https://www.antaranews.com/berita/817042/ketika-jutaan-ton-sawit-membusuk-tidak
<https://www.antaranews.com/berita/817042/ketika-jutaan-ton-sawit-membusuk-tidak-terjual>
-terjual
<https://www.antaranews.com/berita/817042/ketika-jutaan-ton-sawit-membusuk-tidak-terjual>



   - NTARA <https://www.antaranews.com/nusantara>
   - NASIONAL <https://www.antaranews.com/nasional>
   - DUNIA <https://www.antaranews.com/dunia>
   - EKONOMI <https://www.antaranews.com/ekonomi>
   - OLAHRAGA <https://www.antaranews.com/olahraga>
   - HIBURAN <https://www.antaranews.com/hiburan>
   - TEKNO <https://www.antaranews.com/tekno>
   - WARTA BUMI <https://www.antaranews.com/warta-bumi>
   - OTOMOTIF <https://otomotif.antaranews.com/>
   - FOTO <https://www.antaranews.com/foto>
   - ANTARA TV <https://www.antaranews.com/video>
   - ENGLISH <https://en.antaranews.com/>

<https://ads.antaranews.com/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=5081__zoneid=1417__cb=1a7c3805cc__oadest=https%3A%2F%2Fpemilu.antaranews.com%2F>
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>Ketika jutaan ton sawit
membusuk tidak terjual

Oleh Dewanti Lestari  Kamis, 28 Maret 2019 23:04 WIB
[image: Ketika jutaan ton sawit membusuk tidak terjual]

Pakar energi Dr Unggul Priyanto, yang juga mantan Kepala BPPT
(ANTARA/Dewanti Lestari)
Jakarta (ANTARA) - Masa ketika jutaan ton buah sawit terpaksa membusuk
tidak bisa terjual merupakan saat-saat tersulit bagi jutaan masyarakat
petani sawit di Indonesia.

Masa itu bisa terjadi dalam waktu dekat, karena Komisi Eropa segera
mengurangi penggunaan bahan baku *biofuel* dari minyak sawit secara
bertahap mulai 2019 hingga 2023 dan menjadi nol (penghentian total) pada
2030.

Komisi Eropa beralasan bahwa 45 persen dari ekspansi produksi minyak sawit
sejak 2008 menyebabkan kerusakan hutan, lahan basah dan gambut, jauh lebih
besar dibandingkan *biofuel* dari jenis tanaman lainnya seperti bunga
matahari *(sunflower)* atau kanola (*rapeseed)* yang hanya satu persen.

Sebagai produsen sawit nomor satu dunia, produk sawit Indonesia memang
menggunakan lahan cukup luas, mencapai total 14,31 juta ha, yang meski
sudah dihentikan perluasannya (moratorium) melalui Inpres Nomor 8 Tahun
2018, sawit tetap dituduh merusak hutan.

Sebuah jaringan supermarket di Inggris bahkan telah menghentikan penjualan
produk-produk yang mengandung minyak sawit sejak tahun lalu, dan pemerintah
Perancis bakal menghapus minyak sawit dari *biofuel*-nya pada 2020.
Kebijakan semacam ini diperkirakan terus merembet ke berbagai negara
lainnya termasuk ke AS.

"Tidak ada *biofuel* tertentu yang menjadi target. Semua minyak nabati
diperlakukan setara," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent
Guérend menampik protes pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, produksi sawit Indonesia justru terus meningkat dari saat ini
47 juta ton CPO (*Crude palm Oil*), akan menembus 51,7 juta ton pada 2025.

Namun, hanya 10 juta ton CPO yang selama ini bisa diserap di dalam negeri,
sedangkan 34,7 juta ton untuk memenuhi pangsa ekspor, dan 4,78 juta ton di
antaranya diekspor ke Eropa yang 61 persennya digunakan sebagai biofuel.

Lalu jika rancangan peraturan Komisi Eropa tentang energi terbarukan
terkait pelarangan sawit itu benar-benar diterapkan, apa yang harus
dilakukan Indonesia untuk mengatasi kemungkinan kelebihan
(*oversupply)* produksi
sawit tersebut?

 Pemilik usaha budidaya lele sangkuriang Sutigno (kanan) memperlihatkan
kolam ikan lele di lahan perkebunan kelapa sawit Desa Cot Rambong,
Kecamatan Kuala Pesisir, kabupaten Nagan Raya, Aceh, Selasa (26/3/2019)
(Antara Aceh/ Anwar)


Badan Khusus

Pakar energi Dr Unggul Priyanto mengatakan, sudah sepatutnya melimpahnya
minyak sawit itu tidak disia-siakan dan harus digunakan sebagai pengganti
BBM (bahan bakar minyak) di dalam negeri yang dari tahun ke tahun
kebutuhannya terus meningkat.

Saat ini sudah ada teknologi yang bisa mengolah minyak sawit menjadi 100
persen bensin atau 100 persen solar, bukan lagi sekedar sebagai campuran
*biodiesel* B10 atau B20, kata mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) itu.

