https://tirto.id/kisah-buya-hamka-dan-awka-kakak-ulama-adik-pendeta-dkbP
25 Maret 2012
Kisah Buya Hamka dan Awka: Kakak
Ulama, Adik Pendeta
Ilustrasi Mozaik Willy Amrull. tirto.id/Deadnauval
<https://tirto.id/kisah-buya-hamka-dan-awka-kakak-ulama-adik-pendeta-dkbP>
Ilustrasi Mozaik Willy Amrull. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Iswara N Raditya - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Buya Hamka dikenal sebagai ulama besar di Indonesia, adiknya yang
bernama Awka, adalah seorang pendeta di Amerika./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Dia adalah adikku Abdul Wadud Karim
Amrullah. Di Amerika, dipakainya nama ala Barat, Willy Amrull,” demikian
tulis Buya Hamka dalam buku /Empat Bulan di Amerika/(1953:45) yang
menuturkan saat dirinya membantu sang adik mencari pekerjaan di San
Francisco pada 1952.
Abdul Wadud Karim Amrullah (Awka) adalah saudara Abdul Malik Karim
Amrullah (Hamka)
<https://tirto.id/abang-tokoh-islam-adik-pendeta-kristen-b488>seayah
namun lain ibu. Seperti penuturan Hamka, adiknya memang sudah memakai
nama Willy Amrull agar mudah bergaul dengan orang-orang di negeri Paman
Sam. Nanti, 30 tahun kelak, nama itu dikenal sebagai seorang pendeta.
Ya, Pendeta Willy Amrull.
Kisah Hamka dan Awka
Awka “bertukar kiblat” pada 1983, dua tahun setelah Hamka wafat.
Sepanjang hidupnya, Hamka telah terpatri sebagai sosok ulama besar yang
gigih membela Islam dan sangat tegas dalam hal akidah, tanpa kompromi.
<https://tirto.id/si-raja-debat-yang-gigih-membela-islam-cgGY>
“Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa
dijual lagi kepada pihak manapun!” tegas Hamka setelah dilantik sebagai
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975 (Artawijaya,
/Hidayatullah/, 2 Juli 2013).
Hamka adalah Ketua MUI pertama, juga dikenal sebagai tokoh Masyumi
<https://tirto.id/sjamsuridjal-gubernur-jakarta-pertama-dari-partai-islam-ci4W>dan
ulama Muhammadiyah
<https://tirto.id/cara-ahmad-dahlan-memuliakan-perempuan-cjxg>.
Dirinyalah orang yang menetapkan fatwa haram bagi umat Islam terkait
perayaan Natal bersama. Pada 19 Mei 1981, Hamka meletakkan jabatannya
sebagai Ketua MUI karena merasa ditekan oleh menteri agama waktu itu,
Alamsyah Ratu Perwiranegara. Ia memilih mundur ketimbang harus
menganulir fatwa tersebut.
Sembilan tahun sebelumnya, ketika Paus Paulus VI berkunjung ke Indonesia
pada Desember 1970, Hamka berkata tegas kepada Presiden Soeharto
<https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe>bahwa ia
menolak menghadiri pertemuan dengan pemimpin Vatikan tersebut.
<https://tirto.id/utusan-vatikan-di-kalimantan-clbU>
"Bagaimana saya bisa bersilaturahmi sedangkan umat Islam dengan berbagai
cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?"
tukasnya kala itu (Irfan Hamka, /Ayah... Kisah Buya Hamka,/2013:253).
Dan nantinya, Awka, adik kesayangannya Buya Hamka itu, menjadi seorang
pendeta.
Melawat ke Barat
Awka dan sang kakak, Hamka, terlahir dari keluarga yang keislamannya
sangat kuat di ranah Minang. Ayah mereka, Muhammad Rasul atau Haji Abdul
Karim Amrullah, adalah seorang ulama besar dan merupakan salah satu
orang Indonesia paling awal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari
Universitas Al-Azhar Mesir, pencapaian yang kelak diraih pula oleh Hamka.
