Jangan pernah melupakan dosa-dosa ORBA dengan dan tanpa Suharto!!!!

Kami Bisa Hidup Tanpa Sawit, Tapi Kami Tak Bisa Hidup Tanpa Dusun Sagu
 wilzson  BUDAYA, EKONOMI, HUKUM & ADAT, OPINI,

jumat/22/03/2019


Oleh: Wilzson Mobalen“Hutan dirusak, sagu dihancurkan demi penanaman seribu 
hektar kelapa sawit. Hati teriris, sedih, dan marah ketika melihat hal itu 
telah, sedang, dan akan terjadi di atas negeri leluhur kami.”Barangkali itulah 
yang dirasakan kebanyakan orang Papua, terutama Suku Moi di wilayah kepala 
burung (Sorong), yang sangat dekat dengan dusun sagu mereka.Mengapa dikatakan 
demikian? Dasarnya adalah filosofi mereka; “Hutan dan dusun sagu adalah ibu 
bagi mereka”.Dusun sagu memberikan semua yang suku Moi butuhkan dalam kehidupan 
sehari-hari. Satu pohon sagu, ketika diolah dapat memberi tepung sagu yang akan 
mencukupi kehidupan sehari-hari bagi suku Moi. Dan banyak manfaat lain yang 
didapat dari dusun sagu.Pohon sagu juga dapat menghasilkan makanan berupa; ulat 
sagu yang kaya akan protein dan ujung sagunya dapat dimakan, sangat bergizi dan 
alami. Apabila sudah membusuk, akan ditumbuhi jamur sagu yang kaya akan vitamin 
dan protein, juga bebas dari zat kimia.Selain itu, ketika sudah membusuk dan 
kering akan menjadi pupuk kompos dan memiliki buah yang bisa dikonsumsi. Daun 
sagu juga sangat berguna. Ketika dijahit, daun sagu digunakan sebagai atap 
rumah dan bisa dijual sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat suku Moi. 
Ujung daun sagu juga dijadikan busana berupa rok, atau yang dikenal engan kain 
rumput. Juga kulit dari pelepah atau dahan sagu dikupas, dibersihkan atau 
dihaluskan, dijemur dan dijadikan bahan anyaman yang kerap dikenal olah 
masyarkat pada umumnya anyaman senat, kulit pelepah sagu yang dianyam.Ini 
berfungsi sebagai penggati tikar tidur dan lain lain.Pelepah sagu digunakan 
sebagai tempat pengolahan sagu dan apabila kering, dijadikan sebagai alat untuk 
palu air atau menguras air. Juga, kulit sagu atau gagar sagu sangat berguna 
sekali.Gagar sagu dapat digunakan sebagai alas lantai rumah dan dapat dijadikan 
sebagai karya seni lain tergantung dari minat dan kreatifitas si perajin.Pohon 
sagu sangat multifungsi bagi suku Moi. Suku Moi akan melindungi hutan dusun 
sagu dan budaya agar tetap ada dan menghijau dalam proses hidup.Masyarakat 
Tanam Sagu, Tanah Tetap Basah. Ketika masyarakat adat suku Moi menanam sagu, 
tanah tetap basah dan terhindar dari kebakaran, karna masyarakat melakukan 
(kegiatan) proses penanaman sagu tidak menggunakan sistem monokultur.Penanaman 
ini menggunakan metode-metode sederhana yang sangat ramah lingkungan juga 
membiarkan tumbuhan atau tanaman lain tumbuh dengan bebas.Berikut metode-metode 
tesebut: tidak menebang semua tumbuhan yang berada di lahan yang akan ditanami 
sagu, tidak meratakan lahan yang akan ditanami sagu, tidak menutup dan 
menghambat saluran air yang mengalir di lahan yang akan ditanami sagu, 
membiarkan tanaman lain tumbuh dengan bebas bersama dengan tanaman sagu yang 
ditanam, tidak merusak ekosistem yang ada di lahan tempat masyarakat menanam 
sagu, tidak menggunakan zat kimia, dan bebas dari pencemaran 
lingkungan.Perusahaan Tanam Sagu Beroperasi: Tanah Kering dan Mudah Terbakar
Dampak yang nyata penanaman oleh perusahaan adalah tanah menjadi kering, 
ekosistem terganggu, dan mudah mengalami kebakaran. Sistem yang digunakan 
perusahaan dalam membuka lahan dengan sistem monokultur.Hal-hal demikian 
diuraikan pada kalimat berikut.
Penerapan sistem ini, yakni: hutan ditebang hingga gundul, tanah diratakan, 
tanah kering dan sangat berpengaruh kepada keseimbangan ekosistem, pelepasan 
karbon yang sangat banyak dari hutan dan tanah tanpa memperhatikan dampaknya, 
lebih cenderung (mudah) terjadi kebakaran hutan dan dusun sagu, menggunakan zat 
kimia sebagai perangsang pertumbuhan, lingkungan tercemari dan cenderung 
berdampak pada keseimbangan ekosistem dan manusia yang mendiami wilayah suku 
Moi, ujungnya menghabiskan hutan, flora dan fauna, serta mengurangi 
sumber-sumber mata air.Pemerintah Daerah Sorong Raya harus memahami filosofi 
dasar suku Moi: “Dusun dan hutan merupakan mama bagi kehidupan mereka”.Suara 
hati mengungkap; “Hai kaum penguasa, sadarlah terhadap manusia lain. Hargai dan 
hormatilah tatanan hidup suku Moi yang bergantung kepada dusun dan hutan 
mereka.Hanya satu kata yang terucap, jaga dan lawan mereka yang ingin merusak 
dusun dan hutan masyarakat adat suku Moi. Semoga!Catatan refleksi:
1. Banyak dusun sagu yang dihancurkan digantikan dengan dusun SAWIT dan DUSUSN 
SAWAH.2. Telah terjadi perubahan pola makan di dapur Mama-mama Papua dari sagu 
ke beras atau yang dikenal dengan beras raskin.3. Generasi muda hari ini hanya 
sebagian kecil yang tertarik untuk menjaga dan merawat dusun sagu.
Penulis adalah Ketua AMAN Se-Sorong Raya.

Kirim email ke