Alasan KPK Buka Semua Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik Pangarso
Reporter:
M Rosseno Aji
Editor:
Rina Widiastuti
Rabu, 3 April 2019 07:06 WIB
Pewarta foto mengambil gambar gunungan kardus berisi uang barang bukti
OTT kerjasama pengangkutan pupuk di Jakarta, Kamis, 28 Maret 2019. KPK
secara resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka antara lain anggota
DPR RI Bowo Sidik Pangarso, pihak swasta PT. Inersa, Indung dan
Marketing Manager PT. Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.
TEMPO/Imam SukamtoPewarta foto mengambil gambar gunungan kardus berisi
uang barang bukti OTT kerjasama pengangkutan pupuk di Jakarta, Kamis, 28
Maret 2019. KPK secara resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka
antara lain anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso, pihak swasta PT. Inersa,
Indung dan Marketing Manager PT. Humpuss Transportasi Kimia, Asty
Winasti. TEMPO/Imam Sukamto
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Komisi Pemberantasan Korupsi akan membuka semua
amplop yang disita dalam kasus suap anggota DPRBowo Sidik Pangarso
<https://www.tempo.co/tag/bowo-sidik-pangarso>. KPK beralasan amplop itu
perlu dibuka untuk mengetahui jumlah seluruh uang yang diduga berasal
dari kejahatan korupsi.
*Baca:KPK Baru Buka 3 Kardus Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik Pangarso
<https://nasional.tempo.co/read/1191868/kpk-baru-buka-3-kardus-amplop-serangan-fajar-bowo-sidik-pangarso>*
"Uangnya akan dihitung dan informasi itu akan dituangkan dalam berkas
pemeriksaan dan berkas acara kasus ini," kata juru bicara KPK, Febri
Diansyah, di kantornya, di Jakarta, Selasa, 2 April 2019.
Sejauh ini, KPK telah membuka 3 kardus milik Bowo. Hasilnya ditemukan
uang berjumlah Rp 246 juta dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu.
Masih ada 79 kardus dan 2 kontainer plastik yang mesti dibuka KPK.
Febri mengatakan, dibutuhkan waktu 1 bulan untuk memasukan uang ke dalam
amplop yang diperkirakan berjumlah hingga 400 ribu buah itu. Ia
berharap, untuk proses membukanya bisa dilakukan dalam waktu yang lebih
singkat. "Kami akan sampaikan perkembangannya secara bertahap," kata dia.
Selain menemukan uang, Febri mengatakan, tim KPK juga menemukan cap
jempol dalam amplop itu. Namun, ia berharap tak ada pihak yang
mengaitkan temuan KPK itu ke ranah politik praktis. Ia menegaskan proses
penyidikan kasus ini murni upaya penegakan hukum.
Febri menuturkan sejauh ini KPK menduga Bowo akan menggunakan uang dalam
amplop itu untuk membeli suara pemilih dalam pemilihan legislatif nanti.
Praktik tersebut biasa disebut serangan fajar.
ADVERTISEMENT
Dalam kasus ini, KPK menyangka Bowo menerima suap dari Manager Marketing
PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti. KPK menduga suap itu
diberikan agar Bowo membantu PT HTK dipilih menjadi pengangkut amonia
milik PT Pupuk Indonesia Logistik.
*Baca:KPK: Ada Cap Jempol di Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik Pangarso
<https://nasional.tempo.co/read/1191843/kpk-ada-cap-jempol-di-amplop-serangan-fajar-bowo-sidik-pangarso>*
Total uang yang diduga diterima Bowo Sidik Pangarso dari Asty sebanyak
Rp 221 juta dan US$ 85.130. KPK menduga Bowo menerima uang tak cuma dari
PT HTK, namun juga dari sumber lain. Uang dari sumber lain itulah yang
diduga disimpan Bowo dalam amplop di perusahaannya.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com