Tersakti ? atau tersakiti ?

Pada tanggal Sab, 30 Mar 2019 pukul 22.17 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> *Apakah umat Islam tersakiti di NKRI? Penduduk NKRI mayoritasnya beragama
> Islam, mayoritas kaum berkuasa beragama Islam. Lalu siapa menyakiti siapa?
> Kalau yang mayoritas disakiti oleh pemimpin mereka, lantas apakah kaum
> agama minoritas dienakan dan dimanja?*
>
>
> https://suara-islam.com/islamophobia-merebak-umat-islam-terus-tersakiti/
>
>
> *Islamophobia Merebak, Umat Islam Terus Tersakiti*
>
> 29 Maret 2019
>
>
>  Stop Islamophobia
>
> Belum genap satu bulan semenjak tragedi mengerikan bagi umat Islam di
> Selandia Baru terjadi. Kaum Muslimin di seluruh dunia berduka, merasakan
> empati atas kengerian yang terjadi di sana. Sayangnya, umat Islam di
> seluruh dunia tidak bisa berbuat banyak selain mengutuk dengan sangat atas
> kekejian para pelaku teror terhadap kaum Muslimin yang menjadi korban.
>
> Tragedi ini ternyata menyulut Islamophobia di belahan negara lainnya bagai
> riak-riak air. Pada 21 Maret 2019 lalu, seorang pria merusak empat masjid
> di Birmingham, Inggris, dalam aksi beruntun pada dini hari (bbc.com,
> 22/03). Pada 22 Maret 2019, pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs,
> Rasmus Paludan, melakukan aksi pembakaran salinan Al-Quran sebagai bentuk
> protesnya terhadap Kaum Muslim di Denmark yang melakukan shalat Jumat di
> depan gedung parlemen. Partai Starm Kurs memang terkenal sebagai partai
> yang anti-immigran dan anti-Muslim (bbc.com, 23/03).
>
> Islamophobia, ketakutan kepada agama Islam, memang sudah lama merebak di
> seluruh penjuru dunia. Terutama di dunia bagian Barat yang notabene Muslim
> adalah kaum minoritas. Semenjak digulirkannya “Global War on Terrorism”
> oleh Presiden Amerika George W. Bush pasca tragedi World Trade Center (WTC)
> 11 September 2011, dianggap sebagai awal mula merebaknya virus Islamophobia
> terbesar.
>
> Tragedi ini membuat perang terhadap terorisme tanpa akhir. Amerika sendiri
> pasca invasi ke Afghanistan dan Irak telah mengeluarkan biaya mahal untuk
> perang melawan terorisme. Mereka banyak melibatkan banyak tentara, baik
> formal maupun sukarela, untuk ditempatkan di negara-negara yang dianggap
> sebagai sarang teroris. Seiring berjalannya waktu dan perang melawan
> terorisme, isu Islamophobia pun menyebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan
> ke wilayah negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia.
>
> Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh bersama. Namun, isu ini
> selalu membawa Islam, kaum Muslim dan jihad sebagai jubah di balik aksinya.
> Ujungnya virus islamophobia semakin tersebar. Umat Islam di seluruh dunia
> pun menjadi korbannya. Kaum Muslimin menjadi korban kekerasan, penindasan,
> pelecehan, dan penganiayaan baik fisik maupun verbal. Simbol-simbol Islam
> seringkali dijadikan bukti radikalisme dan terorisme, seperti bendera
> Rasulullah ar-rayah dan al-liwa (bendera hitam/putih yang bertuliskan
> kalimat syahadat yang mulia), atau bahkan al-quran kitab suci agama Islam
> pun tak lepas dari simbol Islam yang dikaitkan dengan radikalisme..
>
> Demokrasi yang membawa ide kebebasan dan HAM pun ternyata tidak pernah
> memberi ruang segar kepada kaum Muslimin, yang ada justru ia membawa ironi.
> Islam dan para pemeluknya tidak pernah lepas dari intimidasi hasil virus
> islamophobia yang disebarkan oleh para pembenci Islam. Sungguh Islamophobia
> tidak akan pernah reda di era demokrasi. Adakah solusi tuntasnya?
>
> Solusi Semu ala Demokrasi
>
> Islamophobia sudah menjangkiti masyarakat dunia hampir secara keseluruhan,
> bahkan bagi bangsa Indonesia ini. Istilah islam radikal, ekstrim, intoleran
> dan fundamental adalah yang paling sering diisukan di dalam negeri,
> terutama pasca aksi bela Islam 212. Namun sampai saat ini tidak ada solusi
> satu pun yang bisa menghilangkan virus Islamophobia.
>
> Sebenarnya, sudah banyak tokoh dan organisasi baik lokal maupun
> internasional mendiskusikan adanya isu islamophobia, seperti OKI
> (Organisasi Kerjasama Islam) misalnya pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM)
> Darurat dengan tajuk “OIC Open Ended Executive Committee Emergency
> Ministerial Meeting On The Recent Terrorist Attack Against Two Mosques In
> New Zealand And Countering Hatred Against Muslims” yang diselenggarakan di
> Istanbul, Turki pada Jumat 22 Maret 2019 (pantau.com, 23/03).
