Akhir debat ciamik, "Dilan" hingga "jangan ketawa"
Oleh Lia Wanadriani Santosa Minggu, 31 Maret 2019 09:28 WIB
Akhir debat ciamik, "Dilan" hingga "jangan ketawa"
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo
Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di
Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema
Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan
Internasional. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta (ANTARA) - Debat keempat Pilpres 2019 yang mempertemukan calon
presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Sabtu (30/3) malam
berakhir ciamik menurut pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari.
"(Debat) kemarin itu ditutup dengan hal yang ciamik. Pak Jokowi menutup
dengan majas metafora (secara tidak langsung) mengenai dia suka naik
sepeda, rantai tidak putus, bukan memutuskan persahabatan," ujar
Monica kepada Antara melalui sambungan telepon, Minggu.
"Suasana yang tadinya di tengah-tengah lumayan tegang, ditutup dengan
seperti itu. Kemudian, Pak Prabowo juga menanggapinya dengan hal yang
sangat baik dan permisif," sambung pakar yang meraih lisensi dari Paul
Ekman itu.
Prabowo, walaupun sempat meledak-ledak saat berujar dalam debat,
pada akhirnya bersikap cair. Jokowi yang sedari awal debat tampak
cemberut bisa tertawa lepas dan tersenyum di akhir debat.
*Baca juga:Peneliti muda ingatkan persoalan pertahanan keamanan data
Indonesia
<https://www.antaranews.com/berita/818066/peneliti-muda-ingatkan-persoalan-pertahanan-keamanan-data-indonesia>*
*Tegang di awal*
Monica mengatakan, seperti sebelumnya, debat keempat juga diawali
ketegangan. Kedipan kedua mata capres terlihat meningkat.
Prabowo banyak menggerakkan tangan misalnya melakukan gerakan menunjuk
sesuatu. Sedangkan Jokowi tak banyak memperlihatkan gestur pada sesi
awal debat. Capres petahana itu banyak menumpukkan kekuatan pada
kata-kata sehingga sedikit menggerakan tangan.
*Dilan*
Jokowi menggunakan diksi "Dilan" yang dalam konteks ini Digital Melayani
saat menyampaikan visi dan misi pada awal debat. Menurut Monica,
pemilihan diksi itu mudah sekali diterima masyarakat seperti saat
cawapres Ma'ruf Amin bilang "10 Years Challenge" pada debat sebelumnya.
"Diksi seperti ini memudahkan untuk/stay/lama di pikiran pemirsa," kata
Monica.
*Baca juga:Moeldoko: Jokowi diteriaki saja nggak dengar apalagi dibisiki
<https://www.antaranews.com/berita/818070/moeldoko-jokowi-diteriaki-saja-nggak-dengar-apalagi-dibisiki>*
*Soal tema debat: Ideologi, Pertahanan dan Keamanan, Pemerintahan serta
Hubungan Internasional*
Monica melihat Prabowo terlihat membara ketika berbicara dalam konteks
besar. Sedangkan Jokowi mengungkapkan detil pelaksanaan karena didukung
banyak data.
"Paling mudah itu karena Pak Jokowi itu petahana, data sudah banyak.
Sementara Pak Prabowo menggunakan pengalaman beliau pribadi," kata dia.
Monica menganalogikan Prabowo dan Jokowi sebagai sosok bapak dalam
keluarga dari sisi gaya bicara dan pakaian.
"Pak Prabowo/rate speechnya/tegas jadi karena bahasa yang digunakan
seperti itu. Frasa yang digunakan adalah 'Jika Prabowo-Sandi
berkuasa'. Itu memang pola/fatherhood-/nya adalah ayah sebagai penguasa
atau kepala keluarga," ujar Monica.
Tampilan itu terlihat dari setelan jas klasik yang dikenakan
Prabowo seperti tampilan seorang atasan.
"Sementara Pak Jokowi, sesuai dengan kata-kata yang sering beliau
keluarkan, orientasinya pada kerja. Pakaiannya pun lebih kasual seperti
orang kantor. Bahkan, beliau juga pakai sepatu santai banget. Terlihat
dari gestur setiap beliau memulai itu juga menyisingkan lengan baju"
kata Monica.
Monica melihat sudah ada saling lempar pujian antara kedua capres sejak
debat kedua. Namun, Prabowo beberapakali menambahkan kata "tapi" dan ini
menandakan pengakuan bersyarat.
*"Jangan ketawa"*
Pada sesi tanya jawab dari panelis untuk tema Hubungan Internasional,
Prabowo sempat mengatakan pertahanan negara rapuh dan disambut gelak
tawa penonton. Prabowo bereaksi sembari mengatakan "Jangan ketawa.
Kenapa kalian ketawa? Pertahanan Indonesia rapuh kalian ketawa. Lucu ya?".
Monica berpendapat bahwa hal semacam itu juga terjadi pada debat kedua.
"Ketika debat ya harus debat yang menang. Pak Prabowo tenang, tenang,
tenang, tetapi pada akhir segmen ada makro gestur yang terlihat kalau
beliau tolak pinggang, bahkan yang ramai itu saat 'Jangan ketawa'. Itu
sebenarnya juga terjadi di debat kedua," katanya.
"Ketika menutup entah dengan tangan yang tolak pinggang, atau beliau
yang menunjuk-nunjuk itu muncul emosi. Memang harus menang. Banyak
sekali segmen harus ditutup dengan seperti itu," sambung Monica.
*Baca juga:Usai debat, Prabowo melayat ke rumah duka istri Jenderal
Panggabean
<https://www.antaranews.com/berita/818091/usai-debat-prabowo-melayat-ke-rumah-duka-istri-jenderal-panggabean>*
*Gaya kepemimpinan*
Monica menggunakan analogi/fatherhood/, yakni gaya ayah sebagai pemimpin
keluarga untuk menilai gaya kepemimpinan Jokowi dan Prabowo.
Cara memimpin Jokowi, kata dia, persis seperti gaya orangtua masa kini,
menjadi teman anak. Sementara cara Prabowo, mirip seperti orangtua zaman
dulu untuk mendisiplinkan.
"Mau berbicara korupsi yang dibenerin sistemnya. Kalau Pak Prabowo,
korupsi, koruptor/pindahin/. Ini lebih pada gayanya," kata Monica.
Dia mengatakan gaya memimpin itu berhubungan dengan cara seseorang
termotivasi.
"Memang caranya orang termotivasi ada dua. Ada anak sudah dibilang
belajar yang baik, nanti boleh main ponsel, tapi anak/enggak/bergerak.
Sementara ada yang begini, kamu belajar yang baik kalau/enggak/ibu akan
kirim kamu ke tempat nenek di kampung. Anak itu bergerak," papar Monica.
Terkait kalimat motivasi yang lebih baik, Monica mengatakan penerimaan
motivasi itu tergantung masing-masing orang.
"Itu tergantung cara orang termotivasi karena ada di alam bawah sadar.
Ada orang yang termotivasi dengan kata 'Indonesia akan hancur'. Tetapi,
ada juga yang termotivasi 'Indonesia akan maju, akan begini...'," kata dia.
*Baca juga:Mereka yang berdebat setelah debat capres
<https://www.antaranews.com/berita/818110/mereka-yang-berdebat-setelah-debat-capres>*
Oleh Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com