http://mediaindonesia.com/read/detail/226546-erick-kematangan-sebagai-pemimpin-makin-diperlihatkan-jokowi


 /*Erick: Kematangan sebagai Pemimpin makin
 */


 /*Diperlihatkan Jokowi*/

Penulis: *MICOM* Pada: Sabtu, 30 Mar 2019, 23:05 WIB Politik dan Hukum <http://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/226546-erick-kematangan-sebagai-pemimpin-makin-diperlihatkan-jokowi>  <http://twitter.com/home/?status=Erick: Kematangan sebagai Pemimpin makin Diperlihatkan Jokowi http://mediaindonesia.com/read/detail/226546-erick-kematangan-sebagai-pemimpin-makin-diperlihatkan-jokowi via @mediaindonesia>

Erick: Kematangan sebagai Pemimpin makin Diperlihatkan Jokowi <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/03/d5e9fbab4438b2e1aa50d1a4c3c88f2f.jpg>

/MI/Susanto/
Ketua TKN Jokowi-Amin, Erick Thohir.

CALON Presiden Joko Widodo makin memperlihatkan kematangan seorang pemimpin dan negarawan saat melakoni debat keempat Pemilihan Umum Presiden 2019 yang dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3) malam.

Di ajang debat yang membahas masalah ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, Jokowi mampu beradu debat dengan capres Prabowo Subianto sekaligus menjelaskan kerja serta bukti nyata yang sudah dijalankan selama lima tahun memerintah.

Padahal sebelum debat dimulai, beberapa pengamat menilai materi debat keempat akan lebih dikuasai capres nomor urut 02 yang punya latar belakang militer. Namun, dalam berbagai adu argumen dan program kerja, terlihat dengan jelas bahwa Jokowi lebih fasih saat menerangkan dengan rinci empat masalah yang dibahas.

"Saya menilai, Jokowi sangat tenang sekali dan menguasai materi debat seri empat itu. Ia mampu mementahkan segala argumentasi Prabowo, dengan menunjukkan hasil kerja. Bahkan, dengan istilah yang kekinian, Dilan, atau Digital Melayani, Jokowi menunjukkan ketenangan saat debat berlangsung," ujar Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Erick Thohir, usai menonton debat keempat yang disiarkan langsung stasiun televisi, Metro TV, Indosiar, dan SCTV.

Erick menambahkan, ketenangan yang diperlihatkan Jokowi tak hanya saat melontarkan istilah-istilah yang cerdas, seperti Dilan, /e-procurement/, /e-government/, atau /e-budgeting/, tapi Jokowi juga menonjolkan sikap kearifan dan negarawan saat memberikan contoh kepada Prabowo.

"Waktu Prabowo mengeluh soal dirinya dituduh, Jokowi dengan tenang bilang, 'Saya juga sering dituduh, Pak, tapi tenang saja'. Saya salut karena sikap negawaran Jokowi semakin terlihat," ungkapnya.

*Baca juga:* Hasto: Koalisi Siap Viralkan Pernyataan Jokowi Saat Debat <http://mediaindonesia.com/read/detail/226541-hasto-koalisi-siap-viralkan-pernyataan-jokowi-saat-debat>


Kepiawaian Jokowi, dinilai Erick, juga diperlihatkan saat membahas mengenai masalah pertahanan dan keamanan. Di bidang yang sebenarnya dikuasai Prabowo, malah berlangsung sebaliknya. Jokowi lebih mahir dalam menjelaskan bagaimana sistem pertahanan dan keamanan dibangun.

"Jokowi sangat tenang, tidak emosi, dan matang sekali. Kalimat, 'Pak Prabowo tidak percaya dengan TNI kita' merupakan pernyataan yang cukup menohok dan tegas. Apalagi, Jokowi bercerita bahwa dirinya melihat langsung ke perbatasan di Natuna atau Sorong. Penjelasan soal investasi alutsista TNI dalam industri militer, termasuk juga dalam menghadapi perang terbuka dan tehnologi, sangat cerdas untuk pengalihan tehnologi," tambah Erick.

Penjelasan Jokowi mengenai pendekatan Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif, dinilai Erick juga sangat prima. Menurutnya, dengan menggunakan pendekatan sebagai negara yang mayoritas muslim, Jokowi mampu menjelaskan usaha-usaha yang sudah dilakukan dan hal itu merupakan kekuatan diplomasi Indonesia.

Pujian atas penampilan Jokowi yang matang juga diungkapkan para penonton acara nobar Debat Pilpres 2019 yang berlangsung di The Hall, Senayan City, Jakarta. Pernyataan Jokowi mengenai Dilan atau 'Digital Melayani' atau teknologi basis menunjukkan bahwa Jokowi sudah berpikir tiga langkah ke depan jika dibandingkan dengan capres 02.

