https://suara-islam.com/begitu-jokowi-terdesak-larinya-ke-khilafah-lagi/

Begitu Jokowi Terdesak, Larinya ke Khilafah Lagi
28 Maret 2019
 Jokowi berselfi dengan pendukungnya di Banyuwangi. [foto: tempo.co]

Salah satu sinyal yang menunjukkan Jokowi terdesak di pilpres ini adalah
pemunculan isu khilafah. Pertama, tampil Luhut Panjaitan yang mengatakan
ada gerakan yang mau mengganti ideologi Pancasila.

Setelah itu keluar Hendropriyono yang menakut-nakuti publik bahwa pilpres
kali ini adalah pertarungan antara ideologi Pancasila dan ideologi
khilafah. “Jangan salah pilih,” kata Hendro mengakhiri jeritan pedihnya
yang terakhir menjelang kejatuhan Jokowi, 17 April nanti.

Jadi, “Awas Khilafah” adalah satu-satunya amunisi yang tersisa di kubu
Jokowi. Mereka tak mampu lagi memikirkan narasi yang lebih cerdas. Agak
mengherankan juga mengapa Luhut dan Hendro kalah cerdas dibanding publik.
Padahal, mereka berdua ini mantan jenderal yang disebut-sebut cerdas.

Boleh jadi Luhut dan Hendro sudah terlalu lama bergelimang dengan cara-cara
yang dulu tidak terlalu sering mengaktifkan nalar. Mereka berdua ini ‘kan
tergolong jenderal gaya lama yang masih belum bisa lepas dari
doktrin-doktrin “gebuk”, “gertak”, “libas”, dlsb.

Mereka menyangka hari ini publik masih bisa ditakut-takuti dengan isu
khilafah tanpa didukung bukti-bukti teoretis dan empiris. Tanpa penjelasan
ilmiah. Setidaknya ilmiah populer.

Mereka masih saja membuat stetmen yang sifatnya satu arah dan harus ditelan
begitu saja oleh publik. Luhut dan Hendro menganggap dan mengharap rakyat
hari ini sama seperti anak-buah yang mereka pimpin dulu. Dalam arti, apa
saja yang mereka katakan harus diiyakan dan diterima sebagai kebenaran.

Padahal, publik hari ini tidak akan menelan begitu saja apa-apa yang mereka
katakan. Mereka terbiasa menggunakan nalar untuk menganalisis sesuatu.
Kalau Luhut dan Hendro bilang Pancasila terancam diganti ideologi khilafah,
publik akan melihat dulu sejarah ideologi khilafah di Indonesia.

Publik paham bahwa ancaman khilafah yang disebutkan Hendro itu tidak pernah
terbukti. Kalau sebatas digunakan sebagai momok, memang sering. Khilafah
mereka jadikan sebagai hantu untuk menakuti khalayak.

Yang menjadi masalah, hantu khilafah itu tak punya bangkai. Padahal, dalam
mitos mana pun juga, hantu dipercaya sebagai jelmaan bangkai. Nah, tolong
tunjukkan bangkai khilafah di Indonesia ini? Di mana ia berada? Apakah
Luhut dan Hendro bisa tunjukkan?

Jadi, memang ada *gap *(jurang) yang lebar dalam cara berpikir dan gaya
argumentasi antara Luhut-Hendro dan generasi yang jauh di belakang mereka.
Yaitu, generasi yang bakal banyak menggunakan akal sehat ketimbang agitasi
yang keluar dari ekspresi wajah ketat dan cemberut.

Sebagai kesimpulan, kalau pun Luhut dan Hendro melancarkan kampanye
“scaremongering” (menakut-nakuti) rakyat bahwa Pancasila akan diganti,
tidak akan pernah sukses.

Asyari Usman
*(Penulis adalah wartawan senior)*

Kirim email ke