Merayakan Demokrasi Indonesia
<https://www.antaranews.com/slug/merayakan-demokrasi-indonesia>
Gigihnya Relawan Demokrasi Tionghoa di Singkawang
Oleh Andilala/Rendra Oxtora Minggu, 31 Maret 2019 08:45 WIB
Gigihnya Relawan Demokrasi Tionghoa di Singkawang
Petugas Relawan Demokrasi Dedi menyosialisasikan tata cara pencoblosan
Pemilu 2019 menggunakan Bahasa Cina Khek kepada sejumlah warga Tionghoa
di Sijangkung, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat, Jumat (15/3/2019).
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Pontianak (ANTARA) - Dedi Alfonso dan rekannya Kenardi tampak dengan
sigap penuh semangat saat melakukan sosialisasi kepada sejumlah
masyarakat Tionghoa di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang
Selatan, Kota Singkawang, Provinsi Kalbar.
Dedi Alfanso dan Kenardi adalah dua Relawan Demokrasi dari masyarakat
Tionghoa yang sukarela membantu KPU Kota Singkawang mensosialisasikan
Pemilu 2019, yang dinilai sebagian besar masyarakat cukup rumit karena
pemilih dihadapkan pada lima surat suara pada pesta demokrasi lima
tahunan tersebut.
Pemilu serentak ini ada lima surat suara yang harus dicoblos pemilih,
yakni surat suara abu-abu untuk memilih capres dan cawapres, warna
kuning untuk memilih DPR RI, merah untuk memilih DPD RI, warna biru
untuk memilih DPRD provinsi, dan surat suara warna hijau untuk memilih
DPRD kabupaten/kota
"Apalagi dari lima surat suara tersebut, yang ada foto hanya surat suara
untuk capres dan DPD RI," kata Dedi Alfonso. Sedangkan tiga surat suara
lainnya, yakni DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota tidak ada
foto, sehingga masyarakat harus teliti juga saat nanti menggunakan hak
pilihnya agar tidak salah coblos.
Selama ini, Relawan Demokrasi dari masyarakat Tionghoa tersebut lebih
memfoskukan sosialisasi untuk masyarakat Tionghoa, terutama bagi
kalangan masyarakat usia lanjut yang tidak semuanya mengerti Bahasa
Indonesia dengan baik. Relawan harus melakukan pendekatan dengan
penggunaan bahasa ibu, yaitu khek - bahasa Tionghoa yang banyak
digunakan di Singkawang.
"Selama ini dalam melakukan sosialisasi kami tidak mengalami kendala
sama sekali karena kami menggunakan bahasa ibu kepada masyarakat
Tiongoa. Ini agar masyarakat bisa benar-benar mengerti bagaimana
mekanisme pencoblosan dan memilih pada Pemilu 2019," kata Alfonso.
Karena sosilisasi itu menggunakan bahasa ibu, masyarakat Tionghoa juga
sangat antusias dan menyambut gembira pelaksanaan Pemilu ini. Namun
masih banyak juga masyarakat yang mengeluhkan kebingungan mereka untuk
mencoblos, karena dalam surat suara tidak ada gambar dan hanya tertera
nama yang belum banyak mereka kenal.
"Ini lebih dialami oleh masyarakat yang tidak bisa membaca, sehingga
selain kami melakukan sosialisasi, para caleg juga memiliki kontribusi
besar untuk mensosialisasikan diri mereka agar tidak salah dipilih oleh
masyarakat," ujarnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai Relawan Demokrasi Dedi Alfonso
mengatakan dirinya terus memanfaatkan waktu luang yang ada untuk turun
ke masyarakat dan itu dilakukannya setiap hari. "Sehari-hari saya kepala
sekolah di SD swasta. Makanya saya harus bisa memanfaatkan waktu luang
dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan demokrasi," kata Dedi.
Dia mengatakan, karena kesehariannya sering turun langsung ke
masyarakat, dirinya sama sekali tidak mengalami kendala dalam
sosialisasi dan melakukan pendekatan kepada masyarakat.
