Lika-liku politisi perempuan muda berlabel minoritas ganda
Oleh Virna P Setyorini & Suwanti Minggu, 7 April 2019 09:23 WIB
Lika-liku politisi perempuan muda berlabel minoritas ganda
Juru bicara Dewan Pimpinan Pusat PSI Dara Nasution (kanan) didampingi
Azmi Abubakar (kiri) saat memberikan motivasi kepada kader dan caleg di
Kota Jayapura, Senin (1/4). (ANTARA/Alfian Rumagit)
Jakarta (ANTARA) - Politik adalah dunia laki-laki, politik adalah dunia
orang tua. Kedua premis itu kuat menurut realitas sejarah.
Sejak dulu politik dunia didominasi oleh tokoh laki-laki, tidak banyak
perempuan yang berpartisipasi. Proporsi perempuan dalam parlemen di
seluruh dunia saat ini baru 18 persen menurut/Women Research Institute/.
"Memang dunia politik itu dianggap dunia maskulin, tidak cocok
dengan/gender role/(peran gender)," kata pakar psikologi politik
Universitas Indonesia Hamdi Muluk dalam wawancara dengan Antara di
Depok, Jumat (1/4).
Sekretaris Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu
mengatakan ketimpangan peran gender dalam politik masih terjadi di
sebagian besar negara di dunia. Kultur masyarakat yang tradisional dan
konservatif melanggengkannya hingga kini.
Sekalipun dipersilakan masuk ke politik, perempuan mula-mula akan
menghadapi hambatan psikologis, semisal beban akibat standar ganda bahwa
perannya tetap tak sama dengan laki-laki.
Di samping itu, Hamdi mengatakan "/there is no gender references in
voting preferences/(tidak ada hubungan gender dalam kecenderungan
memilih)". Banyaknya pemilih perempuan tidak menjamin besarnya
keterpilihan politisi perempuan dalam pemilihan umum.
Itu antara lain tercermin dari hasil pemilihan umum 2014, ketika jumlah
perempuan yang terpilih menjadi anggota DPR hanya 97 orang atau 17,32
persen dari 560 anggota parlemen, padahal undang-undang sudah
mengamanatkan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.
Perempuan yang sudah masuk ke politik pun masih harus menghadapi
persepsi sinis dari kolega laki-laki yang menganggap mereka hanya
sebagai pemanis untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan 30 persen,
yang menurut Hamdi istilahnya semacam "dikasihani undang-undang".
Sebagaimana perempuan, posisi kaum muda dalam politik tidak mudah. Soal
premis bahwa politik adalah panggung orang tua atau politisi senior,
Hamdi mengungkap fakta menarik dari studinya.
Menurut studi Hamdi, sebagian anak muda bersikap apolitis, namun
sebagian lainnya amat bersemangat untuk terjun ke dunia politik.
Mereka yang semangat masuk ke dunia politik mengeluhkan bagaimana
partai-partai besar kurang mengakomodasi kaum muda, dan lebih banyak
menjadi wadah bagi para politisi senior yang itu-itu lagi.
Setelah berhasil masuk ke partai politik dan mengikuti pencalonan
anggota legislatif pun, kans mereka untuk terpilih tidak jauh berbeda
dengan kaum perempuan.
Pada pemilihan umum 2019, dari sekitar 192,8 juta orang yang menurut
Komisi Pemilihan Umum masuk dalam Daftar Pemilih Tetap ada 60,3 juta
lebih atau sekitar 31,3 persen yang berusia 20 sampai 31 tahun.
Namun apakah kaum milenial itu juga akan memilih anak-anak muda yang
mengikuti pemilihan anggota legislatif? Jawabannya, tidak ada jaminan.
Itu memunculkan paradoks. Menurut Hamdi, beberapa penelitian menunjukkan
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga DPR rendah, menandakan
adanya keinginan untuk mengganti para anggotanya. Namun data juga
memperlihatkan para politisi senior dan petahana tetap terpilih kembali
dalam pemilihan umum.
Kompetensi dan pengalaman menjadi kekuatan utama para senior dalam dunia
politik yang tidak mudah dikalahkan oleh para pendatang baru. Terlebih,
politisi senior telah memegang banyak peranan di masyarakat dan telah
lama dikenal.
*Kekuatan Minoritas Ganda*
Calon anggota DPR dari Partai Golkar Puteri Komarudin (25) merasa
menjadi minoritas ganda sebagai perempuan dan anak muda.
