Yang jelas Frans Magnis anti-komunis. Bagus sekali Made mengingatkan bahwa
kaum elit katolik sangat anti-komunis/PKI. Ingat juga peran Pater Beek dalam
hubungannya dengan pembantaian 1965. Sebagai institusi dan kaum elitnya,
katolik dimana-mana, jelas kelihatan di negeri-negeri AL, selalu berpihak
kepada kaum penindas dan penguasa dalam menghadapi gerakan rakyat dan kaum
kiri/komunis. Sebagai individu (he...he.. kakek yang sudah sepuh) Frans Magnis
tidak berbahaya, tapi kata-katanya dan tulisannya sudah tentu merupakan racun
anti komunis dan anti-rakyat yang berbahaya dan jahat. Bahwa ada gereja dan
pastor/individu yang menolong korban pembantaian, itu tidak menghapus watak
reaksioner dan anti komunis dari kaum elit dan institusi katolik. Anehkah
seseorang yang dianggap sudah begitu tinggi ilmunya mengeluarkan
tuduhan-tuduhan yang menghina sekaligus bodoh terhadap mereka yang memilih
Golput??? Saya anggap tidak aneh. Cap-cap yg dia keluarkan menunjukkan
kepanikkannya kalau PYM yang dijunjungnya kalah pemilu gara-gara banyaknya
jumlah golput (sadar dan tak sadar). Ada orang yang bilang naik tahtanya
Prabowo dikhawatirkan akan menguntungkan kaum radikal Islam.. Ini orang-orang
yang buta dan tdiak mau melihat kenyataan di mana sekarangpun di bawah
kekuasaan PYM yang dijunjungnya, kaum radikal Islam sudah dengan seenak
perutnya mengambil tindakan sewenang-wenang terhadap kegiatan politik dan agama
dari orang-orang yang mereka anggap musuh (seperti korban 65, penganut agama
lain, etc). Orang-orang ini mendungukan dirinya sendiri. Apa yang dinamakan
kaum radikal Islam tidak akan bisa berkutik kalau tidak ada militer yang
memeliharanya untuk digunakan sebagai barisan tukang pukul dan penyebar
teror....
On Tuesday, March 26, 2019, 9:49:54 AM GMT+1, ajeg [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Semakin berumur mestinya orang bertambah matang dan bijak, apalagi yang
tergolong tomas, tokoh masyarakat. Frans Magnis memperpanjang deretan tokoh
yang secara mental tidak siap menghadapi tekanan. Dia berhasil membuktikan
dirinya sebagai tokoh bodoh yang bermulut jahat, karena omongannya toh akhirnya
menabok mulutnya sendiri. Bodoh sekali.
--- jetaimemucho1@... wrote:
14 March 2019
Made Supriatma
Harian IndoPROGRESS
Tanggapan untuk Franz Magnis-Suseno
Franz von Magnis (lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand
von Magnis) atau yang lebih dikenal dengan nama Franz Magnis-Suseno, menuliskan
pandangannya tentang golput (golongan putih). Filsuf dari Sekolah Tinggi
Filsafat (STF) Drijarkara ini pada intinya menolak keras orang-orang yang
mengambil sikap golput dalam Pilpres 2019 ini. Kita tahu bahwa golput merupakan
isu besar dalam Pilpres ini. Tingginya angka tidak memilih (abstention)
dikuatirkan akan memengaruhi hasil pemilihan.
Von Magnis menulis bahwa memilih itu wajib secara moral sekalipun hukum tidak
mewajibkan. Dia mengingatkan para golputers dengan kata-kata yang sangat keras.
“Kalau Anda, meskipun sebenarnya dapat, tetapi Anda memilih untuk tidak memilih
atau golput, maaf, hanya ada tiga kemungkinan: Anda bodoh, just stupid; atau
Anda berwatak benalu, kurang sedap; atau Anda secara mental tidak stabil, Anda
seorang psycho-freak,” demikian tulisnya. Ujaran sangat pedas mengingat
datangnya dari seorang octogenarian, yang sudah sepuh.
Saya tak hendak membahas mengapa Franz von Magnis harus menulis demikian pedas.
Dia tampaknya sangat kuatir akan kerugian yang ditimbulkan oleh golput.. Saya
bukan filsuf, jadi tidak terbiasa menarik kesimpulan hanya berdasarkan
spekulasi.