"Sulit jika Prabowo masih berpikir bahwa digital tidak penting. Pola pikirnya tidak sama. Sementara, Jokowi sudah berpikir soal pelayanan cepat dan digital. Saya suka pemikiran Jokowi yang ingin mengubah kultur budaya masyarakat Indonesia, terutama dalam menghadapi era digital agar Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya," ujar Asty, relawan yang khusus datang dari Malaysia. (RO/OL-1)






Teka-Teki 400 Ribu Amplop yang Disiapkan Bowo untuk Serangan Fajar Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir. Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir. Oleh: Mohammad Bernie - 30 Maret 2019 Dibaca Normal 2 menit Pada Pileg 2014, Bowo Sidik meraih 66.909 suara untuk melenggang ke Senayan. Mengapa di pileg kali ini dia mesti siapkan 400 ribu amplop untuk serangan fajar? tirto.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis, 28 Maret 2019. Politikus Partai Golkar ini diduga menerima suap dan gratifikasi dengan total sekitar Rp8 miliar. Sebagian uang haram itu diduga berasal dari Manajer Marketing PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti. Duit itu diberikan melalui orang suruhannya yang bernama Indung sebesar Rp221 juta dan 85.130 dolar AS lewat tujuh kali pemberian. Komisi antirasuah menduga PT HTK meminta bantuan Bowo untuk meloloskan kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, saat petugas komisi antirasuah menemukan uang tersebut, rupanya duit itu telah dimasukkan ke dalam amplop yang masing-masing berisi pecahan Rp50 ribu atau Rp20 ribu. Jumlah amplop mencapai 400 ribu dan seluruhnya dimasukkan ke dalam 84 kardus besar. Rencananya, uang haram itu akan digunakan Bowo sebagai “serangan fajar” pada hari H Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 yang akan berlangsung pada 17 April mendatang. Bowo adalah calon legislatif petahana yang berasal dari Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Tengah II yang meliputi Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Demak. “Di tengah upaya KPK dan sejumlah partai politik untuk mewujudkan politik yang bersih dan berintegritas, hal-hal transaksional seperti ini harus terjadi. KPK sangat menyesalkan kejadian ini,” kata Basaria. Baca juga: Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput? Adakah Keterlibatan Caleg Lain? Jumlah amplop yang mencapai 400 ribu lembar itu jelas menuai pertanyaan. Sebab, berdasarkan penelusuran Tirto, pada Pemilihan Anggota Legislatif 2014 lalu, Bowo Sidik Pangarso hanya memerlukan 66.909 suara untuk melenggang ke Senayan. Basaria Panjaitan menjelaskan, komisi antirasuah sudah berupaya mengklarifikasi soal amplop tersebut. Hasilnya, Bowo mengklaim amplop-amplop tersebut hanya untuk kepentingan pencalonan dirinya. Ia mengatakan tidak ada keterlibatan pihak lain. “Untuk sementara dari hasil pemeriksaan tim kami, dia mengatakan ini memang dalam kepentingan logistik kepentingan dia sendiri sebagai calon anggota DPR,” kata Basaria. Basaria juga menilai wajar soal jumlah amplop yang disiapkan Bowo yang mencapai ratusan ribu itu. Sebab, kata Basaria, belum tentu semua orang yang Bowo beri amplop tersebut akan serta merta memilih caleg petahana itu. “Ini murni untuk dia. Memang setiap kasih sudah pasti milih [dia]? kan enggak," ujar Basaria menjelaskan. Baca juga: Mewaspadai Masifnya Politik Uang Kendati begitu, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Oce Madril menilai banyak kemungkinan yang menyebabkan Bowo menyiapkan begitu banyak amplop. Salah satunya adalah kemungkinan Bowo berkolaborasi dengan caleg lainnya. “Atau boleh jadi berkolaborasi karena [dilihat dari] jumlahnya yang banyak sekali. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi,” kata Oce saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (29/3/2019). Sementara itu, peneliti bidang korupsi politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina menilai KPK harus memeriksa pihak-pihak lain yang diduga terlibat dalam kasus ini. Salah satunya Partai Golkar. Sebab, kata Almas, partai politik pun turut akan diuntungkan dari sisi perolehan suara bila calegnya melakukan politik uang. Hal ini disebabkan partai politik yang bisa menempatkan calonnya di Senayan terlebih dahulu harus lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen. “Mungkin parpol enggak secara gamblang memerintahkan caleg-calegnya untuk melakukan politik uang, tapi, kan, suara caleg itu masuk ke suara partai politik. Maksudnya akan menentukan juga partai politik punya suara yang cukup untuk masuk parliamantery treshold," kata Almas. Terkait ini, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus mengatakan, Bowo Sidik telah resmi diberhentikan dari kepengurusan DPP Golkar. Ia mengatakan partai berlambang pohon beringin itu telah mengambil langkah-langkah organisasi yang tegas sesuai dengan AD/ART organisasi. Lodewijk juga mengatakan agar kasus yang menimpa Bowo dijadikan pelajaran bagi para caleg Golkar di seluruh daerah. “Partai Golkar tidak akan mentoleransi kepada kader yang melakukan tindakan koruptif tersebut dan memberikan sanksi yang tegas," kata dia. Baca juga: Kronologi OTT KPK kepada Bowo Sidik & PT Humpuss Transportasi Kimia Demi Mengunci Suara Direktur Riset Charta Politika, Muslimin mengatakan praktik politik uang dalam bentuk “serangan fajar” selama ini selalu terjadi di setiap pemilu. Menurut dia, banyak caleg melakukan hal itu karena tidak percaya diri akan menang sehingga menempuh cara itu untuk 'mengunci suara'. Pada umumnya, dalih para kandidat menebar uang lewat “serangan fajar” ialah untuk mengganti ongkos masyarakat yang mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) di hari pencoblosan. Dia menganggap praktik politik uang selama ini dilakukan oleh para caleg dari hampir semua partai politik. Apalagi, jika para caleg itu harus bersaing ketat dengan kandidat dari sesama partai. "Misalnya di dalam partai, mereka lah yang bertarung di internal. Itu kemudian bagaimana mereka besar-besaran suara di internal partai. Jadi itu yang [juga] membuat money politic terjadi," kata dia. Karena itu, Muslimin berpendapat politik uang terjadi bukan karena masyarakat tidak cerdas. Hal itu marak terjadi di setiap pemilu karena sikap para caleg dan parpol yang pragmatis. “Kalau kemudian tidak ada parpol dan caleg membagikan uang, saya kira masyarakat tidak akan menuntut,” kata Muslimin. Seharusnya, kata Muslimin, para caleg dan semua partai politik memberikan pendidikan politik kepada masyarakat bukan malah melakukan hal yang sebaliknya. “Seperti komitmen tidak melanggar hal-hal seperti itu: membagi-bagikan uang,” kata dia. Baca juga artikel terkait KASUS SUAP DISTRIBURI PUPUK atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie (tirto.id - Hukum) Reporter: Mohammad Bernie & Riyan Setiawan Penulis: Mohammad Bernie Editor: Abdul Aziz Bowo dinilai kemungkinan berkolaborasi dengan caleg lain terkat 400 ribu amplop yang disiapkan.

Baca selengkapnya di Tirto.id <https://tirto.id> dengan judul "Teka-Teki 400 Ribu Amplop yang Disiapkan Bowo untuk Serangan Fajar", https://tirto.id/teka-teki-400-ribu-amplop-yang-disiapkan-bowo-untuk-serangan-fajar-dkxV.

Follow kami di Instagram: tirtoid <https://instagram.com/tirtoid> | Twitter: tirto.id <https://twitter.com/tirtoid> Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput? Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Oleh: Mohammad Bernie - 30 Maret 2019 Dibaca Normal 2 menit Duit suap yang diberikan PT Humpus bakal dipakai Bowo untuk serangan fajar pada 17 April mendatang. tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk menggunakan kapal milik PT. Humpuss Transportasi Kimia, Kamis (26/3/2019) kemarin. Bowo diduga menerima uang dari Manager Marketing PT Humpuss Asty Winasti melalui orang suruhannya yang bernama Indung. Bowo dikatakan menerima uang total Rp221 juta dan 85.130 dolar AS lewat tujuh kali pemberian. Kedua orang itu pun telah ditetapkan sebagai tersangka. Bowo diduga telah mengumpulkan duit haram dari sejumlah pihak lainnya sehingga total uang yang diterima mencapai Rp8 miliar. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, saat penyidik KPK menemukan uang tersebut, uang itu telah dimasukkan ke dalam amplop yang masing-masing berisi pecahan Rp50 ribu atau Rp20 ribu. Jumlah amplop mencapai 400 ribu dan seluruhnya dimasukkan ke dalam 84 kardus besar. Rencananya, uang itu digunakan sebagai untuk "serangan fajar" pada hari H Pemilihan Legislatif pada 17 April mendatang. Bowo memang mencalonkan diri jadi anggota legislatif melalui Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Tengah II. "Di tengah upaya KPK dan sejumlah partai politik mewujudkan politik yang bersih dan berintegritas, hal-hal transaksional seperti ini terjadi. KPK sangat menyesalkan kejadian ini," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis malam. Baca juga: Kronologi OTT KPK kepada Bowo Sidik & PT Humpuss Transportasi Kimia Potensial Marak Terjadi? Peneliti korupsi politik dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina menilai kasus Bowo Sidik hanyalah puncak gunung es. Ia menilai, praktik politik uang sangat potensial terjadi di Pemilu 2019 ini, bahkan mungkin lebih masif dari Pemilu 2014. Almas mengatakan demikian lantaran ada ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen pada Pemilu 2019. Ambang batas itu berpotensi mendorong caleg semakin all-out dalam menarik suara calon pemilih mereka atau partainya. "Baik menggunakan cara-cara yang legal maupun cara-cara yang ilegal," kata Almas kepada reporter Tirto, Jumat (28/3/2019). Sepanjang masa kampanye ini, kata Almas, Bawaslu sudah banyak menangani kasus politik uang. Pada Februari lalu, Bawaslu mencatat ada 28 kasus pelanggaran Pemilu yang telah diputus. Paling banyak merupakan kasus politik uang. Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, kasus Bowo Sidik menjadi tamparan keras bagi upaya menciptakan pemilu bersih di Indonesia. Kasus ini sekaligus mengonfirmasi kalau praktik politik uang masih berjalan. "Kasus ini mengkonfirmasi praktik yang selama ini terjadi namun sulit untuk diberantas," kata Titi saat dihubungi Tirto. Banyak faktor, kata Titi, jadi penyebab politik uang di akar rumput masih terus terjadi. Salah satunya ialah minimnya pengawasan dan penegakan hukum dari lembaga penyelenggara Pemilu. Dalam kasus suap terhadap Bowo yang uang suapnya bakal dipakai untuk serangan fajar, Titi menyebut, partai politiklah yang paling bertanggung jawab. Ia menilai, sebagai pengusung, partai seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan calon yang terbaik bagi pemilih. Namun apa yang terjadi justru partai seolah menutup mata soal langkah pemenangan yang diambil calegnya. Ia menilai, partai justru tampak bersikap oportunistis demi mendapatkan kursi di parlemen. "Jadi kalau partai betul-betul punya komitmen untuk mengontrol dan mengawasi, pasti itu bisa ditekan, tapi praktiknya partai itu oportunis aja membiarkan caleg bekerja dengan cara-cara ilegal sekalipun," ujarnya. Baca juga: KPK Sebut Bowo Sidik Berniat Pakai Uang dalam 84 Kardus untuk Pileg Mendorong Golput Baik Almas maupun Titi keduanya sepakat kasus Bowo Sidik dapat menggerus kepercayaan publik pada calon anggota legislatif. Selain itu, praktik politik uang dinilai makin mendorong apatisme politik, sebab Pemilu dianggap tidak akan menciptakan perubahan berarti. "Kasus ini akan semakin menggerus kepercayaan orang terhadap pemilu dan kandidat," kata Almas. Oleh sebab itu, Titi menilai seluruh pihak yang terlibat dalam Pemilu harus merespon kasus dengan kasus ini dengan tepat. Hal ini diperlukan agar hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi. "Parpol dan kadernya harus membuktikan diri kalau mereka bukan bagian dari kejahatan tersebut," kata Titi. Selain itu, ia mengakui pemilu memang memiliki masalah yang kompleks, seperti hoaks, golput, dan politik uang. Untuk itu, menurutnya pemerintah tidak boleh lagi melihat masalah yang kompleks tersebut secara parsial,. "Kalau angka pengguna hak politiknya tinggi, tapi itu terjadi akibat praktik politik uang, ya, tidak ada maknanya," kata Titi. Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga tidak melihat bahwa elite politik yang memakai politik uang bisa menjadi biang kerok golput. Sebaliknya, masyarakat bisa semakin yakin untuk memilih calon yang bersih pada pemilu serentak 2019 nanti. "Money politic [politik uang] harus dilawan sama-sama, datang ke TPS, kita pilih yang enggak money politic. Jangan golput. Nanti yang menang malah yang money politic. Indonesia makin hancur kalau nanti yang menang malah yang money politic," kata Arya kepada Tirto, Jumat (29/3/2019). Arya menegaskan bahwa siapapun yang kedapatan melakukan money politic sebaiknya tidak dipilih. Namun dia tidak menyangkal bahwa masih ada elite partai yang bertindak curang untuk memenangkan posisinya. "Jangan golput, jangan terjebak dengan money politic," ucapnya sekali lagi. Baca juga artikel terkait KASUS SUAP DISTRIBURI PUPUK atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie (tirto.id - Politik) Reporter: Mohammad Bernie Penulis: Mohammad Bernie Editor: Mufti Sholih

Baca selengkapnya di Tirto.id <https://tirto.id> dengan judul "Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput?", https://tirto.id/kasus-suap-caleg-ala-bowo-sidik-bisa-bikin-pemilih-golput-dkwE.

