Cemas, begini harapan pedagang Indonesia di Pasar Serikin Malaysia
Minggu, 31 Maret 2019 10:26 WIB
Cemas, begini harapan pedagang Indonesia di Pasar Serikin Malaysia
Suasana di pasar Serikin, wilayah Bau, Malaysia Timur yang menjadi
tempat berdagang ratusan warga Indonesia dengan menyewa kios-kios milik
warga setempat. Barang-barang yang dijual merupakan barang produksi
Indonesia. (Nurul Hayat)
Kalau disini kan masih di wilayah Malaysia, amanlah kami. Kalau harus
masuk ke negara orang ada rasa tidak aman
Jagoi Babang Bengkayang (ANTARA) - Sejumlah pedagang Indonesia yang
membuka kios di Pasar Serikin, wilayah Bau, Kuching, Sarawak,
mengharapkan kebijakan yang positif untuk tempat usaha mereka, jika pada
akhirnya pemerintah Malaysia dan Indonesia mengeluarkan keputusan
terkait pasar tersebut.
Pasar Serikin sudah ada sejak 20 tahun lebih dan diisi ratusan pedagang
yang datang dari wilayah Indonesia. Sementara pembelinya, mayoritas
merupakan warga Malaysia.
Seorang pedagang asal Jalan Tanjungraya Raya 2, Pontianak, Iwan (29)
yang sudah berjualan di pasar tersebut selama sembilan tahun, saat
ditemui di Pasar Serikin, Minggu, menyatakan optimistis pemerintah kedua
negara akan memperhatikan nasibnya dan ratusan pedagang lain, jika
memutuskan kebijakan mengenai pasar tersebut.
Untuk diketahui, sejak lama pasar tersebut telah ada dan semakin
berkembang sejak krisis moneter 1998. Aktivitas pasar semakin ramai
sekitar tahun 2000 hingga kini. Ratusan pedagang Indonesia, telah
membuka usaha dengan berjualan di Pasar Serikin yang berada di wilayah
Malaysia.
Para pedagang tersebut menjual bahan-bahan kebutuhan seperti peralatan
masak, pakaian dan kain, sepatu, tikar bidai, obat alergi, tas tangan,
hingga mesin jahit mini, dan cemilan makanan khas Indonesia.
Barang-barang tersebut dibawa langsung para pedagang dengan melewati
pintu perbatasan Indonesia di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, dengan
menumpang ojek motor dan berbekal pas lintas batas.
Pas lintas batas merupakan surat laksana paspor, berwarna merah, yang
disiapkan Kantor Imigrasi Bengkayang, khusus untuk warga Indonesia yang
bermukim di kawasan perbatasan Indonesia - Malaysia.
Menurut Iwan yang sudah berdagang di pasar Serikin selama sembilan tahun
terakhir, jika pun pada akhirnya terbit keputusan pemerintah dua negara
terkait tempat usahanya itu, maka diharapkan tidak merugikan ia dan
ratusan pedagang lainnya.
"Saya sudah bertahun-tahun dagang disini (pasar Serikin), jadi apapun
keputusannya, tolong perhatikan nasib kami," kata Iwan.
Pernyataan senada juga disampaikan Zaenal yang baru membuka lapak (kios)
sejak empat tahun terakhir.
"Silakan ada kebijakan apa pun itu, tapi diharapkan itu mendukung usaha
kami ini," kata Zaenal yang berjualan minyak bengkarong.
Sementara itu, tokoh masyarakat perbatasan Bengkayang, Gustian
Andiwinata menyatakan pernah mengusulkan kepada pihak-pihak terkait
dalam pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) agar ke depan saat
pembangunan dimulai, pasar tersebut tetap ada meski pindah ke lokasi lain.
Ia menyarankan agar pasar itu dibangun di titik nol perbatasan dan
berada di luar PLBN. Itu untuk tetap menarik warga Malaysia berbelanja
di pasar tersebut.
"Kalau dibangun di belakang atau dalam lingkungan PLBN, dikhawatirkan
warga Malaysia tak mau berbelanja lagi. Padahal pasar itu ada untuk
melayani pembeli dari Malaysia," kata Ketua Dewan Adat Dayak wilayah
perbatasan Bengkayang itu.
Menurut Gustian lagi, selama ini warga Malaysia merasa nyaman dan aman
berbelanja dagangan para pedagang Indonesia itu karena pasar yang
tersedia masih berada di wilayah Malaysia.
"Kalau sudah masuk wilayah Indonesia, mereka (warga Malaysia) pasti
merasa tak aman karena berada di wilayah negara orang," katanya.
Seorang warga Malaysia yang belanja di pasar tersebut, Siyren (45)
setuju dengan pandangan tersebut. Ia merasa khawatir jika harus
berbelanja hingga masuk ke wilayah Indonesia.
"Kalau disini kan masih di wilayah Malaysia, amanlah kami. Kalau harus
masuk ke negara orang ada rasa tidak aman," katanya.
Ia menyatakan kalau masuk ke negara lain, tentunya harus disertai
dokumen resmi, paspor, dan itu akan merepotkan bagi dirinya. Sementara
barang yang dibeli hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
"Hanya beli tampan karena di tempat kami sudah sulit mendapatkannya
karena tak ada yang buat lagi," kata warga Malaysia yang harus menempuh
perjalanan sekitar 45 menit berkendaraan mobil dari tempat tinggalnya
untuk belanja di pasar tersebut.
Tampan dibuat perajin Indonesia di sekitar wilayah kabupaten Bengkayang
dan Landak. Di pasar Serikin dijual dengan harga 30 Ringgit Malaysia.
"Ini 30 ringgit, tapi tadi saya tawar harganya jadi 28 ringgit saja,"
kata perempuan tersebut.
Sementara menurut Gustian Andiwinata, pembangunan PLBN Jagoi Babang
diperkirakan tidak akan memakan waktu lebih lama lagi. Karena beberapa
PLBN di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalbar kini sudah
selesai dibangun baru dan besar-besaran, setelah wilayah tersebut
dikunjungi Presiden Joko Widodo, yakni Entikong di Kabupaten Sanggau,
Aruk di Kabupaten Sambas, dan Badau di Kapuas Hulu.
Diperkirakan 2-3 tahun ke depan, PLBN Jagoi Babang pun akan dibangun.
Warga Jagoi Babang juga berharap demikian, namun tentu saja tetap
memperhatikan nasib dan masa depan ratusan pedagang yang melintasi
perbatasan tersebut, katanya.
"Yang berjualan di Pasar Serikin, bukan hanya dari Bengkayang, tetapi
dari banyak wilayah di Kalbar, seperti Pontianak, Landak, dan Sambas.
Bahkan juga dari Jawa, " kata Gustian. Ia berharap pemerintah dalam
membangun PLBN Jagoi Babang, mendengarkan aspirasi dari masyarakat setempat..
*Baca juga:Empat Pos Lintas Batas Negara mulai dibangun 2019
<https://www.antaranews.com/berita/797800/empat-pos-lintas-batas-negara-mulai-dibangun-2019>*
Pewarta: Nurul Hayat
Editor: Risbiani Fardaniah
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com