>
> Namun, hasil dari diskusi internasional seperti ini tidak memunculkan
> langkah nyata dan konkrit terkait perlindungan terhadap kaum Muslimin di
> belahan manapun. PBB sebagai organisasi internasional yang katanya
> melindungi perdamaian dunia pun tidak berkutik. Tidak ada yang bisa
> dilakukan untuk menyelamatkan kaum Muslim dunia dari diskriminasi dan
> intimidasi.
>
> Kita seharusnya sadar, demokrasi dan negara-negara pengembannya sama
> sekali tidak akan berpihak pada Islam dan Kaum Muslimin. Demokrasi justru
> membuat Islamophobia tetap ada. Adapun dengan usulan berbagai tokoh Muslim
> dari kalangan negeri, yang menjadikan Islam Moderat atau Islam yang modern
> tentu hal ini adalah bagian dari Islamophobia itu sendiri yaitu menjauhkan
> kaum Muslim dari Islam yang sebenarnya, jauh dari tuntunan Allah SWT. dan
> Rasulullah SAW.
>
> Persatuan Umat Islam
>
> Sejatinya, ketertindasan umat Islam di seluruh wilayah dunia karena umat
> Islam tidak memiliki perisai dan pelindung, yaitu Khilafah Islamiyah,
> warisan Rasulullah SAW. dan perintah Allah swt. Khilafah yang dipimpin oleh
> Khalifah ini yang akan melindungi umat Islam dari segala bentuk bahaya dan
> ancaman. Rasulullah SAW. bersabda:
>
> “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana
> (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung
> (dari musuh) dengan (kekuasaan(-nya. Jika seorang imam (khalifah)
> memerintahkan supaya takwa kepada Allah azza wa jalla dan berlaku adil,
> maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia
> memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa,” (HR. Al-Bukhari,
> Muslim, An-Nasa’I, Abu Dawud, Ahmad).
>
> Frase “Imam” dalam hadits ini bermakna al-Khalifah. Al-Imam al-Mawardi
> dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah berkata, “Al-Imamah adalah pembahasan
> tentang Khilafah Nubuwwah untuk menjaga agama dan mengatur dunia
> dengannya.” Maka wajar ketika al-Imam al-Mula Al-Qari di dalam Mirqât
> al-Mafâtiih menjelaskan makna imam di dalam hadits ini dengan mengatakan
> imam yang dimaksud adalah al-Khalifah atau Amirnya.
>
> Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk
> pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang
> yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam
> an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti
> as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari
> mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain
> untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia
> berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.” Dengan
> indikasi pujian, berita dalam hadits ini bermakna tuntutan (thalab),
> tuntutan yang pasti, dan berfaidah wajib.
>
> Sedangkan makna (yuqaatilu min waraa’ihi) yakni: kaum muslimin akan
> berperang bersama dengannya (al-khalifah) dalam memerangi orang-orang
> kafir, para pemberontak, khawarij dan seluruh kelompok-kelompok pembuat
> kerusakan dan kezhaliman secara mutlak. Begitulah yang disampaikan al-Imam
> an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
>
> Hal itu selaras dengan ungkapan Imam al-Haramain al-Juwaini dalam kitabnya
> Ghiyâts al-Umam fî al-Tiyâts al-Zhulm juz I hlm. 22.. Imam al-Mawardi
> al-Syafi’i dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyahhlm. 15 juga mengatakan,
> “Al-Imâmah: pembahasan terkait khilâfat al-nubuwwah (pengganti kenabian)
> dalam memelihara urusan Din ini dan mengatur urusan dunia (dengannya).”
>
> Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishâd fî al-I’tiqâdhlm. 128
> mengumpamakan din dan kekuasaan (kepemimpinan), sebagai saudara kembar,
> “Al-Dîn itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada
> asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia
> akan hilang.”
>
> Untuk kalimat “jika seorang imam (khalifah) memerintahkan supaya takwa
> kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah)
> mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka
> ia akan mendapatkan siksa”, bisa kita pahami bersama bahwa seorang imam
> (khalifah) diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya untuk
> memerintah manusia yang ada dibawah kekuasaannya dalam ketaatan. Demikian
> juga wajib memerintah dengan adil yaitu dengan memberlakukan hukum-hukum
> Allah dalam mengatur hak-hak manusia agar tidak berbuat zhalim
> (mediaumat.news).
>
> Dengan demikian, khalifah itu harus bisa memberikan rasa aman atas urusan
> dunia dan agamanya (atas penyimpangan) akibat dari serangan musuh-musuh
> Islam baik itu dari kalangan kafir ataupun dari kalangan orang-orang
> munafik, sehingga islamophobia akan hilang dan justru orang non-muslim akan
> merasa segan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Ketiadaan Khalifah dan
> Khilafah inilah yang harus diperjuangkan saat ini, agar janji Allah SWT
> segera terwujud dan bisa mengakhiri keterpurukan yang terjadi pada kaum
> Muslimin. *Wallahu a’lam bi ash shawab*
>
> *Ariefdhianty Vibie H., S.S*
> *(Muslimah Bela Islam)*
>
>
>
> 
>

Kirim email ke