > > "Selama ini pemerintah konsisten mengalokasikan dana yang rendah untuk > program kesehatan, hanya sekitar satu persen dari PDB. Tidak mungkin > mendapatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan alokasi dana > seperti sekarang," ujar Teguh. > > Di bidang ketenagakerjaan, peneliti senior CSIS Haryo Aswicahyono, juga > mengatakan banyak persoalan krusial tidak terungkap. Ia menyebut isu > penting di bidang ketenagakerjaan saat ini antara lain terjadi penuaan, di > mana pangsa kaum muda dalam angkatan kerja (mereka berusia 20-39 tahun) > turun dari 52,2 persen dalam satu dekade terakhir menjadi 47,8 persen pada > Februari 2018, dan bahwa tingkat pengangguran di anak muda masih relatif > tinggi. > > "Seiring dengan penuaan itu maka kebutuhan penciptaan lapangan kerja juga > menurun, sementara kebutuhan untuk kesehatan dan pensiun lansia semakin > besar. Dengan tren seperti ini ekonomi akan menciptakan cukup tenaga kerja > dalam jangka pendek. Pertanyaan kemudian adalah jenis pekerjaaan apa yang > perlu disediakan untuk masa depan, *high value added manufacturing and > services*?," katanya. > > Haryo juga menyoroti kegiatan *training* dalam meningkatkan kualitas > tenaga kerja. Menurut dia, saat ini sangat sedikit *training* dilakukan > perusahaan di Indonesia dibanding negara lain. Ini antara lain, kata dia, > karena pasar tenaga kerja yang terlalu rigid, misalnya akibat upah minimum > dan biaya pesangon, yang menyebabkan perusahaan melakukan *outsourcing *dan > tidak investasi di *training *untuk pegawai permanen. > > > > > Pewarta: Risbiani Fardaniah > Editor: Apep Suhendar > > > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > <#m_-1991814840382854880_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > > >
