*https://suara-islam.com/rizal-ramli-ungkap-lima-alasan-jokowi-tak-layak-dipilih/*
<https://suara-islam.com/rizal-ramli-ungkap-lima-alasan-jokowi-tak-layak-dipilih/>


NASIONAL <https://suara-islam.com/category/kabar/nasional/>
*Rizal Ramli Ungkap Lima Alasan Jokowi tak Layak Dipilih*

22 Maret 2019

 1 minute read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook
 Rizal Ramli

*Jakarta (SI Online) *-Mantan Menteri Koordinator Maritim era Joko Widodo,
Rizal Ramli, mengungkap sejumlah alasan mengapa calon petahana Joko Widodo
untuk tidak layak dipilih pada Pilpres April 2019 mendatang.

Menurut ekonom ECONIT ini, setidaknya ada lima alasan yang melatarbelakangi
mengapa Jokowi tidak perlu dicoblos pada 17 April nanti.

Pertama soal jaminan kesehatan. Menurutnya BPJS adalah ide yang bagus.
Gerakan buruh bersama Rizal Ramli, Prof. Thabrani, dan sejumlah tokoh
lainnya perjuangkan ide BPJS sejak tahun 2010-2011.

“Sayangnya program tersebut under- funded dan iuran perusahaan sangat
rendah. Hari ini BPJS mengalami kesulitan keuangan. Dokter dan tenaga medis
telat digaji. Tagihan apotek dan rumah sakit kelas menengah, belum dibayar.
Solusi pemerintahan Pak Widodo parsial, bagakan tensoplas. Pemerintah yang
baru akan menyelesaikan masalah BPJS kurang dari 200 hari,” ungkap Rizal
secara tertulis, Jumat (22/3/2019).

Kedua soal pendidikan, berdasarkan PISA index, yang mengukur kemampuan
literasi, matematika, dan sains anak-anak usia di bawah 15 tahun, Indonesia
menduduki peringkat ke-62 dari 72 negara. Berdasarkan QS World University
Rankings, dari 500 besar Dunia hanya 3 perguruan tinggi Indonesia yang
masuk, yaitu UI (277), ITB (331), dan UGM (402). Kualitas pendidikan tinggi
masih rendah karena feodalisme dan birokratisasi.

“Pemilihan rektor harus dikembalikan ke Senat Guru Besar lagi agar tidak
terjadi campur tangan politik dan permainan uang. Penyelesaian masalah
pendidikan tidak bisa hanya dengan bagi-bagi kartu. Kualitas pendidikan
yang rendah hanya bisa diperbaiki dengan penyederhanaan kurikulum
pendidikan menengah ke bawah, penghapusan Ujian Nasional (UN), strategi
kompetisi nasional dan regional (dengan alokasi minimal Rp20 triliun),
perbaikan kualitas guru, dan UU Land Grant serta bebas pajak universitas,”
jelasnya.

Ketiga lapangan kerja, bila ekonomi mandek di lima persen selama empat
tahun terakhir, jangan mimpi lapangan kerja bertambah. Pemerintah baru
harus mampu naikkan ekonomi hingga delapan persen. “Berdasarkan track
record, pemerintahan Jokowi tidak punya kemampuan dan sulit dipercaya bisa
naikkan ekonomi ke delapan persen. Karena kebijakan makroekonominya super
konservatif,” urainya.

Keempat soal kebudayaan, kebudayaan Indonesia terunggul di Asia Tenggara.
Kebudayaan Indonesia lebih hebat dan bervariasi dibanding negara-negara
ASEAN. Negara-negara dengan kebudayaan yang unggul bisa membuat
produk-produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi, seperti Jepang dan
Korea Selatan.

Memang, lanjut Rizal, pemerintahan Jokowi sudah membuat Badan Ekonomi
Kreatif (Bekraf), sayangnya hanya menjadi “event organizer” untuk yang
berkuasa. Dan justru banyak mengampanyekan kebudayaan Korea Selatan di
Indonesia.

“Di pemerintahan baru, Bekraf harus menjadi ujung tombak sosialisasi
kebudayaan Indonesia di luar negeri dan memacu kenaikan nilai tambah seni
dan budaya dalam produk-produk Indonesia,” kata Rizal.

Terakhir soal kartu-kartu, rencana bagi-bagi kartu pemerintahan Widodo
adalah solusi recehan yang tidak menyelesaikan masalah secara komprehensif.
Bagaikan jualan permen lolypop, hanya pemanis yang menggiurkan, tetapi
tidak mampu menyelesaikan kemunduran kita dalam pendidikan, kesehatan,
lapangan kerja. Apalagi sumber pembiayaannya tidak jelas. Tax ratio
Indonesia terendah, 10-11 persen.

“Masa mau pinjam untuk pesta bagi-bagi kartu. Kami khawatir pesta kartu ini
hanya permen lolypop untuk memenangkan Pak Joko Widodo kembali. Tragis
betul nasib bangsa Indonesia,” demikian Rizal.

red: farah abdilah

Kirim email ke