http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1482-gerakan-subuh
/*Gerakan Subuh*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Jumat, 29
Mar 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1482-gerakan-subuh>
<http://twitter.com/home/?status=Gerakan Subuh
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1482-gerakan-subuh via
@mediaindonesia>
Gerakan Subuh
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/03/3435d0692dfcc787cbf231687a784f36.jpg>
/MI/Tiyok/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
BEBERAPA tahun lalu, jauh sebelum hiruk pikuk politik yang membelah,
seorang pendakwah menggaungkan gerakan salat subuh berjemaah. Saya
melihatnya di sebuah stasiun televisi di pagi hari. Ia menekankan
gerakan ini akan punya banyak manfaat: membangkitkan disiplin waktu,
silaturahim umat, kesehatan rokhani/jasmini, serta produktivitas ekonomi.
Ia menjelaskan manfaat salat subuh berjemaah bisa menjawab tantangan
bangsa yang merosot dalam disiplin waktu, persatuan yang merenggang,
meningkatnya aneka penyakit, serta ekonomi umat yang rendah. Sehabis
salat subuh, katanya, mesti dimanfaatkan untuk olahraga sebelum mencari
nafkah.
Di pagi hari tenaga dan pikiran masih prima. Sebuah dakwah yang
kontekstual, berupaya mencari solusi problem bangsa yang dimulai dari
disiplin waktu salat subuh. Waktu terberat untuk bangun. Ia
mengungkapkan fakta, betapa banyak muslim Indonesia menyia-nyiakan
waktu, termasuk waktu tidur terlalu banyak, kurang olahraga, dan pola
makan yang tak sehat.
Bertahun-tahun saya tak melihat ajakan sang pendakwah itu bergema. Tak
banyak pula ustaz yang mengikuti jejaknya. Inilah ajakan salat subuh
berjemaah yang belum bercampur dengan urusan politik elektoral.
Sejak politik elektoral DKI Jakarta, gerakan salat subuh berjemaah
memang mulai muncul. Ada Deklarasi Gerakan Indonesia Salat Subuh (GISS)
di area Monumen Nasional, Jakarta, yang dilakukan para aktivis Aksi 212
pada Desember 2017.
Deklarasi ini mengajak anggota keluarga tetangga dan kawan-kawan untuk
datang ke masjid di waktu subuh untuk salat subuh berjemaah. Diharapkan
pada 2020 seluruh masjid dan musala di seluruh Indonesia sudah
melaksanakan salat subuh berjemaah. Kini salat subuh berjemaah menggaung
di banyak tempat.
Ada yang bermotif politik, ada yang murni ibadah. Wali Kota Malang,
Sutiaji, misalnya memulai 40 hari kerjanya dengan salat subuh berjemaah
tanpa henti. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, sejak menjabat Wali Kota
Bandung, memaknai positif salat subuh berjemaah ini. Ia juga aktif
melakukannya di banyak masjid.
Beberapa kepala daerah juga melaksanakan hal yang sama. Ada yang
menyorot GISS terlalu kentara muatan politiknya. Dalam sebuah diskusi
bertema Politisasi GISS, mencederai ajaran Islam yang digelar di Depok
tahun lalu, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hikam Depok, Sofiudin,
mengingatkan GISS harus dijaga dari politisasi.
Ia mengingatkan ada penceramah yang kerap berlebihan, yang mengarahkan
dukungan ke calon atau partai tertentu. Ini yang menurutnya bisa
mencederai Islam.
Ia mengungkapkan dakwah di masa Nabi Muhammad SAW. Waktu itu, katanya,
Nabi dan para sahabat berbicara politik di masjid, tapi mereka tidak
menjadikannya ajang kampanye. Sofiudin mengakui akan meneliti lebih jauh
terkait GISS ini sebagai subjek yang melakukan politisasi atau menjadi
korban politisasi.
Dosen FISIP UIN Jakarta Robi Sugara menilai GISS niatnya baik, tapi
kampanye politik praktis menjadikannya bias. Ia amat menyayangkan. Jika
GISS berhasil meluas ke seluruh Indonesia, akan menguntungkan elite
politik tertentu. "Ini persoalan taktik dan strategi politik para
oposan. GISS akan berdampak masif dan strategis dalam momen Pilpres
2019," tandasnya.
Apa yang dinubuat Robi Sugara benar. Salah satu unsur pendukung capres
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Alumni 212, sudah berterus terang akan
memanfaatkan GISS dalam pemilu. Presidium Alumni 212 memberikan intruksi
kepada para pendukungnya di seluruh Indonesia agar pada 17 April di hari
pencoblosan, melakukan salat subuh berjemaah yang didahului salat
tahajud; dilanjutkan hingga penghitungan suara.
Menurut penggagas gerakan salat subuh berjemaah ini, Forum Umat Islam
(FUI), GISS untuk mencegah kecurangan penghitungan surat suara. Sekjen
FUI Al-Khathtathath dalam akun Youtube FUI Channel yang diunggah 20
Maret lalu mengakui hal itu.
Seperti apa kelanjutan GISS pasca-Pemilu 2019 ini jadi menarik. Bisa
jadi akan terus dimanfaatkan untuk kepentingan politik yang lain. Namun,
sebaiknya lebih banyak yang tetap melaksanakan salat subuh berjemaah
seperti yang pernah digaungkan pendakwah yang pernah saya lihat di
televisi itu. Tetap dengan niat ibadah yang tulus.
Masjid-masjid yang dipakai GISS mendukung Prabowo-Sandi sangat
berpotensi menimbulkan perasaan tak enak bagi para pendukung Joko
Widodo-Maruf Amin. Masjid yang mestinya menyatukan umat pun bisa
merenggangkannya.***
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1482-gerakan-subuh>
<http://twitter.com/home/?status=Gerakan Subuh
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1482-gerakan-subuh via
@mediaindonesia>