Redaksi Sorge14 March 2019   
   - Editorial

Sepucuk Surat Dari Para Benalu




Romo Magnis yang kami hormati, izinkanlah kami mengaku dosa: di Pilpres besok, 
kami akan golput.

Begini, Romo. Kami tahu kalau dalam opini yang dimuat di Kompas (12/3) kemarin, 
Romo sudah panjang lebar menyampaikan ketidaksepakatan pada warga negara yang 
memilih untuk golput pada Pemilihan Presiden 2019. Walaupun secara garis besar, 
layaknya kaset tembang kenangan, Romo masih mengulang-ulang narasi klasik yang 
sudah disampaikan lima tahun lalu; bahwa esensi Pemilu bukanlah memilih yang 
terbaik, melainkan mencegah yang buruk berkuasa.

Tapi kalau boleh kami memberikan sejumlah catatan, dalam tulisan tersebut Romo 
kelihatannya lebih tertarik untuk melabeli dan mencaci-maki orang yang golput 
daripada memenangkan pikiran mereka lewat argumen logis. Paling tidak ada 
beberapa julukan menarik yang Romo alamatkan pada mereka – dan kami juga 
tentunya – yang memilih golput: “bodoh”, “just stupid”, “berwatak benalu”, 
“kurang sedap”, “secara mental tidak stabil”, “psycho-freak”, “tanda 
kebodohan”, “sikap parasit”, “tak peduli politik”, dan “mental yang lemah”.

Luar biasa.

Kami cukup bisa mengerti hinaan “bodoh” dan “kurang sedap” (mungkin karena 
kurang micin, Romo), tapi “mental tidak stabil”? Aduh, Romo. Setahu kami, 
halaman opini media nasional sekelas Kompas bukanlah tempat dimana ejekan itu 
bisa enteng dilontarkan. Tidakkah kompetisi copras-capres ini sudah cukup parah 
merusak pergaulan hidup kita? Mengapa harus ditimbun lagi dengan celaan yang 
tidak sensitif terhadap mereka yang mengalami persoalan kejiwaan?

Terlepas dari kecanggihan pilihan diksi Romo, ada juga kesan yang timbul dari 
tulisan ini bahwa sikap golput seolah bersifat non-politis. Romo menyebutkan 
bahwa penyebab golput adalah masalah teknis akibat pemilih tidak dapat datang 
ke tempat pemungutan suara, karena seseorang tak mau repot memilih, hanya 
mikirin karier sendiri, atau semata berlandaskan kekecewaan yang berujung 
“menggerutu dan golput”.

Tentu segala julukan yang disemburkan di atas tidak serta merta membuat tulisan 
Romo jadi nir-argumen. Paling tidak, setelah bersusah payah memilah yang mana 
argumen dan yang mana sentimen, kami bisa merangkum tiga “rayuan” untuk 
membujuk orang agar berpikir kembali soal golput.

Pertama, perihal argumen lawas tadi: bahwa kita tak memilih yang terbaik, 
melainkan mencegah yang terburuk berkuasa. Memang dalam tulisan ini Romo sudah 
menyebutkan bahwa di diri kedua calon presiden terdapat kekurangan, tapi 
mestinya ada yang bisa dipilih dari dua pilihan kurang baik ini. Tapi 
persoalannya Romo, logika lesser evil model begini merupakan penghalang besar 
jika kita masih mengharapkan perbaikan politik Indonesia. Rakyat diberi pilihan 
yang terbatas oleh para elit politik dan setiap lima tahun sekali ditodong 
untuk memilih calon-calon buruk. Kalau begini mah bukan pemilihan namanya, tapi 
penodongan. Memaklumi logika ini terus-menerus hanya akan membuat standar kita 
soal politik makin nyungsep. Bisa jadi lama-kelamaan kita akan menganggap 
normal kasus pelanggaran HAM yang tak terungkap, serangan kepada organisasi 
anti-korupsi, perusakan lingkungan, penggusuran paksa, dan sebagainya. 
Memangnya ini yang Romo harapkan?

Argumen kedua berkutat pada begitu pentingnya perhelatan pemilihan presiden 
2019 nanti untuk menentukan masa depan bangsa. Karenanya, jika sekarang hanya 
tersedia dua pilihan, kenyataan itu harus bisa diterima. Mungkin benar bahwa 
Pemilu 2019 merupakan perhelatan penting, namun jelas ia bukan satu-satunya 
jalan untuk menentukan masa depan bangsa. Mampuslah kita jika masa depan bangsa 
hanya ditentukan oleh Pemilu yang sedari awal diakui hanya menyediakan dua 
pilihan kacrut ini. Sudah ditodong, disuruh pasrah pula. Karena itu, sistem 
politik perlu perbaikan serius sehingga tidak lagi menghasilkan opsi medioker 
yang terus dimaklumi kekurangannya.

Lalu ketiga, meski memilih dalam pemilu tidak wajib secara hukum, namun bagi 
Romo ia wajib secara moral. Dari seluruh kekonyolan yang sudah dipaparkan, 
boleh jadi ini argumen Romo yang paling ngawur. Bagaimana mungkin kewajiban dan 
‘kadar’ moral seseorang diukur dari mencoblos atau tidaknya ia di TPS? Taruhlah 
ada seorang ibu yang anaknya dibunuh tentara dalam peristiwa 1998. Ia merasa 
dalam Pemilu saat ini, di kedua kubu terdapat sosok-sosok pelanggar HAM. Tak 
bermoralkah jika ia kemudian memilih untuk tidak memilih karena mencoblos salah 
satu kubu berarti menyalahi prinsip dan hati nuraninya? Apakah tindakannya itu 
“kurang sedap”?