"Aku/triple minority/(minoritas rangkap tiga) malah, karena aku anak
seorang figur jadi orang ngelihat aku tuh dari awal sudah 'ini anak
enggak bisa apa-apa, cuma dompleng bapak doang'," kata anak politisi
senior Partai Golkar Ade Komarudin itu di kediamannya di Jakarta
Selatan, Jumat (29/3).
Meski mengakui peran penting sang ayah dalam perjalanan politiknya,
Ketua Departemen Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar itu tidak ingin
menggunakan nama ayah sebagai kartu pas untuk mendapat hak istimewa.
Label minoritas ganda, menurut Puteri, punya dua sisi. Hambatan di satu
sisi, kekuatan di sisi lain.
Sebagai perempuan, dia akan berusaha menggalang dukungan dari pemilih
dengan menjadikan isu kesejahteraan perempuan sebagai titik berat kampanye.
Puteri menyebut masalah "bank emok", pinjaman berbunga dari rentenir
untuk ibu-ibu di daerah pemilihannya, sebagai yang pertama yang akan dia
selesaikan selain masalah pernikahan anak dan kebijakan pendukung
kemandirian ekonomi perempuan.
Pemilihan isu perempuan dan ekonomi tidak lepas dari latar belakang
pendidikan Puteri sebagai sarjana keuangan, manajemen, dan pemasaran
dari Universitas Melbourne, Australia; serta pekerjaannya di Otoritas
Jasa Keuangan sebelum mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif
untuk daerah pemilihan Jawa Barat VII.
Puteri juga bicara soal efisiensi, menyoroti kebiasaan politisi
laki-laki mengobrol panjang sampai malam mengenai hal-hal yang menurut
dia kurang penting. Dia ingin menghilangkan kebiasaan "basa-basi tanpa
esensi" semacam itu.
"Jadi enggak ada tuh ngobrol-ngobrol, ngopi sampai malam, sampai pagi,
yang enggak penting sebenarnya. Karena itu kan praktik maskulin banget
sebenarnya. Jadi manajemen waktu saja menurut aku," katanya.
Sebagaimana Puteri, Dara Nasution (23) juga menjadikan identitas
minoritas ganda yang melekat padanya sebagai kekuatan dalam berpolitik.
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengatakan sebagai anak
muda dia bisa mengandalkan dengkul untuk menjangkau konstituen dengan
mendatangi pemilih di daerah-daerah terpencil.
Dara menyebut cara kampanye semacam itu tidak banyak dilakukan oleh
caleg senior, mengutip keterangan warga yang menyatakan belum pernah
dikunjungi caleg saat dia datang.
"Jadi aku melihat bahwa sebenarnya ada kesempatan ini, bahwa ada
kerinduan untuk perubahan, dan orang-orang baru kayak aku bisa punya
kans di situ,” kata Dara di satu kafe di Jakarta Pusat, Jumat (29/3).
Dara menyebut data-data survei menunjukkan masyarakat ingin mengganti
para politisi senior yang tak lagi mereka percayai, dan sebagai politisi
muda dia berpeluang menjadi pengganti mereka.
"Ketika tiba-tiba melihat ada aku, anak 23 tahun, perempuan, itu
ada/shock effect/, ada efek kejut yang 'wow siapa itu', jadi orang lebih
menengok aku,” tambah lulusan sarjana terbaik Universitas Indonesia 2017
itu.
Lalu bagaimana dengan ongkos politik? Sebagai anak muda yang menyadari
mahalnya biaya berpolitik, Dara memilih cara murah. Dia bahkan menyebut
dirinya sebagai "caleg sedekah".
Kegiatan mendatangi konstituen secara langsung membuat dia lebih dikenal
warga, dan mendapat undangan untuk berbicara dalam acara ibu-ibu. Itu
membuat dia tidak perlu mengeluarkan banyak modal untuk bertemu dengan
kumpulan calon pemilih.
Puteri dan Dara punya strategi sendiri untuk melawan dominasi politisi
laki-laki senior. Mereka optimistis bisa mencapai tujuan berperan di
Senayan meski sebagai perempuan dan anak muda harus menghadapi lebih
banyak tantangan.
*Baca juga:
Politisi perempuan muda hadapi tantangan ganda dalam pemilu
<https://www.antaranews.com/berita/817753/politisi-perempuan-muda-hadapi-tantangan-ganda-dalam-pemilu>
Arzeti Bilbina: Politisi perempuan bisa memperhalus citra politik
<https://www.antaranews.com/berita/765255/arzeti-bilbina-politisi-perempuan-bisa-memperhalus-citra-politik>*
Oleh Virna P Setyorini & Suwanti
Editor: Maryati
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com