Namun sialnya saya terpaksa harus berspekulasi. Mungkinkah kekuatiran von
Magnis ini muncul karena preferensinya untuk berpihak pada satu calon presiden
dalam Pilpres ini?
Berbagai macam survei dan polling yang saya lihat menunjukkan kubu petahana
memang unggul. Namun keunggulan itu tergerus dengan banyaknya pemilih yang
belum menentukan sikap (undecided voters). Jika undecided voters ini
melanjutkan sikapnya dan tidak memilih maka ini tentu akan merugikan kubu
petahana. Sebaliknya, tingginya angka tidak memilih (non-voting) akan
menguntungkan kubu oposisi. Ini karena kubu oposisi sekarang ini sangat
bergairah, militansinya tinggi, dan bergerak door to door memobilisasi pemilih.
Tidak mengherankan bila kubu petahana sekarang, disamping berkampanye untuk
mendapatkan suara, juga berkampanye melawan golput. Tulisan von Magnis ini,
menurut hemat saya, memberikan legitimasi filosofis-semu (quasi-philosophical)
terhadap kampanye anti-Golput kubu petahana. Sehingga, suka atau tidak suka,
kita harus melihat tulisan von Magnis itu sebagai sebuah statemen politik. Baik
dari dia maupun dari media yang memuatnya. Tidak berlebihan kalau saya katakan
bahwa tulisan itu adalah sebuah iklan politik (campaign ad).
Dengan sendirinya, iklan politik ini, jika tidak dibayar oleh tim kampanye kubu
petahana, dia akan menjadi semacam sumbangan (political contribution) von
Magnis ke kubu petahana, yang diam-diam dibelanya itu.
Jika Anda akrab dengan perdebatan seputar uang yang dibayarkan oleh Donald
Trump kepada bintang film porno Stormy Daniels dan model Play Boy Karen
McDougall, maka Anda bisa dengan mudah memahami logika ini. Pembayaran
US$130,000 kepada Ms. Daniels oleh Trump itu dianggap sebagai political
contribution karena berpotensi memengaruhi hasil pemilihan. Seandainya saat itu
pemilih Amerika mengetahui informasi perselingkuhan Trump maka ada kemungkinan
pemilih tidak akan memilihnya menjadi presiden.
Seperti von Magnis, saya pun tidak berpretensi menjadi netral secara politik.
Tulisan ini pun bisa dianggap sebagai political contribution. Efeknya mungkin
akan memengaruhi orang agar memilih untuk tidak memilih. Itu akan menguntungkan
kubu oposisi.
Akan tetapi, saya memberikan justifikasi lain terhadap tulisan ini. Jika pun
ada orang terpengaruh untuk golput karena tulisan ini maka saya kira itu bukan
karena mereka memihak kubu oposisi. Golput atau abstention adalah pilihan
politik. Berbeda dengan von Magnis yang mendakwanya sebagai immoral, saya
justru melihat bahwa pilihan ini sangat bisa dipertanggungjawabkan secara
moral.
Kita mulai dengan memberikan ikhtisar pemikiran von Magnis.
Bodoh, Benalu, dan Psycho-freak
Von Magnis menyebut mereka yang mengambil sikap golput adalah orang yang bodoh,
benalu (parasite), dan bermental tidak stabil.
Bodoh yang dia maksudkan adalah orang yang memilih menjadi golput karena tidak
ada calon yang sesuai dengan keinginannya (von Magnis menulis: cita-cita).
Orang yang memutuskan untuk tidak memilih itu bodoh (= dungu, dalam kamus Rocky
Gerung. Duh, mengapa dua orang yang belajar filsafat cenderung mengatakan orang
yang tidak setuju dengan pemikirannya sebagai bodoh/dungu? Bukankah ini melawan
discourse yang, setahu saya, menjadi inti pencarian filsafat?).
Von Magnis melihat bahwa jika dua capres yang ada tidak memuaskan maka
keputusan tidak memilih itu adalah keputusan yang bodoh. Sayangnya dia tidak
menunjukkan dimana letak kebodohannya. Saya hanya menduga, mungkin bodoh karena
tidak bisa memutuskan. Orang bodoh tidak bisa membuat pertimbangan-pertimbangan
(deliberations) karenanya tidak bisa memutuskan. Orang yang tidak bisa membuat
pertimbangan dan memutuskan sesuatu adalah orang bodoh.
