*Hebat dan bagus sekali SBY telah mempunyai gelar profesor. Cuma
pertanyaannya ialah apakah di universitas pertahanan beliau mengajar?
Sebagai profesor tentu telah banyak karya ilmupengetahuan telah
dipublikasi.*

https://www.gatra.com/rubrik/nasional/pilkada-pilpres/407955-Protes-Kampanye-Akbar-Prabowo-Ini-Isi-Surat-SBY



*Protes Kampanye Akbar Prabowo, Ini Isi Surat SBY*


*Abdul Rozak* <https://www.gatra.com/penulis/450-Abdul%20Rozak>

07-04-2019 11:55


*Jakarta, Gatra.com -* Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY), protes keras dengan kegiatan kampanye akbar Prabowo Subianto di
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (7/4). Kampanye itu dinilai
tidak inklusif dan hanya mengakomodir golongan tertentu.


Bahkan SBY dan petinggi Demokrat lainnya tidak hadir dalam kegiatan
kampanye akbar. SBY juga menulis surat terbuka stal kampanye tersebut.


Berikut isi lengkap surat terbuka SBY :

Kepada yang terhormat


1. Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin

2. Waketum PD Syarief Hassan

3. Sekjen PD Hinca Panjaitan


Bismilahirrahmanirrahim

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Salam Sejahtera


Salam Demokrat !


Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu konsentrasi perjuangan politik
jajaran Partai Demokrat di tanah air, utamanya tugas kampanye pemilu yang
tengah dilakukan saat ini, karena terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 yang
lalu saya sudah memandatkan dan menugaskan Kogasma dan para pimpinan partai
untuk mengemban tugas penting tersebut. Sungguhpun demikian, saya tentu
memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar kampanye yang
dijalankan oleh Partai Demokrat tetap berada dalam arah dan jalur yang
benar, serta berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip yang dianut oleh
Partai Demokrat. Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas yang
menjadi kekuatan partai kita.


Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah
air tentang "set up", "run down" dan tampilan fisik kampanye akbar atau
rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak
Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa
yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan
tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur
pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya
dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi
yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya
dengar itu mengandung kebenaran.


Sehubungan dengan itu, saya minta kepada Bapak bertiga agar dapat
memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai
Demokrat, untuk memastikan hal-hal sebagai berikut:


Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian
didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan "inclusiveness", dengan
sasanti "Indonesia Untuk Semua" Juga mencerminkan kebhinekaan atau
kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. "Unity in diversity". Cegah
demonstrasi apalagi "show of force" identitas, baik yang berbasiskan agama,
etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan
polarisasi politik yang ekstrim.


Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih
pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak
awal "set up"nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap "Semua Untuk
Semua" , atau "All For All". Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya
adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi
pemimpin yang kokoh dan insya Allah akan berhasil. Sebaliknya, pemimpin
yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu
dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal "kawan dan lawan" untuk
rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan
sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa.
Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu
(sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo.


Saya pribadi, yang mantan Capres dan mantan Presiden, terus terang tidak
suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai "pro Pancasila" dan "pro
Kilafah". Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya
justeru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua
kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya. Kita harus belajar dari
pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang
mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya. The tragedy of
devided nation. Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan
mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada pilpres tahun 2004, 2009 dan
2014. Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu di satu sisi berkah,
tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.


Para kader pasti sangat ingat, Partai Demokrat adalah partai
Nasionalis-Relijius. Bagi kita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah
harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis.
Indonesia adalah "Negara Pancasila" dan juga "Negara Berke-Tuhanan". Inilah
yang harus diperjuangkan oleh Partai Demokrat, selamanya.


Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan
dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap
sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi
sebagai komunis juga narasi yang gegabah. Politik begini bisa menyesatkan.
Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah
terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya.


Dari pada rakyat dibakar sikap dan emosinya untuk saling membenci dan
memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda dalam pilihan politik, apalagi
secara ekstrim, lebih baik diberi tahu , apa yang akan dilakukan Pak Jokowi
atau Pak Prabowo jika mendapat amanah untuk memimpin Indonesia 5 tahun
mendatang (2019-2024). Apa solusinya, apa kebijakannya? Tinggalkan dan
bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras
dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi.
Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Sepanjang masa kampanye,
bukan hanya pada saat debat saja.


Demikian Pak Amir, Pak Syarief dan Pak Hinca pesan dan harapan saya. Ketika
saya menulis pesan ini, saya tahu AHY berada dalam penerbangan dari
Singapura ke Jakarta, setelah menjenguk Ibu Ani yang masih dirawat di NUH.
Partai Demokrat harus tetap menjadi bagian dari solusi, dan bukan masalah.
Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.


Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Singapura, 6 April 2019


Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyonop

Kirim email ke