Debat Capres di Antara Hantu Komunisme dan Bayang Radikalisme
CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 13:01 WIB
Bagikan :
Debat Capres di Antara Hantu Komunisme dan Bayang RadikalismeCalon
presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo diprediksi akan saling
meyakinkan publik sebagai pihak yang paling pancasilais dalam debat
keempat antar capres, Sabtu (30/3). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden*Joko Widodo
<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>* dan*Prabowo Subianto
<https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto>* diyakini bakal
memanfaatkan panggung*debat keempat
<https://www.cnnindonesia.com/tag/debat-capres>*, Sabtu (30/3) malam,
untuk menepis isu seputar komunisme dan radikalisme. Kedua capres juga
diprediksi berlomba meyakinkan publik sebagai pihak paling Pancasilais.
Debat capres sendiri akan mengusung tema seputar ideologi, pertahanan
dan keamanan, pemerintahan, dan hubungan internasional.
"Debat nanti akan jadi ajang saling konfirmasi siapa yang anti-Pancasila
dan siapa pancasila, jadi seakan ada orang atau kelompok yang ingin coba
ganti Pancasila dan NKRI dengan [ideologi] lain," kata pengamat politik
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi
Prayitno saat berbincang dengan/CNNIndonesia.com/, Kamis (28/3).
Isu komunisme dan radikalisme memang masih menjadi momok bagi Jokowi dan
Prabowo.
Lihat juga:
TKN Sebut Jokowi Siap Debat soal Ideologi dan Penguatannya
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190328073124-32-381342/tkn-sebut-jokowi-siap-debat-soal-ideologi-dan-penguatannya/>
Untuk Jokowi, sudah sejak lama capres nomor urut 01 itu diterpa isu
dekat dengan kelompok komunis. Dia bahkan pernah difitnah anak kader
Partai Komunis Indonesia.
Beberapa kali Jokowi membantah isu itu dan menyatakan sebagai hoaks.
Namun hantu Jokowi komunis tak sepenuhnya hilang. Dalam suatu acara
Jokowi bahkan pernah menyebut masih ada sekitar enam persen atau
sembilan juta masyarakat yang percaya dirinya terkait PKI.
Hal itulah yang dikhawatirkan bisa menggerus elektabilitas Jokowi.
Menurut Adi, debat capres bisa jadi panggung pamungkas membantah isu PKI
tersebut.
Jokowi, lanjut dia, harus menjelaskan dan memberikan konfirmasi secara
rinci terkait tuduhan dirinya didukung kelompok pro komunis.
Selain itu, lanjut Adi, Jokowi juga harus memberikan penjelasan secara
komprehensif terkait langkah pembubaran yang dilakukan terhadap Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI).
Menurutnya, penjelasan itu perlu dilakukan menggingat pembubaran HTI
dilakukan pemerintah dengan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti
undang-undang (perppu) terlebih dahulu, bukan melalui mekanisme hukum
yang sebelumnya diatur dalam UU Ormas.
"Jokowi harus menjelaskan ke publik seberapa bahaya HTI sehingga
dibubarkan dengan perppu yang logikanya mengandaikan kita dalam kondisi
genting. Kalau HTI sedang menjadi ancaman nyata, mengapa (rezim)
sebelumnya tidak seperti itu," ucapnya.
Lihat juga:
Pengamat Sebut Pembubaran HTI Jadi 'Senjata' Jokowi di Debat
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190327052109-32-380996/pengamat-sebut-pembubaran-hti-jadi-senjata-jokowi-di-debat/>
Untuk Prabowo, Adi memprediksi panggung debat bakal dimanfaatkan untuk
menghapus stigma soal kedekatannya dengan kelompok islam garis keras
yang ingin mengganti ideologi negara.
Stigma Prabowo dekat dengan kelompok radikal tak lepas dari aliran
dukungan sejumlah tokoh yang terkenal keras.
Imam besar Front Pembela Islam, misalnya, yang selama ini dikenal publik
sebagai tokoh islam yang cukup keras, sudah terang-terangan mendukung
Prabowo.
Hasil survei LSI Denny JA memperkuat stigma itu.
Dari survei yang dilakukan 18-25 Februari 2019 di 34 provinsi, peneliti
LSI Denny JA Ardian Sopa mengatakan selama kurun waktu enam bulan
dukungan atas Prabowo-Sandi lebih unggul pada segmen pemilih muslim yang
orientasi politiknya menilai Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah
atau Arab yakni 54,1 persen.
Adi mengatakan Prabowo tak cukup sekadar memberi penjelasan untuk
menepis stigma didukung kelompok garis keras. Prabowo juga harus
membeberkan kebijakan komprehensif yang akan diambil terhadap kelompok
radikal bila kelak menjadi presiden.
"Kalau Jokowi punya modal berani lawan kelompok radikal yang
anti-Pancasila semacam HTI, nah kebijakan politik Prabowo hadapi
kelompok radikal seperti HTI seperti apa? Mau dirangkul, diajak
berteman, sambil dididik sebagai warga negara yang baik atau seperti
Jokowi?" ucapnya.
Lihat juga:
LSI: Prabowo Unggul di Pemilih yang Ingin Indonesia bak Arab
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190306073831-32-374889/lsi-prabowo-unggul-di-pemilih-yang-ingin-indonesia-bak-arab/>
Lebih dari itu, Adi menilai, dua capres juga harus menyampaikan gagasan
atau ide baru yang akan dikerjakan untuk menguatkan ideologi bangsa di
masa mendatang.
Menurutnya, penguatan ideologi bangsa harus dilakukan lewat pembangunan
pendidikan demokrasi dan kebudayaan, bukan sekadar pembentukan lembaga
atau badan khusus di pemerintahan.
Berangkat dari itu, Adi mengaku menunggu Jokowi dan Prabowo menyampaikan
ide atau gagasan yang mendorong penguatan ideologi bangsa lewat dunia
pendidikan, seperti revisi kurikulum.
"Pembahasan ideologi ini diharapkan sampai membahas kurikulum di
pendidikan," ujarnya.*(mts/wis)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com