BANALITAS PROSES
Rocky Gerung ini pintar sekali beretorika. Itu memang keahliannya. Jadi percuma 
menyandingkan RG dengan Rhenald Kasali misalnya, karena beda konteks. Rhenald 
itu guru besar ekonomi, dan saat ini adalah era matinya kepakaran. Seorang guru 
besar bisa dilecehkan oleh orang yang riwayat pendidikan dan karier akademisnya 
gak jelas.
Yang bikin aku prihatin itu bukan soal RG-nya. Tapi bagaimana RG dimanfaatkan 
dalam arus politik untuk mempesona orang-orang yang kecewa pada pemerintah, 
sehingga mereka bisa mendapat amunisi ketika mendengar RG bicara. 
Retorika ala RG ini dikenal saat demokrasi langsung di Yunani. Bisa dibayangkan 
betapa brutalnya. Orang gak harus pandai pengetahuan atau mahir pengalaman, 
yang penting dia pintar ngomong dan dapat kesempatan.
Aku merasa ada orang-orang yang dimanipulasi untuk kepentingan politik retorika 
ini. Profil orang-orang itu jelas; mulai soal kualitas pendidikan, akses kepada 
informasi, lingkungan terdekat yang mempengaruhi, sikap terhadap pemerintah, 
nilai-nilai, kelas sosial & status sosial, stereotipe & prasangka, bahkan kalo 
boleh kutambahkan: sentimen agama.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil, aku terluka melihat ada anggota 
masyarakat sipil yang diperlakukan seperti itu. Inilah banalitas proses politik 
ketika kehormatan politik direduksi besar-besaran menjadi sekadar soal suara 
dan kursi. Ya mungkin memang begitu, tapi aku termasuk yang percaya bahwa 
gerakan politik itu bukan sekadar suara dan kursi.
Ketika masyarakat sipil pun dijerumuskan ke dalam 'hanya suara dan kursi', wah 
kurasa yang perlu kita takutkan bukan perang (sedikit menyentil Pak Prabowo) 
tapi kehancuran & kerusakan masyarakat sipil.

Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone

Kirim email ke