*Ini Kata Mantan Kasal soal Kekuatan RI Jaga Kedaulatan*

[image: Ini Kata Mantan Kasal soal Kekuatan RI Jaga Kedaulatan]Mantan
Kepala Staf Angkatan Laut 2002-2005, Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent
Sondakh (kanan) dan pengamat politik, Ari Nurcahyo memberikan pernyataan
mengenai kekuatan Indonesia dalam menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI,
Rabu, 10 April 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus )

"Pernyataan bahwa Indonesia lemah adalah pernyataan yang gegabah," kata
mantan Kasal, Bernard Kent Sondakh. "Kekuatan Indonesia khususnya di
daerah-daerah dekat dengan wilayah teritorial kita sangat kuat, masih
disegani negara lain."


Carlos KY Paath / JAS Rabu, 10 April 2019 | 17:19 WIB

*Jakarta, Beritasatu.com* - Mantan Kepala Staf Angkatan Laut 2002-2005,
Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh menyebutkan kekuatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjaga kedaulatan wilayah dan
persatuan tidak bisa dianggap remeh.

"Pernyataan bahwa Indonesia lemah adalah pernyataan yang gegabah. Kekuatan
Indonesia khususnya di daerah-daerah dekat dengan wilayah teritorial kita
sangat kuat, masih disegani negara lain. Beda ceritanya jika kita melakukan
invasi perang dengan negara lain yang jaraknya cukup jauh dari Indonesia,"
ujar Bernard Kent kepada awak media di kediamannya di Kelapa Gading,
Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).

Ia menyebutkan kekuatan dan kemandirian militer Indonesia yang mampu
memproduksi persenjataan maupun Kapal Selam ke-5 yang pertama kalinya di
produksi oleh Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki *deteren
value*sehingga
disegani negara-negara lainnya.

"Indonesia menganut strategi pertahanan Nusantara gerakan non-blok
mendukung perdamaian dunia dan defensif aktif. Produk PAL yang memproduksi
kapal kita juga sudah dibeli oleh Filipina dan Thailand. Jangan hanya
menganalisis kekuatan militer kita rendah hanya perbandingan *head to
head* berdasarkan
jumlah alutsista," tambah Kent.

Ia justru meminta masyarakat mewaspadai perang asimetris yang merusak
sosial budaya, serta menebarkan ujaran kebencian serta kabar bohong (*hoax*)
yang memecah belah dan melemahkan bangsa demi kepentingan meraih kekuasaan.

"Termasuk yang perlu diantisipasi Perang Asimetris adalah masuknya senjata
ilegal. Jangan sampai penganut bibit ideologi *hard liner* dimanfaatkan
oleh aktor asing untuk membuat kekacauan di dalam Indonesia," lanjut Kent.

Sementara itu, pengamat politik, Ari Nurcahyo menjelaskan masyarakat jangan
mudah terprovokasi dengan isu yang menyebutkan pertahanan Indonesia dan TNI
lemah.

"Kita perlu mengedukasi masyarakat kita akan pengetahuan pertahanan di
Indonesia tidak tercampur dengan kepentingan politik. Invasi suatu negara
ke negara lain merupakan metode kuno. Jangan mudah percaya dengan isu yang
merendahkan kekuatan TNI dalam menjaga keamanan Indonesia," kata Ari.

Lebih lanjut Ari menjelaskan narasi negatif di era *post structure area* tengah
dibangun oleh para elite politik yang menghalalkan segala cara dengan
propaganda yang mengancam ketahanan dan persatuan negara dari dalam.

"Mari kita menjaga suasana yang aman dan tidak menimbulkan ketakutan serta
menjaga pemilu yang damai," tandasnya.

*Sumber: Suara Pembaruan*

Kirim email ke