Ayahanda Hamka dan Awka juga seorang pejuang nasional. Ketika sang ayah
diasingkan ke Sukabumi, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1941 lantaran
dianggap berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda
<https://tirto.id/kejayaan-dan-kejatuhan-si-pengadu-domba-cornelis-speelman-cgfK>,
Awka turut serta. Begitu pula saat ayahnya dipindah ke Jakarta seiring
berkuasanya Jepang ke Indonesia, Awka juga ikut. Sementara Hamka, yang
19 tahun lebih tua darinya, sudah merantau ke mana-mana sejak usia belia.
Tanggal 2 Juni 1945, Haji Abdul Karim Amrullah wafat di pangkuan Awka.
“Saya mengucapkan kalimat syahadat sebagai kata penghabisan dari saya
untuk melepasnya (sang ayah),” tulis Awka dalam otobiografinya, /Dari
Subuh Hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan
Kebenaran/(2011:32).
Beberapa tahun setelah sang ayah mangkat, Awka bertekad berdiaspora ke
mancanegara. Awal 1949, ia ikut kapal MS Willem Ruys yang berangkat dari
Tanjung Priok menuju Rotterdam. Awka bekerja sebagai tukang binatu di
kapal Belanda itu.
Setibanya di Belanda, Awka tidak menetap, melainkan turut berlayar ke
banyak tempat di belahan dunia lainnya. Dari Amerika Selatan, kemudian
ke Afrika, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di San Francisco,
California, Amerika Serikat.
Di sinilah pada 1952 Awka dikunjungi oleh sang kakak yang sudah cukup
lama terpisah. Hamka sengaja datang ke Amerika untuk membantu adiknya
mencari pekerjaan dan akhirnya diterima di Indonesia Supply Mission di
New York kemudian di Konsulat RI yang berlokasi di San Francisco.
Mengislamkan dan Dikristenkan
Awka—yang di negeri rantau memakai nama Willy Amrull—sempat jatuh cinta
pada seorang perempuan jelita bernama Sawitri. Namun, kasihnya tak
pernah sampai karena ayahanda sang pujaan hati, Ali Sastroamijoyo yang
tidak lain adalah Duta Besar RI untuk Amerika, tidak merestui.
Usai patah hati, Awka kemudian menikah dengan wanita asli Amerika yang
usianya lebih tua darinya dan sudah memiliki 4 orang anak, pada 1957.
Namun, perkawinan ini hanya 5 tahun saja bertahan.
Di Amerika Serikat, Willy Amrull menyibukkan diri dengan menggagas
Ikatan Masyarakat Indonesia (IM) di California pada 1962 selain aktif
pula dalam kegiatan Islamic Center di Los Angeles.
Tahun 1970, Awka kawin lagi. Kali ini dengan seorang gadis blasteran
Amerika-Indonesia, Vera Ellen George, yang bersedia masuk Islam demi
menjalani bahtera rumah tangga dengan Awka. Mereka dikaruniai tiga orang
anak, yaitu Rehana Soetidja dan Sutan Ibrahim yang lahir di Amerika,
serta Siti Hindun yang lahir belakangan di Bali.
Awka memang memboyong keluarganya ke Indonesia pada 1977. Namun, ia tak
pulang ke kampung halamannya di Maninjau, Sumatera Barat, melainkan ke
Pulau Dewata tempat di mana Awka saat itu bekerja. Dari sinilah prahara
itu dimulai. Vera ingin kembali memeluk agama asalnya, Kristen. Awka pun
diajaknya serta.
Semula Awka menolak mentah-mentah karena latar belakang keislamannya
yang sangat kuat. Namun, akhirnya ia luluh demi keutuhan rumah tangga
dan ketiga buah hati mereka. Tahun 1981, Awka sekeluarga pindah ke
Jakarta, dan tiga tahun berselang, ia dibaptis oleh Pendeta Gerard
Pinkston di Kebayoran Baru (Willy Amrull, 2013:141).
