Alumni Kasbul menyusup ke mana-mana. Setiap kepergok biasanya langsungmorang-maring kayak paniknya Magnis atau Jokowi, cari kambing item. Apa cetakannya memang disetel begitu? Hheee.... --- lusi_d@.... wrote: Memang betul. Ideologis bisa dikatakan Magnis Suseno dan Pater Beek adalah dua sahabat sekomplotan anti new emerging-forces.
Am Tue, 26 Mar 2019 14:50:25 +0000 (UTC) schrieb Tatiana Lukman : > Yang jelas Frans Magnis anti-komunis. Bagus sekali Made mengingatkan > bahwa kaum elit katolik sangat anti-komunis/PKI. Ingat juga peran > Pater Beek dalam hubungannya dengan pembantaian 1965. Sebagai > institusi dan kaum elitnya, katolik dimana-mana, jelas kelihatan di > negeri-negeri AL, selalu berpihak kepada kaum penindas dan penguasa > dalam menghadapi gerakan rakyat dan kaum kiri/komunis. Sebagai > individu (he...he.. kakek yang sudah sepuh) Frans Magnis tidak > berbahaya, tapi kata-katanya dan tulisannya sudah tentu merupakan > racun anti komunis dan anti-rakyat yang berbahaya dan jahat. Bahwa > ada gereja dan pastor/individu yang menolong korban pembantaian, itu > tidak menghapus watak reaksioner dan anti komunis dari kaum elit dan > institusi katolik. Anehkah seseorang yang dianggap sudah begitu > tinggi ilmunya mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang menghina sekaligus > bodoh terhadap mereka yang memilih Golput??? Saya anggap tidak aneh. > Cap-cap yg dia keluarkan menunjukkan kepanikkannya kalau PYM yang > dijunjungnya kalah pemilu gara-gara banyaknya jumlah golput (sadar > dan tak sadar). Ada orang yang bilang naik tahtanya Prabowo > dikhawatirkan akan menguntungkan kaum radikal Islam.. Ini orang-orang > yang buta dan tdiak mau melihat kenyataan di mana sekarangpun di > bawah kekuasaan PYM yang dijunjungnya, kaum radikal Islam sudah > dengan seenak perutnya mengambil tindakan sewenang-wenang terhadap > kegiatan politik dan agama dari orang-orang yang mereka anggap musuh > (seperti korban 65, penganut agama lain, etc). Orang-orang ini > mendungukan dirinya sendiri. Apa yang dinamakan kaum radikal Islam > tidak akan bisa berkutik kalau tidak ada militer yang memeliharanya > untuk digunakan sebagai barisan tukang pukul dan penyebar teror.... > > > On Tuesday, March 26, 2019, 9:49:54 AM GMT+1, ajeg > wrote: > > Semakin berumur mestinya orang bertambah matang dan bijak, apalagi > yang tergolong tomas, tokoh masyarakat. Frans Magnis memperpanjang > deretan tokoh yang secara mental tidak siap menghadapi tekanan. Dia > berhasil membuktikan dirinya sebagai tokoh bodoh yang bermulut jahat, > karena omongannya toh akhirnya menabok mulutnya sendiri. Bodoh sekali. > > --- jetaimemucho1@... wrote: > 14 March 2019 > Made Supriatma > > > Harian IndoPROGRESS > Tanggapan untuk Franz Magnis-Suseno > Franz von Magnis (lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus > Ferdinand von Magnis) atau yang lebih dikenal dengan nama Franz > Magnis-Suseno, menuliskan pandangannya tentang golput (golongan > putih). Filsuf dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Drijarkara ini pada > intinya menolak keras orang-orang yang mengambil sikap golput dalam > Pilpres 2019 ini. Kita tahu bahwa golput merupakan isu besar dalam > Pilpres ini. Tingginya angka tidak memilih (abstention) dikuatirkan > akan memengaruhi hasil pemilihan. Von Magnis menulis bahwa memilih > itu wajib