*Baca juga:Laku warga Selagolong menjadi sindiran bagi "golput"
<https://www.antaranews.com/berita/817804/laku-warga-selagolong-menjadi-sindiran-bagi-golput>*
Dari kegiatan sosialisasi yang dilakukan, Dedi optimistis tingkat
partsipasi pemilih masyarakat Singkawang pada Pemilu kali ini akan
meningkat. "Terlebih dengan masuknya teknologi di desa-desa, hal ini
lebih memudahkan kita untuk melakukan sosialisasi, karena sudah banyak
masyarakat Tionghoa yang melek dengan teknologi," katanya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kenardi, Relawan Demokrasi Pemilu
2019 yang juga berasal dari etnis Tionghoa. Sejak direkrut menjadi
Relawan Demokrasi Pemilu oleh KPU Kota Singkawang, Kenardi juga terus
turun ke tengah masyarakat untuk melakukan sosialisasi.
"Kami biasanya lebih memanfaatkan waktu sore dan malam untuk melakukan
sosialisasi kepada masyarakat setelah mereka pulang bekerja dan
berkumpul di rumah. Namun, untuk instansi pemerintahan, sekolah atau
kampus, kami memang lebih banyak sosialisasi di pagi dan siang hari,
intinya kami menyesuaikan waktu yang ada," katanya.
*Relawan Demokrasi*
Dua petugas Relawan Demokrasi Dedi (kiri) bersama Kinardi (kanan)
memperlihatkan materi tata cara pencoblosan saat sosialisasi Pemilu 2019
kepada sejumlah warga Tionghoa di Sijangkung, Singkawang Selatan,
Kalimantan Barat, Jumat (15/3/2019). (ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG)
Komisioner KPU Kota Singkawang Khairul Abror mengatakan, ada sebanyak 55
orang Relawan Demokrasi yang membantu KPU dalam mensosialisasikan dan
terus mengajak masyarakat agar berpartisipasi pada Pemilu 2019, salah
satunya dengan menggunakan hak pilihnya.
Dari 55 orang tersebut dibagi dalam 10 basis, salah satunya adalah
Relawan Demokrasi basis keagamaan, yakni oleh Dedi Alfonso dan Kenardi
yang sangat gencar melakukan sosialisasi pada masyarakat, seperti
contohnya di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang Selatan.
Para Relawan Demokrasi tersebut merupakan ujung tombak dalam membantu
KPU Kota Singkawang melakukan mensosialisasikan Pemilu 2019. "Mereka
mulai efektif membantu KPU dalam mensosialisasikan Pemilu, mulai tanggal
17 Januari hingga 16 April mendatang," kata Khairul Abror, yang
merupakan membidangi Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat.
Bong Nyoat Lian (66), warga RT 008/RW 002 di Kelurahan Sejangkung,
Kecamatan Singkawang Selatan menyambut, langkah KPU Kota Singkawang
dalam mensosialisasikan Pemilu 2019 yang melibatkan para Relawan Demokrasi.
"Sebelum mendapatkan sosialisasi oleh para Relawan Demokrasi, kami agak
bingung juga dengan banyaknya surat suara yang akan dicoblos pada Pemilu
mendatang," katanya.
Setelah mendapatkan sosialisasi tersebut, menurut dia, diri dan warga
lainnya mulai paham. "Kami berharap sosialisasi seperti itu terus
dilakukan, guna memberikan pemahaman bagi masyarakat terkait Pemilu,"
katanya.
*Baca juga:Datang ke TPS sebagai bukti sayang warga Talang Mamak
<https://www.antaranews.com/berita/816144/datang-ke-tps-sebagai-bukti-sayang-warga-talang-mamak>*
*Optimistis*
Ketua KPU Singkawang Riko menyatakan optimistisnya bahwa partsipasi
pemilih di Kota Singkawang pada Pemilu 2019 akan meningkat dengan adanya
bantuan dari relawan dan berbagai pihak lainnya.
