https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#
Jumat 29 Maret 2019, 14:46 WIB
Kolom Kalis
Tafsir Muslimah Progresif dan Harapan untuk Asama
Kalis Mardiasih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
Kalis Mardiasih
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4488796/tafsir-muslimah-progresif-dan-harapan-untuk-asama#>
Tafsir Muslimah Progresif dan Harapan untuk Asama Kalis Mardiasih
(Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Kami berangkat ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA)
dengan taksi yang sama. Penerbangan masih dua jam lagi. Asama, perempuan
yang bersama saya, akan pulang ke Thailand dan saya ke Yogyakarta.
Selama delapan hari, kami baru saja mengikuti sebuah lokalatih bertema
keadilan gender di Cyberjaya, Malaysia bersama perempuan aktivis muslim
Asia Tenggara. Saya mengajak Asama makan sambil menunggu waktu /check
in/. Akhirnya, kami duduk di sebuah restoran /fast food/ KLIA.
Sejak di taksi, saya menyimpan sebuah pertanyaan untuk Asama. Perempuan
Pathani ini menangis dengan cukup emosional ketika sesi evaluasi. Saya
yakin ia menyimpan sebuah cerita yang layak untuk didengar lebih seksama.
"Asama, kenapa kamu menangis cukup keras di akhir acara? Apakah kamu
merasa materi sepanjang /workshop/ cukup terkait dengan pengalamanmu?"
"Ah, Kalis...Ya, ya, saya malu sekali karena tiba-tiba begitu
sentimentil di depan kalian semua."
Lokalatih yang kami ikuti menyajikan banyak materi, antara lain bahwa
tauhid adalah dasar prinsip keadilan relasi perempuan dan laki-laki.
Ternyata, jika yakin pada tauhid, seharusnya semua muslim
anti-patriarki. Kami juga mendapat metode membaca ayat Alquran, teks
hadits dan /maqalah/ fikih dengan prinsip keadilan dan kesetaraan
gender. Sepanjang forum, Asama sangat antusias menyimak bagaimana
seharusnya ayat tentang poligami, kepemimpinan, waris, pernikahan anak,
dan isu-isu perempuan lain dibaca dengan adil dan tepat.
Asama lalu bercerita dengan intim. Ia baru saja memeluk Islam tiga tahun
terakhir. Sebelumnya, ia adalah pemeluk Buddha seperti layaknya penduduk
mayoritas Thailand. Ia mendapatkan pengalaman spiritual ketika menempuh
program magister Antropologi di University of Aberdeen, Skotlandia.
Pada sebuah malam, ketika ia berjibaku dengan buku-buku diktat, matanya
menangkap sebuah kalimat yang baginya cukup indah: "/God is
everywhere./" Bagi seorang perantau, entah mengapa ia merasa kalimat
sederhana itu begitu /powerful/.
Keesokan harinya, ia masih memikirkan kalimat itu. Dan ketika sedang
belajar di perpustakaan universitas, tiba-tiba seseorang yang tidak ia
kenal menggelar sajadah di depan tempat duduknya dan melaksanakan salat.
Pada sore hari, di /lift/ kampus, ia disapa "/assalamualaikum/" oleh
seorang muslim.
Lewat beberapa pengalaman itu, diam-diam Asama mulai belajar mengenal
Islam. Ia sangat suka dengan konsep tauhid (/lailahailallah/). Sampai
ketika ia kembali ke Thailand, ia akhirnya mantap untuk masuk Islam. Ia
mengucap dua kalimat syahadat dengan bantuan seorang imam di Pattani.
Sebelum mengucap dua kalimat syahadat, Asama sempat meminta tolong
kepada imam masjid dan para jamaah agar status muslimnya dirahasiakan
dulu. Ia ingin mempelajari Islam dengan proses sambil memberikan
pemahaman kepada keluarga besarnya.
