https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_
cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934
Minggu 31 Maret 2019, 12:16 WIB
Jeda
Pertemanan, Perjalanan, Kesunyian
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4491028/pertemanan-perjalanan-kesunyian?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.240133120.2062588192.1554051934-101179858.1554051934#>
Pertemanan, Perjalanan, Kesunyian Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Ketika sebagian warga Jakarta heboh mencoba MRT, lalu muncul
ribut-ribut --yang viral di media sosial-- tentang perilaku sejumlah
penumpang yang dianggap norak, kampungan, dan lain-lain, kami tengah
berkendara membelah gunung. Meninggalkan kota pada akhir pekan,
berangkat pada pagi buta, dengan janjian berkumpul di satu titik di
selatan Jakarta, yang dekat dengan pintu masuk tol.
Teman kami hendak menghadiri hajatan saudaranya di Sidareja, dekat
Cilacap, Jawa Tengah dan ia mengajak kami untuk turut serta. Dengan
tawaran, sementara dia memenuhi agendanya, kami bisa menghabiskan waktu
di Pangandaran, yang tak jauh dari tempat tujuan tersebut. Sebuah
tawaran yang menarik, untuk mencuri waktu sesaat di sela bulan-bulan
awal tahun 2019 yang hiruk-pikuk oleh urusan politik dukung-mendukung
pilpres, dengan berlibur ke pantai. Dia jadi tidak /cengok/ sendirian
selama menyetir kurang lebih delapan jam, dan kami mendapat tumpangan
untuk bersenang-senang pada akhir pekan.
Itulah gunanya pertemanan, memberikan keuntungan pada kedua belah pihak,
tanpa ada yang terbebani ataupun merasa berutang budi. Sama-sama enak,
kalau kata (judul film) Sersan Prambors zaman dulu. Atau, kalau kata
pepatah lama, sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui. Maka,
begitulah, bertiga kami meluncur, membelah dingin pagi, diiringi
lagu-lagu riang dari Spotify, obrolan, dan tawa tiada henti, menjelma
tiga tokoh dalam sebuah film /road movie/.
Membayangkan apa yang terjadi, dialami, dan dilakukan dalam kehidupan
dengan film membuat kami teringat kembali bagaimana dulu awalnya kami
dipertemukan. Kami memang bukan teman dalam pengertian yang "umum" dan
"lazim" --misalnya, teman kuliah atau teman (se)kantor. Kami bahkan
datang dari generasi yang berbeda; saya bagian dari Generasi X, teman
saya yang menyetir dan "punya hajat" utama dalam perjalanan ini adalah
Generasi Y, dan teman kami satunya lagi yang ikut serta adalah Generasi
Milenial.
Kesenjangan umur tentunya sedikit-banyak (lebih sering banyak sih
hehehe) berdampak pada perbedaan pola pikir, cara pandang, dan berbagai
kecenderungan lainnya. Ditambah lagi, kami juga berasal dari profesi
yang berbeda-beda. Saya --sebagaimana diketahui (ehm!)-- adalah editor,
kritikus, dan budayawan terkenal *benerin syal*. Teman saya yang
menyetir adalah seorang profesional mapan papan atas di sebuah
perusahaan farmasi asing yang jika disebutkan di sini Anda semua pasti
tahu.
Sedangkan, teman kami satu lagi adalah /filmmaker/ (muda berbakat) yang
sedang meniti karier dan berusaha menembus industri perfilman nasional
lewat karya-karya film pendek (beberapa masuk kompetisi dan berbagai
ajang pemutaran) dan /webseries/. Ia juga menjadi kontributor di sebuah
majalah /online/ gaya hidup urban. Tulisan-tulisannya (utamanya ulasan
film) selalu menarik perhatian karena gayanya yang khas dari generasi
baru. Seorang profesor terkenal (dari Generasi /Baby Boomers/) yang
menekuni budaya pop sampai pernah dibuat ternganga-nganga (sambil ikut
mem-viral-kan tulisannya), bahwa ternyata ada "ragam tulisan" seperti
itu, yang tak pernah dia jumpai dari generasinya.