ENI, perusahaan dari Italia yang menjadi pelopor konversi kilang minyak
nabati pertama di dunia, sudah bekerja sama dengan Pertamina untuk
memproses CPO 100 persen menjadi BBM, dan telah memulai proses pengolahan
di Kilang Plaju (*Refinery* Unit III) Palembang, Sumatra Selatan.

"Prosesnya tidak sulit, agak mirip dengan kilang minyak biasa, hanya bahan
bakunya menggunakan CPO dan kondisi reaksinya serta suplai hidrogennya yang
beda. Secara Laboratorium ITB dan Pertamina sudah bisa memproses CPO 100
persen jadi BBM," kata alumnus ITB itu.

Namun, demikian, untuk membangun pabrik pengolahan *green fuel* ini hingga
bisa digunakan secara massal, menurut Unggul, masih memerlukan waktu
sedikitnya tiga tahun lagi.

Unggul mengakui, *green fuel *berupa *green gasoline* (bensin 100 persen
dari CPO) dan *green diese*l (solar 100 persen dari CPO) akan sulit
bersaing dengan minyak fosil karena harganya yang masih lebih mahal terkait
harga CPO yang memang tinggi.

Namun, hal itu bisa diatasi dengan membentuk suatu badan khusus yang
mengatur kebijakan perdagangan kelapa sawit. Badan ini akan menetapkan dua
harga CPO, untuk pangan dan CPO untuk energi, ujarnya.

Yang perlu diperhatikan, ujar dia, CPO yang digunakan sebagai *biofuel* tidak
perlu memiliki kualitas selevel CPO yang digunakan sebagai bahan pangan
(minyak goreng dan margarin).

"CPO untuk pangan sudah memiliki standar, asam lemak bebas (ALB)-nya tidak
boleh lebih dari 5 persen, sehingga buahnya tidak boleh terlalu matang.
Jika terlalu matang, harganya jatuh karena ALB-nya melebihi batas," katanya..

Selama ini, persoalan kematangan buah selalu membebani petani sawit karena
harus berkejaran dengan waktu memanen agar bisa dijual ke perusahaan untuk
diproses menjadi CPO, padahal semakin matang buah sawit, sebenarnya makin
besar rendemennya dan semakin banyak CPO yang dihasilkan, ujarnya.

Selain itu, dari sisi proses, CPO untuk energi juga lebih mudah, karena
tidak perlu didistilasi untuk memisahkan CPO dari ALB atau *free fatty
acid* (FFA)-nya
dan hanya cukup dihilangkan dari getahnya menjadi *refined, bleached and
deodorised *(RBD) palm oil untuk diproses menjadi BBM.

"Jika CPO yang berasal dari tandan buah segar (TBS) sawit petani dibedakan
dengan CPO yang dihasilkan perusahaan sehingga ada dua jenis CPO, ini akan
lebih baik. Jadi CPO perusahaan hanya untuk pangan dan ekspor, sawit petani
untuk BBM dalam negeri," katanya.

Ia mengatakan, badan tersebut bisa mengatur agar sawit yang dijual petani
bisa tetap dibeli dengan harga layak meskipun kualitasnya rendah.

Data Kementerian Pertanian, dari 14 juta hektare lahan sawit, seluas 6 juta
hektare merupakan lahan milik rakyat, 8 juta hektare lahan perusahaan
swasta dan 1 hektare lahan perkebunan BUMN.

Selain itu, petani tetap bisa untung karena produk CPO untuk BBM yang
dihasilkan dari CPO kualitas rendah ini secara kuantitas lebih banyak
dibanding CPO untuk pangan, apalagi ADL-nya tidak perlu dipisahkan, ujarnya..

"Harganya diharapkan jadi sama dengan BBM dari minyak fosil atau kalau
lebih mahal, paling banter selisih maksimum Rp1.000 per liter itu nanti
bisa diambilkan misalkan dari subsidi kutipan ekspor CPO," katanya.

 Pekerja melansir Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Pekanbaru, Riau,
Rabu (20/3/2019). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman/ama)

*Green Fuel*

Dengan *green fuel *ini, diharapkan konsumsi BBM dalam negeri yang saat ini
kebutuhannya mencapai 1,3 juta barrel per hari bisa digantikan, berhubung
selama ini 370 barrel BBM/hari terpaksa diimpor, dan hanya 910 ribu
barrel/hari yang bisa dipenuhi oleh kilang dalam negeri.

Akibat impor yang sangat besar dari migas yakni 13,4 milyar dolar AS,
Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan tahun 2018 sebesar 8,57
milyar dolar AS.

Oleh karena itu memang harus ada upaya untuk mengurangi impor BBM dengan
menggunakan sumber energi lain, terutama bahan bakar nabati yang kebetulan
melimpah di Indonesia.

Apalagi bensin hijau ini memiliki kualitas yang lebih baik daripada bensil
fosil dengan nomor octane mencapai 104, sedangkan solar hijau memiliki
nomor cetane 86.*


Baca juga: Kementerian ESDM dorong upaya produksi "green fuel"
<https://www.antaranews.com/berita/775182/kementerian-esdm-dorong-upaya-produksi-green-fuel>

Kirim email ke