secara moral sekalipun hukum tidak mewajibkan. Dia > mengingatkan para golputers dengan kata-kata yang sangat keras. > “Kalau Anda, meskipun sebenarnya dapat, tetapi Anda memilih untuk > tidak memilih atau golput, maaf, hanya ada tiga kemungkinan: Anda > bodoh, just stupid; atau Anda berwatak benalu, kurang sedap; atau > Anda secara mental tidak stabil, Anda seorang psycho-freak,” demikian > tulisnya. Ujaran sangat pedas mengingat datangnya dari > seorang octogenarian, yang sudah sepuh. > > Saya tak hendak membahas mengapa Franz von Magnis harus menulis > demikian pedas. Dia tampaknya sangat kuatir akan kerugian yang > ditimbulkan oleh golput.. Saya bukan filsuf, jadi tidak terbiasa > menarik kesimpulan hanya berdasarkan spekulasi. > > Namun sialnya saya terpaksa harus berspekulasi. Mungkinkah kekuatiran > von Magnis ini muncul karena preferensinya untuk berpihak pada satu > calon presiden dalam Pilpres ini? > > Berbagai macam survei dan polling yang saya lihat menunjukkan kubu > petahana memang unggul. Namun keunggulan itu tergerus dengan > banyaknya pemilih yang belum menentukan sikap (undecided voters). > Jika undecided voters ini melanjutkan sikapnya dan tidak memilih maka > ini tentu akan merugikan kubu petahana. Sebaliknya, tingginya angka > tidak memilih (non-voting) akan menguntungkan kubu oposisi. Ini > karena kubu oposisi sekarang ini sangat bergairah, militansinya > tinggi, dan bergerak door to door memobilisasi pemilih. > > Tidak mengherankan bila kubu petahana sekarang, disamping berkampanye > untuk mendapatkan suara, juga berkampanye melawan golput. Tulisan von > Magnis ini, menurut hemat saya, memberikan legitimasi > filosofis-semu (quasi-philosophical) terhadap kampanye anti-Golput > kubu petahana. Sehingga, suka atau tidak suka, kita harus melihat > tulisan von Magnis itu sebagai sebuah statemen politik. Baik dari dia > maupun dari media yang memuatnya. Tidak berlebihan kalau saya katakan > bahwa tulisan itu adalah sebuah iklan politik (campaign ad). > > Dengan sendirinya, iklan politik ini, jika tidak dibayar oleh tim > kampanye kubu petahana, dia akan menjadi semacam sumbangan (political > contribution) von Magnis ke kubu petahana, yang diam-diam dibelanya > itu. > > Jika Anda akrab dengan perdebatan seputar uang yang dibayarkan oleh > Donald Trump kepada bintang film porno Stormy Daniels dan model Play > Boy Karen McDougall, maka Anda bisa dengan mudah memahami logika ini. > Pembayaran US$130,000 kepada Ms. Daniels oleh Trump itu dianggap > sebagai political contribution karena berpotensi memengaruhi hasil > pemilihan. Seandainya saat itu pemilih Amerika mengetahui informasi > perselingkuhan Trump maka ada kemungkinan pemilih tidak akan > memilihnya menjadi presiden. > > Seperti von Magnis, saya pun tidak berpretensi menjadi netral secara > politik. Tulisan ini pun bisa dianggap sebagai political > contribution. Efeknya mungkin akan memengaruhi orang agar memilih > untuk tidak memilih. Itu akan menguntungkan kubu oposisi. > > Akan tetapi, saya memberikan justifikasi lain terhadap tulisan ini. > Jika pun ada orang terpengaruh untuk golput karena tulisan ini maka > saya kira itu bukan karena mereka memihak kubu oposisi. Golput > atau abstention adalah pilihan politik. Berbeda dengan von Magnis > yang mendakwanya sebagai immoral, saya justru melihat bahwa pilihan > ini sangat bisa dipertanggungjawabkan secara moral. > > Kita mulai dengan memberikan ikhtisar pemikiran von Magnis. > > Bodoh, Benalu, dan Psycho-freak > > Von Magnis menyebut mereka yang mengambil sikap golput adalah orang > yang bodoh, benalu (parasite), dan bermental tidak stabil. > > Bodoh yang dia maksudkan adalah orang yang memilih menjadi golput > karena tidak ada calon yang sesuai dengan keinginannya (von Magnis > menulis: cita-cita). Orang yang memutuskan untuk tidak memilih itu > bodoh (= dungu, dalam kamus Rocky Gerung. Duh, mengapa dua orang yang > belajar filsafat cenderung mengatakan orang yang tidak setuju dengan > pemikirannya sebagai bodoh/dungu? Bukankah ini > melawan discourse yang, setahu saya, menjadi inti pencarian > filsafat?). > > Von Magnis melihat bahwa jika dua capres yang ada tidak memuaskan > maka keputusan tidak memilih itu adalah keputusan yang bodoh. > Sayangnya dia tidak menunjukkan dimana letak kebodohannya. Saya hanya > menduga, mungkin bodoh karena tidak bisa memutuskan. Orang bodoh > tidak bisa membuat > pertimbangan-pertimbangan (deliberations) karenanya tidak bisa > memutuskan. Orang yang tidak bisa membuat pertimbangan dan memutuskan > sesuatu adalah orang bodoh. > > Dia juga mendakwa bahwa orang yang tidak memilih adalah benalu. Von > Magnis mengaitkan ini dengan sikap memikirkan karier sendiri tetapi > tidak peduli dengan negara. “Dia hidup atas usaha bersama masyarakat, > tetapi tak mau menyumbang sesuatu. … Kita dengan susah payah berhasil > membangun demokrasi di Indonesia, tetapi Anda ‘tak peduli politik..’ > Betul-betul tak sedap,” demikian tulisnya. > > Tuduhan terakhir dari von Magnis adalah para golputers itu secara > mental tidak stabil atau psycho-freak. Terus terang saya tidak tahu > kata yang dipakai di sini. Saya mencoba membuka beberapa kamus > standar bahasa Inggris, saya tidak menemukan. Hanya saja, ada kata > psycho dalam kamus slang bahasa Inggris. Ia dari kata psychotic yang > artinya gila, sinting, atau sama sekali tidak waras.. > > Inti dari tulisan von Magnis adalah soal keharusan memilih. Dia > memberi jalan keluar dari dilema yang serupa dengan “dimakan bapak > mati, tidak dimakan ibu mati” ini dengan sebuah doktrin terkenal ini, > “Dalam satu pemilu, kita tak memilih yang terbaik, melainkan > memastikan yang terburuk tidak terpilih.” > > Minus Malum > > Doktrin von Magnis ini bukan sesuatu yang baru di kalangan Katolik. > Von Magnis sendiri adalah seorang imam Katolik. Doktrin ini dikenal > dengan julukan “minus malum.” Artinya, memilih yang lebih baik dari > pilihan-pilihan yang buruk. > > Dalam kasus Pilpres, von Magnis memberikan contoh, jika ada dua > kandidat sama-sama buruk, sama-sama tidak memuaskan, maka pilihlah > yang keburukannya tidak terlalu besar. Sebenarnya doktrin ini tidak > berbeda dengan ‘the lesser of two evils.’ Di sini orang harus memilih > dengan membandigkan dua hal yang buruk (evils)serta memilih yang > kurang kadar keburukannya. > > Minus malum muncul di kalangan elit Katolik ketika terjadi perubahan > kekuasaan tahun 1965-66, yang dibarengi dengan pembantaian massal > ratusan ribu pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Elite-elite > Katolik sangat menentang PKI dan ketika PKI kalah, kalangan elite ini > melihat ada dua kekuatan yang sama buruknya untuk kepentingan > Katolik, yakni militer dan Islam. > > Dengan segera, para elite Katolik memutuskan untuk berkolusi dengan > militer.. Padahal di zaman Presiden Sukarno, golongan Katolik > menjalin hubungan sangat erat dengan golongan Islam. Ini karena kedua > golongan ini sama-sama anti-komunis. > > Kekuasaan Suharto membuka peluang para elite Katolik ini untuk > mengambil peran politik yang lebih besar. Maka mulailah kolusi > kekuasaan elite Katolik dan militer. Sisanya adalah sejarah > > > Golput Adalah Immoral? > > Tidak diragukan bahwa pikiran von Magnis memiliki pengaruh yang > besar. Statusnya sebagai imam, membuat pemikiran ini diterima nyaris > sebagai ‘fatwa’ di kalangan Katolik dan Kristen. Selain itu, status > von Magnis sebagai cendekiawan dan filsuf seakan > memberikan imprimatur kepada kampanye anti-golput yang dilancarkan > oleh salah satu kubu capres. > > Namun benarkah golput adalah sebuah tindakan immoral? Pertama-tama, > saya kira kita perlu meluruskan apa yang disebut sebagai golput. Ada > banyak kerancuan pengertian tentang ini. Banyak orang memahami golput > semata-mata sebagai tindakan tidak memilih (non-voting behavior). > Kita perlu menggarisbawahi bahwa ini adalah sebuah tindakan. Bukan > sikap. Karena hanya tindakan maka penyebab non-voting behavior ini > bermacam-macam. Sebagian besar dilakukan bukan sebagai sebuah sikap, > bukan sebagai statemen politik. > > Ribuan penduduk Register 45 di Kabupetn Mesuji, Provinsi Lampung, > misalnya, tidak memilih karena mereka tidak memiliki KTP. Ini karena > mereka dianggap mendiami tanah negara secara illegal. Apakah mereka > golput? Jelas bukan. > > Ribuan orang tidak memilih karena keyakinan agamanya. Apakah mereka > golput? Juga bukan. Sekalipun ini sikap keagamaan, agak rancu untuk > mengategorikan ini sebagai sebuah sikap politik. > > Ratusan ribu orang tidak memilih karena berbagai macam alasan, entah > karena sistem administrasi pemilihan yang berbelit-belit, karena > pekerjaan, karena lupa, dan lain sebagainya. Ini juga tidak bisa > dikatakan golput. Karena ini bukan sikap. > > Dengan berkaca pada gerakan golput tahun 1971, maka sesungguhnya > golput itu adalah sebuah sikap. Sebuah statemen politik. Sebagai > sebuah statemen politik statusnya sama seperti abstention. Mereka > yang golput mungkin hadir di TPS namun memilih untuk tidak memilih. > > Harus diakui bahwa penganut golput sebagai gerakan sesungguhnya > sangat kecil. Sebagian besar dari mereka adalah kelas menengah > perkotaan. Sama seperti pada tahun 1971, pengaruh mereka pun > terbatas. Barangkali tulisan von Magnis memiliki pengaruh jauh lebih > besar ketimbang ide tentang golput ini. > > Namun ada yang menarik dari golputers ini. Mereka memilih untuk tidak > memilih. Pilihan ini dilakukan dengan sadar dan dengan > pertimbangan-pertimbangan yang matang. Dengan demikian, ini adalah > hak. Penggunanya juga sadar bahwa hak ini, bila gunakan, akan > memengaruhi hasil. Itulah yang membedakan golput dengan non-voting > behavior. > > Dengan demikian, sulit untuk mengatakan bahwa orang-orang yang > ber-golput itu adalah orang yang bodoh. Mereka memilih untuk tidak > memilih dengan sadar.. Dengan pertimbangan yang matang. Dengan > pengetahuan yang lengkap. > > Kedua, yang terimplikasi dari pemikiran von Magnis adalah bahwa > mereka yang golput itu adalah benalu, parasit yang mementikan diri > sendiri, yang tidak berpartisipasi dalam kehidupan bernegara padahal > mereka sudah mengambil begitu banyak dari negara. > > Ini adalah dakwaan yang paling tidak sedap dari von Magnis. “Kita > dengan susah payah berhasil membangun demokrasi di Indonesia, tetapi > Anda ‘tak peduli politik.’ Betul-betul tak sedap,” begitu tulisnya. > > Saya membaui semacam chauvinism dengan rasa fasis di sini. Atau > semacam hyper-nationalism ala Nazi, atau setidaknya ala Orba.. > Paralelnya adalah mencap mereka yang golput sebagai pengkhianat > negara. Mirip dengan: Kita susah payah membangun negara ini, tapi > Anda membangkang. Atau seperti kepada orang Papua: kita bersusah > payah membangun infrastruktur dan ekonomi, tapi Anda memberontak. > > Von Magnis mengambil pandangan yang sangat sempit tentang partisipasi > warga negara. Partisipasi dalam kehidupan bernegara tidak hanya pada > Pilpres. Ada banyak orang yang mengambil sikap abstention justru > karena mereka memikirkan negara ini! Banyak dari mereka yang sangat > peduli dengan kondisi kebebasan, hak-hak asasi, kemiskinan, dan > soal-soal keadilan sosial di negeri ini. Sulit untuk membayangkan > para golputersadalah orang apatis yang tidak peduli. > > Apakah dengan mendukung salah satu calon presiden (capres) itu hanya > satu-satunya bentuk kepedulian kepada negara? Jelas tidak. Apalagi > dengan melihat betapa beracunnya kampanye politik yang dilancarkan > kedua belah pihak – dengan hoaxes, agitasi, dan provokasi untuk > hal-hal yang sangat remeh dan murahan – maka siapa sesungguhnya yang > lebih merusak Republik ini? Kedua kubu capres bertanggungjawab atas > kerusakan hidup sosial di negeri ini. > > Ketiga, juga sulit untuk mengatakan bahwa para pendukung golput itu > adalah mereka yang kondisi mentalnya tidak stabil. Dakwaan seperti > ini sebenarnya dakwaan murahan yang tujuannya memprovokasi. Tidak ada > sedikit pun derajat kebenaran didalamnnya. > > Di atas saya sudah kemukakan bahwa banyak orang menjadi golput karena > pertimbangan yang serius. Ini bukan sikap yang diambil membabi buta. > Menurut saya, justru berpartisipasi membabi buta mendukung salah satu > capres dan ikut merobek-robek hidup sosial di negeri ini adalah > bentuk ketidakstabilan mental. Bukankah itu yang terjadi dengan > pendukung fanatik kedua capres? > > Terakhir, saya melihat bahaya yang sangat besar dan sangat serius > dari doktrin minus malum dari von Magnis ini. “Kita tak memilih yang > terbaik, melainkan memastikan yang terburuk tidak terpilih.” > Pernyataan ini sesungguhnya sangat beracun. > > Melihat jalannya kampanye saat ini, kedua kubu capres sudah > menganggap pihak lawannya sebagai setan. Agitasi dan provokasi sudah > sedemikian meluas. Masing-masing pihak menganggap bahwa lawannya > adalah yang terburuk dan calonnya adalah yang lebih baik. Implikasi > dari cara berpikir ini sangat serius. Siapa pun yang terpilih akan > dianggap terburuk oleh pendukung yang kalah. Pihak yang kalah akan > selalu menganggap yang terpilih bukan presiden yang legitimate. > Dengan demikian, sulit sekali untuk membangun kembali bangsa yang > sudah terobek-robek oleh kampanye ini. > > Tidak akan pernah ada proses penyembuhan (healing process) yang bisa > dilakukan bila masing-masing pihak menganggap lawannya adalah yang > terburuk untuk Republik ini. *** >