Kami dipertemukan oleh minat yang sama pada film dan seni-budaya secara
umum lewat jejaring /blog/ Multiply (yang sekarang sudah almarhum). Kota
megapolitan dengan kehidupan urban serupa Jakarta, yang melahirkan
manusia-manusia yang jauh dari keluarga di tanah kelahiran, tercerabut
dari akarnya, dan terasing bahkan dengan dirinya sendiri, kesepian,
menciptakan pertemuan-pertemuan "aneh" semacam itu, yang pada akhirnya
membentuk pertemanan yang unik, hakiki, dan mungkin abadi. Ini berbeda
dengan teman di kantor atau teman satu profesi atau teman yang terbentuk
dari hubungan kerja.
Saya punya teman --yang lain lagi, tidak ikut dalam perjalanan (kali)
ini-- yang tidak menyebut "teman (se)kantor" sebagai "teman", melainkan
"/co-worker/". Terkesan dingin dan tak berperasaan memang, tapi bila
kita mau jujur dan lebih membuka diri, sebenarnya itulah kenyataannya.
Tentu saja, pengecualian selalu ada. Tapi, intinya, dalam pertemanan di
ruang kota di mana masing-masing kita cenderung "tak punya nama", yang
diperlukan adalah ketulusan, jiwa-jiwa yang bersih dari pamrih dan
motif-motif kepentingan.
Jadi, sampai di mana tadi? Oh ya...membelah gunung. Ini semua gara-gara
dua teman saya yang begitu menghamba pada teknologi. Berkali-kali saya
bilang, tinggal lurus saja, tinggal ikuti petunjuk-petunjuk yang
terpampang di sepanjang jalan. Tapi, kedua teman saya lebih percaya pada
Google Maps. Memang akhirnya terbukti, perjalanan jadi lebih singkat.
Dan, hikmah lainnya, kami jadi melewati jalur-jalur yang tidak biasa,
dengan pemandangan yang menakjubkan. Meskipun sebenarnya perjalanan kami
jadi agak memutar, melewati wilayah Brebes, Cilacap, dan memasuki
Pangandaran dari arah timur alias masuk ke Jawa Tengah dulu. Padahal,
Pangandaran ada di Jawa Barat.
Dengan berbagai hitung-hitungan "untung" dan "rugi" itu, kesimpulannya
saya kalah. "Makanya, /baby boomers/ diam aja deh, duduk manis, serahkan
pada milenial!" seru teman saya sadis. Seandainya ini terjadi dalam
film, saya pasti sudah berteriak, minta mobil berhenti, lalu keluar
dengan membanting pintu sambil dengan kasar menarik ransel dan berlari
ke arah hutan pinus yang terhampar di sisi jalan. Tapi, faktanya, kami
justru tertawa-tawa bahagia, menikmati jalanan yang berliku, menanjak,
menikung tajam, dan....sunyi senyap --sambil membayangkan, "Wah, kalau
lewat sini malam hari, enggak deh!"
Pada saat yang lain, salah satu di antara kami akan berteriak, "Lihat,
pemandangannya seperti di Ubud!" Lalu, yang lain menyahut, "Jangan ada
yang minta berhenti ya...kita foto-foto di Pangandaran saja!" Lalu, kami
tertawa lagi. Ada saat ketika suasana kembali sunyi. Lagu di Spotify
terus mengalun, tapi ketika tidak ada obrolan, rasanya lagu itu hanya
menambah kesunyian saja. Inilah bagian yang selalu saya sukai dari
sebuah perjalanan, lebih-lebih jika dilakukan dengan teman-teman terdekat.
Kami jadi bisa memikirkan kembali banyak hal, dari bagaimana kami
dipertemukan hingga kemudian membentuk persekutuan yang "ganjil", namun
memberi banyak kemungkinan pada terbukanya berbagai cara untuk saling
mengisi, dan memberi makna pada kehidupan yang fana ini.
Selain saling ledek tanpa menyakiti, membicarakan orang lain dari dunia
yang beririsan, bertukar cerita tentang pengalaman profesional
masing-masing, hingga berdiskusi panas soal perkembangan dan dinamika
politik serta masa depan negara, perjalanan selalu melahirkan dialog
dari hati ke hati, yang kadang tidak terjadi dalam obrolan ketika
duduk-duduk di kafe pada Minggu sore. Perjalanan bukan semata-mata soal
tujuan, melainkan menikmati seluruh proses mencapai tujuan itu, dan
sering justru itulah bagian terpentingnya. Tujuan adalah kepastian, tapi
proses untuk mencapainya adalah tahap-tahap penuh kejutan, berlimpah
aspek yang dinamis, yang kadang di luar bayangan, dan menuntut
penyikapan tertentu untuk menerimanya.
