Ya, kalap dia sampai jejeritan begitu saking terbayang kursi ketum yang kemungkinan lepas tahun depan.
Harusnya sih sudah lepas tahun 2015 karena peluang Megawati menang di pilpres 2014 samasekali tidak ada. Makanya keluarlah tanduk feodalnya, seenak udel dia robah keputusan kongres 2010 yang menunjuknya sebagai capres PDIP 2014 lalu mengangkat sendiri petugas Joko Widodo menggantikan posisinya sebagai capres. Kekacauan mengguncang PDIP karena yang namanya keputusan kongres hanya bisa dibatalkan / dirobah melalui kongres, tidak bisa dirobah sembarangan sekalipun oleh ketua umum. Sayang sekali guncangan mereda karena kebetulan Joko Widodo keburu menang. Maka nyamanlah Mega di kursi ketum lantaran kader fanatik menganggapnya berjasa menjadikan petugas PDIP sebagai Presiden RI. Lalu bagaimana dengan kongres tahun depan? Tidak ada jalan untuk menyelamatkan kursi ketum selain memaksakan lagi kemenangan Jokowi dengan cara apa pun. Padahal, Jokowi menang atau tidak, PDIP sudah terlambat mengganti ketua. Makanya, dengan atau tanpa Megawati cs, 2020 bakal menjadi titik-balik PDIP. Momentum PDIP menjual nama Soekarno sudah habis. --- lusi_d@... wrote: Itu sih gertak sambel aja. Emangnya setelah dicabut WNI-nya terus maudiapakan? Jutaan orang mau dipenjarakan? Punya nyali mencabut hak kemanusiaan? Tapi tingkahnya kok kayak orang kalap begitu. Am Mon, 1 Apr 2019 16:39:19 +0000 (UTC) schrieb ajeg : > Sampai jerit-jerit begitu rupanya kekalahan sudah sebesar gajah di> pelupuk > mata. Alamat partai kacau-balau di kongres 2020. >> Kekacauan yang tertunda.> Obatnya cuma satu: Jokowi harus dimenangkan. >> --- ilmesengero@... wrote:> Pernah ada berita di salah satu surat kabar yang >> mencantumkan > partai-partai politik yang banyak koruptornya, tidak ketinggalan > pqrtai belambang kepala kerbau atau banteng. Jangan dilupakan bahwa> partai > politik adalah perusahaan keluarga, jadi tahu sendiri siapa> yang harus > memegang pimpinan.>