"Kami pernah mengalami peningkatan untuk jumlah pemilih, dari Pilwako
2017 ke Pilgub Kalbar 2018. Jumlahnya cukup signifikan. Ini memang
menjadi suatu prestasi yang cukup kita banggakan, karena partisipasi
pemilih meningkat," ujarnya.
Para Relawan Demokrasi yang ada sudah bekerja dengan maksimal, bahkan
mereka kerap berkolaborasi dalam mensosialisasikan Pemilu seperti di
Lembaga Pemasyarakatan, sekolah-sekolah, kampus dan sebagainya. "Melihat
antusias dari para relawan ini, kami optimistis partisipasi pemilih pada
Pemilu 2019 ini bisa meningkat dari Pilgub kemarin," katanya.
Saat ini, yang paling ditekankan adalah bagaimana pemilih ini bisa
menggunakan hak pilihnya, baik untuk pemilih normal maupun pemilih
berkebutuhan khusus, seperti pasien RSJ atau masyarakat berkebutuhan
khusus lainnya. Untuk di RSJ nantinya akan kita bentuk satu TPS dengan
data terakhir pemilih ada 236 orang.
Menurut dia, dari hasil analisa yang pihaknya lakukan dari hasil Pilwako
dan Pilgub kemarin, memang ada dua kelurahan di Kecamatan Singkawang
Barat yang yang partisipasi pemilihnya masih rendah, yaitu di Kelurahan
Pasiran dan Kelurahan Melayu. Dua kelurahan itu banyak masyarakat Tionghoa.
Rendahnya partisipasi pemilih itu setelah koordinasikan dan dianalisa
bersama dengan Disdukcapil Kota Singkawang ternyata karena banyak warga
yang tidak berada di tempat saat pemilihan. Namanya ada dalam daftar,
namun orangnya tidak ada.
Dalam pendataan kependudukan, Disdukcapil memang tidak bisa mecoret nama
penduduk jika mereka tidak mengajukan surat pindah. "Kesimpulannya, dua
kelurahan itu partisipasi masyarakat yang memilihnya rendah bukan karena
tidak mau menggunakan hak suaranya, namun mereka tidak tinggal di sana
karena bekerja di luar Singkawang," kata Riko.
Bahkan, banyak warga di sana yang pulang ke rumahnya tiga kali dalam
setahun, yaitu pada saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh serta saat
sembahyang kubur yang biasa dilakukan masyarakat Tionghoa.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie Pilkada mengatakan, Pemilu bukan
menjadi hal yang baru bagi masyarakat Kota Singkawang, hanya saja memang
ada sedikit perbedaan dalam Pemilu kali ini, yaitu ada lima surat suara
yang harus di coblos oleh masyarakat.
Perbedaan itu menjadikan sosialisasi pemilu merupakan hal perlu
dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun KPU setempat.
"Kami juga terus membantu dalam hal melakukan sosialisasi kepada
masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Bahkan setiap kegiatan yang
saya ikuti, saya juga selalu mengingatkan kepada semua pihak, termasuk
masyarakat agar bisa menggunakan hak pilihnya," katanya.
KPU juga sudah bekerja dengan baik dan gencar sekali melakukan
sosialisasi, maka target peningkatan partisipasi pemilih pada Pemilu
kali ini sebesar 70 persen lebih akan bisa terpenuhi.
Masyarakat Kota Singakwang harus berani memberikan suaranya, jangan
pernah takut karena pemerintah sudah menjamin keamanan bagi pemilih.
Jika ada pihak yang mengintimidasi atau mengarahkan pilihan yang tidak
sesuai dengan keinginan, silahkan laporkan kepada pihak berwajib.
"Jangan pernah takut," katanya.
Menurut data KPU Kota Singkawang, jumlah pemilih di Kota itu sebanyak
160.753 pada Pemilu 2019, sementara di Pilgub atau Pilkada serentak 2018
sebanyak 147. 219 pemilih.
*Baca juga:Membelah laut demi mulusnya pesta demokrasi
<https://www.antaranews.com/berita/817667/membelah-laut-demi-mulusnya-pesta-demokrasi>*
Oleh Andilala/Rendra Oxtora
Editor: Sapto HP
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com