Kebijakan Bulog Impor Bawang Putih Dinilai Tidak Menguntungkan
[image: Kebijakan Bulog Impor Bawang Putih Dinilai Tidak Menguntungkan]
Pekerja menurunkan bawang putih yang diimpor dari Tiongkok dalam operasi
pasar di Pasar Induk Kramat Jati, 17 Mei 2017. ( Foto: BeritaSatu
Photo/Joanito De Saojoao )

   - <https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=http://brt.st/69QS>
   -
   
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Kebijakan+Bulog+Impor+Bawang+Putih+Dinilai+Tidak+Menguntungkan&url=http://brt.st/69QS&via=beritasatu&related=@beritasatu>
   -
   
<?subject=Kebijakan%20Bulog%20Impor%20Bawang%20Putih%20Dinilai%20Tidak%20Menguntungkan&body=http://brt.st/69QS>
   - <https://plus.google.com/share?url=?http://brt.st/69QS>

Perlakuan istimewa terhadap BUMN membuat persaingan usaha menjadi rusak.
Ridho Syukro / FER Sabtu, 23 Maret 2019 | 18:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kebijakan pemerintah yang mengistimewakan Bulog
untuk mengimpor bawang putih tanpa kewajiban menanam 5 persen dari total
volume impor dinilai tidak menguntungkan. Kebijakan tersebut dinilai bisa
melanggar persaingan usaha. Alih-alih bisa menstabilkan harga, hak konsumen
untuk mendapat harga lebih murah pun dipertaruhkan.

Peneliti Indef, Sugiyono Madelan, mengatakan, bawang putih merupakan
komoditas sensitif. Perlakuan istimewa terhadap BUMN membuat persaingan
usaha menjadi rusak.

"Nanti pihak swasta yang tidak leluasa mendapatkan impor kan belinya juga
dari Bulog. Termasuk yang dulu-dulu kan juga begitu," ujar dia dalam siaran
persnya yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (23/3/2019).

Sugiyono mengingatkan, diskresi kepada Bulog ini sangat bisa mendapatkan
protes keras dari dunia internasional. Jelang reformasi, Bulog sempat
mengurusi berbagai impor komoditas dimana *World Trade Organization* (WTO)
pun melakukan protes keras sehingga ujungnya Bulog hanya ditugasi mengurusi
komoditas-komoditas penting.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani,
mengingatkan penugasan kepada Bulog jangan sampai membuat monopoli terhadap
impor komoditas ini terjadi. Pasalnya, swasta juga mesti mendapat
kesempatan yang serupa dan adil.

Anggota Apindo, Anton J Supit, bersuara senada agar tidak semua kebijakan
yang strategis diberikan kepada BUMN, karena jika peran swasta dikecilkan
akan mempengaruhi sistem perekonomian bangsa.

"Semestinya kita harus melihat bahwa tidak semua harus dilakukan oleh BUMN.
Swasta harus diberikan peran juga. Kalau perlu dilelang saja, siapa yang
paling mampu, paling murah, paling cepat, dan paling berkualitas," ujar
Anton.

Komisi VI DPR mempertanyakan penunjukan ini. Stabilisasi harga bawang putih
bukanlah tugas Bulog, yang sesuai peraturan untuk bahan pokok. Jika
kebijakan ini tetap dipaksakan, diprediksikan akan membuat citra pemerintah
buruk.

Anggota Komisi VI, Nasril Bahar, mengatakan, banyak pengusaha gulung tikar
dan merampingkan perusahaannya karena pemerintah tidak berpihak pada peran
swasta, tetapi lebih berperan pada BUMN.

Kirim email ke