Dalam 5 tahun pemerintahan Jokowi basis utamanya yg membawa kemenangan th 2014 
ternyata justru dijadikan ditinggalkan bahkan dijadikan tumbal, dalam th 2019 
sekarang dalam upaya meraih dukungan konserfatif basis utama malah ditendang 
begitu saja. Tidak terlihat greget sama sekali dalam kampanye kali ini bertolak 
belakang dgn th 2014.
---Namun, posisi Jokowi bukan tanpa risiko. RsTantanganiko utama bagi Jokowi 
adalah upayanya untuk meraih dukungan kalangan Islam konservatif dan 
kegagalannya memperbaiki penegakan hak asasi manusia di Indonesia akan 
mengecewakan basis pendukung utamanya.
"Anak-anak muda liberal dan kaum minoritas khususnya tidak akan mendukungnya 
dengan semangat yang sama sebagaimana yang mereka tunjukkan di 2014," menurut 
Basu....
'Apa yang Terjadi Bila Prabowo Menang di Pilpres 2019?'


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
'Apa yang Terjadi Bila Prabowo Menang di Pilpres 2019?'

Prima Wirayani

Jelang pelaksanaan pilpres 2019 pada 17 April mendatang, sejumlah tulisan di 
media asing menampilkan analisis me...
 |

 |

 |



NEWS - Prima Wirayani, CNBC Indonesia 09 April 2019 13:03
Foto: Calon Presiden 02 Prabowo Subianto saat menyampaikan paparannya dalam 
debat Capres ke-empat dengan tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan 
keamanan, serta hubungan internasional di Hotel Shangri-La, Sabtu (30/3/2019). 
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang pelaksanaan pemilihan umum presiden (pilpres) 
2019 pada 17 April mendatang, sejumlah tulisan di media asing menampilkan 
analisis mengenai peluang kedua kandidat.
Setidaknya dua tulisan dari dua media yang berbeda sama-sama menjagokan calon 
presiden nomor urut 01 sekaligus petahana Joko Widodo dibandingkan rivalnya 
Prabowo Subianto.
Namun, apa yang menurut mereka akan terjadi bila Prabowo yang justru mampu 
membalikkan situasi?
"Bila lawan Jokowi, Prabowo Subianto memenangkan jabatan presiden, kebijakan di 
Indonesia akan berubah menjadi populis," tulis analis The Economist 
Intelligence Unit Anwita Basu dalam siaran pers, Kamis (4/4/2019) lalu.
The Economist Intelligence Unit adalah lembaga think tank yang berada di bawah 
naungan media ekonomi The Economist.
Foto: Calon Presiden 02 Prabowo Subianto saat menyampaikan paparannya dalam 
debat Capres ke-empat dengan tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan 
keamanan, serta hubungan internasional di Hotel Shangri-La, Sabtu (30/3/2019). 
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Resep kebijakan Prabowo dapat mengancam stabilitas makroekonomi Indonesia, dan 
pendekatan proteksionisnya dapat menakut-nakuti investor asing," tambahnya.
Dalam laporan tersebut, The Economist Intelligence Unit memperkirakan Jokowi 
akan kembali memenangkan pilpres karena besarnya dukungan yang ia terima dari 
partai-partai pengusungnya.
Pemerintahan sang presiden saat ini telah membawa stabilitas makroekonomi dan 
akses yang lebih baik atas layanan kesehatan dan pendidikan, tulis lembaga 
tersebut.
Namun, posisi Jokowi bukan tanpa risiko. RsTantanganiko utama bagi Jokowi 
adalah upayanya untuk meraih dukungan kalangan Islam konservatif dan 
kegagalannya memperbaiki penegakan hak asasi manusia di Indonesia akan 
mengecewakan basis pendukung utamanya.
"Anak-anak muda liberal dan kaum minoritas khususnya tidak akan mendukungnya 
dengan semangat yang sama sebagaimana yang mereka tunjukkan di 2014," menurut 
Basu.
Foto: Calon Presiden 01 Joko Widodo dan Calon Presiden 02 Prabowo Subianto saat 
mengikuti Debat Capres ke-empat dengan tema ideologi, pemerintahan, pertahanan 
dan keamanan, serta hubungan internasional di Hotel Shangri-La, Sabtu 
(30/3/2019). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Meski juga menjagokan Jokowi, kolumnis Reuters, Clara Ferreira-Marques, 
mengatakan posisi sang petahana masih riskan.
Ia menyebut kemenangan Jokowi dari Prabowo di pemilu 2014 lalu sangatlah tipis, 
yaitu hanya enam poin persentase. Ini adalah hasil paling ketat dalam sejarah 
pemilu di Indonesia.
"Prabowo lebih baik dalam meraih suara Islam konservatif dan menyampaikan nada 
nasionalis, dengan menjanjikan, misalnya, meninjau kembali investasi China (di 
Indonesia)," tulisnya.
Ia juga mencatat bahwa sekitar 20% pemilih belum menentukan pilihannya. 
Rendahnya jumlah pemilih atau tipisnya selisih dengan Prabowo akan mendorong 
kubu oposisi untuk mempermasalahkan pelanggaran dalam proses pemilihan.
"Ini akan menjadi hasil yang buruk bagi Indonesia yang akan mendapat banyak 
keuntungan dari Widodo yang lebih berpengalaman memimpin dalam lima tahun ke 
depan." (dru)

Kirim email ke