Airbus A321neo*

Oleh Dahlan Iskan
05 April 2019 04:14 WIB

jpnn.com - Pukulan itu begitu bertubi-tubi. Untuk Amerika. Di bidang
teknologi tinggi.


Setelah kalah di 5G, muncul kasus Boeing 737 MAX 8. Ada lagi: Singapore
Airlines meng-grounded 2 pesawatnya. Semua jenis Boeing 787. Karena blade
turbin-nya harus diperiksa intens.

Pun pukulan terbaru datang: Selasa lalu. American Airlines hari itu mulai
mengoperasikan pesawat baru: Airbus A321neo. Bikinan Prancis-Inggris. Bukan
737 bikinan Boeing, Amerika.

Itulah untuk pertama kalinya Airbus A321neo terbang di Amerika. Untuk
jurusan Phoenix ke Orlando. Dari negara bagian Arizona ke Florida.

Penumpang Amerika itu langsung merasakan keunggulannya: dilengkapi wi-fi
dengan kecepatan tinggi. Sejak penumpang masuk ke pesawat. Sampai keluar
dari pesawat.

Tidak berlaku lagi perintah mematikan handphone. Memang di Amerika tidak
ada larangan menggunakan HP di dalam pesawat. Sudah sejak beberapa tahun
lalu.

Alasannya: teknologi handphone saat ini tidak ada lagi hubungannya dengan
teknologi pesawat yang sekarang. Sama sekali. Sudah beda dengan peralatan
elektronik masa lalu.

Larangan yang masih berlaku sekarang itu sebenarnya formalitas: hanya
karena peraturan lama masih belum dicabut.

Mencabut peraturan lama prosesnya ruwet. Begitulah adanya. Peraturan selalu
ketinggalan jauh dari perkembangan teknologi.

Berita terbangnya A321neo ini seperti kutub yang bertolak belakang. Dengan
berita mengenai Boeing 737 MAX 8. Yang dilarang terbang di seluruh dunia.

Airbus A321 adalah pesaing langsung Boeing 737. Sama kelasnya. Sama
larisnya. Entahlah. Setelah kasus 737 MAX 8 ini. Disusul terbangnya A321neo
itu.

Jumlah Boeing 737 MAX 8 yang dikandangkan itu mencapai 393 pesawat. Di
semua negara pembelinya.

Saya melihat satu di bandara Bali. Milik Lion Air. Pesawat itu diparkir di
apron. Dua mesinnya dibungkus kain merah.

Saat melihat itu saya lagi di bandara Bali. Mau terbang ke Beijing malam
hari.

Pemerintah Amerika ikut terpukul berat. Penyebabnya: bagaimana bisa lembaga
pemerintah Amerika meloloskan uji teknologi Boeing 737 MAX 8. Dan kemudian
mengizinkannya terbang.

Padahal FAA, lembaga itu, begitu terkenal sebagai amat sulit meloloskan
izin. Dikenal sangat njelimet.

Pun setelah pesawat kedua jatuh di Ethiopia. FAA tetap teguh. Tetap
menegaskan bahwa Boeing 737 MAX 8 layak terbang. Padahal sehari sebelumnya
CAAC, lembaga serupa di Tiongkok, sudah melarang 737 MAX 8 terbang di
negaranya.

Sejak hari itu banyak negara lebih mendengar CAAC daripada FAA. Ini tumben
sekali. Ini baru.

Setelah itu barulah FAA ikut melarangnya. Bisa jadi FAA malu hati. Lembaga
itulah yang meloloskannya. Bagaimana bisa melarangnya.

Kini semua jenis pesawat itu berhenti beroperasi. Jumlahnya 393 buah. Di
seluruh dunia.

Betapa besar kerugiannya. Bagi perusahaan pembeli. Pun bagi Boeing. Juga
bagi penumpang. Kini banyak sekali jadwal yang dibatalkan. Anda juga
merasakan bukan?

Lion seperti mendapat angin. Dulunya Lion-lah yang disalah-salahkan.
Pilotnyalah. Manajemen pemeliharaannyalah. Cara pengaturan tugas
pilotnyalah.