Dia juga mendakwa bahwa orang yang tidak memilih adalah benalu. Von Magnis
mengaitkan ini dengan sikap memikirkan karier sendiri tetapi tidak peduli
dengan negara. “Dia hidup atas usaha bersama masyarakat, tetapi tak mau
menyumbang sesuatu. … Kita dengan susah payah berhasil membangun demokrasi di
Indonesia, tetapi Anda ‘tak peduli politik.’ Betul-betul tak sedap,” demikian
tulisnya.
Tuduhan terakhir dari von Magnis adalah para golputers itu secara mental tidak
stabil atau psycho-freak. Terus terang saya tidak tahu kata yang dipakai di
sini. Saya mencoba membuka beberapa kamus standar bahasa Inggris, saya tidak
menemukan. Hanya saja, ada kata psycho dalam kamus slang bahasa Inggris. Ia
dari kata psychotic yang artinya gila, sinting, atau sama sekali tidak waras..
Inti dari tulisan von Magnis adalah soal keharusan memilih. Dia memberi jalan
keluar dari dilema yang serupa dengan “dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu
mati” ini dengan sebuah doktrin terkenal ini, “Dalam satu pemilu, kita tak
memilih yang terbaik, melainkan memastikan yang terburuk tidak terpilih.”
Minus Malum
Doktrin von Magnis ini bukan sesuatu yang baru di kalangan Katolik. Von Magnis
sendiri adalah seorang imam Katolik. Doktrin ini dikenal dengan julukan “minus
malum.” Artinya, memilih yang lebih baik dari pilihan-pilihan yang buruk.
Dalam kasus Pilpres, von Magnis memberikan contoh, jika ada dua kandidat
sama-sama buruk, sama-sama tidak memuaskan, maka pilihlah yang keburukannya
tidak terlalu besar. Sebenarnya doktrin ini tidak berbeda dengan ‘the lesser of
two evils.’ Di sini orang harus memilih dengan membandigkan dua hal yang buruk
(evils)serta memilih yang kurang kadar keburukannya.
Minus malum muncul di kalangan elit Katolik ketika terjadi perubahan kekuasaan
tahun 1965-66, yang dibarengi dengan pembantaian massal ratusan ribu pendukung
Partai Komunis Indonesia (PKI). Elite-elite Katolik sangat menentang PKI dan
ketika PKI kalah, kalangan elite ini melihat ada dua kekuatan yang sama
buruknya untuk kepentingan Katolik, yakni militer dan Islam.
Dengan segera, para elite Katolik memutuskan untuk berkolusi dengan militer..
Padahal di zaman Presiden Sukarno, golongan Katolik menjalin hubungan sangat
erat dengan golongan Islam. Ini karena kedua golongan ini sama-sama
anti-komunis.
Kekuasaan Suharto membuka peluang para elite Katolik ini untuk mengambil peran
politik yang lebih besar. Maka mulailah kolusi kekuasaan elite Katolik dan
militer. Sisanya adalah sejarah
Golput Adalah Immoral?
Tidak diragukan bahwa pikiran von Magnis memiliki pengaruh yang besar.
Statusnya sebagai imam, membuat pemikiran ini diterima nyaris sebagai ‘fatwa’
di kalangan Katolik dan Kristen. Selain itu, status von Magnis sebagai
cendekiawan dan filsuf seakan memberikan imprimatur kepada kampanye anti-golput
yang dilancarkan oleh salah satu kubu capres.
Namun benarkah golput adalah sebuah tindakan immoral? Pertama-tama, saya kira
kita perlu meluruskan apa yang disebut sebagai golput. Ada banyak kerancuan
pengertian tentang ini. Banyak orang memahami golput semata-mata sebagai
tindakan tidak memilih (non-voting behavior). Kita perlu menggarisbawahi bahwa
ini adalah sebuah tindakan. Bukan sikap. Karena hanya tindakan maka penyebab
non-voting behavior ini bermacam-macam. Sebagian besar dilakukan bukan sebagai
sebuah sikap, bukan sebagai statemen politik.
Ribuan penduduk Register 45 di Kabupetn Mesuji, Provinsi Lampung, misalnya,
tidak memilih karena mereka tidak memiliki KTP. Ini karena mereka dianggap
mendiami tanah negara secara illegal. Apakah mereka golput? Jelas bukan.
Ribuan orang tidak memilih karena keyakinan agamanya. Apakah mereka golput?
Juga bukan. Sekalipun ini sikap keagamaan, agak rancu untuk mengategorikan ini
sebagai sebuah sikap politik.
