https://tirto.id/mengapa-kubu-prabowo-sandi-kerap-menafikan-hasil-survei-dkeV
Mengapa Kubu Prabowo-Sandi Kerap
Menafikan Hasil Survei?
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak
Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto (kanan) saling berpelukan disela
menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018 di di Padepokan Pencak Silat
di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8). ANTARA
FOTO/Kumparan/INASGOC/Aditia Noviansyah/pras/18.
<https://tirto.id/mengapa-kubu-prabowo-sandi-kerap-menafikan-hasil-survei-dkeV>
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum Pengurus Besar
Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto
(kanan) saling berpelukan disela menyaksikan Pencak Silat
Asian Games 2018 di di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini
Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8). ANTARA
FOTO/Kumparan/INASGOC/Aditia Noviansyah/pras/18.
Oleh: Felix Nathaniel - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Kubu Prabowo-Sandiaga lebih percaya survei internal daripada hasil
lembaga survei. Namun, apa dasar kepercayaan itu?/
tirto.id <https://tirto.id/> - Kubu paslon nomor urut 02 Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno masih percaya bahwa mereka unggul perolehan suara
untuk pilpres 2019 kali ini. Namun, dasar kepercayaan mereka adalah
hasil survei internal alih-alih hasil sigi lembaga survei nasional.
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dahnil Anzar
menyebut keunggulan Prabowo-Sandiaga ada di angka 54 persen, sedangkan
Jokowi-Ma'ruf hanya 40 persen. Hasil survei yang mereka percayai ini
cenderung berbeda hasil dengan beberapa lembaga survei nasional lainnya.
Sebagai perbandingan, hasil survei Litbang Kompas--yang menunjukan hasil
berbeda dibanding SMRC, LSI Denny JA, atau Charta Politika--saja masih
menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul dibanding Prabowo-Sandi. Pada survei
Litbang Kompas itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf hanya di bawah 50 persen.
Namun, para pendukung Prabowo-Sandiaga malah menganggap lembaga survei
nasional tidak netral dalam melakukan penelitiannya. Wakil Ketua DPR
Fahri Hamzah, yang juga pendukung Prabowo-Sandiaga, mendukung pernyataan
Prabowo bahwa memang ada lembaga survei yang mendukung paslon tertentu.
"Sebaiknya dia [lembaga survei] mengumumkan bahwa dia bukan lembaga
survei independen, tetapi dia lembaga survei yang bekerja untuk
kandidat. Karena, kan, kemudian tiba-tiba lembaga survei ini dibayar
semua oleh kandidat tertentu, akhirnya punya /core/, begitu," ujar Fahri
saat di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2019).
Pernyataan Fahri dibantah peneliti dari Lingkaran Survei Denny JA, Adjie
Alfaraby. Ia bilang hasil pengecekan dari lembaga survei tidak bisa
dianggap enteng atau disalahkan begitu saja oleh Prabowo-Sandiaga.
Sejauh ini, pemilu di luar negeri ataupun Indonesia masih menjadikan
survei sebagai satu-satunya alat ukur yang bisa dipertanggungjawabkan
untuk mengukur elektabilitas kandidat peserta. Secara umum, survei
mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi.
Adjie mengakui memang beberapa survei meleset, tapi hasilnya biasa tak
berbeda jauh. Beberapa kesalahan yang terjadi, kata dia, tak lantas
menjadikan survei tidak signifikan.
"Justru survei internal itu, kan, enggak jelas metodologi dan
respondennya. Kalau survei hanya digunakan untuk menyenangkan hati, ya,
bisa saja, sih. Tapi, kan, nanti jadi enggak objektif," kata Adjie
kepada reporter /Tirto. /
Baca juga:
* Klaim Unggul di Survei Internal: Propaganda Tim Prabowo Gaet Suara?
<https://tirto.id/klaim-unggul-di-survei-internal-propaganda-tim-prabowo-gaet-suara-djiM>
Adjie mencontohkan hasil survei pada 2014. Saat itu, sejumlah lembaga
survei memprediksi dengan tepat bahwa tren penurunan memang terjadi.
Namun, hasil itu tak serta-merta mengubah hasil akhir.
Beberapa lembaga survei seperti SMRC misalnya memprediksi elektabilitas
Jokowi-Jusuf Kalla pada Maret 2014 sebesar 57,7 persen, unggul 34,6
persen dari pasangan Prabowo-Hatta Rajasa yang elektabilitasnya hanya
sebesar 23,10 persen.
