http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1649-mengakhiri-fenomena-golput
/*Mengakhiri Fenomena Golput*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Kamis, 28 Mar 2019, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1649-mengakhiri-fenomena-golput>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1649-mengakhiri-fenomena-golput>
PUNCAK perayaan demokrasi yang disebut pemilihan umum akan dilangsungkan
serentak tiga pekan lagi. Kalau melihat dari permukaan, hasrat warga
untuk berpartisipasi dalam perayaan itu sepertinya cukup tinggi. Perang
di media sosial yang tak pernah henti, sambutan antusias masyarakat di
setiap kampanye, dan deklarasi dukungan terhadap dua kandidat yang
semakin masif ialah contoh yang menguatkan hipotesis tersebut.
Namun, di kedalaman, sesungguhnya masih ada kekhawatiran bahwa
antusiasme yang tampak di permukaan itu tak bakal sepenuhnya
mencerminkan partisipasi riil saat pelaksanaan pemilu. Diprediksi masih
banyak pemilih yang tidak mau menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.
Kelompok yang disebut golongan putih (golput) ini nyatanya selalu eksis
dalam setiap pemilu. Bahkan angkanya lumayan tinggi.
Pada Pemilu Legislatif 2009, misalnya, tingkat partisipasinya hanya
70,9%. Dengan kata lain, sebanyak 29,1% lainnya golput. Lalu pada
Pemilihan Presiden 2014, warga yang tak menggunakan hak pilihnya
mencapai 29,01%. Untuk pemilu tahun ini, lembaga Indikator Politik
pernah memproyeksikan potensi pemilih golput paling sedikit 20%.
Angka-angka itu jelas mengkhawatirkan. Alasan itu pula yang dapat
menjelaskan mengapa dua pasangan calon presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin
dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, rajin mengajak warga
berbondong-bondong pergi ke TPS pada 17 April nanti dalam
kampanye-kampanye mereka selama ini. Narasi ajakan itu kian sering
diujarkan pada saat kampanye terbuka nasional yang dimulai Minggu (24/3)
lalu.
Tentu ada kepentingan lain, ada 'tujuan kemenangan' di balik seruan dan
ajakan mereka. Tiap-tiap paslon pasti berharap warga yang diajak
berbondong-bondong ke TPS itu pada akhirnya juga akan mencoblos gambar
mereka. Akan tetapi, itu sah-sah saja, apalagi bila dilakukan di masa
kampanye.
Yang jelas, poin penting dari munculnya seruan-seruan itu ialah bahwa
sebetulnya kita semua sepakat fenomena golput mesti diakhiri.
Partisipasi dan aspirasi publik dalam pemilu mesti digenjot agar terjadi
sinergi positif antara proses dan hasil. Dalam bahasa lain, aspirasi
rakyat ialah roh demokrasi. Karena itu, harus dioptimalkan dalam setiap
proses demokrasi.
Golput, sekalipun menurut konstitusi merupakan hak yang sah dan boleh
dipergunakan, sejatinya tidak memberikan aspirasi yang positif terhadap
pelaksanaan pemilu di Indonesia. Banyak yang beranggapan golput ialah
benalu demokrasi.
Bahkan sebagian menganggapnya berbahaya bagi demokrasi karena dapat
melemahkan legitimasi pemilu, termasuk lembaga-lembaga yang dihasilkan
melalui proses pemilu, yaitu legislatif dan eksekutif.
Golput tentu saja bukanlah solusi yang tepat untuk menjawab beragam
persoalan serta tantangan bangsa. Karena itu, seluruh masyarakat yang
memiliki hak pilih hendaknya tetap menggunakan hak pilih. Datanglah ke
TPS dengan penuh kegembiraan karena Anda akan menentukan pemimpin lima
tahun mendatang.
Meski demikian, apakah efektif menekan angka golput hanya dengan seruan
dan ajakan dari elite? Sepertinya tidak. Harus ada aksi nyata, bukan
sekadar mengajak dan menyeru secara verbal.
Partai politik, calon-calon anggota legislatif, juga kandidat calon
presiden dan wakil presiden mesti betul-betul mampu mengintensifkan
ruang-ruang publik untuk memberikan pendidikan politik yang menyenangkan
bagi rakyat. Tebarlah gagasan-gagasan bernas dan inovasi cerdas demi
membangkitkan hasrat warga menggunakan hak pilih mereka.
Apalagi di masa kampanye terbuka sekarang ini, bukan saatnya lagi
kontestan pemilu berkampanye dengan cara-cara norak yang justru akan
membuat rakyat muak dan makin apatis terhadap pemilu.
Pemilu sejatinya ialah pertandingan adu visi, gagasan, dan solusi.
Pemilu bukan ajang untuk sekadar perang gimik dan isu-isu murahan.
Tampaknya, gerakan untuk 'melawan' golput mesti dimulai dari sini.