Ratusan ribu orang tidak memilih karena berbagai macam alasan, entah karena
sistem administrasi pemilihan yang berbelit-belit, karena pekerjaan, karena
lupa, dan lain sebagainya. Ini juga tidak bisa dikatakan golput. Karena ini
bukan sikap.
Dengan berkaca pada gerakan golput tahun 1971, maka sesungguhnya golput itu
adalah sebuah sikap. Sebuah statemen politik. Sebagai sebuah statemen politik
statusnya sama seperti abstention. Mereka yang golput mungkin hadir di TPS
namun memilih untuk tidak memilih.
Harus diakui bahwa penganut golput sebagai gerakan sesungguhnya sangat kecil.
Sebagian besar dari mereka adalah kelas menengah perkotaan. Sama seperti pada
tahun 1971, pengaruh mereka pun terbatas. Barangkali tulisan von Magnis
memiliki pengaruh jauh lebih besar ketimbang ide tentang golput ini.
Namun ada yang menarik dari golputers ini. Mereka memilih untuk tidak memilih.
Pilihan ini dilakukan dengan sadar dan dengan pertimbangan-pertimbangan yang
matang. Dengan demikian, ini adalah hak. Penggunanya juga sadar bahwa hak ini,
bila gunakan, akan memengaruhi hasil. Itulah yang membedakan golput dengan
non-voting behavior.
Dengan demikian, sulit untuk mengatakan bahwa orang-orang yang ber-golput itu
adalah orang yang bodoh. Mereka memilih untuk tidak memilih dengan sadar..
Dengan pertimbangan yang matang. Dengan pengetahuan yang lengkap.
Kedua, yang terimplikasi dari pemikiran von Magnis adalah bahwa mereka yang
golput itu adalah benalu, parasit yang mementikan diri sendiri, yang tidak
berpartisipasi dalam kehidupan bernegara padahal mereka sudah mengambil begitu
banyak dari negara.
Ini adalah dakwaan yang paling tidak sedap dari von Magnis. “Kita dengan susah
payah berhasil membangun demokrasi di Indonesia, tetapi Anda ‘tak peduli
politik.’ Betul-betul tak sedap,” begitu tulisnya.
Saya membaui semacam chauvinism dengan rasa fasis di sini. Atau semacam
hyper-nationalism ala Nazi, atau setidaknya ala Orba. Paralelnya adalah mencap
mereka yang golput sebagai pengkhianat negara. Mirip dengan: Kita susah payah
membangun negara ini, tapi Anda membangkang. Atau seperti kepada orang Papua:
kita bersusah payah membangun infrastruktur dan ekonomi, tapi Anda memberontak.
Von Magnis mengambil pandangan yang sangat sempit tentang partisipasi warga
negara. Partisipasi dalam kehidupan bernegara tidak hanya pada Pilpres. Ada
banyak orang yang mengambil sikap abstention justru karena mereka memikirkan
negara ini! Banyak dari mereka yang sangat peduli dengan kondisi kebebasan,
hak-hak asasi, kemiskinan, dan soal-soal keadilan sosial di negeri ini. Sulit
untuk membayangkan para golputersadalah orang apatis yang tidak peduli.
Apakah dengan mendukung salah satu calon presiden (capres) itu hanya
satu-satunya bentuk kepedulian kepada negara? Jelas tidak. Apalagi dengan
melihat betapa beracunnya kampanye politik yang dilancarkan kedua belah pihak –
dengan hoaxes, agitasi, dan provokasi untuk hal-hal yang sangat remeh dan
murahan – maka siapa sesungguhnya yang lebih merusak Republik ini? Kedua kubu
capres bertanggungjawab atas kerusakan hidup sosial di negeri ini.
Ketiga, juga sulit untuk mengatakan bahwa para pendukung golput itu adalah
mereka yang kondisi mentalnya tidak stabil. Dakwaan seperti ini sebenarnya
dakwaan murahan yang tujuannya memprovokasi. Tidak ada sedikit pun derajat
kebenaran didalamnnya.
Di atas saya sudah kemukakan bahwa banyak orang menjadi golput karena
pertimbangan yang serius. Ini bukan sikap yang diambil membabi buta. Menurut
saya, justru berpartisipasi membabi buta mendukung salah satu capres dan ikut
merobek-robek hidup sosial di negeri ini adalah bentuk ketidakstabilan mental.
