https://www.eramuslim.com/berita/nasional/jokowi-dan-negeri-tirai-bambu-dulu-dekat-mengapa-kini-jaga-jarak.htm



Ahad, 30 Rajab 1440 H / 7 April 2019


*Jokowi dan Negeri Tirai Bambu, Dulu Dekat, Mengapa Kini Jaga Jarak?*

Eramuslim.com – Hampir dua tahun lalu, tepatnya di bulan Mei 2017, Presiden
RI Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi berdiri di samping Presiden China
Xi Jinping untuk foto bersama merayakan inisiatif One Belt One Road atau
disebut juga Inisiatif Belt And Road yang diusung Xi di Beijing.

Kedua pemimpin negara itu bertemu di sela-sela pertemuan di KTT
Internasional Belt and Road Forum di Aula Besar Gedung Rakyat, Beijing.


Mengutip kabar yang dimuat Setkab saat itu, Jokowi menegaskan kembali
harapannya agar inisiatif itu dapat semakin memperkuat hubungan ekonomi
antara kedua negara.

“Terutama karena Indonesia berfokus pada pengembangan infrastruktur,
konektivitas, dan tumpuan maritim,” kata Jokowi pada saat itu


Namun kini, jelang pemilu presiden di mana Jokowi kembali maju, dia tampak
menjauhkan diri dari isu yang berkaitan dengan Beijing dan meremehkan
pentingnya proyek-proyek yang didanai China di Indonesia.

CNN dalam artikel yang berjudul China Is Becoming An Election Issue In
Asia. And That’s Bad News For Beijing (Jumat, 5/4), memuat bahwa hal
semacam ini sebenarnya adalah pola yang muncul di Asia Tenggara dan
sekitarnya. Investasi dan ikatan China kerap menjadi masalah pemilu yang
canggung.


Hubungan Jokowi dengan China sendiri telah menjadi titik serangan utama
bagi saingannya, Prabowo Subianto. Prabowo bahkan tidak ragu menggemakan
janjinya bahwa jika terpilih, dia akan berupaya untuk mendapatkan
kesepakatan yang lebih baik dari Beijing, dan menyerukan peninjauan kembali
kebijakan perdagangannya dengan China.

Tidak bisa dipungkiri bahwa isu kedekatan hubungan dengan China merupakan
salah satu riak yang muncul jelang pemilu presiden 2019 ini.

“Selama periode kampanye, retorika anti-China telah meningkat,” kata analis
di Economist Intelligence Unit, Anwita Basu seperti dimuat CNN.

“Komunitas China di Indonesia, yang sebagian besar adalah pemilik dan
pedagang bisnis, telah lama menghadapi kebencian dan diskriminasi karena
mengendalikan kekayaan dalam jumlah besar,” sambungnya.

“Masalah-masalah ini disebut-sebut dan dipopulerkan selama periode pemilu
dan tahun ini, (Prabowo) telah menggunakannya sebagai sarana untuk
mempertanyakan kesetiaan Jokowi kepada bangsanya sendiri,” jelasnya..


China sendiri diketahui merupakan mitra dagang terbesar Indonesia sejauh
ini, jika menurut pada data Bank Dunia. Dalam dua bulan pertama tahun 2019
ini saja, perdagangan antara kedua negara bernilai lebih dari 10,4 miliar
dolar AS.

Selaib itu, di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia telah bergabung dengan
Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipimpin China dan juga inisiatif
Belt And Road China yang didorong Xi.

Inisiatif ini mendapat kecaman yang semakin meningkat dalam beberapa bulan
terakhir, di tengah klaim bahwa inisiatif itu membebani negara-negara
miskin dengan hutang dan proyek yang tidak menguntungkan Beijing lebih dari
negara tuan rumah.

China telah mendanai proyek-proyek infrastruktur utama di Indonesia,
terutama kereta api berkecepatan tinggi senilai 6 miliar dolar AS yang
menghubungkan Jakarta dengan kota Bandung.

Proyek itu akan selesai tahun depan. Tapi pembangunannya bukan tanpa kritik
karena dugaan pembengkakan anggaran, perencanaan yang buruk dan
keterlambatan konstruksi.

Bukan hanya di Indonesia, investasi China dan dugaan permainan pengaruh
juga terjadi di sejumlah negara lainnya.

Coba tengok Malaysia. CNN memuat, investasi China dan dugaan pengaruh
memainkan peran dalam pemilihan Malaysia tahun lalu. Pemilu tersebut secara
mengejutkan memunculkan Mahathir Mohamad sebagai pemenang. Segera setelah
menduduki kursi perdana menteri, salah satu langkah yang diambil Mahathir
adalah menindaklanjuti janji untuk meninjau kerjasama dengan Beijing yang
dijalin erat di masa pemerintahan Najib Razak serta bertindak lebih keras
terhadap Beijing.

Maladewa bisa menjadi contoh lain. Selama pemilu di Maladewa tahun lalu,
petahana Abdulla Yameen berulang kali diserang karena hubungannya yang
dekat dengan Beijing. Pada Januari 2018, mantan Presiden Mohamed Nasheed
menuduh Yameen mengizinkan China melakukan “perampasan tanah” di negara itu.

Namun, setelah Yameen kalah dan Partai Demokrat Maladewa berkuasa, partai
itu berjanji untuk mengakhiri “kolonialisme China” dan menegosiasikan
kembali pinjaman dengan Beijing.

Sementara itu, negara lain, seperti Myanmar, telah mengurangi proyek-proyek
inisiatif Belt And Road China di tengah kekhawatiran atas utang dan
keberlanjutannya.

Di luar Asia, Kenya bisa jadi contoh berbeda. Presiden Kenya Uhuru Kenyatta
menghadapi klaim bahwa pelabuhan utama di Mombasa berisiko direbut oleh
Beijing karena hutang yang belum dibayar. Bukan tanpa alasan, kekhawatiran
muncul setelah tindakan nyata China untuk mengambil alih pelabuhan
Hambantota di Sri Lanka, setelah negara itu tidak dapat membayar kembali
miliaran dolar yang terhutang kepada Beijing.

Sementara itu, China sendiri dengan keras mendorong kembali kritik semacam
itu dan menilai bahwa penilaian seperti itu adalah standar ganda.


“Tidak masuk akal bahwa uang yang keluar dari negara-negara Barat dipuji
sebagai baik dan manis, sementara keluar dari China itu jahat dan
perangkap,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying pada
bulan September lalu.

Analis Economist Intelligence Unit, Anwita Basu memperkirakan bahwa banyak
negara akan tetap berhati-hati mengenai kurangnya transparansi dalam hal
pendanaan yang ditawarkan oleh inisiatif Belt And Road China. [rm
<https://dunia.rmol.co/read/2019/04/06/384949/jokowi-dan-negeri-tirai-bambu-dulu-dekat-mengapa-sekarang-jaga-jarak>
]

Kirim email ke