https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029
Minggu 07 April 2019, 10:08 WIB
Jeda
Gerimis Awal April Turun dari Tangismu
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4499864/gerimis-awal-april-turun-dari-tangismu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.237424132.546848203.1554662029-1542387021.1554662029#>
Gerimis Awal April Turun dari Tangismu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Setiap memasuki bulan April, saya teringat Franky Sahilatua
(1953-2011). Saya teringat lagunya yang berjudul /April/, yang
dinyanyikan berduet dengan Johnny Sahilatua pada 1985, lima tahun
setelah duetnya bersama saudaranya yang lain, Jane dalam lagu
/Perjalanan/ yang legendaris dan mungkin lebih Anda kenal itu.
/Gerimis turun di awal April/ seakan dari tangismu/
Lagu yang sendu dan kelam ini seolah meramalkan kematiannya sendiri,
berpuluh tahun kemudian, pada usia 57 tahun. Franky meninggal dunia pada
bulan April, bulan transisi, bulan berpindahan antara musim hujan ke
musim kemarau.
Di negeri dengan dua musim ini, April adalah bulan yang sedih dan muram.
Pagi sering berkabut, embun menebal di daun-daun, dan sisa hujan
rintik-rintik semalam menggigilkan orang-orang yang bangun dari mimpi.
Hujan memang sudah tidak sering turun. Dalam hitungan orang Jawa, hujan
mulai "mengkeret" pada bulan Maret. Tapi, gerimis, kadang juga hujan
deras disertai angin masih mengguyur pada hari-hari awal. /Seakan dari
tangismu/. Tangis berpisahan. Untuk menyambut musim yang mungkin akan
lebih buruk.
/Tumbuhan basah karena duka/ apa tetes perasaanmu/
April selalu membuat kita melankolis. Bulan dengan hari-hari yang
membuat kita /ngelangut/. Tahun Baru mulai beranjak. Kita telah menapaki
tiga bulan awal. Resolusi kita masih menggantung di awang-awang.
Rencana-rencana kita masih tersusun rapi di buku catatan, satu per satu
mulai kita wujudkan. Jalan masih terbentang panjang.
April adalah bulan yang wingit. Bulan yang /wigati/. Dibuka dengan
hari-hari yang mencemaskan. Setelah Januari yang penuh pesta dan
kegembiraan, lalu Februari yang hanya 28 hari, dan Maret yang panjang
sampai 31 hari, April rasanya seperti babak baru yang akan mengantarkan
kita pada sebuah tujuan di ujung yang jauh.
April yang sibuk. April yang gaduh. Banyak orang bergumam pada dirinya
sendiri, seperti keluh, berharap April segera berlalu. Kita berdiri di
depan pintu, menatap langit malam, ingin lenyap di antara
bintang-bintang. Seandainya waktu bisa dipercepat, atau kita bisa
melompat. Tapi, hari-hari yang banyak telah menunggu di depan sana. Dan
kita hanya bisa mengulangi kata-kata Chairil Anwar: /kami sudah coba apa
yang kami bisa/ Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa./
Apakah kita masih punya cukup tenaga? Belakangan ini, kita telah
melewati tahun-tahun yang berat. Orang-orang menyebutnya sebagai tahun
politik. Dan, April ini akan menjadi penentuan. Kita sedang berada pada
hari-hari menjelang hajatan puncak pemilu serentak. Kita akan memilih
presiden dan wakilnya, juga anggota-anggota legislatif, pusat dan
daerah. Debat sudah tuntas (dan semua pihak merasa puas), kampanye
memasuki hari-hari terakhirnya, dan kontes penentuan itu tinggal
menghitung hari.
Di antara kita jauh-jauh hari sudah memantapkan hati pada pilihan yang
diyakini. Tidak ada keraguan sama sekali. Tidak ada pertanyaan lagi.
Jawaban sudah final. Suara-suara dan dukungan-dukungan sudah diserahkan
dengan segenap jiwa, hidup atau mati. Tapi, sebagian lagi masih ada yang
menimbang-nimbang, siapa yang akan dipilih nanti. Ada pula yang akhirnya
tak tahan lagi untuk menyembunyikan kekecewaannya selama tahun-tahun
belakangan ini, dan memutuskan untuk pergi. Lalu, di antara mereka
bertengkar sendiri-sendiri.
Rasanya belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, pemilu menjadi
urusan yang segawat sekarang ini. Sampai-sampai ada yang saling benci,
memutuskan silaturahmi, tak mau menganggap teman atau bahkan saudara
lagi, karena perbedaan pilihan dan dukungan. Padahal kalau dilihat-lihat
lagi, apa sih kurangnya calon-calon yang akan berlaga nanti?