Apalagi Lion memang sering salah. Amerika selalu benar.

Lion akan meninjau kembali pembelian 737 MAX 8. Yang nilainya USD 22
miliar. Atau sekitar Rp 30 triliun.

Norwegia Airlines sudah minta ganti rugi pada Boeing. Akibat hilangnya
bisnis dan nama baik. Demikian juga SpiceJet India.

Sedang Garuda yang sudah memesan 49 buah juga akan membatalkannya.
Kebetulan sekali. Ada alasan kuat untuk membatalkannya.

Perusahaan lain membatalkan beli Boeing untuk beli Airbus. Garuda belum
tentu batal karena itu.

Kini begitu besar usaha yang harus dilakukan Boeing. Untuk mempertahankan
agar pesanan yang sudah masuk tidak dibatalkan. Yang jumlahnya
--masyaallah-- mencapai 4.646 buah.

Anda sudah tahu: 737 MAX 8 adalah penyempurnaan dari 737-800. Dicanggihkan
komputernya. Dilengkapi otomatisasi anti-jatuh karena stall: akibat hidung
pesawat yang terlalu mendongak ke atas.

Tidak diperlukan lagi pilot untuk mengendalikan hidung itu. Yang dikritik
habis oleh Presiden Donald Trump: sebagai berlebihan canggihnya.

Di lain pihak A321neo juga penyempurnaan dari A321. Yang juga laris di
pasar. Yang saya juga sering naik di dalamnya. Termasuk Rabu kemarin. Dari
Tianjin di pantai timur ke Chengdu di Provinsi Sichuan: 3 jam penerbangan.

Hanya saja penyempurnaan Airbus A321 itu dilakukan di tingkat efisiensinya.
Bukan di otomatisasinya.

Kalau hemat 20 persen itu jadi kenyataan memang luar biasa hebatnya. Betapa
senang perusahaan pembelinya. Di saat harga BBM mahal.

Di samping wi-fi kecepatan tinggi, penumpang A321neo juga merasakan koridor
yang lebih lebar. Pun tempat bagasinya. Lebih luas. Plus ada tabletnya.
Yang bisa untuk telepon dan YouTube.

American Airlines sengaja melakukan survei. Khusus untuk penumpang perdana
A321neo-nya itu. Begitulah pendapat penumpang di Amerika hari itu. A321neo
dinilai serba unggul dari 737 buatan Boeing.

Bagi perusahaan penerbangan, keunggulan pesawat itu lebih-lebih lagi.
Bayangkan: bahan bakarnya lebih hemat 20 persen. Itu berkat teknologi
sharklets di ekornya. Yang membuat dua mesin baru A321neo bekerja lebih
efisien.

Masih ada keuntungan lain: mampu membawa beban 2 ton lebih banyak. Pun
kalau beban tambahan itu tidak ada bisa membuat jarak tempuhnya lebih jauh
lagi.

Karena itu American Airlines langsung memesan 100 buah. Termasuk untuk
jurusan Hawaii dan Alaska nanti.

Tiongkok juga langsung memesan 270 buah. Itu dilakukan saat Presiden Xi
Jinping berkunjung ke Eropa. Dua minggu lalu. Termasuk kunjungan ke Paris
itu. Untuk membeli pesawat itu. Setelah menandatangani kerja sama OBOR
dengan Italia itu.

Eropa akhirnya memang jebol. Terlalu banyak yang bisa dibeli Tiongkok dari
Eropa. Yang bisa menguntungkan Eropa. Sekaligus untuk pembalasan diam-diam
pada Amerika.

Tentu Tiongkok juga bisa menjual sangat banyak ke Eropa.

Monaco pun sudah memutuskan: akan membangun jaringan telekomunikasi 5G yang
sepenuhnya teknologi Huawei. Untuk seluruh negaranya. Yang mungil tapi
indah itu. Tanpa campuran teknologi dari perusahaan Eropa lainnya.

Kini ada tiga kiblat di dunia: Amerika, Eropa dan China.(***)

Kirim email ke