Kemudian, pada April 2014, elektabilitasnya turun menjadi 50,80 persen.
Angkanya terus menurun hingga mencapai 47,60 persen pada periode 30
Juni-3 Juli 2014. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo-Hatta terus
meningkat hingga satu bulan sebelum hari pemilihan presiden. Meski
trennya menurun, elektabilitas Jokowi-JK tidak pernah berada di bawah
Prabowo-Hatta.
Pada hasil survei Indikator periode 20-26 April 2014, elektabilitas
Jokowi-JK sebesar 51,00 persen. Dalam survei Poltracking periode 26
Mei-3 Juni 2014 angka elektabilitas Jokowi 48,50 persen.
Sementara itu, pasangan Prabowo-Hatta, elektabilitasnya terus mengalami
peningkatan meski tidak pernah melebihi elektabilitas lawannya.
Hasilnya, Prabowo-Hatta akhirnya kalah dengan suara 46,85 persen dan
Jokowi-JK menang dengan meraih 53,15 persen. Meski hasilnya berbeda
dengan angka prediksi lembaga survei, tetapi hasil akhir tetap sama,
Jokowi-JK unggul dan menang.
Sedangkan di Pilkada 2018, hasil yang sesuai dengan realitas juga
tergambar dari lembaga survei. Di Jawa Barat, baik lembaga survei
Indikator, SMRC, dan Poltracking menyatakan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul
Ulum unggul di antara lawannya. Hasilnya, mereka menang.
Di Jawa Timur, SMRC dan Litbang Kompas memprediksi Khofifah Indar
Parawansa dan Emil Dardak menang. Hasilnya, Khofifah dan Emil menjadi
kepala daerah Jawa Timur.
"Makanya, saya bilang kalau kondisinya stabil, enggak ada masalah yang
terlalu berat yang terkait 01 atau tidak ada hal yang luar biasa
dikerjakan 02, maka tidak banyak berubah. Sama ini dengan 2014, semua
terprediksi," kata Adjie lagi.
Sedangkan Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya
menyatakan, beberapa lembaga survei memang tidak main-main dalam
melakukan pekerjaannya. Mereka yang terindikasi tidak objektif dan
mempunyai metode yang betul, bisa dikeluarkan dari Asosiasi Lembaga Survei.
Oleh karena itu, ia tak setuju jika lembaga survei kebanyakan dikatakan
sebagai lembaga berbayar.
"Saya berharap sekali bantahan-bantahan itu muncul bukan melalui
tuduhan-tuduhan seperti itu, tapi mereka keluarkan data juga, kita kaji
bersama-sama secara ilmiah," kata Yunarto, Senin siang.
Perang Psikologis
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin,
apa yang dilakukan Prabowo-Sandiaga adalah perang psikologis. Dia
menduga ada dua skema yang diharapkan terjadi oleh Prabowo-Sandiaga
dengan mendelegitimasi lembaga survei.
Yang pertama adalah membuat masyarakat tak percaya dengan lembaga survei
dan mendukung Prabowo-Sandiaga lebih giat lagi. Prabowo-Sandiaga kembali
memakai narasi bahwa mereka dizalimi dan menjadi musuh berbagai pihak
dan harus dibela.
Kedua adalah meraih orang-orang yang takut memilih kubu yang kalah.
Ujang menilai, pemilih yang belum menentukan pilihannya cenderung
memilih kubu pemenang agar aman. Beberapa pihak juga bisa jadi
mengalihkan dukungan kepada calon pemenang agar tidak salah.
Hal ini sekaligus menguatkan persepsi di masyarakat bahwa Jokowi sesuai
dengan apa yang dikatakan Prabowo-Sandiaga. Dengan mengklaim diri mereka
unggul, masyarakat akan percaya bahwa isu kepada Jokowi yang selama ini
diembuskan Prabowo-Sandiaga memang benar adanya.
"Membalikan situasi memang strategi mereka," kata Ujang kepada reporter
/Tirto/. "Yang penting klaim dulu. Itu psikologi politik untuk pengaruhi
psikologi massa."
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
<https://tirto.id/author/felix?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Mufti Sholih
Beberapa hasil survei memang meleset, tapi hasilnya biasa tak berbeda jauh.