Di tahun yang sama, 1983, Awka kembali ke Amerika Serikat. Tak lama
kemudian, ia ditetapkan sebagai pendeta oleh Gereja Pekabaran Injil
Indonesia (GPII) di California. Sejak saat itu, Awka dikenal dengan nama
Pendeta Willy Amrull.
Infografik Mozaik Willy Amrull
Misionaris di Kampung Sendiri
Sebagai seorang pendeta, salah satu kewajiban utama Willy Amrull adalah
menyebarkan ajaran agamanya. Dan misi itulah yang didapat Willy dari
lembaga misionaris Kristen di Amerika. Pada 1996, ia ditugaskan untuk
melakukan syiar agama di kampung halamannya, Sumatera Barat.
Tentunya Awka alias Willy tidak langsung memperkenalkan diri sebagai
misionaris. Mula-mula, ia mengaku sebagai pengusaha dan bekerja untuk
Kedutaan RI di Amerika Serikat. Willy memakai nama samaran Badru Amrullah.
Misinya berjalan lancar berkat Yanuardi Koto, Ketua Persekutuan Kristen
Sumatera Barat (PKSB), yang berasal dari Lubuk Basung (Bakhtiar, /Ranah
Minang di Tengah Cengkeraman Kristenisasi,/ 2009:153). Yanuardi Koto
juga seorang pendeta Gereja Protestan Indonesia Barat (Majalah /Gamma,/
1999:63).
Oleh Yanuardi Koto, Willy diangkat sebagai pembina PKSB dan mereka
berhasil merekrut anak-anak muda Minang, terutama dari kalangan ekonomi
lemah, untuk dikristenkan—kegiatan yang membikin Buya Hamka menolak
bertemu Paus Paulus VI pada 1970.
Awka atau Pendeta Willy Amrull menyebut proses pengkristenan tersebut
dengan istilah “pemuridan”. Ia menjelaskan cukup lengkap tentang
berbagai tekniknya dalam buku otobiografinya (Willy Amrull, 2013:190).
Tahun 1998, Yanuardi Koto tersangkut kasus. Ia dituding terlibat dalam
perkara penculikan gadis 17 tahun bernama Khairiah Enniswah (Wawah).
Beberapa sumber menyebut siswi Madrasah Aliyah Negeri 2 Padang ini
dijebak dan dikristenkan secara paksa, termasuk dalam buku karya Deliar
Noer, /Islam & Politik/ (2003:154).
Nama Pendeta Willy Amrull juga disangkut-pautkan dalam peristiwa itu.
Namun, hingga kasusnya disidangkan di Padang, keberadaan Willy tidak
diketahui. Ia rupanya sudah kembali ke Amerika.
Willy mencurigai bahwa perkara Wawah sengaja digunakan untuk
menjebaknya, sehingga ia buru-buru menghilangkan jejak. Sebagai
klarifikasi, ia menghubungi sejumlah instansi internasional kendati
babak akhirnya tetap saja mengambang.
Sejak terjadinya kasus Wawah di tanah kelahirannya itu, Pendeta Willy
Amrull atau Abdul Wadud Karim Amrullah alias Awka tidak pernah pulang
lagi ke Indonesia hingga meninggal dunia di California pada 25 Maret
2012, tepat tujuh tahun yang lalu.
========
/Catatan: Naskah pernah tayang pada 25 Maret 2017, pada edisi Mozaik 25
Maret 2019, naskah diunggah ulang dengan minor penyuntingan/
Baca juga artikel terkait TOKOH INDONESIA
<https://tirto.id/q/tokoh-indonesia-irQ?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
<https://tirto.id/author/iswara?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Suhendra
Awka tidak pernah pulang lagi ke Indonesia hingga meninggal dunia di
California pada 25 Maret 2012