Namun, hal yang ia inginkan tidak terjadi. Sebentar saja setelah ia
mengucapkan dua kalimat syahadat, namanya diumumkan ke seluruh kota. Ia
langsung diwajibkan mengenakan jilbab. Ia langsung diajarkan banyak
sekali hukum Islam yang berlaku untuk muslim Pattani. Kepalanya langsung
penuh dengan halal-haram, surga-neraka. Islam yang ia kenal sebagai
"/God is everywhere/" berubah menjadi produk-produk hukum. Lebih-lebih,
produk hukum itu semakin tidak ia mengerti ketika sampai pada isu-isu
perempuan. Ia bukannya tidak ingin taat, melainkan ingin berislam dengan
sepenuh kesadaran. Ia ingin mengerti benar maksud dari sebuah perintah
sehingga tak ada penyangkalan lagi dalam batinnya.
"Beberapa tahun ini saya menyimpan banyak sekali pertanyaan terkait
dengan hak-hak perempuan dalam Islam. Saya tidak menyangka bahwa
ternyata tafsir Islam mulai dari ayat Alquran, hadits, dan fikih itu
beragam. Saya baru tahu bahwa syariat dan produk hukum berbasis syariat
itu berbeda."
Saya bercerita bahwa di Indonesia pengalaman berislam dan laku
keberagamaan sangat beragam. Berkaitan dengan isu hak-hak perempuan,
Indonesia bahkan telah punya banyak kiai feminis yang menulis buku fiqih
perempuan yang adil gender. KH Husein Muhammad, yang minggu lalu baru
saja menerima gelar doktor /honoris causa/ dari UIN Walisongo Semarang,
adalah salah seorang pengawalnya. Saya ingat ketika Dr. Zayna Anwar,
seorang aktivis perempuan muslim Malaysia berujar bahwa ia sungguh iri
melihat Indonesia, sebab di Indonesia perempuan muslim tidak sendiri
ketika menyuarakan haknya, tetapi mendapat dukungan penuh dari laki-laki
ulama yang memiliki otoritas.
"Saya ingin mahasiswa muslim saya mendapat pandangan yang beragam juga,
Kalis. Guru-guru agama saya di Pattani masih sangat seragam. Saya putus
asa melihat fakta banyak laki-laki di sekitar saya melakukan pemaksaan
dan kekerasan pada perempuan dengan mengatakan bahwa mereka melakukan
itu berdasarkan nilai-nilai agama Islam," demikian Asama berkeluh kesah.
Dunia telah menjadi desa global. Beberapa menit setelah percakapan itu,
mungkin saya dan Asama akan berpisah di /check-in counter/ KLIA. Tapi,
beberapa menit sesudahnya, kami telah menjadi teman di Facebook.
Saya menyarankan agar Asama memutar film-film dokumenter bertema
keberagaman dan keadilan gender di kampusnya. Seseorang seringkali
mengklaim kebenaran atau merasa besar sebab ia tidak melihat hal lain di
luar dirinya. Sering ada istilah "kurang piknik" untuk mengomentari
orang-orang yang mudah marah hanya karena pandangan yang berbeda.
Tetapi, hari ini, piknik tak harus piknik fisik. Ada banyak buku dan
film berkualitas yang dapat ditonton. Saya pun sering menyimak
dokumenter-dokumenter yang berkisah soal perempuan muslim Taliban yang
seringkali memilukan.
Saya menyemangati Asama agar mulai membentuk komunitas untuk berdiskusi
hal-hal keseharian yang mereka rasakan dalam berislam sebagai minoritas.
Tak usah berpikir bahwa komunitas adalah sekumpulan orang dengan jumlah
banyak. Cukup empat hingga lima orang saja untuk memulai obrolan. Jika
menarik, lama-lama komunitas itu akan berkembang dengan sendirinya.
Tetapi jika tak pernah dimulai, tentu saja selamanya Asama tetap
sendirian merasakan kegelisahannya.
Sampai jumpa lagi, Asama! Saya berjanji suatu saat akan main ke Prince
Songkla University dan juga menengok perempuan-perempuan muslim di
Pattani, Thailand.
*Kalis Mardiasih* /menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset
dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan
pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa
lewat @mardiasih
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!