Follow kami di Instagram: tirtoid <https://instagram.com/tirtoid> | Twitter: tirto.id <https://twitter.com/tirtoid> Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput? Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Oleh: Mohammad Bernie - 30 Maret 2019 Dibaca Normal 2 menit Duit suap yang diberikan PT Humpus bakal dipakai Bowo untuk serangan fajar pada 17 April mendatang. tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk menggunakan kapal milik PT. Humpuss Transportasi Kimia, Kamis (26/3/2019) kemarin. Bowo diduga menerima uang dari Manager Marketing PT Humpuss Asty Winasti melalui orang suruhannya yang bernama Indung. Bowo dikatakan menerima uang total Rp221 juta dan 85.130 dolar AS lewat tujuh kali pemberian. Kedua orang itu pun telah ditetapkan sebagai tersangka. Bowo diduga telah mengumpulkan duit haram dari sejumlah pihak lainnya sehingga total uang yang diterima mencapai Rp8 miliar. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, saat penyidik KPK menemukan uang tersebut, uang itu telah dimasukkan ke dalam amplop yang masing-masing berisi pecahan Rp50 ribu atau Rp20 ribu. Jumlah amplop mencapai 400 ribu dan seluruhnya dimasukkan ke dalam 84 kardus besar. Rencananya, uang itu digunakan sebagai untuk "serangan fajar" pada hari H Pemilihan Legislatif pada 17 April mendatang. Bowo memang mencalonkan diri jadi anggota legislatif melalui Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Tengah II. "Di tengah upaya KPK dan sejumlah partai politik mewujudkan politik yang bersih dan berintegritas, hal-hal transaksional seperti ini terjadi. KPK sangat menyesalkan kejadian ini," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis malam. Baca juga: Kronologi OTT KPK kepada Bowo Sidik & PT Humpuss Transportasi Kimia Potensial Marak Terjadi? Peneliti korupsi politik dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina menilai kasus Bowo Sidik hanyalah puncak gunung es. Ia menilai, praktik politik uang sangat potensial terjadi di Pemilu 2019 ini, bahkan mungkin lebih masif dari Pemilu 2014. Almas mengatakan demikian lantaran ada ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen pada Pemilu 2019. Ambang batas itu berpotensi mendorong caleg semakin all-out dalam menarik suara calon pemilih mereka atau partainya. "Baik menggunakan cara-cara yang legal maupun cara-cara yang ilegal," kata Almas kepada reporter Tirto, Jumat (28/3/2019). Sepanjang masa kampanye ini, kata Almas, Bawaslu sudah banyak menangani kasus politik uang. Pada Februari lalu, Bawaslu mencatat ada 28 kasus pelanggaran Pemilu yang telah diputus. Paling banyak merupakan kasus politik uang. Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, kasus Bowo Sidik menjadi tamparan keras bagi upaya menciptakan pemilu bersih di Indonesia. Kasus ini sekaligus mengonfirmasi kalau praktik politik uang masih berjalan. "Kasus ini mengkonfirmasi praktik yang selama ini terjadi namun sulit untuk diberantas," kata Titi saat dihubungi Tirto. Banyak faktor, kata Titi, jadi penyebab politik uang di akar rumput masih terus terjadi. Salah satunya ialah minimnya pengawasan dan penegakan hukum dari lembaga penyelenggara Pemilu. Dalam kasus suap terhadap Bowo yang uang suapnya bakal dipakai untuk serangan fajar, Titi menyebut, partai politiklah yang paling bertanggung jawab. Ia menilai, sebagai pengusung, partai seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan calon yang terbaik bagi pemilih. Namun apa yang terjadi justru partai seolah menutup mata soal langkah pemenangan yang diambil calegnya. Ia menilai, partai justru tampak bersikap oportunistis demi mendapatkan kursi di parlemen. "Jadi kalau partai betul-betul punya komitmen untuk mengontrol dan mengawasi, pasti itu bisa ditekan, tapi praktiknya partai itu oportunis aja membiarkan caleg bekerja dengan cara-cara ilegal sekalipun," ujarnya. Baca juga: KPK Sebut Bowo Sidik Berniat Pakai Uang dalam 84 Kardus untuk Pileg Mendorong Golput Baik Almas maupun Titi keduanya sepakat kasus Bowo Sidik dapat menggerus kepercayaan publik pada calon anggota legislatif. Selain itu, praktik politik uang dinilai makin mendorong apatisme politik, sebab Pemilu dianggap tidak akan menciptakan perubahan berarti. "Kasus ini akan semakin menggerus kepercayaan orang terhadap pemilu dan kandidat," kata Almas. Oleh sebab itu, Titi menilai seluruh pihak yang terlibat dalam Pemilu harus merespon kasus dengan kasus ini dengan tepat. Hal ini diperlukan agar hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi. "Parpol dan kadernya harus membuktikan diri kalau mereka bukan bagian dari kejahatan tersebut," kata Titi. Selain itu, ia mengakui pemilu memang memiliki masalah yang kompleks, seperti hoaks, golput, dan politik uang. Untuk itu, menurutnya pemerintah tidak boleh lagi melihat masalah yang kompleks tersebut secara parsial,. "Kalau angka pengguna hak politiknya tinggi, tapi itu terjadi akibat praktik politik uang, ya, tidak ada maknanya," kata Titi. Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga tidak melihat bahwa elite politik yang memakai politik uang bisa menjadi biang kerok golput. Sebaliknya, masyarakat bisa semakin yakin untuk memilih calon yang bersih pada pemilu serentak 2019 nanti. "Money politic [politik uang] harus dilawan sama-sama, datang ke TPS, kita pilih yang enggak money politic. Jangan golput. Nanti yang menang malah yang money politic. Indonesia makin hancur kalau nanti yang menang malah yang money politic," kata Arya kepada Tirto, Jumat (29/3/2019). Arya menegaskan bahwa siapapun yang kedapatan melakukan money politic sebaiknya tidak dipilih. Namun dia tidak menyangkal bahwa masih ada elite partai yang bertindak curang untuk memenangkan posisinya. "Jangan golput, jangan terjebak dengan money politic," ucapnya sekali lagi. Baca juga artikel terkait KASUS SUAP DISTRIBURI PUPUK atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie (tirto.id - Politik) Reporter: Mohammad Bernie Penulis: Mohammad Bernie Editor: Mufti Sholih Bowo sudah membuat 400 ribu amplop dengan pecahan Rp20 ribu dan Rp5o ribu untuk serangan fajar