Pak Jokowi yang santun penuh /unggah-ungguh/ kehalusan Jawa yang
/andhap-asor/ itu sudah menunjukkan sebagian dari hasil kerja kerasnya
yang tampak nyata dan bisa dinikmati dan kita banggakan. Pasangannya,
Pak Ma'ruf Amin, /subhanallah/, melihat sosoknya yang sepuh, matang,
penuh pengalaman, seorang kiai pengayom umat, siapa yang masih berpikir
bahwa beliau tak akan mampu membawa bangsa ini menjadi sejahtera lahir
dan batin, dunia dan akhirat?
Lalu, lihatlah pasangan calon satunya. Pak Prabowo yang gagah, selalu
menggebu-nggebu, membakar semangat --sosok seperti apalagi yang
dibutuhkan untuk mengantarkan bangsa ini menghadapi persaingan di masa
depan menuju kejayaan dan kemenangan? Dan, wakilnya, /alamak/...seorang
pengusaha muda yang kaya raya yang sebenarnya bisa saja memikirkan
dirinya sendiri untuk menjadi semakin kaya, tapi lihatlah, beliau
memilih untuk siap mengabdi memperjuangkan nasib kita sampai belum
apa-apa sudah memperhatikan hal-hal kecil seperti ukuran tempe yang kita
makan dan harga-harga belanjaan emak-emak di pasar.
Belum lagi para calon-calon anggota legislatif kita, wakil rakyat kita.
Ya ampun, belum pernah rasanya bangsa ini memiliki calon-calon wakil
rakyat yang begitu muda, cantik-cantik dan tampan-tampan, cerdas pintar
tiada tara, energik, berpose penuh gairah di baliho yang dipasang di
pohon-pohon pinggir jalan hingga ke dinding-dinding tebing di pelosok
desa-desa yang terletak di lereng gunung; menggepalkan tangan "siap
melawan korupsi". Apalagi kalau kita lihat poster-poster yang memasang
foto dirinya dengan posisi terbalik, dengan tulisan besar-besar "siap
jungkir balik memperjuangkan rakyat". Duh, Gusti betapa beruntungnya
kita punya calon-calon pemimpin seperti itu.
Mereka semua, calon presiden dan wakilnya, juga calon-calon anggota
legislatif itu, adalah manusia-manusia pilihan, /pinunjul/, diberkati.
Mereka adalah para penyelamat yang diutus oleh Tuhan untuk kita, untuk
memakmurkan negeri yang kaya raya ini. Mereka anak-anak terbaik bangsa
yang terpanggil untuk mengabdikan hidupnya, jiwanya, hartanya untuk
kepentingan masyarakat. Mereka sudah hidup enak, dan bisa saja
memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya, atau duduk-duduk santai
bersenang-senang, tapi ternyata tidak. Bahkan banyak artis yang rela
meninggalkan dunianya yang penuh kemewahan dan keglamoran, menempuh
jalan sunyi, melepas atribut popularitasnya, demi rakyat, bangsa, dan
negara.
Di mana lagi ada tempat di atas Bumi ini yang lebih membahagiakan untuk
hidup ketimbang di sini? Kita terharu, bangga, dan merasa gembira.
Siapapun yang kita pilih, siapapun yang menang, siapapun yang akan
memimpin negeri ini, nasib kita aman dan akan terjamin, karena mereka
semua begitu serius memikirkan dan memperjuangkan kepentingan kita.
Mereka juga telah bertekad untuk membela agama kita, membela ulama,
memberantas korupsi, hingga menghapus pajak kendaraan. Apa masih perlu
disebut, bahwa mereka juga siap menciptakan ribuan lapangan kerja?
April sudah memasuki minggu kedua. Tak ada alasan sedikit pun, atau
keraguan sekecil apapun, atau dalih-dalih tersembunyi, untuk masih
bimbang. Hajat besar yang kita tunggu-tunggu segera tiba, dan kita akan
tahu hasilnya. Pada hari-hari penantian ini, gerimis mungkin masih akan
turun, atau hujan deras sesekali mengguyur, mendinginkan suasana,
mengademkan jiwa kita, meluruhkan sisa-sisa kebencian yang telah
membelah kita dalam kubu-kubu dukungan dan perbedaan pilihan, menghapus
segara caci-maki, ujaran kebencian, dan berita-berita bohong yang
sebelumnya sempat kita lontarkan, kita sebarnya, dan kita biarkan
merajalela.
Setelah itu (seperti dilantunkan oleh Franky dan Johnny Sahilatua):
/tiada lagi mendung, hanya kemurnian/ menyanyikan puisi untukmu.
Keringkan pipimu, lembutkankan bibirmu/ tersenyumlah pada pelangi/.
Setelah itu: /tiada lagi dinding, hanya keluasan/ menyemaikan kembang
untukmu. Isikan dadamu dengan kegembiraan/ senyumlah pada matahari./
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!