Bambang Djalisnetra Kemarin pukul 02.58 · M Husni Saleh ke GWJ DPW JABODETABEK8 April pukul 04.08 PRABOWO LEBIH BERBAHAYA DIBANDING SOEHARTO
Bagi masyarakat Indonesia yang lahir di era tahun 50an sampai 70an pasti tahu pasti bagaimana rezim Soeharto menjalankan pemerintahannya. Pembangunan Indonesia hanya berpusat di Jawa dan kurang peduli dengan pembangunan di Indonesia bagian timur khususnya. Yang paling menonjol Soeharto mempunyai kekuasaan yang hampir tanpa batas. Semua lembaga negara mulai eksekutif, legislatif maupun yudikatif secara defacto di bawah kendali Soeharto. Di bidang hak asasi manusia, Soeharto cukup keras kepada siapapun yang menghalangi keinginannya. Musuh-musuh politiknya dibungkam. Rakyat yang melawan dilakukan tindakan represif yang tiada ampun. Media yang mengkritisi Soeharto langsung dibreidel. Pendek kata hak demokrasi rakyat sengaja dimandulkan. Namun di sisi lain Soeharto mengelola manajemen negara dengan rapi dan teratur. Semua ucapannya sangat terukur dan sangat jarang menunjukkan emosinya di hadapan publik. Harus diakui Soeharto adalah ahli strategi politik yang sangat piawai. Semua hal yang dilakukan direncanakan dengan detail dan cermat. Semua rencananya dilaksanakan dengan sistem kendali yang sangat terukur.. Membandingkan Soeharto dengan Prabowo, sebetulnya membandingkan sesuatu yang sangat tidak sebanding. Seperti bumi dan langit. Prabowo Subianto sudah menjadi rahasia umum adalah sosok kontroversial yang temperamental. Dari rekam jejak kedinasannya, loyalitasnya kepada pimpinan sangat rendah. Dia seorang politikus karbitan yang membangun kerajaan kepartaiannya dengan kelimpahan materi dan tangan besi. Bukan dengan sistem dan profesionalitas. Dari rekam jejak karier kemiliterannya. Soeharto mencapai puncak tertinggi dengan meraih bintang lima murni dari usaha keras dan perjuangannya sendiri.. Sedangkan Prabowo dalam karier kemiliterannya banyak terbantu dan dimudahkan karena dia menantu seorang Presiden. Bahkan menurut mantan atasannya Jend TNI Purn. Agum Gumelar, Prabowo pernah mengalami kenaikan pangkat 3 kali hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja. Menurut Agum hal ini sangat tidak lazim dalam sejarah TNI. Semua itu diterima Prabowo hanya karena dia menantu seorang Presiden. Meskipun keduanya mempunyai sifat sama-sama otoriter tapi bisa dikatakan Prabowo lebih berbahaya dibanding Soeharto. Soeharto mempunyai pengendalian diri yang kuat dan penuh perhitungan sedangkan Prabowo mempunyai karakter yang sangat emosional dan pengendalian diri yang sangat rendah. Dia dengan mudah bisa mengumbar amarah dimana saja untuk sesuatu alasan yang sepele. Dan dalam melaksanakan rencananya pun Prabowo sering grusa-grusu dan tanpa perhitungan yang cermat. Sebagai contoh operasi pembebasan sandera di Mapenduma Papua tahun 1996. Letjen TNI Purn. Soeyono mantan Kasum ABRI menceritakan kejadian tersebut dengan detail dalam bukunya yang berjudul "Bukan Puntung Rokok". Peristiwa penculikan aktivis mahasiswa dan pergerakan tahun 1997/1998 juga dengan jelas membuktikan bahwa Prabowo telah melakukan tindakan gegabah di luar sistem dan tanpa mengindahkan SOP yang berlaku. Dan konyolnya operasi ilegal tersebut dilakukan dengan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat ceroboh dan tanpa perhitungan yang cermat sehingga dengan mudah terbongkar. Dan hal ini membuktikan dia yang ambisius tapi bukan seorang ahli strategi yang piawai. Saya tidak bisa membayangkan kalau karakter personal seperti seorang Prabowo memegang kekuasaan tertinggi negara seperti jabatan Presiden. Dia pasti akan menjelma menjadi seorang pemimpin yang grusa-grusu, otoriter, kasar dan menjalankan kekuasaannya dengan tangan besi. Karena pada dasarnya Prabowo bukan seorang demokrat yang bisa menghargai perbedaan pendapat. Lalu dengan karakter dan rekam jejak seperti itu apakah kita biarkan dia menjadi Presiden ? Meskipun sama-sama otoriter dan kejam, jujur saya lebih memilih Soeharto yang menjadi Presiden daripada mantan menantunya. Karena dari sisi apapun Prabowo jauh lebih berbahaya dibandingkan Soeharto. Namun untuk tantangan jaman seperti saat ini menurut saya lebih tepat kalau Indonesia dipimpin oleh sosok sederhana, lembut hati, visioner dan pekerja keras seperti Jokowi. Setuju kan ? Salam SATU Indonesia, Rudi S Kamri 08042019