Baca selengkapnya di Tirto.id <https://tirto.id> dengan judul "Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput?", https://tirto.id/kasus-suap-caleg-ala-bowo-sidik-bisa-bikin-pemilih-golput-dkwE.

Follow kami di Instagram: tirtoid <https://instagram.com/tirtoid> | Twitter: tirto.id <https://twitter.com/tirtoid> Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput? Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Oleh: Mohammad Bernie - 30 Maret 2019 Dibaca Normal 2 menit Duit suap yang diberikan PT Humpus bakal dipakai Bowo untuk serangan fajar pada 17 April mendatang. tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk menggunakan kapal milik PT. Humpuss Transportasi Kimia, Kamis (26/3/2019) kemarin. Bowo diduga menerima uang dari Manager Marketing PT Humpuss Asty Winasti melalui orang suruhannya yang bernama Indung. Bowo dikatakan menerima uang total Rp221 juta dan 85.130 dolar AS lewat tujuh kali pemberian. Kedua orang itu pun telah ditetapkan sebagai tersangka. Bowo diduga telah mengumpulkan duit haram dari sejumlah pihak lainnya sehingga total uang yang diterima mencapai Rp8 miliar. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, saat penyidik KPK menemukan uang tersebut, uang itu telah dimasukkan ke dalam amplop yang masing-masing berisi pecahan Rp50 ribu atau Rp20 ribu. Jumlah amplop mencapai 400 ribu dan seluruhnya dimasukkan ke dalam 84 kardus besar. Rencananya, uang itu digunakan sebagai untuk "serangan fajar" pada hari H Pemilihan Legislatif pada 17 April mendatang. Bowo memang mencalonkan diri jadi anggota legislatif melalui Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Tengah II. "Di tengah upaya KPK dan sejumlah partai politik mewujudkan politik yang bersih dan berintegritas, hal-hal transaksional seperti ini terjadi. KPK sangat menyesalkan kejadian ini," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis malam. Baca juga: Kronologi OTT KPK kepada Bowo Sidik & PT Humpuss Transportasi Kimia Potensial Marak Terjadi? Peneliti korupsi politik dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina menilai kasus Bowo Sidik hanyalah puncak gunung es. Ia menilai, praktik politik uang sangat potensial terjadi di Pemilu 2019 ini, bahkan mungkin lebih masif dari Pemilu 2014. Almas mengatakan demikian lantaran ada ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen pada Pemilu 2019. Ambang batas itu berpotensi mendorong caleg semakin all-out dalam menarik suara calon pemilih mereka atau partainya. "Baik menggunakan cara-cara yang legal maupun cara-cara yang ilegal," kata Almas kepada reporter Tirto, Jumat (28/3/2019). Sepanjang masa kampanye ini, kata Almas, Bawaslu sudah banyak menangani kasus politik uang. Pada Februari lalu, Bawaslu mencatat ada 28 kasus pelanggaran Pemilu yang telah diputus. Paling banyak merupakan kasus politik uang. Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, kasus Bowo Sidik menjadi tamparan keras bagi upaya menciptakan pemilu bersih di Indonesia. Kasus ini sekaligus mengonfirmasi kalau praktik politik uang masih berjalan. "Kasus ini mengkonfirmasi praktik yang selama ini terjadi namun sulit untuk diberantas," kata Titi saat dihubungi Tirto. Banyak faktor, kata Titi, jadi penyebab politik uang di akar rumput masih terus terjadi. Salah satunya ialah minimnya pengawasan dan penegakan hukum dari lembaga penyelenggara Pemilu. Dalam kasus suap terhadap Bowo yang uang suapnya bakal dipakai untuk serangan fajar, Titi menyebut, partai politiklah yang paling bertanggung jawab. Ia menilai, sebagai pengusung, partai seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan calon yang terbaik bagi pemilih. Namun apa yang terjadi justru partai seolah menutup mata soal langkah pemenangan yang diambil calegnya. Ia menilai, partai justru tampak bersikap oportunistis demi mendapatkan kursi di parlemen. "Jadi kalau partai betul-betul punya komitmen untuk mengontrol dan mengawasi, pasti itu bisa ditekan, tapi praktiknya partai itu oportunis aja membiarkan caleg bekerja dengan cara-cara ilegal sekalipun," ujarnya. Baca juga: KPK Sebut Bowo Sidik Berniat Pakai Uang dalam 84 Kardus untuk Pileg Mendorong Golput Baik Almas maupun Titi keduanya sepakat kasus Bowo Sidik dapat menggerus kepercayaan publik pada calon anggota legislatif. Selain itu, praktik politik uang dinilai makin mendorong apatisme politik, sebab Pemilu dianggap tidak akan menciptakan perubahan berarti. "Kasus ini akan semakin menggerus kepercayaan orang terhadap pemilu dan kandidat," kata Almas. Oleh sebab itu, Titi menilai seluruh pihak yang terlibat dalam Pemilu harus merespon kasus dengan kasus ini dengan tepat. Hal ini diperlukan agar hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi. "Parpol dan kadernya harus membuktikan diri kalau mereka bukan bagian dari kejahatan tersebut," kata Titi. Selain itu, ia mengakui pemilu memang memiliki masalah yang kompleks, seperti hoaks, golput, dan politik uang. Untuk itu, menurutnya pemerintah tidak boleh lagi melihat masalah yang kompleks tersebut secara parsial,. "Kalau angka pengguna hak politiknya tinggi, tapi itu terjadi akibat praktik politik uang, ya, tidak ada maknanya," kata Titi. Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga tidak melihat bahwa elite politik yang memakai politik uang bisa menjadi biang kerok golput. Sebaliknya, masyarakat bisa semakin yakin untuk memilih calon yang bersih pada pemilu serentak 2019 nanti. "Money politic [politik uang] harus dilawan sama-sama, datang ke TPS, kita pilih yang enggak money politic. Jangan golput. Nanti yang menang malah yang money politic. Indonesia makin hancur kalau nanti yang menang malah yang money politic," kata Arya kepada Tirto, Jumat (29/3/2019). Arya menegaskan bahwa siapapun yang kedapatan melakukan money politic sebaiknya tidak dipilih. Namun dia tidak menyangkal bahwa masih ada elite partai yang bertindak curang untuk memenangkan posisinya. "Jangan golput, jangan terjebak dengan money politic," ucapnya sekali lagi. Baca juga artikel terkait KASUS SUAP DISTRIBURI PUPUK atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie (tirto.id - Politik) Reporter: Mohammad Bernie Penulis: Mohammad Bernie Editor: Mufti Sholih Bowo sudah membuat 400 ribu amplop dengan pecahan Rp20 ribu dan Rp5o ribu untuk serangan fajar