Ketika berhenti untuk sarapan, ketika menentukan tempat yang sama-sama
disetujui untuk makan siang, ketika mampir di sebuah toko oleh-oleh
sebelum pulang...semua itu memiliki "drama"-nya masing-masing yang
menambah keakraban, mempertebal rasa persaudaraan, dan memperkaya
pengalaman mental untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup. Ada
sisi-sisi lain dari diri kita yang selama ini tersembunyi, mendadak
tersingkap. Perjalanan membuat kita kembali mengenali diri
masing-masing, dan memahami satu sama lain. Siapa kamu, siapa aku, dan
mengapa kita di sini bersama-sama.
Selama hampir 1400 tahun kita meyakini bahwa Bumi tempat kita hidup
--setelah terlempar dari Surga karena berbuat dosa-- adalah pusat alam
semesta. Tapi, ternyata tidak. Baru belakangan ini saja, dalam hitungan
ratusan tahun terakhir, kita menemukan kenyataan bahwa kita tidak berada
di pusat alam semesta; kita justru hidup --seperti kemudian diungkapkan
dalam bahasa yang indah oleh fisikawan dan ahli astronomi Carl Sagan--
di suatu "planet di bintang biasa-biasa saja yang tersesat dalam galaksi
di suatu pojok terlupakan alam semesta yang berisi lebih banyak galaksi
daripada manusia."
Kita hidup di sebuah tepian, dan hanya bisa membayangkan alam semesta
yang membentang jauh melebihi apa yang dapat dipandang mata, bahkan
dengan teleskop. Jagad raya terbentang tanpa akhir dan hampir kosong;
Matahari, planet-planet, dan bintang bergerak dalam diam, tak peduli
kepada kita. Kita tertelan luasnya ruang yang tak kita ketahui, dan tak
mengetahui kita. Kita takut dengan kesunyian abadi di jagad raya tanpa
batas ini. Kita ngilu setiap kali membayangkannya.
Kita dulu juga pernah berpikir bahwa kita adalah makhluk unik yang
berbeda dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan, tetapi akhirnya sebuah kabar
besar dan mengejutkan datang. Kita akhirnya tahu bahwa kita adalah
keturunan dari leluhur yang sama dengan semua makhluk di sekitar kita.
Kita hanyalah bagian dari alam semesta, bagian yang sangat kecil sekali.
Dalam kiasan yang dirumuskan oleh fisikawan teoretis Italia Carlo
Rovelli, kita seperti anak tunggal yang ketika tumbuh besar menyadari
bahwa dunia tidak berputar di sekeliling dirinya, sebagaimana yang dia
pikir sewaktu kecil. Kita berkaca pada pihak lain, pada alam sekitar,
dan melalui hal-hal lain itulah kita mempelajari dan memahami siapa diri
kita.
Pertemanan kecil ini, perjalanan ini, membuat saya memikirkan kembali
semua itu, realitas kompleks yang membangun kita semua --suka duka kita,
rasa syukur kita, masa lalu yang menghantui, masa depan yang
mencemaskan, dan kebahagiaan yang kita impikan. Realitas itu dibangun
dari hubungan dengan orang lain, dari emosi yang diilhami oleh lagu-lagu
yang kita dengarkan di sepanjang jalan, obrolan di tepi kolam renang di
hotel tempat menginap semalam, dari jejak langkah yang kita torehkan
bersama-sama di atas pasir pantai yang lembut, di pagi yang murung
setengah mendung, setelah berfoto-foto di bawah payung, sebelum kembali
menempuh perjalanan untuk pulang, mengakhiri sebuah akhir pekan yang
biasa di antara sekian akhir pekan yang telah lewat dan akan datang.
Kita tak akan bertahan lama. Sepupu-sepupu terdekat kita bahkan sudah
punah. Tinggalkan kotamu. Pergilah dengan teman-teman. Tempuhlah
perjalanan menembus hutan. Tertawalah tanpa henti.
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor/
*(mmu/mmu)
*
**