Romo, cuplikan kisah di atas menunjukkan bahwa mereka yang memilih untuk tidak 
memilih tidaklah terbatas pada mereka yang terhambat urusan teknis, malas 
bangun pagi, kebelet liburan, atau hanya memikirkan karir. Semisal ada serikat 
buruh yang mendeklarasikan golput karena kedua kandidat tidak punya komitmen 
kuat untuk pemenuhan hak-hak asasi manusia. Masa kita mau dengan sompral 
mengatakan ratusan atau bahkan ribuan anggota serikat buruh itu gerombolan 
benalu malas yang tak peduli politik?

Contoh lain, kemarin di Palu ada kelompok korban tsunami yang menyatakan golput 
karena kecewa dengan cara penanganan bencana pemerintah dan menganggap lawan 
petahana tak layak memimpin. Apakah ini berarti para korban itu memiliki mental 
yang lemah atau bahkan secara kolektif mengidap psycho-freak? Bagi kawan-kawan 
Papua yang merasa siapapun presiden terpilih tidak akan mendatangkan perubahan 
berarti bagi kondisi di tanah mereka, apakah mereka kaum yang bodoh?

Cercaan Romo yang dialamatkan kepada mereka yang golput adalah kritik yang 
salah alamat dan kesiangan. Seharusnya kritik Romo terlebih dahulu disampaikan 
jauh-jauh hari kepada para elit yang menentukan dua calon yang dianggap kurang 
baik itu. Jika memang Pemilu 2019 dianggap momentum penting bagi masa depan 
bangsa, seharusnya rakyat tidak lagi disodori pilihan buruk oleh elit politik. 
Namun anehnya, baik pemerintah, media, cendekiawan, rohaniawan, filsuf, 
kelompok masyarakat sipil, hingga buzzer politik ramai-ramai mendiskreditkan 
golput. Seolah problem sistem politik oligarkis, kriminalisasi merajalela, 
maupun elit politik yang korup dari ujung jempol kaki sampai ujung rambut ini 
masih kalah membahayakan dari sekelompok orang yang memilih untuk tak memilih.

Katakanlah mereka yang golput ini adalah orang-orang yang tidak dapat 
diyakinkan oleh kedua calon. Lantas kenapa Romo harus mengata-ngatai mereka 
yang golput, bukan sebaliknya, mengatakan “bodoh” dan kawan-kawannya itu kepada 
dua pasangan calon yang tak juga meyakinkan pemilih? Akhirnya lagi-lagi para 
sobat benalu kayak kita yang harus menanggung beban, “Kalau gak nyoblos, kamu 
cacat moral” Idih, enak aja.

Yang kami ketahui Romo, jauh dari segala prasangkamu soal benalu-benaluan, 
gerakan golput yang muncul hari ini merupakan sikap politik yang menuntut 
koreksi atas sistem politik yang hampir tertutup bagi agenda perubahan. 
Terlihat jelas dalam kampanye maupun debat, kedua calon tidak punya komitmen 
pemenuhan agenda HAM, anti-korupsi, lingkungan hidup, dan lainnya. Karenanya, 
gerakan golput 2019 tidak bisa lagi disamakan dengan gerakan tidak memilih 
partai politik pada tahun 1971. Golput kini mencoba melampaui konteks 
elektoralnya dan meleburkan diri pada gerakan politik yang lebih luas.. Justru 
saat ini, mereka yang memilih menjadi golput mengambil keputusannya 
berlandaskan pada kesadaran politik, bukan ketidakpedulian. Pemilihan 2014 
sudah cukup mengajarkan kepada kita bahwa mencegah yang terburuk berkuasa tidak 
lagi relevan dalam memajukan kepentingan publik.

Karena itulah kami memilih golput, Romo. Dan sayangnya, keputusan kami belum 
akan goyah, meskipun isi media nasional sudah dijejali oleh segala rupa pamflet 
heboh seperti opini Romo tempo hari. Paling banter kami akan mengkompilasi 
segala hinaan tersebut – psycho freak, benalu, golongan pucuk tai, pecundang, 
dan seterusnya – untuk mentertawakannya di lain kesempatan. Hinaan Romo kami 
pastikan akan terus dikenang sebagai monumen kolosal penanda blunder, 
kegamangan dan kepongahan kaum intelektual hari-hari ini.

Tentu tertawanya tidak bakal lama-lama, Romo. Bagaimanapun juga kita tak punya 
banyak waktu. Memilih untuk golput hanyalah awal dari perjalanan panjang, dan 
masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Tapi yang jelas, kami harap Romo 
masih mau mengawasi kiprah benalu-benalu tercintamu ini. Syukur-syukur kalau 
mau menulis lagi tentang kami. Bagaimanapun, kami selalu butuh asupan humor 
segar untuk bahan obrolan di perjalanan.

 

Teriring salam,

Sobat Benalu Seluruh Indonesia 

Kirim email ke