Baca selengkapnya di Tirto.id <https://tirto.id> dengan judul "Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput?", https://tirto.id/kasus-suap-caleg-ala-bowo-sidik-bisa-bikin-pemilih-golput-dkwE.

Follow kami di Instagram: tirtoid <https://instagram.com/tirtoid> | Twitter: tirto.id <https://twitter.com/tirtoid> Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput? Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras. Oleh: Mohammad Bernie - 30 Maret 2019 Dibaca Normal 2 menit Duit suap yang diberikan PT Humpus bakal dipakai Bowo untuk serangan fajar pada 17 April mendatang. tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan untuk distribusi pupuk menggunakan kapal milik PT. Humpuss Transportasi Kimia, Kamis (26/3/2019) kemarin. Bowo diduga menerima uang dari Manager Marketing PT Humpuss Asty Winasti melalui orang suruhannya yang bernama Indung. Bowo dikatakan menerima uang total Rp221 juta dan 85.130 dolar AS lewat tujuh kali pemberian. Kedua orang itu pun telah ditetapkan sebagai tersangka. Bowo diduga telah mengumpulkan duit haram dari sejumlah pihak lainnya sehingga total uang yang diterima mencapai Rp8 miliar. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, saat penyidik KPK menemukan uang tersebut, uang itu telah dimasukkan ke dalam amplop yang masing-masing berisi pecahan Rp50 ribu atau Rp20 ribu. Jumlah amplop mencapai 400 ribu dan seluruhnya dimasukkan ke dalam 84 kardus besar. Rencananya, uang itu digunakan sebagai untuk "serangan fajar" pada hari H Pemilihan Legislatif pada 17 April mendatang. Bowo memang mencalonkan diri jadi anggota legislatif melalui Partai Golkar di daerah pemilihan Jawa Tengah II. "Di tengah upaya KPK dan sejumlah partai politik mewujudkan politik yang bersih dan berintegritas, hal-hal transaksional seperti ini terjadi. KPK sangat menyesalkan kejadian ini," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis malam. Baca juga: Kronologi OTT KPK kepada Bowo Sidik & PT Humpuss Transportasi Kimia Potensial Marak Terjadi? Peneliti korupsi politik dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina menilai kasus Bowo Sidik hanyalah puncak gunung es. Ia menilai, praktik politik uang sangat potensial terjadi di Pemilu 2019 ini, bahkan mungkin lebih masif dari Pemilu 2014. Almas mengatakan demikian lantaran ada ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen pada Pemilu 2019. Ambang batas itu berpotensi mendorong caleg semakin all-out dalam menarik suara calon pemilih mereka atau partainya. "Baik menggunakan cara-cara yang legal maupun cara-cara yang ilegal," kata Almas kepada reporter Tirto, Jumat (28/3/2019). Sepanjang masa kampanye ini, kata Almas, Bawaslu sudah banyak menangani kasus politik uang. Pada Februari lalu, Bawaslu mencatat ada 28 kasus pelanggaran Pemilu yang telah diputus. Paling banyak merupakan kasus politik uang. Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, kasus Bowo Sidik menjadi tamparan keras bagi upaya menciptakan pemilu bersih di Indonesia. Kasus ini sekaligus mengonfirmasi kalau praktik politik uang masih berjalan. "Kasus ini mengkonfirmasi praktik yang selama ini terjadi namun sulit untuk diberantas," kata Titi saat dihubungi Tirto. Banyak faktor, kata Titi, jadi penyebab politik uang di akar rumput masih terus terjadi. Salah satunya ialah minimnya pengawasan dan penegakan hukum dari lembaga penyelenggara Pemilu. Dalam kasus suap terhadap Bowo yang uang suapnya bakal dipakai untuk serangan fajar, Titi menyebut, partai politiklah yang paling bertanggung jawab. Ia menilai, sebagai pengusung, partai seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan calon yang terbaik bagi pemilih. Namun apa yang terjadi justru partai seolah menutup mata soal langkah pemenangan yang diambil calegnya. Ia menilai, partai justru tampak bersikap oportunistis demi mendapatkan kursi di parlemen. "Jadi kalau partai betul-betul punya komitmen untuk mengontrol dan mengawasi, pasti itu bisa ditekan, tapi praktiknya partai itu oportunis aja membiarkan caleg bekerja dengan cara-cara ilegal sekalipun," ujarnya. Baca juga: KPK Sebut Bowo Sidik Berniat Pakai Uang dalam 84 Kardus untuk Pileg Mendorong Golput Baik Almas maupun Titi keduanya sepakat kasus Bowo Sidik dapat menggerus kepercayaan publik pada calon anggota legislatif. Selain itu, praktik politik uang dinilai makin mendorong apatisme politik, sebab Pemilu dianggap tidak akan menciptakan perubahan berarti. "Kasus ini akan semakin menggerus kepercayaan orang terhadap pemilu dan kandidat," kata Almas. Oleh sebab itu, Titi menilai seluruh pihak yang terlibat dalam Pemilu harus merespon kasus dengan kasus ini dengan tepat. Hal ini diperlukan agar hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi. "Parpol dan kadernya harus membuktikan diri kalau mereka bukan bagian dari kejahatan tersebut," kata Titi. Selain itu, ia mengakui pemilu memang memiliki masalah yang kompleks, seperti hoaks, golput, dan politik uang. Untuk itu, menurutnya pemerintah tidak boleh lagi melihat masalah yang kompleks tersebut secara parsial,. "Kalau angka pengguna hak politiknya tinggi, tapi itu terjadi akibat praktik politik uang, ya, tidak ada maknanya," kata Titi. Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga tidak melihat bahwa elite politik yang memakai politik uang bisa menjadi biang kerok golput. Sebaliknya, masyarakat bisa semakin yakin untuk memilih calon yang bersih pada pemilu serentak 2019 nanti. "Money politic [politik uang] harus dilawan sama-sama, datang ke TPS, kita pilih yang enggak money politic. Jangan golput. Nanti yang menang malah yang money politic. Indonesia makin hancur kalau nanti yang menang malah yang money politic," kata Arya kepada Tirto, Jumat (29/3/2019). Arya menegaskan bahwa siapapun yang kedapatan melakukan money politic sebaiknya tidak dipilih. Namun dia tidak menyangkal bahwa masih ada elite partai yang bertindak curang untuk memenangkan posisinya. "Jangan golput, jangan terjebak dengan money politic," ucapnya sekali lagi. Baca juga artikel terkait KASUS SUAP DISTRIBURI PUPUK atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie (tirto.id - Politik) Reporter: Mohammad Bernie Penulis: Mohammad Bernie Editor: Mufti Sholih Bowo sudah membuat 400 ribu amplop dengan pecahan Rp20 ribu dan Rp5o ribu untuk serangan fajar

Baca selengkapnya di Tirto.id <https://tirto.id> dengan judul "Kasus Suap Caleg ala Bowo Sidik Bisa Bikin Pemilih Golput?", https://tirto.id/kasus-suap-caleg-ala-bowo-sidik-bisa-bikin-pemilih-golput-dkwE.

Follow kami di Instagram: tirtoid <https://instagram.com/tirtoid> | Twitter: tirto.id <https://twitter.com/tirtoid>

Kirim email ke