Bukankah itu yang terjadi dengan pendukung fanatik kedua capres?
Terakhir, saya melihat bahaya yang sangat besar dan sangat serius dari doktrin
minus malum dari von Magnis ini. “Kita tak memilih yang terbaik, melainkan
memastikan yang terburuk tidak terpilih.” Pernyataan ini sesungguhnya sangat
beracun.
Melihat jalannya kampanye saat ini, kedua kubu capres sudah menganggap pihak
lawannya sebagai setan. Agitasi dan provokasi sudah sedemikian meluas.
Masing-masing pihak menganggap bahwa lawannya adalah yang terburuk dan calonnya
adalah yang lebih baik. Implikasi dari cara berpikir ini sangat serius. Siapa
pun yang terpilih akan dianggap terburuk oleh pendukung yang kalah. Pihak yang
kalah akan selalu menganggap yang terpilih bukan presiden yang legitimate.
Dengan demikian, sulit sekali untuk membangun kembali bangsa yang sudah
terobek-robek oleh kampanye ini.
Tidak akan pernah ada proses penyembuhan (healing process) yang bisa dilakukan
bila masing-masing pihak menganggap lawannya adalah yang terburuk untuk
Republik ini. ***
#yiv6703631867 #yiv6703631867 -- #yiv6703631867ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-mkp #yiv6703631867hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mkp #yiv6703631867ads
{margin-bottom:10px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mkp .yiv6703631867ad
{padding:0 0;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mkp .yiv6703631867ad p
{margin:0;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mkp .yiv6703631867ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-sponsor
#yiv6703631867ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-sponsor #yiv6703631867ygrp-lc #yiv6703631867hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-sponsor #yiv6703631867ygrp-lc .yiv6703631867ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6703631867 #yiv6703631867actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6703631867
#yiv6703631867activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6703631867
#yiv6703631867activity span {font-weight:700;}#yiv6703631867
#yiv6703631867activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv6703631867 #yiv6703631867activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6703631867 #yiv6703631867activity span
span {color:#ff7900;}#yiv6703631867 #yiv6703631867activity span
.yiv6703631867underline {text-decoration:underline;}#yiv6703631867
.yiv6703631867attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv6703631867 .yiv6703631867attach div a
{text-decoration:none;}#yiv6703631867 .yiv6703631867attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6703631867 .yiv6703631867attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6703631867 .yiv6703631867attach label a
{text-decoration:none;}#yiv6703631867 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv6703631867 .yiv6703631867bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6703631867
.yiv6703631867bold a {text-decoration:none;}#yiv6703631867 dd.yiv6703631867last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6703631867 dd.yiv6703631867last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6703631867
dd.yiv6703631867last p span.yiv6703631867yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv6703631867 div.yiv6703631867attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv6703631867 div.yiv6703631867attach-table
{width:400px;}#yiv6703631867 div.yiv6703631867file-title a, #yiv6703631867
div.yiv6703631867file-title a:active, #yiv6703631867
div.yiv6703631867file-title a:hover, #yiv6703631867 div.yiv6703631867file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6703631867 div.yiv6703631867photo-title a,
#yiv6703631867 div.yiv6703631867photo-title a:active, #yiv6703631867
div.yiv6703631867photo-title a:hover, #yiv6703631867
div.yiv6703631867photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6703631867
div#yiv6703631867ygrp-mlmsg #yiv6703631867ygrp-msg p a
span.yiv6703631867yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6703631867
.yiv6703631867green {color:#628c2a;}#yiv6703631867 .yiv6703631867MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv6703631867 o {font-size:0;}#yiv6703631867
#yiv6703631867photos div {float:left;width:72px;}#yiv6703631867
#yiv6703631867photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6703631867
#yiv6703631867photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6703631867
#yiv6703631867reco-category {font-size:77%;}#yiv6703631867
#yiv6703631867reco-desc {font-size:77%;}#yiv6703631867 .yiv6703631867replbq
{margin:4px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-mlmsg select, #yiv6703631867 input, #yiv6703631867 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-mlmsg pre, #yiv6703631867 code {font:115%
monospace;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-mlmsg #yiv6703631867logo
{padding-bottom:10px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-msg
p#yiv6703631867attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-reco #yiv6703631867reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-sponsor
#yiv6703631867ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-sponsor #yiv6703631867ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-sponsor #yiv6703631867ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv6703631867 #yiv6703631867ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6703631867
#yiv6703631867ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv6703631867